Lexa, seorang siswi populer yang terbiasa menindas siapa saja yang menghalangi jalannya, terbangun di sebuah kamar sempit yang asing. Saat memandang cermin, ia tersentak menemukan sosok Maya gadis lugu dan pendiam yang saban hari ia jadikan sasaran rundungan di sekolah. Karna suatu kejadian, jiwanya terperangkap dalam tubuh korban yang paling ia benci.
Terjebak dalam kehidupan Maya, Lexa kini harus merasakan dinginnya lantai kamar mandi tempat ia dulu menyiram Maya, pedasnya cemoohan teman-temannya sendiri, hingga kejamnya rasa terisolasi. Demi bertahan hidup dan mencari cara kembali ke tubuh aslinya, Sephia terpaksa membalas balik intimidasi kelompoknya sendiri—kali ini menggunakan akal dan keberanian yang tak pernah dimiliki Maya sebelumnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jihan dwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17
Di dalam rumah megahnya yang bergaya Eropa klasik, Lexa memainkan peran terbaik dalam hidupnya. Setiap kali melangkah melewati ruang tengah atau lorong lantai satu, wajah angkuhnya seketika berganti dengan raut wajah penuh kesungguhan. Ia tahu betul kapan harus membiarkan pintu kamarnya terbuka lebar dan kapan harus mematikan lampu kamar hanya untuk menyalakan lampu meja belajar, menciptakan bayangan seorang putri tunggal yang sedang berjuang keras hingga larut malam.
Sore itu, aroma kehangatan kembali memenuhi ruang keluarga. Di atas meja jati yang luas, Lexa duduk bersila di depan tumpukan buku-buku tebal Biologi, Fisika, dan kumpulan soal olimpiade. Sebuah kacamata berbingkai tipis bertengger di hidungnya sebuah properti tambahan yang ia beli khusus untuk memperkuat kesan anak yang tekun. Tangannya memegang stabilo berwarna merah muda, mencoret-coret halaman buku secara acak seraya berpura-pura mengernyitkan dahi seolah sedang berpikir keras mengurai rumus rumit.
Mama Lexa yang baru saja turun dari lantai atas menghentikan langkahnya. Matanya berbinar haru menatap putri tunggalnya yang tak lelah berhadapan dengan tumpukan kertas sejak beberapa hari terakhir. Hati seorang ibu yang sempat membeku akibat kemarahan atas insiden di pasar beberapa waktu lalu, kini benar-benar luluh tanpa sisa. Rasa bangga dan bersalah bercampur menjadi satu di dalam dadanya. Beliau merasa telah terlalu menghakimi putri kesayangannya.
Dengan langkah lembut, Mama Lexa mendekati meja belajar tersebut dan meletakkan secangkir cokelat hangat serta piring berisi camilan manis di samping tumpukan buku."Lexa, Sayang..." panggil mamanya dengan suara yang begitu halus, penuh penyesalan sekaligus kasih sayang. "Jangan terlalu memaksakan diri ya. Mama khawatir kamu malah sakit kalau belajar terus-terusan tanpa istirahat."
Lexa mendongak, mendesis pelan seolah kaget, lalu mengulas senyum manis bertopeng kepolosan yang amat sempurna. Ia melepaskan kacamatanya dan mengusap matanya dengan pelan, memamerkan raut wajah lelah yang buat-buatan."Nggak apa-apa kok, Ma," sahut Lexa lembut, suaranya diatur sedemikian rupa agar terdengar serak dan lelah. "Lexa cuma mau buktikan ke Mama dan Papa kalau Lexa bukan anak yang memalukan. Lexa mau bawa pulang piala Juara Pertama itu supaya Mama sama Papa bangga punya anak seperti Lexa."
Mendengar ucapan yang begitu manis dan penuh kepalsuan itu, pertahanan Mama Lexa runtuh total. Beliau merengkuh tubuh Lexa ke dalam pelukannya, meremas bahu putrinya dengan linangan air mata haru.
"Maafkan Mama ya, Sayang... Mama sempat berpikiran buruk sama kamu," bisik mamanya seraya melepas pelukan. Tanpa membuang waktu, mamanya menyambar tas tangan mewahnya dari atas sofa, membuka dompet, dan mengeluarkan beberapa kartu kredit berlogo eksklusif beserta sejumlah uang tunai.
"Mama kembalikan semua fasilitas kamu hari ini juga," tegas Mama Lexa seraya menyerahkan kartu-kartu mengilap itu ke tangan Lexa. "Uang jajan kamu Mama kembalikan, dan mobil kamu sudah boleh dipakai lagi mulai besok. Kamu berhak dapat ini semua atas kerja keras kamu.Lexa menerima kartu-kartu itu dengan binar mata yang tertutup rapi oleh raut wajah pura-pura segan. "Ma... Lexa belajar bukan demi ini kok..."
