Theo adalah seorang laki laki yang baru saja menikah dengan perempuan bernama Tiara. keduanya adalah pasangan yang bahagia yang tinggal cukup sederhana di Kota. namun ketenangan mereka berubah ketika Thao mendapatkan warisan rumah dan tinggal di rumah tersebut.
keanehan demi keanehan ia alami selama tinggal di rumah tua yang memang sudah terkenal angker sejak lama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Iephe Tyo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 17
"...namun, semua hal baik pasti ada saja orang yang tidak suka, nduk..." lanjut Bu Sri dengan nada suaranya yang mendadak berubah lirih, membuat Tiara yang tadinya tersenyum langsung menyimak dengan penuh perhatian.
Wanita paruh baya itu menarik napas panjang, tatapannya menerawang menembus dinding kamar seolah kembali menelan kepahitan masa lalu.
"Dulu, saat kakungmu memimpin desa ini dengan jujur dan adil, ada satu orang yang sangat membenci pencapaian beliau," ucap Bu Sri pelan. "Namanya Pak Burhan. Dia adalah saingan kakung saat pemilihan lurah masa itu. Tapi sayangnya, Pak Burhan kalah telak karena warga lebih mempercayai integritas Kakek dan warga sudah tau sifat buruk Pak Burhan yang temperamental dan suka menghina orang lain."
Tiara mendengarkan dalam diam, merasakan ketegangan perlahan merayap di dalam kamar yang hangat itu.
"Pak Burhan itu orangnya penuh ambisi tapi berhati licik," sambung Bu Sri sambil menggelengkan kepala pelan. "Dia tidak terima kekalahannya dan menyimpan dengki yang mendalam kepada kakekmu. Karena tahu tidak mampu menandingi Kakek secara adil, dia mulai menghalalkan segala cara untuk menjatuhkan nama baik Kakek di mata warga. Bahkan... dia nekat menggunakan jalan pintas, menggunakan ilmu hitam dan santet untuk mencelakai keluarga kita."
Bu Sri menggenggam tangan Tiara sedikit lebih erat, jemari keriputnya terasa dingin.
"Dari situlah awal mula bencana datang, Nak. Rumah yang dulunya penuh berkah, tenteram, dan jauh dari hal-hal gaib ini perlahan berubah menjadi angker. Jin-jin peliharaan dan kiriman ilmu hitam mulai berdatangan meneror rumah ini, mencoba memecah belah mental kami. Tapi almarhum Kakekmu adalah orang yang kuat ilmu batinnya dan dekat dengan Sang Pencipta. Kakek melawan balik dengan keteguhan iman, hingga akhirnya Pak Burhan gagal total."
Bu Sri menghela napas berat, menutup ceritanya dengan sorot mata penuh makna. "Meskipun Pak Burhan sudah lama tiada, makhluk gaib kiriman masa lalu itu rupanya masih ada yang tersisa di sudut-sudut rumah ini, menunggu celah untuk kembali menguji keturunan Kakek."
Tiara menelan ludahnya yang terasa kelat, bulu kuduknya meremang mendengar penuturan sang nenek. "Jadi... maksud Uti, teror yang menimpa rumah selama ini..."
Bu Sri mengangguk pelan, sorot matanya menyiratkan kepedihan yang mendalam. "Iya, Nduk. Sebelum Pak Burhan menghembuskan napas terakhirnya karena penyakit misterius yang dideritanya dulu, dia sempat mengucapkan sumpah serapah di hadapan banyak orang. Dia bersumpah akan terus mengganggu dan menghancurkan keturunan almarhum Kakung sampai tujuh turunan."
Suara Bu Sri bergetar pelan, mencerminkan betapa beratnya beban rahasia yang disimpan wanita sepuh itu selama bertahun-tahun.
"Dan sampai detik ini," lanjut Bu Sri dengan helaan napas yang berat, "Uti belum pernah tahu cara pasti untuk mengusir atau memusnahkan makhluk-makhluk kiriman itu sepenuhnya. Mereka terlalu kuat karena diikat oleh perjanjian terlarang semasa hidup Pak Burhan meskipun Kakungmu sudah membuat pagar gaib untuk melawan makhluk makhluk itu."
Tiara merapatkan selimutnya, merasa hawa di dalam kamar tiba-tiba menjadi jauh lebih dingin. "Lalu... bagaimana dengan pagar gaib yang dibuat Kakung dulu, Uti? Apakah rumah ini masih aman?"
Bu Sri menatap cucu menantunya dengan pandangan cemas. "Kakungmu memang sudah memasang pagar gaib yang sangat kuat di sekeliling rumah ini sejak dulu, terutama setelah kejadian-kejadian mengerikan yang sempat menimpa suami kamu, Theo. Tapi... dengan kepergian Kakung untuk selama-lamanya, Uti sendiri tidak tahu apakah kekuatan pelindung gaib itu masih berfungsi penuh atau sudah mulai melemah. Kita hanya bisa berdoa dan bertawakal kepada Allah, semoga keluarga kita selalu dalam lindungan-Nya."
Tiara mengangguk-angguk pelan, meresapi setiap kata yang meluncur dari bibir sang nenek. Penjelasan panjang lebar itu berhasil merangkai kepingan-kepingan misteri yang selama ini menyelimuti rumah besar tersebut, meski di sisi lain juga meninggalkan rasa ngeri yang membekas di benaknya.
