“Jadi ini wanita yang akan menjadi istri ku?” Suara nya rendah penuh cemooh. “Ayah benar benar berhasil menemukan wanita yang paling membosankan untuk ku”
Dreven Orsley Dastan, pewaris keluarga Dastan, dikenal sebagai pria kasar, pengacau, sekaligus cassanova yang tak pernah serius pada wanita mana pun. Namun, sebuah kecelakaan membuatnya harus duduk di kursi roda—tanpa sedikit pun mengubah sifat liarnya.
Sampai akhirnya, sang ayah menjodohkannya dengan Elnara Sevana, gadis dingin dan cerdik yang terkenal mampu membungkam siapa pun dengan tatapan dan kata-katanya. Ia bukan wanita yang mudah dipermainkan. Setiap serangan lawan selalu dipatahkan sebelum sempat menjadi ancaman.
Elara diminta untuk melahirkan pewaris untuk keluarga Dastan , dan sebagai gantinya Saham perusahaan.
Elara terkekeh sinis, "Sepertinya tidak adil. Bagaimana jika kesepakatannya begini. Aku rubah putramu menjadi anak anjing penurut dan hadiahnya adalah perceraian untukku. Ini terdengar menguntungkan bagiku"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alia Chans, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7
"Tuduhan tak berdasar, sejak kemarin aku bersama istriku. Apalagi kita baru menikah, kalian pikir aku akan keluar dan melakukan itu?" kata Dreven dengan tenang, mengelak semua tuduhan yang dilontarkan oleh pihak kepolisian di ruang interogasi.
Polisi yang menginterogasi Dreven tidak langsung percaya. "Kami memiliki saksi yang melihat seseorang dengan ciri-ciri mirip Anda di lokasi kejadian," kata petugas dengan serius.
Dreven terkekeh pelan, lalu menyandarkan tubuhnya ke kursi roda. "Saksi? Bisa saja siapa pun, bukan?" Dia melirik ke arah Elara yang duduk di sisi lain ruangan, tetap diam sejak awal.
Petugas kemudian menatap Elara. "Nyonya Dastan, apakah benar suami Anda bersama Anda sepanjang waktu?"
Elara menatap Dreven sekilas, sorot matanya jelas dia tak ingin terlibat. Tapi, jika berita ini muncul reputasinya juga akan hancur, karena baru menikah tapi suami mempunyai skandal atas penyiksaan bahkan pembunuhan seseorang.
"Dia tidak pernah keluar sejak kami menikah," kata Elara dengan datar, seolah itu benar-benar yang terjadi.
"Lalu, bisakah anda jelaskan perban yang ada di tangan anda?" tanya polisi itu pada Dreven dengan serius.
Dreven melihat ke arah perban di tangan kanannya, dia kemudian terkekeh.
"Kami menyukai hal yang berbau kekerasan dalam berhubungan, apakah saya perlu menceritakan secara detail? Anda benar-benar mengganggu hari-hari pengantin baru jika seperti ini," ucapnya sambil menyeringai tipis.
Polisi yang menginterogasi mereka langsung terbatuk kecil, jelas merasa tidak nyaman dengan jawaban Dreven. Salah satu dari mereka berdehem sebelum kembali berbicara.
"Kami hanya menjalankan prosedur, Tuan Dastan," katanya dengan nada setenang mungkin. "Jika Anda memiliki bukti lebih lanjut yang bisa menguatkan alibi Anda, itu akan lebih baik."
Elara tetap mempertahankan ekspresi datarnya, tetapi dalam hati, dia ingin menendang Dreven karena jawaban yang terlalu berlebihan itu.
Dreven hanya mengangkat bahu. "Bukti? Bukankah istri saya sudah memberikannya? Sejak menikah, saya tidak pernah meninggalkan rumah. Kalian tidak bisa menahan seseorang hanya berdasarkan kesaksian samar."
Petugas polisi saling bertukar pandang, menyadari bahwa tanpa bukti kuat, mereka tidak bisa menahan Dreven lebih lama. "Baiklah, untuk saat ini Anda boleh pergi, tetapi kami akan tetap menyelidiki kasus ini."
Dreven tersenyum miring. "Tentu saja. Lakukan tugas kalian."
Dia lalu meraih tangan Elara dengan santai dan menggandengnya keluar dari kantor polisi. Begitu mereka sampai di luar, Elara langsung menarik tangannya dengan kasar.
