NovelToon NovelToon
Diantara Kita

Diantara Kita

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Dunia Masa Depan
Popularitas:305
Nilai: 5
Nama Author: MonAmour19

Diantara kita hanya ada kebaikan saja? tidak ada harapan untukku?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MonAmour19, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

dia siapa? (24)

"tau dari kapan nay?" tanya Arga tiba-tiba membuat Naya yang sedang menulis jawaban yanga Arga beri langsung menatap ke arahnya dengan bingung.

Keduanya masih di halaman belakang rumah Naya, mereka masih mengerjakan soal-soal yang mereka buat sendiri, karena sebentar lagi ulangan akan segera dimulai.

"apanya ka?" tanya Naya begitu tidak mengerti apa yang Arga ucapkan.

"kamu tau dari kapan kalo ayah sama ibu kamu ada perselingkuhan?" tanya Arga lagi, berusaha membuat Naya mengerti, Naya hanya ber oh ria sambil menganggukkan kepalanya lalu menimpali Arga dengan malas

"dua Minggu lalu mungkin ada" ucap Naya membuat Arga mengernyit

"kenapa ga cerita sama aku?" tanya Arga, Naya hanya menghela nafas panjang, dia bangun dari ketengkurapan nya itu, dan duduk menghadap Arga sepenuhnya.

"ketika aku mau cerita, waktu itu aku liat kamu sama ka Talia jadi aku urungin buat ceritanya" ucap Naya sambil tersenyum, namun belum sempat Arga menimpali, Naya langsung balik bertanya.

"terus, kenapa kamu sendiri nanya kaya gitu?"

"karena aku denger tadi ibu sama ayah berantem, kamu biasa aja" Naya hanya tersenyum lalu mengangguk anggukan kepalanya

"biasa aja, karena emang udah terbiasa" Naya mengambil tissue basah yang ada di tasnya, lalu mengusapkan ke pipinya, disana terlihat memar merah yang kebiruan, sakit pastinya.

Namun Naya hanya tersenyum tipis, saat melihat ekspresi perubahan yang Arga ciptakan. "tadi pagi aja sebelum berangkat, aku sibuk nutupin ini" ucap Naya pelan, Arga hanya diam membisu melihat Naya.

"nay?" Arga memanggilnya dengan suara yang sangat pelan, tak mampu hanya sekedar berkata-kata, dia hanya menatap Naya yang kini sedang mengusap tangannya kembali menggunakan tissue basah, disana ada dua luka yang tercipta, satu seperti di pipi Naya, dan satu seperti luka bakar namun tidak besar dan itu seperti sangat baru.

"aku so so an baik baik aja tadi pagi, jalan sambil nyanyi, teriak teriak kaya orang gila, padahal aku gatau juga aku kenapa ka" ucap Naya membuat arga berdiri dan meninggalkan Naya, dia masuk kedalam rumah.

Seperkian menit kemudian Arga datang membawa kotak P3K itu ditangannya bersama es batu yang sudah di baluti kain, Arga kemudian duduk menghadap Naya lalu menempelkan es itu ke arah pipi Naya yang memar.

"dari kapan?" tanya Arga, waktu itu Arga pernah melihat memar memar Naya juga sudah ketiga kalinya dia melihat ini, namun karena waktu itu mereka hanya dekat biasa dan Naya sepertinya tidak ada niatan untuk bercerita kepadanya, jadinya Arga hanya diam sambil menatap Naya dalam.

"kemarin, kalo ini baru..." Naya menunjuk luka yang masih baru itu, sambil menjeda ucapannya.

"tadi pagi" ucap Naya akhirnya

"kenapa?" tanya Arga kembali, Naya hanya diam sambil menatap Arga dengan diam.

"lipstik kosong ibu gak sengaja aku pecahin waktu aku ke kamar ibu minta tanda tangan nya, dan aku tadinya mau ganti ko, tapi ibu terlanjur marah dan jadilah seperti ini" arga sedikit tidak percaya akan pernyataan Naya yang mengatakan itu semua, bukan, Arga bukan tidak percaya terhadap Naya namun dia tidak percaya akan ibu Naya yang bertingkah seperti ini.

"ini ibu pukul aku pake..." Naya menjeda ucapannya beberapa saat, dia mengalihkan pandangannya ke arah lain, Arga senantiasa mendengarkan sambil mengobati luka Naya memakai salep memar dan luka bakar.

"catokan, waktu ibu lagi nyatok" ucapnya dengan pelan siapapun yang mendengarnya ini seperti aduan seorang anak kecil terhadap ayahnya, Arga membulatkan matanya tangannya seketika berhenti mengolesi tangan Naya memakai salep, tubuhnya menegang.

'Berani sekali ' batin arga

"sakit ka" Naya bukan kesakitan karena Arga mengolesi nya dengan salep, tapi dia kesakitan di perlakukan seperti ini.

"sini" Arga menangkup wajah Naya yang kini sudah berderai air mata, Naya terisak kecil di hadapan Arga.

Arga memeluk Naya dengan sangat hati-hati, seperti tidak ingin melukai gadis itu barang sedikitpun. "gapapa ko kalo kamu mau nangis, gapapa banget, nangis sepuasnya ya, ga ada yang larang ko" Arga mengusap belakang kepala Naya dengan lembut.

"maafin aku ya, ga bisa jagain kamu dan baru tau semuanya sekarang" Naya hanya diam sambil terus mendengarkan Arga.

