NovelToon NovelToon
Jenderal, Rotiku Bukan Untukmu

Jenderal, Rotiku Bukan Untukmu

Status: tamat
Genre:Penyesalan Suami / Transmigrasi / Fantasi / Tamat
Popularitas:4.6k
Nilai: 5
Nama Author: Ketoprak Encok

Shania, seorang gadis modern, terjebak dalam tubuh Aurelia Valerius—istri dari Damian Valerius, jenderal tiran yang kejam dan membencinya. Mengetahui takdir aslinya akan berujung pada kehancuran dan penyiksaan, Shania memilih kabur diam-diam dan merintis hidup baru sebagai pembuat roti di sebuah kota kecil.

Sementara itu, Damian yang awalnya merasa lega mendadak tersiksa oleh kehampaan di rumahnya. Ketika ia berhasil menemukan sang istri yang kini hidup mandiri namun diliputi ketakutan mendalam, sang jenderal harus membayar mahal semua dosa masa lalunya untuk mendapatkan kembali hati wanita yang dulu ia abaikan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ketoprak Encok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 17

Lonceng kecil di atas pintu kayu itu berderit nyaring, memecah keheningan malam dan mengirimkan getaran tajam yang merambat seketika ke seluruh ujung saraf Damian Valerius. Namun, langkah pria itu tertahan sesaat di ambang pintu, terhipnotis oleh perubahan atmosfer yang mendadak bergeser dari sunyi yang mencekam menjadi riuh oleh sisa-sisa memori waktu.

Detik demi detik merayap lambat. Alih-alih langsung melangkah masuk menerobos masuk ke dalam ruang utama toko seperti seorang panglima perang yang merebut wilayah taklukan, Damian justru mendapati dirinya terdorong mundur selangkah oleh gelombang emosi yang berkecamuk di dalam dadanya. Ia menarik kembali tubuhnya, keluar dari bingkai pintu, dan memilih menyeberang jalan secara senyap, menyembunyikan postur tubuh tinggi besarnya di balik bayangan pilar batu sebuah bangunan tua yang terletak tepat di seberang Roti Hangat Auris.

Dari tempat persembunyiannya dalam remang cahaya lentera jalan kota pelabuhan, Damian menyapukan pandangan matanya yang tajam.

Matahari baru saja merayap naik, mengubah langit kelam pagi menjadi jingga pucat, dan toko roti kecil itu mendadak hidup oleh kedatangan para warga lokal yang berbaris rapi di depan etalase kaca. Aroma mentega panggang yang hangat, vanila manis, dan ragi fermentasi menguar memenuhi udara jalanan sempit itu, berpadu dengan suara tawa riang dan obrolan pagi para pembeli.

Dan di sana—di balik meja etalase kayu yang sederhana—berdiri Aurelia.

Wanita itu mengenakan gaun katun polos berwarna kelabu lembut dengan celemek kain putih yang bersih. Rambut panjang kecokelatannya diikat longga dengan pita kain sederhana, menyisakan beberapa helai anak rambut yang membingkai wajahnya yang tampak jauh lebih segar, pipi chubby dan bercahaya dibanding saat ia terkurung di dalam benteng Valerius.

Damian menatapnya lekat-lekat, tanpa berkedip. Jantung di dalam dadanya bergemuruh hebat, menghantam tulang rusuknya dengan ritme brutal yang tak mampu ia kendalikan.

Yang paling menghujam batin sang Jenderal bukanlah kenyataan bahwa wanita itu berhasil melarikan diri ratusan mil jauhnya dari istana, melainkan ekspresi yang terukir di wajah istrinya.

Aurelia sedang tersenyum.

Sebuah senyuman yang begitu ramah, tulus, dan hangat, diberikan kepada seorang anak kecil pembeli roti dan ibunya. Senyuman itu merekah indah di bibir Aurelia, memancarkan ketenangan jiwa yang luar biasa—sebuah ekspresi kebahagiaan murni yang tidak pernah, bahkan sekadar sekejap pun, tidak pernah ia berikan kepada Damian selama enam tahun pernikahan mereka di Kediaman Valerius. Di hadapan Damian dulu, wajah itu selalu mencari perhatian dirinya, riasannya tebal, sekarang, wajah itu selalu pucat pasi karena dirinya, kaku dalam ketakutan, atau berkerut penuh kebencian. Tidak pernah ada senyuman. Tidak pernah ada kehangatan yang dibagikan secara sukarela.

Pandangan mata abu-abu milik Damian memanas. Sensasi terbakar yang tidak tertahankan merambat naik dari dadanya hingga ke tenggorokan.

