Bagi Auren, kain biru tua yang kaku itu bukan sekadar seragam baru, melainkan awal dari cerita abadi yang akan ia lewati bersama Evan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurentina Bulolo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dua Ketukan Dan Satu Panggilan
Sinar matahari sore menerobos jendela perpustakaan, menerangi meja tempat Auren dan Evan duduk berhadapan. Di antara tumpukan buku tebal, jarak yang dulu terasa canggung kini perlahan mengikis.
Evan menggeser sebuah buku catatan ke hadapan Auren. "Coba periksa bagian ini," ucapnya tenang.
Auren mengerutkan kening, membaca deretan rumus yang rumit. "Ini sulit sekali, Evan. Aku tidak yakin bisa menyelesaikannya sebelum ujian besok."
Evan terkekeh pelan. Suaranya terdengar hangat, jauh dari kesan dingin yang biasa ia tunjukkan pada orang lain. Ia memajukan posisi duduknya, menatap Auren lekat-lekat.
"Kamu pasti bisa, Aurenku," bisik Evan lembut.
"Evan, stop memanggilku begitu di tempat umum," protes Auren berbisik, berusaha menyembunyikan salah tingkahnya dengan berpura-pura menulis.
Jantung Auren berdegup kencang. Wajahnya langsung merona merah mendengar panggilan itu. Evan belakangan ini semakin sering menggunakannya—seolah ingin menegaskan kepemilikan yang hanya boleh diucapkan olehnya.
Evan tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya tersenyum tipis. Tangan kanannya bergerak maju, lalu jari telunjuk dan tengahnya mengetuk permukaan meja kayu di dekat tangan Auren.
Tok. Tok.
Ketukan dua kali. Gestur andalan Evan yang selalu berhasil membuat Auren terpaku. Itu adalah kode rahasia mereka—sebuah tanda penenang, sekaligus cara Evan mengatakan 'percaya padaku' tanpa perlu bersuara.
Auren mendongak, menatap mata Evan yang jernih. Rasa panik dan ragu dalam dirinya mendadak sirna begitu saja, digantikan oleh rasa aman yang familier.
"Nah, sekarang fokus lagi," ujar Evan, menyelipkan sejumput rambut Auren ke belakang telinga gadis itu. Gerakannya begitu alami dan dekat, membuat jarak di antara mereka malam itu terasa semakin tidak berjarak.
Auren masih berusaha fokus pada buku tugasnya, tetapi embusan angin dari jendela membuat rambut panjangnya yang terurai sedikit berantakan. Evan yang menyadari hal itu langsung memperhatikannya dengan lekat.
"Aurenkuuu, tumben rambut belum terkuncir? Biasanya udah terkuncir indah," goda Evan sambil menopang dagu dengan tangannya.
Auren mendongak sebentar, lalu mendengus pelan sambil merapikan anak rambutnya yang menghalangi mata. "Ihhh, aku tadi buru-buru jadi lupa."
Evan tersenyum tipis melihat wajah cemberut gadis di depannya. "Yaudah sini biar aku kuncir rambut kamu. Kamu lagi sibuk ngerjain tugas, biar aku yang kuncir rambut kamu."
Mendengar tawaran itu, mata Auren langsung membelalak. "Ih gak mau! Nanti jelek!" tolaknya cepat, membayangkan bagaimana jadinya jika seorang cowok menguncir rambutnya.
Evan tertawa pelan. Sebuah senyuman manis terukir di wajahnya, memperlihatkan lesung pipi yang membuatnya terlihat berkali-kali lipat lebih tampan.
"Aku bisa, kamu gak percaya aku? Gawat nih Aurenku gak percaya sama ketua kelasnya," ujar Evan sengaja memasang wajah cemberut yang dibuat-buat, namun tetap saja memancarkan pesonanya yang sulit ditolak.
Auren langsung salah tingkah melihat ekspresi Evan. "Ehhh... enggak gitu, Van. Yaudah dehh, tapi bagus yaa?" pasrah Auren akhirnya.
Evan kembali tersenyum penuh kemenangan. Ia mengulurkan tangan, mengelus pucuk kepala Auren dengan penuh kasih sayang. "Janji, Aurenkuuu."
Tak lama kemudian, Evan bergeser duduk di belakang Auren. Ia mengambil sisir yang tergeletak di dekat tas Auren. Dengan sangat hati-hati, Evan mulai menyisir rambut gadis itu menggunakan sisir milik Auren sendiri.
Gerakan tangan Evan terasa begitu lembut dan penuh perasaan. Ia memperlakukan rambut Auren seakan-akan itu adalah barang paling berharga di dunia yang harus dijaga dengan sepenuh hati. Tidak ada satu pun tarikan yang kasar.
Di posisi itu, Auren terus berusaha melanjutkan tugasnya, meskipun detak jantungnya sudah karuan. Sementara itu, Evan dengan telaten terus merapikan dan menguncir rambut Auren. Di tengah kegiatannya, Evan sengaja memajukan wajahnya ke samping wajah Auren, lalu mencubit pelan pipi gadis itu yang mulai memerah.
"Ihh, Evan! Aku lagi nulis tahu," gumam Auren dengan suara pelan, menyembunyikan wajahnya yang sudah kepanasan karena malu.
Evan hanya terkekeh pelan di dekat telinga Auren, merasa gemas melihat reaksi Aurennya yang selalu sukses membuatnya terhibur.