"Mama tahu, Nak. Tapi ini hadiah kecil dari Mama karena kamu sudah mau berubah," potong mamanya mantap.
Tak lama kemudian, langkah kaki tegas terdengar mendekat. Papa Lexa baru saja pulang dari kantornya dengan setelan jas rapi. Pria paruh baya yang menjadi sponsor utama olimpiade tersebut tersenyum lebar menyaksikan pemandangan hangat di ruang keluarga. Rasa bangga menyelimuti dadanya saat melihat perubahan drastis anak gadis satu-satunya.
"Ada apa ini? Kok suasananya hangat sekali?" tanya Papanya seraya merangkul pundak sang istri.
"Papa lihat sendiri kan?" ujar Mama Lexa bangga. "Anak kita belajar mati-matian dari pagi sampai malam. Mama sampai kasihan melihatnya".Papa Lexa tertawa renyah, menepuk-nepuk bahu Lexa dengan penuh rasa bangga yang meluap-luap. "Luar biasa! Ini baru putri kandung Papa. Papa bangga sekali sama kamu, Lexa!"
Pria itu kemudian menatap lurus ke mata Lexa, memberikan janji besar dengan nada tegas yang memancarkan kekayaan dan kekuasaannya. "Dengar ya, Lexa. Kalau minggu depan kamu benar-benar berhasil menyabet gelar Juara Pertama di Olimpiade Sains itu, Papa akan belikan apa saja yang kamu minta. Sebutkan satu hal mau mobil sport baru, liburan ke Eropa, atau apa pun,Papa akan wujudkan hari itu juga!"
Janji manis sang papa menggema indah di dalam ruangan mewah tersebut, menyuntikkan euforia yang begitu besar ke dalam dada Lexa."Beneran ya, Pa? Janji ya?" tanya Lexa dengan mata berbinar-binar gembira.
"Janji! Seorang pengusaha tidak pernah ingkar janji," jawab papanya penuh kepastian.Namun, begitu kedua orang tuanya beranjak menuju kamar mereka untuk beristirahat, topeng anak rajin yang dipakai Lexa seketika terlepas tanpa bekas.Senyum manis dan raut wajah lelahnya luntur, berganti menjadi tawa sinis yang tertahan di balik telapak tangannya. Lexa memandangi kartu-kartu kredit di tangannya dengan tatapan penuh kemenangan. Kebohongan dan sandiwara besarnya telah membuahkan hasil yang jauh lebih cepat dari perkiraannya.
Bukannya memanfaatkan malam itu untuk benar-benar mempelajari kisi-kisi atau membaca materi sains, Lexa justru langsung melempar buku Biologi tebal di hadapannya hingga menabrak dinding kamar. Sama sekali tidak ada niat dalam otak cantiknya untuk menyentuh ilmu pengetahuan. Toh, kunci jawaban utuh sudah tersimpan aman di dalam ponselnya, siap untuk dihapal pola abjadnya sehari sebelum perlombaan.
Lexa menjatuhkan tubuhnya ke atas kasur empuk berseprai sutra. Ia menyambar ponsel pintarnya, bukan untuk belajar, melainkan langsung membuka situs-situs belanja barang mewah dan akun media sosial dari merek-merek ternama dunia.
Jemarinya dengan lincah menggeser layar ponsel, menjelajahi katalog tas kulit edisi terbatas, sepatu hak tinggi berdesain mewah, perhiasan berlapis berlian, hingga pakaian perancang busana kelas atas yang harganya mencapai puluhan hingga ratusan juta rupiah.
"Tas Chanel edisi terbaru ini cocok banget buat dipake pas pengumuman juara nanti," gumam Lexa dengan cengiran penuh keangkuhan. "Terus bonus dari Papa nanti... gue bakal minta mobil sport merah yang kemarin gue liat!".Di dalam kepala Lexa yang dangkal dan dikuasai oleh materi, bayangan piala olimpiade tidak pernah mewakili ilmu pengetahuan, dedikasi, atau kehormatan akademis. Bagi Lexa, piala itu tak lebih dari sekadar tiket emas untuk menukarkan kebohongan besarnya dengan deretan barang-barang berharga fantastis yang siap memuaskan gengsi dan kesombongannya di hadapan teman-temannya.
Sambil memeluk bantal mewahnya dan membayangkan deretan tas bermerek yang akan menghiasi lemarinya minggu depan, Lexa tertawa pelan. Ia merasa menjadi manusia paling beruntung dan paling cerdas karena berhasil membodohi semua orang orang tuanya, para guru di sekolah, hingga teman-temannya.
Ia tak pernah tahu dan tak pernah peduli betapa dalam jurang kehancuran yang sedang ia gali sendiri. Di bawah bayang-bayang kejujuran Maya yang terus mengasah otak di gubuk reotnya, Lexa melangkah semakin jauh ke dalam perangkap takdir yang dianyam oleh kecurangannya sendiri.