Namanya Sinta Anjani, janda satu anak yang mempunyai ambisi untuk mencari suami dan ayah baru untuk anaknya, James. Kegagalan rumah tangga disebabkan oleh mantan suami yang dengan tega menyelingkuhi dirinya bahkan ketika janda itu dalam keadaan hamil. Tentu saja banyak rintangan dalam masa pencarian jodohnya, beberapa konflik keluarga bahkan sahabat baru dalam hidupnya menjadi kendala besar bagi janda itu. Akankah Sinta melabuhkan lagi cintanya? atau dia memutuskan untuk hidup tanpa ikatan pernikahan dan memilih menjadi seorang janda seumur hidup? entahlah kita ikuti saja takdir sang kuasa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Indah Nurlaeli, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DINGIN TAPI GENIT
SINTA POV
Aku kembali bekerja dikantor Pak doni, tidak sedikit dari mereka para karyawan yang mengejek kearahku. Seperti aku yang sudah bilang akan keluar dari kantor ini ternyata masih kembali, rasanya sangat malu. Tetapi bagaimana lagi aku yang memang sangat membutuhkan pekerjaan dan juga pak doni yang masih mau memperkerjakanku disini, aku menyiapkan segala keperluan pak doni menjadi sekretarisnya tidak begitu membuatku jengah. Beliau orang yang tidak banyak bicara, tidak pernah protes sedikitpun bahkan ketika kemarin aku tidak sengaja menumpahkan minuman dan membasahi kemejanya dia tidak marah sama sekali. Sayang sekali pria sebaik pak doni istrinya sangat cerewet, seperti saat ini istri pak doni sedang memarahi dua office boy yang katanya tidak bekerja dengan benar, kalau menurutku mereka membersihkan lantai disini sangat bersih. Dua office boy itu ada pada bagian menyapu dan mengepel, istri pak doni terus saja mengomel dan kedua office boy itu terdiam tangannya saling mencolek ketika merasa amukan istri boss nya itu tidak benar.
"Sinta!"
Aku menolehkan wajahku kearah asal suara, pak doni berdiri menjulang didepanku yang sedang duduk.
"Iya pak," aku tersenyum sopan dan mengikuti langkah kakinya menuju ketempat biasa, ruangan besar milik pak boss.
"Hari ini apa aku ada rapat diluar?"
"Kalau hari ini tidak ada pak tetapi nanti malam klien dari perusahaan yang kemarin kita datangi mengundang bapak untuk makan malam bersama."
"Maksutmu perusahaan dari pak hartono?"
"Iya betul pak."
"Kalau begitu kamu pergi bersamaku nanti malam."
"Eh," aku kaget mendengar ajakannya, tidak enak jika harus mengikuti acara yang diluar pekerjaan takut disangka penggoda pak doni lagi.
"Hanya sebentar dan aku harap kamu tidak keberatan, aku akan menjemputmu nanti malam jam tujuh."
"Baik pak," mau bagaimana lagi aku hanya bisa mengangguk dan menyanggupi perintahnya, aku keluar dari ruangan itu bersama ketika istri dan anak pak doni masuk kedalam , sekilas bisa kulihat wanita itu memicing kearahku. tidak ku pedulikan, aku berlalu begitu saja bahkan tanpa menyapa mereka.
drtt drtt
Mataku teralih pada layar ponsel yang berada tidak jauh dari letak tanganku berada, diatas meja. Aku membaca pesan sekilas yang ternyata dari bram, sudah lama sekali rasanya laki-laki itu tidak menghubungiku semenjak dia yang katanya berkunjung kerumah mama.
Bram send one message
14.37 WIB
kumohon sinta, katakan dimana kamu sekarang, aku benar-benar tidak tahu harus mencarimu kemana lagi.
Ingin sekali rasanya aku membalas pesan itu, mengatakan dengan jujur dimana aku sekarang. Aku ingin bertemu dengannya, munafik memang tetapi bagaimana sedangkan usahaku untuk menjauh darinya sudah cukup jauh. Masa iya aku harus menyerahkan diri kepadanya dan menyembuhkan rindu ini, tidak sinta kendalikan dirimu dan fokus bekerja. Layar ponsel itu kumatikan, tidak peduli pada tangan dan mata yang ingin terus menatap dan ingin mengetikkan sesuatu disana.
Ponsel ku kembali menyala dan kini laki-laki itu menelfonku, tanganku gemeteran memegang ponsel itu, bingung apa harus aku angkat atau kubiarkan saja.
"kenapa tidak diangkat?"
Aku berjengit dan tidak sengaja menjatuhkan ponsel itu dimeja, untung saja bukan dilantai segera aku berdiri dan menatap kearahnya, tidak ku gubris ponsel yang terus berdering itu.
"Kalau tidak sibuk bisa ikut denganku?"
