NovelToon NovelToon
Beri Aku Waktu Untuk Pulih

Beri Aku Waktu Untuk Pulih

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyelamat / Mengubah Takdir / Romansa Fantasi
Popularitas:470
Nilai: 5
Nama Author: Rosemeera_

​Reno selalu percaya bahwa tugas terbesarnya di dunia adalah bertahan hidup dan melindungi adiknya, meski harus mengubur luka masa kecilnya rapat-rapat.

​Namun, ketika usahanya runtuh dan wanita yang dicintainya, Kareen, menuntut kepastian di tengah kegagalan, Reno dihadapkan pada pilihan terberat: memaksakan diri bertahan meski hancur, atau melepaskan demi menyembuhkan lukanya sendiri.

​"Tunggu aku. Tapi kalau aku terlalu lama... menikahlah dengan orang yang bisa membuatmu bahagia."

​Ketika masa lalu melukainya dan masa depan tak memberi kepastian, mampukah Reno menemukan kembali potongan dirinya yang hilang sebelum waktu benar-benar memisahkan mereka?

​Sebuah kisah tentang luka masa kecil, impian yang patah, dan keberanian untuk memulihkan diri sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rosemeera_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17: Bangga dan Tantangan Baru

Pagi itu, aula sekolah Rayan dipenuhi oleh riuh suara para wali murid dan deretan siswa yang mengenakan seragam putih-biru terbaik mereka. Di sudut ruangan, aku berdiri tegap menggunakan kemeja batik lengan panjang milikku yang paling rapi—kemeja yang dulu hanya kukeluarkan saat ada acara duka atau rapat penting.

Mataku tak lepas memperhatikan Rayan yang sedang berdiri di atas panggung kecil bersama teman-teman sekelasnya. Saat namanya dipanggil untuk menerima ijazah dan penghargaan siswa dengan perkembangan akademik terbaik, dadaku bergemuruh oleh rasa haru yang luar biasa.

Rayan menoleh ke arah sudut ruangan di mana aku berdiri. Anak itu tersenyum lebar, mengangkat piala kecilnya tinggi-tinggi ke udara khusus untukku. Aku mengangguk pelan, memberikan jempol sambil tersenyum bangga.

Dulu, aku selalu merasa kasihan pada Rayan karena harus tumbuh bersama kakak yang kaku, dingin, dan penuh tekanan finansial. Namun hari ini, melihat binar bahagia di matanya, aku tahu bahwa keputusan untuk tidak menyerah dan mau belajar membuka diri adalah pilihan terbaik dalam hidupku.

Setelah acara selesai dan kami berjalan pulang menyusuri trotoar, Rayan menggenggam erat piala plastiknya.

"Mas Reno ... terima kasih banyak, ya," ucap Rayan tiba-tiba saat kami menunggu angkutan umum.

"Terima kasih buat apa, Rayan?" tanyaku pelan.

"Buat semuanya. Buat biayanya, buat kemeja bagus yang Mas pakai hari ini, dan ... karena Mas Reno mau datang melihat Rayan di panggung," jawabnya tulus. "Teman-teman Rayan bilang Mas Reno kelihatan keren banget tadi."

Aku terkekeh pelan, menepuk bahunya hangat. "Kamu yang keren, Rayan. Kerja keras kamu yang bikin piala itu ada di tangan kamu. Mas cuma bertugas memastikan kamu bisa melangkah tanpa ragu."

Hari itu ditutup dengan makan bakso bersama di warung langganan dekat kontrakan. Momen sederhana, namun terasa begitu mewah bagi kami berdua.

Namun, kehidupan nyata di Jakarta selalu tahu cara memberi kejutan. Ketenangan yang kunikmati bersama Rayan tidak berlangsung lama ketika hari Senin kembali bergulir di pabrik.

Pukul delapan pagi, suasana di ruang produksi terasa berbeda dari biasanya. Ada wajah-wajah baru yang berkumpul di dekat kantor manajer operasional. Pak Bambang memanggilku masuk ke ruangannya sebelum jam kerja dimulai.

"Reno, duduk sebentar," kata Pak Bambang sambil menggeser selembar berkas di atas mejanya.

Aku duduk di kursi berhadapan dengannya. "Ada apa, Pak?"

"Perusahaan baru saja merekrut penyelia baru untuk lini produksi C, namanya Dion," Pak Bambang menjelaskan dengan nada suara hati-hati. "Dia pindahan dari pabrik pusat di Surabaya. Manajemen mau ada penyegaran sistem, dan Dion ini tipe orang yang sangat berpatokan pada target angka kaku."