"Kau benar-benar mencari masalah," desisnya dengan tajam.
Dreven hanya terkekeh dari kursi rodanya. "Oh? Bukankah kau juga baru saja menyelamatkanku, istriku?"
Elara mendengus kesal, lalu berjalan lebih dulu menuju mobil. Dalam kepalanya, dia tahu ada sesuatu yang sangat mencurigakan tentang pria itu—dan cepat atau lambat, dia akan mencari tahu semuanya.
Dreven terkekeh melihat Elara yang sepertinya sangat marah sekarang. Tapi dia cukup senang, ternyata istrinya sedikit berguna untuk membersihkan masalahnya.
---
"Apa kau mendengar putra dari keluarga Hartono meninggal setelah kritis semalam?" Suara bisikan pelayan membuat Elara yang sedang mengambil air dingin di dapur berhenti. Para pelayan sudah mulai bergosip di pagi hari, dan sekarang dia menguping pembicaraan mereka karena cukup penasaran.
"Iya, katanya dia disiksa sebelum akhirnya ditemukan dalam keadaan mengenaskan," bisik salah satu pelayan dengan nada takut.
Elara meremas gelas di tangannya. Dia tidak buta, Dreven menghilang malam itu, lalu kembali dalam keadaan berlumuran darah. Sekarang, putra keluarga Hartono meninggal setelah kritis? Itu bukan kebetulan.
"Tapi anehnya, polisi tidak menemukan bukti kuat siapa pelakunya. Mereka bilang seseorang menghapus semua jejak dengan sangat bersih."
"Benarkah? Apa mungkin tuan Dreven yang melakukannya? Bukankah polisi kemarin datang dan membawa tuan."
Pelayan lain menggeleng, "Sepertinya tidak, biasanya jika polisi datang dan membawa tuan pasti tuan akan disana selama tiga hari sebelum tuan besar menebusnya. Tapi semalam tuan langsung pulang bersama nyonya."
Elara menggigit bibirnya pelan, pikirannya mulai menghubungkan berbagai kemungkinan. Tidak ada bukti, tidak ada jejak, dan Dreven pulang dalam keadaan berlumuran darah.
Dia menghela napas panjang, meletakkan gelasnya di meja dan berbalik meninggalkan dapur. Namun, baru beberapa langkah, dia merasakan hawa familiar di belakangnya.
"Kau tertarik dengan pembicaraan para pelayan?" Suara Dreven terdengar rendah dan santai dari kursi rodanya, namun ada sesuatu di balik nada suaranya yang membuat Elara merinding.
Elara berbalik dengan ekspresi datar. "Aku tidak tertarik dengan urusan kriminal," katanya dingin.
Dreven menyeringai, menggerakkan kursi rodanya lebih dekat hingga jarak mereka hampir tak ada. "Bagus," bisiknya. "Karena semakin kau tahu, semakin sulit untuk keluar."
Elara menatapnya tajam, tidak bergeming sedikit pun. Dalam hatinya, dia sadar—dia harus lebih berhati-hati mulai sekarang.
Dia dengan cepat pergi ke kamar, meninggalkan Dreven yang menatapnya dengan penuh minat.
---
Di ruang kerja Raviel, Elara duduk dengan anggun di hadapan mertuanya. Pria paruh baya itu menatapnya dengan tatapan serius, tangannya menggenggam erat segelas wiski.
"Elara, aku perlu bicara denganmu tentang Dreven."
Elara mengangkat alis tipisnya. "Apa yang ingin ayah mertua bicarakan?"
Raviel menghela napas panjang, meletakkan gelasnya di atas meja. "Kau tahu tentang kondisinya. Kakinya... setelah kecelakaan itu, dokter mengatakan ada kemungkinan untuk pulih jika dia menjalani terapi dengan rutin."
Elara tetap diam, mendengarkan dengan seksama.
"Tapi Dreven menolak," lanjut Raviel dengan nada frustasi. "Dia terlalu keras kepala dan enggan mengakui bahwa dia membutuhkan bantuan. Aku sudah mencoba segala cara, tapi dia tidak mau mendengarkanku."
Elara mengangguk pelan. "Dan ayah mertua ingin aku yang membujuknya?"
Raviel menatapnya dengan penuh harapan. "Kau istrinya. Mungkin dia akan mendengarkanmu."