"Bisa pak."
Langsung saja tanpa basa-basi aku menyambar tas dan ponsel yang masih berbunyi mengikuti langkahnya keluar kantor, dia memasuki mobilnya aku juga ikut masuk kedalam. Entah kemana pak doni akan pergi, kalau tidak salah memang hari ini tidak ada acara diluar, setelah hampir empat puluh lima menit kami sampai di depan sebuah butik. Dia menyuruhku untuk keluar, langkahnya sangat cepat memasuki butik itu, aku sendiri menyusulnya sambil terseok-seok. Kalau dilihat dari belakang pak doni itu memiliki perawakan yang sedikit mirip dengan firman, umur mereka juga kurasa tidak jauh berbeda. Pak doni berusia 35 tahun dan baru mempunyai seorang anak yang masih kecil, kalau firman memang masih bujangan usianya 33 tahun. Meskipun belum menikah tetapi umur tidak bisa membohongi rupa, firman memang sudah terlihat sedikit tua sebut saja setengah tua. Pak doni berhenti tepat didepan gaun berwarna hitam tanpa lengan, panjangnya mungkin sampai betis jika gaun itu melekat ditubuh pendekku. Pak doni terus mengamati gaun itu sambil sesekali matanya menatap kearah tubuhku, seperti sedang mencoba mencocokkan.
"Coba pakai yang ini sinta!" pria itu benar menyuruhku untuk mencobanya, aku menurut dan mengambil gaun itu. Setelah memasuki ruang ganti aku merasa tidak suka dengan gaun ini, ya meski belum tentu ini akan pak doni berikan kepadaku. Mungkin karena pinggang dan bokongku yang terlalu besar atau apa tetapi rasanya bagian itu sangat menonjol. Belum lagi ketika lenganku terekspos dengan jelas benar saja kan panjangnya sebatas betisku. Ku geser pintu ruang ganti itu, pak doni yang semula duduk kini berdiri menghampiriku dia menganggukkan kepalanya lalu berjalan mendekat kearahku.
"Kamu memang sangat cantik dan menggemaskan," aku merasakan panas diseluruh pipi hingga telinga, dia mengucap kalimat itu sambil berlalu menuju ke arah kasir. Wajahnya memang tidak menoleh kearahku , tetapi itu tetap saja memalukan. Aku masuk kembali kedalam ruang ganti dan melepaskan gaun itu, mengganti kembali dengan stelan baju kerja.
oh ya ampun, dia bahkan sudah beristri. kenapa masih bisa begitu kepadaku. batinku berucap sambil keluar dari ruang ganti , satu pegawai butik meminta gaun yang ada ditanganku lalu membawanya ke kasir. Aku melihat pak doni sudah berada diluar, pria itu memasuki mobilnya. Tidak berselang lama pegawai tadi memberikanku gaun yang sudah dibungkus, buru-buru aku menghampiri pak doni kedalam mobil.
hening
Aku malu sekali rasanya, sedangkan pak doni masih bersikap biasa saja seperti tidak pernah mengatakan apa-apa.
"Nanti malam pakai gaun itu saat pergi ke acara makan malam."
"Sebenarnya tidak perlu repot-repot pak lagipula hanya satu malam."
"Tidak masalah," pak doni terus fokus menyetir tanpa sekalipun menatap kearahku, bukan maksutnya aku ingin dilihatnya juga tetapi aku masih belum percaya pak doni yang selalu bersikap acuh itu ternyata berani berkata seperti tadi kepada perempuan selain istrinya.
***
"Bagaimana bram apa dia menjawab telfonmu?" kelvin datang dari luar rumah bram, mereka memang menjadi lebih sering bersama bukan karena membahas sinta. Tapi karena mereka sedang memulai bisnis bersama, hanya kebetulan saja bram selalu membicarakan sinta, jadi terkesan topik pembicaraan mereka selalu mengarah ke janda muda itu.
"Ck aku yakin dia sudah menyentuh ponselnya tapi enggan menjawab."
"Atau perlu ku temani mencarinya ke Bandung?"
"Jangan bercanda vin aku tidak mau istri merepotkanmu itu mengganggu hidupku nanti."
Kelvin tertawa terbahak-bahak dia membenarkan perkataan bram, mana mungkin istri barunya mau mengizinkan dirinya mencari mantan istrinya, sangat menggelikan.
"Bisnis ini tidak akan berjalan dengan baik jika fikiranmu terus saja terperangkap pada perempuan itu."
"Aku memang tidak bisa berfikir dengan jernih sekarang."
"Hm kalau begitu kita bicarakan nanti saja masalah kita, sekarang selesaikan dulu masalahmu dengan perempuan itu."
"Kamu yakin tidak keberatan?"