Aku mengerutkan dahi tipis. "Maksudnya bagaimana, Pak?"

"Sederhananya, gaya kepemimpinanmu yang lebih fleksibel dan pendekatan manusiawi yang baru kamu terapkan dua minggu terakhir ini ... mungkin akan berbenturan dengan gaya Dion," jawab Pak Bambang jujur. "Dion terkenal tidak peduli dengan kondisi staf atau jam istirahat. Bagi dia, efisiensi tinggi adalah segala-galanya. Dan dia minta agar sebagian anggota timmu yang paling berpengalaman dipindahkan ke lini kerjanya."

Dadaku mendadak terasa sedikit menyempit. Kebijakan ini berpotensi merusak ritme kerja dan kenyamanan yang baru saja kupupuk bersama Doni dan anak-anak timku. Dulu, kabar seperti ini pasti langsung memicu emosiku. Aku pasti akan langsung mendatangi ruangan manajer, protes keras, atau melampiaskan kekesalan itu dengan membentak anak buahku.

Aku menarik napas panjang, menahan dorongan reaksi impulsif itu di tenggorokan. Aku mengingat latihan mengontrol emosi yang kupelajari di Bandung.

"Apakah keputusan pemindahan anggota tim itu sudah final dari manajemen pusat, Pak?" tanyaku dengan nada setenang dan setegas mungkin.

Pak Bambang tampak sedikit terkejut dengan reaksiku yang tidak meledak-ledak. "Belum sepenuhnya final. Masih ada uji coba kolaborasi selama dua minggu ke depan. Kalau kamu bisa membuktikan bahwa metode timmu menghasilkan output yang lebih stabil dan angka kerusakan barang lebih rendah dari cara Dion, saya bisa pertahankan struktur timmu."

"Baik, Pak. Beri saya kesempatan untuk membuktikannya lewat data kinerja dua minggu ini," jawabku tegas.

Sore harinya saat jam istirahat, aku duduk di bangku taman luar pabrik. Angin sore menghempaskan daun-daun kering ke lantai semen. Beban pikiran mulai merayapi kepala, membuat otot-otot leherku kembali tegang.

Aku merogoh saku, mengeluarkan ponsel, dan kali ini aku tidak lagi ragu-ragu atau menunggu dipancing oleh story. Tanpa membuang waktu, aku langsung membuka percakapan dengan Kareen.

Reno: Selamat sore, Kareen. Sedang sibuk?

Hanya butuh waktu kurang dari dua menit sampai balasan darinya muncul.

Kareen: Sore, Reno! Tidak kok, baru selesai rekap dokumen. Ada apa? Suaramu—maksudku ketikanmu—kelihatan serius banget haha.

Aku tersenyum tipis membaca balasan santainya, lalu mengetikkan kekhawatiranku tentang tantangan baru di pabrik dan keselamatan iklim kerja timku yang baru saja membaik.

Reno: Ada penyelia baru di pabrik, gaya kerjanya sangat keras dan kaku seperti aku yang dulu. Dia mau ambil separuh anggota timku. Aku takut posisiku dan ritme anak-anak terganggu lagi.

Balasan dari Kareen datang tidak lama kemudian, membawa perspektif baru yang menenangkan.

Kareen: Dengarkan aku baik-baik, Reno. Dulu kamu melawan dunia dengan kemarahan karena kamu takut. Tapi sekarang kamu berjuang buat timmu dengan kedewasaan. Jangan biarkan kehadiran orang baru itu membuatmu kembali ke 'Reno yang dulu'. Buktikan kalau kepemimpinan dengan empati justru melahirkan hasil yang jauh lebih tahan lama.

Kareen: Aku percaya kamu bisa melewatkannya. Kamu bukan lagi Reno yang rapuh.

Membaca kata demi kata dari Kareen, kepalan tanganku yang tadinya tegang perlahan melonggar. Ia benar. Ini bukan lagi soal mempertahankan ego atau rasa takut kehilangan kendali. Ini adalah ujian nyata untuk membuktikan apakah perubahan dalam diriku benar-benar telah mengakar kuat.

1
Laksmi Harsa
nunngguin bab selanjutnya nih kak... 💪
Rosemeera_: Wah, makasih banyak dukungannya! Makin semangat nulisnya nih. Jangan lupa simpan/favoritkan cerita ini ya Kak biar langsung dapet notif pas bab baru rilis!
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!