Sinta Aniswari (23) dulunya adalah mahasiswi kedokteran paling ceria dan cerewet se-FK.
Sampai ayahnya bangkrut dan satu-satunya cara menyelamatkan rumah sakit keluarga adalah dengan menikahi Dean Galang Wijaya (30).
Pengusaha muda, perfeksionis, kaku seperti robot, dan sedingin kulkas dua pintu.
Dua tahun menikah tanpa cinta. Sinta berubah menjadi Nyonya Wijaya yang anggun dan penurut. Dari luar, semua orang mengira ia adalah istri yang tidak disayang. Pernikahan yang kaku seperti dua orang asing yang tinggal di rumah yang sama.
Sampai mereka tau sisi lainnya.
Bahwa Dean yang kaku itu ternyata menjadwalkan segalanya. Bahkan untuk menyentuh istrinya. Satu bulan empat kali. Setiap tanggal 5, 12, 19, dan 26. Jam 21.00 tepat.
Dan selalu diawali dengan kalimat yang sama, dengan wajah datar yang sama:
"Apa mau main?"
Sinta pikir pernikahan ini hanya soal peran. Sampai Dean yang kaku itu mulai membuatnya bingung, berubah menjadi lebih aktip.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Park ha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17 - Sesi Audit di Atas Ranjang
Bab 17 - Sesi Audit di Atas Ranjang
Pukul sembilan malam tepat.
Suasana di dalam kamar utama penthouse Kuningan terasa jauh lebih mencekam daripada malam sebelumnya. Sinta duduk di tepi ranjang king size dengan posisi tubuh yang sangat kaku, meremas ujung piyama tidurnya hingga kusut. Sejak pulang dari rumah sakit sore tadi, jantungnya tidak sedetik pun berhenti berdegup kencang. Bayangan wajah lempeng Dean yang memungut dompet kosmetiknya siang tadi terus berputar seperti kaset rusak di kepalanya. Dia tahu, interogasi dari si manusia kalkulator hanya tinggal menunggu waktu.
Cklek.
Pintu kamar mandi terbuka. Dean melangkah keluar dengan piyama satin hitam andalannya. Rambutnya yang biasa klimis kini tampak sedikit basah dan berantakan pasca mandi, memberikan kesan maskulin yang sialnya selalu berhasil membuat Sinta terpesona sekilas. Namun, fokus Sinta langsung teralihkan pada sebuah benda kecil berwarna merah muda di tangan kanan Dean.
Dompet beludru keramat itu diletakkan oleh Dean di atas nakas samping ranjang dengan gerakan yang sangat pelan, hampir tanpa suara.
Dean naik ke atas ranjang, memosisikan tubuh tegapnya bersandar pada headboard. Dia tidak membuka iPad finansialnya untuk memeriksa bursa saham seperti biasa. Mata hitamnya yang tajam langsung mengunci pergerakan Sinta yang tampak menciut di sudut kasur.
"Nona Sinta," panggil Dean. Suaranya berat, datar, dan membawa aura intimidasi korporat yang kaku.
"I-iya, Pak Dean?" cicit Sinta, menelan ludahnya dengan susah payah.
"Berdasarkan hukum probabilitas yang saya pelajari, tingkat kebetulan sebuah objek kosmetik jatuh tepat di koordinat sepatu saya siang tadi adalah kurang dari lima persen," ucap Dean lempeng tanpa saringan. "Namun, deviasi lima persen itu telah mengungkap sebuah data medis yang sengaja kamu enkripsi dari saya sejak kemarin."
[POV Dean]
Nona Sinta menundukkan kepalanya begitu dalam hingga saya hanya bisa melihat puncak kepalanya. Respons fisiknya—napas yang memburu sebesar dua puluh persen dari ritme normal dan jari-jari yang meremas kain—menunjukkan tingkat kecemasan yang tinggi. Saya telah melakukan riset lanjutan mengenai sediaan Hydrocortisone-Antiseptic yang berada di dalam dompetnya. Obat topikal tersebut memiliki fungsi spesifik untuk mengatasi inflamasi akibat trauma mekanis pada jaringan kulit sensitif. Otak saya yang biasanya efisien kini dipenuhi oleh visualisasi malam Jumat kemarin. Fakta bahwa saya telah menyebabkan kerusakan fisik pada istri saya sendiri karena kegagalan mengendalikan impuls biologis... memicu anomali rasa bersalah yang sangat asing di dalam dada saya. Namun, di saat yang sama, ada kepuasan psikologis yang tidak logis saat menyadari bahwa gaya berjalan abduksi-nya semalam adalah akibat mutlak dari tindakan saya.
Dean berdeham pendek, melonggarkan sedikit kerah piyamanya yang mendadak terasa hangat.
"Mengapa kamu tidak memberikan laporan yang valid?" tanya Dean lagi, menuntut penjelasan. "Jika terjadi malfungsi atau kerusakan sistem fisik setelah aktivitas intensitas tinggi kita kemarin, secara hukum domestik, saya adalah pihak yang harus bertanggung jawab melakukan mitigasi risiko. Mengapa harus pergi ke spesialis kandungan secara sembunyi-sembunyi?"