Elara terdiam sejenak, lalu menatap Raviel dengan tatapan datar. "Ayah mertua, aku menghargai kepercayaan ayah kepadaku. Tapi aku rasa aku tidak memiliki hubungan sedekat itu dengan Dreven untuk bisa mengaturnya. Kami baru menikah beberapa hari, dan sejujurnya, kami bahkan belum saling mengenal dengan baik."
Raviel menghela napas, tidak menyerah. "Aku tahu ini berat, Elara. Tapi kau satu-satunya harapanku. Dreven adalah anak yang keras kepala, tapi aku melihat ada sesuatu yang berbeda saat dia bersamamu. Dia mungkin tidak mau mengakuinya, tapi aku tahu dia mulai memperhatikanmu."
Elara tetap diam, mempertimbangkan kata-kata Raviel.
"Aku tidak memintamu untuk melakukan hal yang mustahil," lanjut Raviel. "Cukup coba. Bicara dengannya. Jika dia tetap menolak, setidaknya kau sudah berusaha. Aku hanya tidak ingin melihat anakku menghabiskan sisa hidupnya di kursi roda ketika sebenarnya ada harapan."
Elara menatap Raviel dalam-dalam. Ada ketulusan di mata pria tua itu—ketulusan seorang ayah yang khawatir pada putranya.
"Baiklah," kata Elara akhirnya. "Aku akan mencoba. Tapi aku tidak berjanji apa pun. Dreven adalah pria yang keras kepala, seperti yang ayah katakan."
Raviel tersenyum lega. "Terima kasih, Elara. Itu sudah lebih dari cukup."
---
Malam itu, Elara menemui Dreven di ruang kerjanya. Pria itu sedang duduk di kursi roda di belakang meja besar, menatap dokumen-dokumen dengan tatapan serius.
"Kau masih bekerja di jam begini?" tanya Elara dengan nada datar, memasuki ruangan tanpa mengetuk.
Dreven mengangkat kepalanya, sedikit terkejut dengan kehadirannya. "Kau seharusnya mengetuk sebelum masuk."
"Dan kau seharusnya tidak membawa darah ke ruang lukisku kemarin. Tapi kita berdua tidak selalu melakukan hal yang seharusnya, bukan?"
Dreven tersenyum miring. "Ada apa, istriku? Merindukanku?"
Elara mengabaikan godaan itu dan melangkah mendekat. Matanya menatap Dreven dengan tatapan tajam dan terarah.
"Kenapa kau tidak menjalani pengobatan saja agar kakimu dapat berjalan seperti semula? Setidaknya dengan itu, kau bisa lebih mudah bermain dengan wanita-wanitamu setelah itu," ucap Elara singkat, suaranya dingin dan penuh sarkasme.
Dreven terdiam sejenak. Matanya menyipit, dan ekspresi santainya perlahan berubah menjadi ketegangan yang sulit diartikan.
"Kau membicarakannya karena ayahku menyuruhmu, bukan?" tanyanya dengan nada tajam.
"Apa itu penting?" balas Elara dengan angkat bahu. "Yang penting, kau punya kesempatan untuk sembuh, tapi kau memilih untuk tidak mengambilnya. Itu bodoh."
Dreven tertawa sinis. "Bodoh? Kau pikir aku belum mencoba segalanya? Aku sudah melalui berbagai terapi, Elara. Tidak ada yang berhasil. Dan aku lelah menjadi bahan percobaan."
"Jadi kau menyerah?" tanya Elara dengan nada mengejek. "Aku kira Dreven Dastan adalah pria yang tak pernah menyerah pada apa pun. Ternyata aku salah."
Dreven mengepalkan tangannya, matanya berkilat marah. "Kau tidak tahu apa-apa tentang diriku."
"Kau benar, aku tidak tahu," akui Elara dengan datar. "Dan sejujurnya, aku tidak peduli. Tapi ayahmu peduli. Dia memintaku untuk membujukmu, dan aku sudah melakukannya. Terserah kau mau mendengarkan atau tidak."
Dia berbalik untuk pergi, tetapi suara Dreven menghentikannya.
"Hei, Elara."
Elara berhenti, tidak menoleh.
"Kenapa kau melakukannya?" tanya Dreven, suaranya lebih pelan dari sebelumnya. "Kenapa kau setuju membantu ayahku?"