"Oh ayolah bram kita ini friend," kelvin menepuk-nepuk dadanya dan mendekatkan tubuhnya kepada bram, mengisyaratkan simbol pertemanan khas pria, bram mendengus menyaksikan aksi kelvin.
Bram menyambar kunci mobilnya meninggalkan kelvin yang terlihat malah seperti pemilik rumah itu sekarang.
"Kamu mau kemana bram?" kelvin mengikuti langkah cepat bram, lelaki bujangan itu sudah menghidupkan mesin mobilnya.
"Aku akan pergi ke Solo, orang tuaku sedang berkumpul disana."
"Reuni keluarga eh," bram terkekeh dan melajukan mobilnya, kelvin sendiri menunggangi motor sportnya meninggalkan rumah besar milik bram.
***
James menangis tersedu-sedu begitu melihat sinta pergi, perempuan itu dijemput oleh boss nya. Siti terus menimang-nimang bayi tampan itu, james seperti merindukan sosok sang ibu sinta bahkan sudah beberapa hari tidak menggendong putranya. Meski dia tidak pulang larut, namun setiap kali dirinya pulang james pasti sedang tertidur. Sinta tidak tega memindahkan james kepangkuan atau gendongannya, dia hanya mendekap bayi kecil itu ketika dirinya akan tidur. Jika di pagi hari james sudah dimandikan dan bersama terus dengan siti, sinta mengurus keperluannya sendiri sebelum berangkat. Dia paling hanya memberikan kecupan singkat di kening maupun pipi james, setelah itu sinta akan pulang dalam keadaan james yang sudah tertidur.
Meski pekerjaan siti sekarang terasa lebih ringan karena tidak membutuhkan banyak tenaga untuk membersihkan rumah kecil itu, namun dia seperti lebih suka ketika masih berada di Jogja sinta yang bekerja ditempatnya sendiri bisa pulang kapan saja dan libur kapan saja setiap janda muda itu inginkan. Dia menghabiskan waktu yang banyak bersama james, Setidaknya bayi asuhnya itu masih bisa merasakan kehangatan ibunya sendiri.
"Selamat malam pak."
"Selamat malam juga pak doni."
"Bu sinta."
"Iya pak selamat malam."
Ketiga manusia dewasa itu saling menjabat tangan, mereka terduduk bersama ketika sudah selesai melakukan aksi saling menyapa itu.
"Bagaimana dengan tempat ini pak doni suasananya indah sekali bukan, makanannya juga enak."
"Anda memang selalu memiliki selera yang baik."
Sinta menatap wajah keduanya, partner bisnis yang akrab. Perempuan itu merasa canggung berada disituasi bersama dengan dua orang pria, doni berdehem menyadarkan lamunan singkat sinta. Perempuan itu menoleh dan mendapati boss nya sedang tersenyum kearahnya.
"Bagaimana menurutmu sinta, apa makanannya sesuai dengan seleramu?" doni bertanya yang juga ditunggu jawabannya oleh klien mereka.
"Sejujurnya aku lebih menyukai makanan khas indonesia, tetapi sushi ini tidak buruk," sinta tersenyum di akhir kalimatnya, kedua laki-laki itu menanggapi dengan kekehan.
"Sepertinya bu sinta ini masih sangat muda ya."
"Usia saya sudah 23 tahun pak."
"Wah selisih sangat jauh ya dengan saya."
Doni tertawa disela-sela suapannya, mereka menyantap makan malam dengan bersenda gurau. Sinta fikir acara makan malam itu hanya akan diselimuti perbincangan bisnis, tetapi ternyata mereka tidak membahas hal itu sepatah katapun sampai acara makan malam itu selesai.
Sinta dan doni kini sedang berada diperjalanan pulang, pria itu tidak berbicara apapun. Sinta sendiri terlalu malu untuk mau membuka perbincangan, sampai akhirnya suara maskulin doni memecahkan keheningan itu.
"Mantan suamimu sudah menikah lagi sinta?"
"Dia baru saja menikah lagi."
"Bagaimana perasaanmu?"
"Ah saya bahkan sudah tidak pernah memikirkannya lagi sejak lama, saat dihari pernikahannya saya juga sempat hadir dan rasanya sudah tidak sesakit dulu."
"Perselingkuhan?" kepala doni menengok sekilas kearah sinta, pria itu mengakui kecantikan dan kemolekan dari perempuan disebelahnya itu. Pantas saja para karyawati di kantornya selalu menggunjing perempuan itu, mereka pasti iri dengan sinta.
"Ya begitulah pak."
"Laki-laki memang seperti itu."
Sinta tersenyum, jarang sekali ada pria mau di samakan dengan kelakuan buruk pria lain tetapi boss sinta itu seolah membenarkan kebiasaan buruk dari pria.
"Kalau pak doni sendiri sudah berapa tahun menikah?"
"Pernikahanku sudah berjalan selama enam tahun."