Setelah beberapa menit yang mendebarkan bagi Auren, Evan akhirnya menyudahi kegiatannya. Ia merapikan sisa anak rambut Auren dengan ujung jarinya, lalu mengetuk meja dua kali.
Tok. Tok.
"Selesai, Aurenku," bisik Evan tepat di dekat telinganya.
Auren segera mengambil cermin kecil dari dalam tasnya dengan perasaan waswas. Namun, matanya langsung berbinar saat melihat pantulan dirinya. Hasil kunciran Evan ternyata sangat rapi dan bagus, bahkan jauh lebih rapi daripada buatannya sendiri. Ikatan rambutnya pas, tidak terlalu kencang, dan membingkai wajahnya dengan sempurna.
"Wah... kok bisa serapi ini, Van?" tanya Auren kagum, menoleh ke arah Evan yang kini kembali tersenyum bangga memamerkan lesung pipinya.
"Kan sudah kubilang, percaya saja sama ketua kelasmu ini," sahut Evan santai, tangannya bergerak gemas ingin kembali mencubit pipi Auren yang masih merona.
Namun, momen manis itu mendadak terhenti oleh suara langkah kaki yang mendekat, diikuti dehaman keras yang disengaja.
"Ehem! Wah, wah, ada yang lagi salon-salonan nih di kelas," goda Doni sambil berjalan masuk bersama Putra. Kedua sahabat Evan itu langsung memasang seringai usil.
Putra ikut menimpali sambil menggeleng-gelengkan kepala, "Luar biasa ya ketua kelas kita, selain jago matematika ternyata jago jadi kapster salon khusus buat Auren."
Auren yang panik langsung membenarkan posisi duduknya dan berpura-pura sibuk membaca buku, menyembunyikan wajahnya yang mendadak matang seperti tomat. Sementara Evan hanya menanggapi kedua temannya dengan tatapan datar yang dingin, kembali ke mode cueknya yang biasa.
Namun, atmosfer di ruangan itu mendadak berubah menjadi tegang saat langkah kaki ketiga terdengar. Balisya berjalan di belakang Doni dan Putra. Langkahnya terhenti, matanya menatap tajam ke arah kunciran rambut Auren, lalu beralih ke sisir yang masih dipegang oleh Evan.
Balisya, yang selama ini masih menyimpan perasaan mendalam kepada Evan, merasakan dadanya bergemuruh hebat. Rasa cemburu berat langsung membakar hatinya. Selama ini, Evan selalu bersikap dingin dan menjaga jarak dengan semua perempuan, termasuk dirinya. Melihat Evan bisa bersikap begitu lembut, bahkan sampai mau menyisir dan menguncir rambut Auren, membuat tangan Balisya mengepal kuat di sisi roknya.
"Evan, kamu dipanggil guru piket di ruang guru sekarang," ucap Balisya dengan nada suara yang berusaha ditahan agar tetap terdengar datar, meski matanya tidak bisa menyembunyikan kilat kekecewaan dan kecemburuan yang mendalam saat menatap Auren.
Evan menatap Balisya dengan tatapan datarnya yang seperti biasa. "Oh, oke," jawab Evan singkat dengan sikap dinginnya yang khas.
Namun, alih-alih langsung beranjak pergi sendirian meninggalkan ruangan, Evan justru berbalik menatap Auren. Tatapan matanya mendadak berubah menjadi sangat lembut. "Aurenku, yok ikut aku," ajaknya.
Auren tertegun dan menatap Evan dengan bingung. "Tapi kan kamu yang dipanggil, Van, bukan aku."
Evan menopang tangannya di meja, lalu menatap lekat mata Auren. "Aku itu kamu, kamu itu aku. Ngerti kan maksudnya?"
"Hah?" Auren mengerutkan kening, semakin tidak paham dengan jalan pikiran ketua kelasnya ini.
Melihat kebingungan gadis itu, Evan tersenyum manis lagi hingga lesung pipinya terlihat jelas. "Aurenku, maksudnya ituu... kalau guru manggil aku, berarti manggil kamu juga. Dan kalau manggil kamu, berarti manggil aku jugaa. Kita kan satu," bisik Evan dengan nada yang begitu meyakinkan.
Blush! Wajah Auren langsung merah merona sampai ke telinga mendengar ucapan blak-blakan dari Evan di depan teman-temannya. "Ihh, Evan! Jangan bercanda tauu," bisik Auren panik sambil mencubit pelan lengan seragam Evan.
Evan terkekeh gemas melihat ekspresi salah tingkah Aurennya. Bukannya menjauh, Evan justru memajukan wajahnya lalu mengetuk ujung hidung Auren sebanyak dua kali dengan jari telunjuknya.
Tok. Tok.
"Aku serius, Aurenkuu," ucapnya lembut namun tegas.
Tanpa basa-basi lagi dan tanpa memedulikan tatapan orang-orang di sekitar mereka, Evan langsung merangkul tangan Auren dengan erat. Ia menarik lembut tangan gadis itu, mengajaknya bangkit dari kursi, lalu menuntunnya berjalan keluar kelas bersama-sama.
Sementara itu, Balisya yang berdiri tidak jauh dari mereka hanya bisa mematung. Wajahnya memucat dan hatinya terasa semakin hancur melihat bagaimana Evan secara terang-terangan menunjukkan bahwa Auren adalah prioritas utamanya, bahkan di depan dirinya yang sedang terbakar cemburu. Doni dan Putra yang melihat kejadian itu hanya bisa saling berpandangan sambil menahan senyum geli sekaligus takjub dengan keberanian ketua kelas mereka.