Elara diam sejenak, lalu menoleh setengah. "Karena meskipun kau pria yang menyebalkan, kau tetap suamiku. Dan aku tidak suka memiliki suami yang lemah."
Dreven terdiam, kata-kata Elara menusuk tepat di harga dirinya.
"Lemah?" ulangnya dengan nada tajam.
Elara tersenyum sinis. "Apa kau pikir dengan bersembunyi di kursi roda dan bersikap keras kepala membuatmu terlihat kuat? Itu justru menunjukkan kelemahanmu, Dreven. Kau takut. Kau takut mencoba dan gagal lagi. Jadi kau memilih untuk tidak mencoba sama sekali."
Dreven mengepalkan tangannya lebih erat, nadinya berdenyut di pelipisnya.
"Kau wanita yang menyebalkan," gerutunya.
"Dan kau pria yang menyebalkan juga," balas Elara dengan senyum tipis. "Tapi kita berdua tidak punya pilihan, bukan?"
Dia melangkah keluar dari ruangan, meninggalkan Dreven yang duduk terdiam di kursi rodanya, memikirkan setiap kata yang baru saja dilontarkan wanita itu.
"Kau wanita yang aneh, Elara," gumamnya pelan di ruang kerjanya yang sunyi. "Sulit ditebak. Dingin. Dan membuatku penasaran."
---
Dan saat seorang pelayan mendekat, Dreven memutus kontak matanya dari pintu yang baru saja ditutup Elara.
"Tuan, ada telepon dari tuan besar. Kata beliau nomor anda tidak aktif."
Mendengar hal itu Dreven menerima telepon rumah itu dengan santai, dia sudah tahu apa yang akan dibicarakan oleh pak tua itu.
Begitu telepon tersambung, suara berat Raviel langsung terdengar di ujung sana.
"Dreven, apa yang kau lakukan?" Suaranya terdengar tenang, tapi Dreven tahu betul ada kemarahan terselubung di baliknya.
Dreven menyandarkan tubuhnya ke kursi roda, mengambil rokok dari sakunya, dan menyalakannya dengan santai. "Aku hanya membereskan sedikit masalah," katanya ringan.
"Masalah yang bisa menarik perhatian polisi?" Raviel mendengus. "Aku sudah bilang, jika kau ingin bermain, jangan tinggalkan jejak."
Dreven terkekeh pelan, menghembuskan asap rokoknya. "Jangan khawatir, semua sudah diurus. Polisi bahkan tak bisa menyentuhku."
"Dan itu berkat istrimu."
Mata Dreven sedikit menyipit, bibirnya masih menyunggingkan senyum kecil. "Ya, ternyata dia cukup berguna."
Raviel tertawa kecil di ujung sana. "Jangan sampai kau meremehkan wanita itu, Dreven. Aku melihat sesuatu dalam dirinya. Jika kau tidak berhati-hati, kau bisa kehilangan lebih dari yang kau kira."
Dreven hanya tersenyum miring. "Kau terlalu berlebihan, Ayah. Aku bisa mengendalikannya."
Raviel mendengus. "Kita lihat saja." Lalu telepon terputus.
Dreven menatap layar telepon sebentar sebelum meletakkannya kembali. Tatapannya menjadi lebih dalam.
Mengendalikan Elara?
Pria itu terkekeh pelan, seolah menemukan suatu tantangan baru.
Saat dia menghembuskan rokoknya ke udara, Elara yang sepertinya baru berganti baju turun.
"Di dalam jangan merokok, aku tidak suka asap rokok. Apalagi ini ruangan ber-AC."
Dreven melirik ke arah Elara yang kini berdiri dengan tangan terlipat di dada. Dia tampak segar setelah berganti baju, namun sorot matanya tetap dingin seperti biasa.
Dengan santai, Dreven meniupkan asap rokoknya sekali lagi sebelum mematikan puntungnya di asbak. "Kau terlalu banyak aturan, istriku," katanya dengan nada menggoda.
Elara hanya mendengus dan berjalan melewati pria itu tanpa peduli. "Aku tidak peduli apa yang kau lakukan di luar, tapi di dalam rumah ini, setidaknya jangan buatku muak."
Bersambung
karaktermu ini duduk di kursi roda loh. kurang-kurangi memakai kalimat yang merepresentasikan bahwa dia bisa berjalan dong. biar ga cacat logika./Frown/