Darah di sekujur tubuhnya berdesir hebat, mendidih dalam gejolak emosi yang sangat kompleks dan membingungkan. Ia merasakan panas yang luar biasa menyengat di bawah kulitnya, sebuah gelombang amarah yang mendesak keluar dari lubuk hatinya yang paling dalam.

Namun, di tengah amarah yang membakar itu, Damian mendadak tertegun oleh kebingungannya sendiri.

Dia merasa sangat marah. Pria itu merasakan dorongan aneh untuk menghancurkan segalanya, untuk mendatangi tempat itu, menarik lengan Aurelia, dan menyeretnya kembali ke dalam sangkar besi miliknya. Ke dalam pelukannya. Hanya kepadanya.

Tetapi saat akal sehatnya mencoba mencari alasan di balik kemarahan itu, Damian justru membeku. Dia marah kepada siapa? Dan mengapa dia harus marah?

Apakah ia ingin marah pada Aurelia karena wanita itu berani kabur meninggalkannya? Tapi bukankah selama ini ia sendiri yang mengabaikan, mencurigai, dan memperlakukan wanita itu layaknya duri dalam daging yang tidak diinginkan? Apakah ia ingin marah pada takdir? Atau pada dirinya sendiri yang kini tersiksa oleh bayangan senyuman yang tidak pernah ditujukan untuknya?

Damian mengepalkan tangan kanannya di balik sarung kulit hitam hingga buku-buku jarinya memutih, menahan gejolak amarah yang hampir membuatnya kehilangan kendali. Napasnya memburu, menciptakan uap tipis di udara pagi yang dingin. Ia merasa seperti orang bodoh—seorang Jenderal Agung yang terbiasa memimpin ribuan pasukan dan menaklukkan kerajaan-kerajaan besar, kini dibuat tidak berdaya hanya oleh pemandangan seorang wanita yang tersenyum ramah kepada para tukang roti dan nelayan rendahan di sudut kota pelabuhan yang kotor.

Rasa cemburu yang beracun merayap masuk, mengoyak-ngoyak sisa pertahanan mentalnya. Wanita itu tampak begitu bahagia hidup sebagai orang biasa. Wanita itu tidak butuh perlindungan benteng Valerius, tidak butuh gaun sutra berlian, dan tidak butuh kebesarannya. Aurelia bisa hidup mandiri, tersenyum, dan bernapas dengan leluasa—tepat di luar jangkauan kuasanya.

Dan kenyataan bahwa dunia wanita itu kini bisa berjalan dengan begitu indah dan damai tanpa kehadiran dirinya di dalamnya, terasa seperti sebuah penghinaan paling telak yang pernah diterima oleh seorang Damian Valerius sepanjang hidupnya.

Di seberang jalan, kerumunan pembeli mulai berangsur-angsur sepi. Aurelia, dengan gerakan ringan yang terbiasa, membersihkan sisa-sisa tepung di atas meja etalase menggunakan sehelai kain lap bersih. Wanita itu menghela napas lega, tersenyum kecil pada dirinya sendiri, lalu berbalik hendak melangkah menuju pintu belakang toko untuk menyiapkan adonan berikutnya.

Tepat pada detik itu, saat Aurelia memutar tubuhnya dan mengangkat pandangannya sekilas ke arah luar jendela kaca, manik mata hijau wanita itu tanpa sengaja menyapu ke seberang jalan—menatap lurus ke arah pilar batu tempat Damian berdiri tersembunyi.

Meskipun jarak di antara mereka dipisahkan oleh jalanan berbatu dan bayangan remang-remang pagi, tubuh Aurelia mendadak membeku kaku di tempatnya. Senyuman di wajahnya lenyap seketika, tergantikan oleh warna pucat pasi yang menyedihkan, seolah-olah seluruh darah di tubuhnya tersedot habis dalam satu detik yang mengerikan.

Jantung Damian melonjak. Ia tahu, penyamarannya telah runtuh. Wanita itu baru saja mengenalinya.

Tanpa berpikir panjang lagi, didorong oleh dorongan impulsif yang tak terbendung, Damian melepaskan cengkeramannya dari pilar batu, melangkah keluar dari tempat persembunyiannya, dan mulai menyeberangi jalan berbatu itu dengan langkah lebar yang mematikan—

1
Murni Dewita
finish
Dian Utami
shania petakut thor harus nya pemberani
Ketoprak Encok: huhuhu.... makasih koreksinya kak
total 1 replies
Renjana
👣
mampir diceritaku juga ya😊
Murni Dewita
lanjut dan tetap semangat
Murni Dewita
gantung thor
Murni Dewita
gantung thor double up donk
Ketoprak Encok: sip kak
total 1 replies
Murni Dewita
👣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!