"Sudah lama ya pak," sinta menimpali sekenanya.
"Menurutku itu seperti ratusan tahun lamanya."
"Benarkah, pak doni ternyata romantis juga ya," sinta terkekeh mendengar bualan dari boss nya.
"Maksutku begitu menjengkelkan dan terasa sangat lama."
Sinta menoleh kearah doni pria itu melanjutkan lagi perkataannya.
"Istriku itu lebih tua lima tahun dariku, sifat cerewet dan cemburunya itu membuatku jengah."
"Namanya juga perempuan pak," sinta seperti meniru jawaban dari doni, namun laki-laki itu kali ini memprotes.
"Aku yakin tidak semua perempuan menjengkelkan, dia itu sudah tua masih juga merepotkan."
Sinta menutup bibirnya terkejut mendengar curhatan dari doni, ternyata dibalik sikap dingin seorang pria ada perempuan yang terus merepotkan dan cerewet. Selanjutnya sinta terkekeh dia menatap ke luar kaca mobil melihat pemandangan malam itu.
"Aku rasa kamu berbeda sinta," doni tersenyum tipis setelah mengucapkan hal itu.
"Maksut pak doni?"
"Aku heran setampan apa mantan suamimu itu hingga bisa meninggalkan perempuan sesempurna kamu."
Sinta melengos malu, sudah dua kali ini dia mendapat gombalan dari boss nya. Entah itu gombalan atau memang pria itu benar-benar memuji sinta, janda muda itu tidak menjawab sama sekali dia terus menatap keluar jendela.
bagaimana bisa istri pak doni tidak cemburu jika ternyata kelakuan suaminya itu sangat genit sekali, sifat itu seperti tertutup sikap dinginnya selama ini. mungkin itu yang membuat istrinya terus mengoceh dan merepotkan pak doni. Sinta berbicara sendiri didalam hatinya, tidak kuasa menahan tawanya yang seperti ingin meledak itu, pemikiran tentang istri boss nya itu sangat menggelikan. Sinta tidak sadar kalau mereka sudah sampai didepan kontrakannya, mungkin karena mereka dari tadi asyik mengobrol perjalanan menjadi terasa sangat cepat.
"Terima kasih pak doni atas makan malamnya dan juga sudah mengantar saya pulang."
"Hn itu sudah tugasku."
"Kalau begitu saya masuk dulu," sinta meninggalkan mobil doni yang dibalas suara klakson mobil itu ketika boss nya melajukan mobilnya untuk pergi, sinta berjalan dengan anggun masuk kedalam. Siti masih disana sedang membereskan ruang televisi yang sedikit berantakan karena ulah james, banyak mainan anak-anak berceceran dilantai.
"Mbak kok belum tidur?"
"Tadi saya habis menidurkan james malah ikut ketiduran, ini barusaja bangun."
"Selesaikan besok saja mbak sekarang istirahat saja."
"Tidak apa-apa bu sinta?"
"Memangnya kenapa, kalau masalah rumah yang berantakan tidak perlu difikirkan yang terpenting james dan mbak istirahat yang cukup," sinta melenggang ke kamarnya untuk membersihkan diri dan ikut bergelung dengan james kedalam selimut, adalah tujuannya saat ini.
Tidak punya harga diri rupanya
Lanjut lagi
Mau lanjut baca nih
Maaf tekat
Lama ya, kita nggak berjumpa.wkwkwk
Btwe sekarang author sudah ada kerjaan lain. Alhamdulillah.
Aku datang membawa info tentang cuan. Hehe.
Apakah di sini ada yang mau menjajal platfrom lain? Kebetulan saya salah satu Editor Akuisisi di sana. Maaf sebelumnya, saya sengaja tulis ini di kolom komentar. Takutnya kalau lewat pengumuman menyinggung pemilik rumah. Buat kalian yang mau dapat fee hingga 400 dollar. Boleh whatsapp ke saya 081413030520.. untuk info lain saya jelaskan di wa ya teman-teman. Terima kasih.
apa dibiarkan menggantung..
up trus Thor sukak banget sma karyamu lope lope
semangat terus jangan sampai DOWN
Contohnya dilapak aku banyak siders yang baca perhari tapi kamu lihatkan yang komen hanya itu2 saja, like cuma seberapa? Tapi itu tak apa? Yang penting Aku sudah memberikan yang terbaik untuk mereka kalau masalah like dan komen itu Bonus bwat aku yang penting mereka BACA.
Sebenarnya aku nulis ini desakkan dari temen2 sesama author padahal aku sibuk banget kerja.Ini aku juga nulis di sela-sela waktu santai kalau gak ada kerjaan.Makanya saat ada yang minta bwat crazy Up itu tidak mungkin terjadi...??!
Semangat jangan sampai menyerah begitu mudah 🤗🤗🤗
main main ke karyaku ya mkasih