Obrolan malam itu perlahan mulai mereda seiring dengan jarum jam yang terus berputar semakin larut. Suasana di luar kamar terasa begitu sunyi, hanya menyisakan derik angin malam yang sesekali bergesekan dengan dahan pohon di halaman.
Keheningan yang menyelimuti kamar tersebut akhirnya mengundang rasa lelah yang amat sangat. Kelopak mata Tiara yang tadinya masih terbuka lebar perlahan terasa berat. Napasnya mulai teratur, menandakan kantuk hebat yang menghinggapi setelah seharian dilanda ketegangan.
Melihat cucu menantunya mulai menguap, Bu Sri tersenyum simpul seraya merapikan selimut yang menutupi tubuh Tiara.
"Sudah malam, Nak. Mari kita tidur," ucap Bu Sri lembut sambil memadamkan lampu utama dan menyisakan lampu tidur yang berpendar remang-remang.
Tiara membalas senyuman sang nenek dengan sisa-sisa kesadarannya. Tidak lama kemudian, di bawah naungan malam pertama yang tenang tanpa gangguan itu, keduanya larut dalam lelap, membiarkan tubuh mereka beristirahat dalam dekapan lelap yang rapuh, tak menyadari apa yang mungkin menanti mereka di balik hari-hari berikutnya.
.
.
.
Sementara Tiara dan Bu Sri sudah terlelap di kamar mereka, suasana berbeda justru dirasakan oleh Joko di kamar yang lain.
Meskipun udara malam pegunungan terkenal dingin dan menusuk tulang, Joko justru merasa gerah luar biasa. Tak tahan dengan rasa gerah itu, ia akhirnya memutuskan bangun dari tempat tidur, keluar kamar menuju ruang tamu yang temaram, dan berniat merokok untuk mencari udara segar. Supaya asap rokok tidak menyebar kemana mana, Joko membuka sedikit jendela besar disamping pintu utama supaya asap dari rokoknya melayang keluar rumah.
Sambil duduk bersandar di sofa panjang, Joko mengabaikan rasa tidak enak di tengkuknya. Ia malah sibuk memainkan ponsel, menonton video-video pendek bernada jenaka untuk mencairkan suasana rumah yang terasa kian sunyi. Asap rokok mengepul tipis di udara, menemani derik pelan jam dinding.
Namun, tepat saat ia hendak menghembuskan asap rokoknya, aktivitasnya mendadak terhenti.
*Kriek... Bruk.*
Suara itu terdengar samar dari arah pintu depan rumah. Belum sempat Joko menoleh untuk memastikan, sebuah suara lain menyusul. Suara yang sangat berat, serak, dan terkesan merendah di udara, seolah diucapkan tepat di dekat telinganya—meskipun sumbernya jelas berasal dari luar pintu utama.
"Jo...ko..."
Napas Joko seketika tertahan di kerongkongan. Jantungnya berdegup kencang, menghantam tulang rusuk. Bulu kuduknya berdiri serentak. Ia mencoba menajamkan pendengarannya dan mencoba kembali mencerna suara aneh yang baru saja ia dengar
"Jo.... Ko... Stttt"
Suara aneh itu kembali terdengar dan kali ini suara yang semula terdengar sayup-sayup, kini tampak sangat nyata dan sangat dekat.
Alih-alih lari terbirit-birit atau berteriak ketakutan, Joko yang sebenarnya takut, mencoba untuk mengabaikan suara tersebut dan memberanikan diri untuk bercanda dengan makluk halus yang mengeluarkan suara berat tersebut. Ia melirik ke arah pintu depan dengan tatapan setengah kesal, lalu berbicara sendiri untuk mengusir rasa takutnya.
"Dih, mulai lagi nih demit kurang kerjaan," gumam Joko pelan sambil mengibaskan tangannya ke udara seolah mengusir lalat. "Manggil-manggil nama orang tengah malem gini, pesen Shopee Food ya? Tapi kurirnya salah alamat, rumah ini nggak buka cabang pesenan makhluk halus!"
"Jo koooo ... Jo ...koo"
Suara berat itu kembali terdengar lagi.
Ia sengaja menaikkan volume suara di ponselnya yang sedang memutar video komedi, mencoba menenggelamkan suara-suara menyeramkan itu.
"Hih, nggak mempan, Bos!" seru Joko lagi ke arah pintu dengan nada sok berani, meski keringat dingin sudah bercucuran di pelipisnya. "Mending kamu balik deh ke pohon, nggak usah nakut nakutin orang. kurang kerjaan banget.!
"Jooo-kooo... Jooo-kooo..."
Kembali terdengar suara berat serak dan kali ini terasa semakin mendekat.
Sebelum Joko sempat menarik napas, dari balik celah jendela kayu yang baru saja ia buka sedikit, kegelapan di dalam seolah bergerak. Dua titik cahaya merah membara muncul—sepasang mata besar, liar, dan penuh amarah melotot tajam tepat ke arah mata Joko.
"G-Genderuwo..."
Tiba-tiba hawanya dingin begitu...
🤨🤨🤨
Kira-kira, suara rintihan dari sosok siapa atau apa yang di denger sama neneknya Theo, ya???
🤨🤨🤨🤨🤨