"naya jangan sedih terus ya, kalo ada apa apa hubungin aku ya" ucap Arga dengan lembut. "andelin aku selama aku masih ada, sibukin aku dengan urusan kamu, aku seneng." lanjutnya.

Naya diam, namun terdengar suara dengkuran halus dari mulutnya, arga menatap kebawah ternyata Naya sudah tertidur di pelukannya, dia membaringkan tubuh Naya di kedua pahanya membenarkan tidurnya Naya supaya terasa nyaman namun kepala Naya masih setia berada di dadanya, Arga lagi-lagi mengelus belakang kepala Naya dengan lembut ia tidak akan bosan sedikitpun dengan kegiatan satu ini.

"jangan ninggalin aku lagi ya nay" ucap Arga sambil mengecup atas kepala Naya dengan halus.

MonAmour bilek: 'lagi' berarti sebelum nya memang pernah atau.... halusinasi?

Canda.

.....

"dia anak saya!" tekan ayah Naya, yang masih melakukan pertengkaran dengan ibu Naya, bedanya sekarang mereka sedang berada di dalam kamar, beda dengan tadi yang bertengkar di ruang tengah.

"DIA BUKAN ANAK SAYA" teriak ibu Naya membuat seisi ruangan itu menggema, ayah Naya mendecak kesal dia mengangkat tangannya ke pinggangnya lalu mengusap jenggot nya yang berada di rahangnya menatap ke bawah, ke arah jendela yang terdapat Naya sedang tidur di pelukan Arga.

Satu kata muncul di bibir ayah Naya dengan suara kecil."maaf"

dia berbalik menatap ibu Naya dengan tatapan tajamnya."KALO GASUKA GA USAH NGURUSIN DIA, SAYA JUGA BISA SENDIRI, KEMBALIKAN KEPADA SAYA LALU SAYA SENDIRI YANG AKAN MENGURUSNYA" ucap hendra (ayah Naya) dengan bentakan yang membuat Maheswari (ibu Naya) hanya terkekeh.

"KAMU GA AKAN BISA AMBIL DIA DARI AKU" bentak Maheswari membuat Hendra menatap Maheswari bingung.

"kenapa eswa? Kenapa aku ga boleh ambil anak aku?" tanya Hendra membuat Maheswari maju melangkah kedepan, hanya beberapa senti dirinya dengan Hendra sekarang

"karna kalo kamu ambil dia, pekerjaan kamu sebagai pembunuh bayaran akan tersebar kemana-mana, inget itu!" ucap Maheswari penuh penekanan, Hendra menghela nafas panjang.

"ya kenapa harus pertahankan anak yang GAK KAMU SUKA MAHESWARI" bentak Hendra di akhir kalimatnya membuat Maheswari kembali terkekeh.

"karena aku punya alasan sendiri, dan karena dia bukan anak ku" Maheswari menunjuk pada hendra membuat Hendra menatap tangan Maheswari tajam

"DAN KARENA KAMU UDAH SELINGKUH HENDRA" ucap Maheswari dengan teriakannya

"AKU GA SELINGKUH, AKU WAKTU ITU GAK TAU KALO AKU LAGI TIDUR SAMA ORANG LAIN, AKU GATAU KARENA AKU MINUM" balas Hendra membuat Maheswari terkekeh tajam mendengar nya

"bajingan tau ga, inget ya selama putri kamu ada di tangan saya, saya gak akan biarin dia hidup dengan apa yang kamu inginkan" ucap Maheswari, Hendra hanya menghela nafas panjang lalu keluar dari kamar itu, dia menghentikan langkah kakinya terlebih dahulu.

"nikmati sisa hidup kamu eswa, nikmati apa yang kamu punya sekarang, dan lakukan apa yang kamu mau, jangan pernah berpikir kalo kamu bakal hancur berpikir lah kalo kamu akan selalu senang dengan...." Hendra menjeda ucapannya beberapa saat lalu melanjutkan nya dengan tajam

"menyiksa anak saya, dan kamu pikir kamu akan selalu seperti itu? tidak akan pernah, jangan ceroboh dan jangan lupa saya seorang pembunuh bayaran eswa, sekali kamu menyentuh putri saya lebih dari yang kamu lakukan hari ini, jaminannya adalah tangan kamu" ucap hendra dengan penuh penekanan, dia tetap melanjutkan ucapannya, namun ucapan selanjutnya membuat Maheswari mematung di tempat.

"saya masih mencintai kamu eswa sampai kapanpun, namun sikap kamu yang membuat saya harus bertindak lebih jauh lagi" bersamaan dengan itu air matanya menetes tanpa dia minta dan tanpa dia tahu.

"eswa?" Hendra kembali memanggil Maheswari dengan suara lembutnya, Maheswari hanya diam ditempat tanpa kata apapun.

"terimakasih sudah membesarkan anak saya, walau begitu saya melihat ketidak tulusan kamu terhadap anak saya satu ini, karena ibunya sudah meninggal saya sangat menyayangi dia dibanding dengan anak kamu itu, maaf tapi..." lagi lagi Hendra menjeda ucapannya, namun Maheswari hanya setia mendengar tanpa menyahuti satu katapun.

Hendra menggelengkan kepalanya, lalu menghela nafas panjang.

"tolong jaga dia eswa, i love you" ucapan Hendra sangat pelan di akhir kalimatnya namun Maheswari masih mampu mendengar nya.

......................

,

soon to bee

KAGET BANGET PASTI, AKU AJA KAGET HAHA, canda.

Oh yah aku bakal buat cerita ini bisa gila gilaan kalo kalian mau, but its okey liat aja nanti.....

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!