Wajah Sinta langsung memerah pekat seperti kepiting rebus yang siap dihidangkan. Dia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan, benar-benar ingin tenggelam ke dasar bumi saat itu juga.
"Pak Dean, stop! Tolong jangan pakai istilah 'kerusakan sistem fisik' atau 'aktivitas intensitas tinggi'!" seru Sinta dengan suara tertahan yang teredam oleh tangannya. "Itu... itu memalukan tahu! Mana ada suami yang mengaudit urusan... urusan ranjang pakai bahasa laporan keuangan!".
Dean bertaut alis. Alis tebalnya menyatu, tampak bingung dengan protes istrinya. "Saya hanya menggunakan kosakata dengan efisiensi terminologi tertinggi agar tidak terjadi miskomunikasi. Salep itu... apakah bekerja dengan efektivitas seratus persen pada area iritasimu?"
"Pak Deaaann!" potong Sinta panik, wajahnya sudah matang sempurna karena malu setengah mati. Dia buru-buru menarik selimut hingga sebatas dada, mencoba menyembunyikan diri dari tatapan mengintimidasi suaminya.
Dean terdiam sejenak, menatap reaksi defensif Sinta yang menurutnya sangat menggemaskan namun tidak efisien untuk penyembuhan. Pria kaku itu kemudian menggeser tubuh kekarnya mendekat, membuat jarak di antara mereka kembali terkikis habis di atas ranjang king size tersebut.
"Berdasarkan instruksi penggunaan yang saya baca pada brosur di dalam dompetmu, salep tersebut harus diaplikasikan secara berkala dua hingga tiga kali sehari setelah area dibersihkan," ucap Dean dengan wajah tanpa dosa yang teramat serius. "Apakah dosis malam ini sudah kamu penuhi? Jika kamu kesulitan menjangkau koordinat spesifik yang mengalami iritasi akibat keterbatasan sudut pandang fisik, saya bisa membantu mengaplikasikannya demi efisiensi waktu pemulihan."
Mampus! Mata Sinta membelalak sempurna. Kalimat super lempeng dari suaminya itu benar-benar meruntuhkan sisa-sisa pertahanan harga dirinya.
Sebelum si bapak robot bertindak lebih jauh dengan logikanya yang kelewat sesat, Sinta langsung bergerak agresif. Dia memajukan tubuhnya dan langsung menutup mulut Dean dengan telapak tangannya secara rapat.
"Cukup Pak Dean... saya mohon hentikan..." bisik Sinta dengan nada bergetar menahan malu yang teramat sangat. Jantungnya berdegup begitu kencang di balik piyama tidurnya. Dia menatap lurus ke dalam manik mata hitam suaminya yang tampak terkejut dari jarak sedekat ini.
"Saya bisa melakukannya sendiri... dan jangan membahasnya lagi. Jika Anda masih membahasnya... malam ini silakan tidur di luar!" ancam Sinta telak, kembali menggunakan senjata pamungkas yang paling ditakuti oleh sistem kenyamanan tulang belakang suaminya.
[POV Dean]
Kecepatan respons Nona Sinta berada di luar estimasi taktis saya. Telapak tangannya yang halus kini menempel erat di atas bibir saya, memblokir seluruh pasokan udara dan kata-kata yang hendak saya keluarkan. Aroma stroberi lembut dari kulitnya mendadak menyerang indra penciuman saya dalam jarak beberapa sentimeter. Sensasi hangat dan... tekanan dari jemari lenturnya memicu lonjakan anomali yang sangat masif pada detak jantung saya, jauh lebih ekstrem daripada fluktuasi grafik saham gabungan. Ditambah lagi, ancaman pengusiran ke sofa ruang tamu kembali diaktifkan dengan tingkat validitas seratus persen. Demi menjaga kuota tidur dan stabilitas koordinat ranjang malam ini, sistem operasional saya memutuskan untuk melakukan gencatan senjata secara mutlak.
Dean perlahan mengedipkan matanya sekali, sebuah sinyal visual bahwa dia menerima kesepakatan dan menyerah kalah pada ancaman istrinya.
Sinta yang melihat kepasrahan di mata Dean perlahan menarik kembali tangannya dengan gerakan canggung. Wajahnya masih terasa panas pekat seperti kepiting rebus.
Dean perlahan mundur ke posisi koordinat semula di sisi ranjangnya sendiri. Dia berbalik, lalu menyentuh panel kontrol di samping nakas. Seketika kamar utama itu tenggelam dalam kegelapan yang sunyi, hanya menyisakan bias cahaya bulan dari balik gorden.
"Baik," sahut Dean berat di tengah kegelapan, suaranya terdengar sedikit parau. "Folder data mengenai salep tersebut telah resmi saya kunci dalam sistem memori rahasia tingkat tinggi. Selamat tidur, Nona Sinta."
Sinta tidak menjawab. Dia langsung membalikkan tubuhnya membelakangi Dean, menarik selimut hingga menutupi seluruh kepala, mencoba meredam detak jantungnya yang masih berdisko. Malam itu, di tengah keheningan penthouse Kuningan, Sinta tahu sistem pernikahan kontrak mereka sudah benar-benar tidak akan pernah sama lagi.