Sebuah novel fantasi mitologi Nusantara (Batak). Berikut salah satu petikannya:
"Sebelum matahari mengenal pagi, langit telah lebih dahulu mengenal doa. Di Banua Ginjang, doa tidak diucapkan melalui bibir, melainkan tumbuh menjadi bunga-bunga cahaya yang bermekaran di antara akar bintang. Setiap kelopaknya membawa harapan, dan setiap harapan akan jatuh ke dunia bawah sebagai embun kehidupan."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sasip, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 8. Penjaga Waktu & Jam Pasir Bintang (Bagian II)
...Butiran Bintang yang Menjadi Takdir...
..."Takdir tidak pernah dipahat pada batu. Ia dititipkan seperti benih kepada waktu, agar setiap jiwa memilih sendiri bagaimana ia akan bertumbuh."...
^^^—Petuah Ompu Tiktik^^^
Keesokan paginya, embun masih bergantung di ujung daun-daun Hariara Bolon ketika Deak Parujar kembali mengunjungi Lembah Waktu. Lembah itu tidak pernah berubah. Namun setiap kali ia datang, selalu terasa berbeda. Bunga-bunga yang kemarin mekar kini telah menjadi bakal buah. Daun-daun muda yang semula berwarna hijau terang berubah menjadi hijau tua. Seekor Parhudon yang kemarin masih tampak kecil, kini tanduk kristalnya terlihat sedikit lebih panjang.
Tak ada perubahan yang mencolok sebenarnya, tetapi kehidupan telah melangkah. Begitulah cara waktu bekerja. Tanpa suara. Tanpa tergesa ataupun terburu-buru. Ia secara konstan akam berlalu dan tidak pernah kembali.
Ompu Tiktik terlihat telah menunggu di bawah sebuah pohon yang belum pernah dilihat Deak sebelumnya. Batangnya berwarna perak. Daunnya menyerupai bintang bersudut delapan. Buahnya bening seperti kaca, namun di dalam setiap buah tampak gugusan cahaya kecil yang terus berputar.
"Selamat datang, Putri." sapa sang Opung.
Deak membungkuk hormat, "Opung, pohon apakah ini?"
Lelaki tua itu mengusap batang pohon dengan penuh kasih dan menjawab: "Namanya Hariara Tikkos. Saudara muda dari Pohon Hariara Bolon. Ia tidak menyimpan kehidupan."
"Lalu apa yang disimpannya?" tanya Deak kagum.
"Kesempatan." jawab sang Opung lugas.
Di sela-sela akar pohon itu, terlihat makhluk-makhluk mungil berlarian dan bercanda satu sama lain.
Mereka bertubuh seperti anak-anak berusia lima musim yang mungil, dengan kulit berkilau laksana embun pagi.
Rambut mereka berubah warna mengikuti musim: hijau saat tunas lahir, kuning saat buah masak, merah ketika daun gugur, dan putih ketika kabut turun. Di tangan mereka tergenggam lonceng-lonceng kecil dari kristal.
"Siapa mereka Opung?" tanya Deak sambil tersenyum memperhatikan tingkah makhluk-makhluk lucu itu.
"Mereka disebut Parsijamita. Penjaga Detik Kehidupan. Mereka membunyikan lonceng bukan untuk menghitung waktu... melainkan untuk mengingatkan setiap makhluk agar tidak melewatkan saat yang paling berharga."
Seorang Parsijamita menghampiri Deak. Ia tersenyum, lalu menggantungkan lonceng mungil di ujung ulos sang putri. Ketika lonceng itu berbunyi pelan, Deak merasakan jantungnya berdetak selaras dengan irama semesta.
Tak lama kemudian, dua belas Paruhum Ulaon datang kembali. Hari ini mereka membawa sebuah bejana bundar dari kristal bening. Di dalamnya terdapat butiran-butiran cahaya yang berputar seperti gugusan bintang. Mereka meletakkan bejana itu di hadapan Ompu Tiktik.
Beliau mengangguk hormat dan berkata: "Terima kasih."
Lalu beliau mengangkat Jam Pasir Bintang dan berkata kepada Deak: "Putri. Hari ini engkau akan melihat sesuatu yang bahkan para tetua Banua Ginjang hanya diperbolehkan melihat sekali dalam satu zaman."
Jam pasir itu diletakkan di atas batu putih. Perlahan... Ompu Tiktik membaliknya.
Deak kembali menyadari bahwa butiran yang jatuh bukanlah pasir berwarna keemasan, melainkan masing-masing butirannya adalah bintang kecil.
Setiap butir memiliki warna berbeda. Ada yang keemasan. Ada yang biru. Ada yang hijau zamrud. Ada pula yang merah menyala seperti bara yang baru saja dilahirkan.
Begitu sebuah butiran menyentuh dasar jam pasir... sebuah bayangan muncul di udara.
Bayangan pertama memperlihatkan seekor biji kecil yang jatuh ke tanah. Lalu tumbuh menjadi pohon raksasa. Di cabangnya terlihat ribuan burung membangun sarang. Anak-anak bermain di bawah naungannya. Orang-orang berteduh ketika hujan turun. Namin tidak lama kemudian, bayangan itu menghilang.
Disusul bergulirnya butiran kedua. Kini tampak seorang anak laki-laki yang membantu seorang lelaki tua menyeberangi sungai. Tidak ada kemegahan di dalam gambaran itu, tidak ada peperangan. Namun seluruh bayangan dipenuhi cahaya hangat.
Lalu pada butiran ketiga, terlihat seorang perempuan menyelimuti bayi yang kedinginan dengan sehelai ulos.
Dan pada butiran keempat, Deak melihat seorang pemuda menanam beberapa tunas pohon, meski ia sebenarnya tahu, bahwa mungkin ia sendiri tidak akan sempat menikmati buahnya.
Deak memandang tanpa berkedip dan kembali bertanya: "Opung... Apakah ini masa depan?"
Ompu Tiktik menggeleng pelan dan menjawab perlahan: "Bukan."
"Lalu?" tanya Deak lagi dengan rasa ingin tahu yang tidak bisa ia bendung.
"Ini adalah kemungkinan." jawab sang Opung bijak. Beliau lalu mengambil satu butiran bintang yang masih berada di bagian atas jam pasir dan kembali berkata: "Perhatikan."
Begitu butiran itu disentuh, bayangan yang muncul berubah. Kini pohon besar tadi tidak pernah tumbuh. Karena bijinya dibuang dan tidak ditanam. Anak laki-laki tadi terlihat hanya berjalan saja, melewati orang tua yang membutuhkan pertolongan. Perempuan itu memilih menyimpan ulosnya sendiri. Pemuda itu menebang hutan, bukan menanamnya. Semua berubah.
Deak tertegun, "Takdirnya berbeda..." ujarnya perlahan namun dipotong sang Opung.
"Bukan." kata Ompu Tiktik dengan lembut, "Takdirnya tetap sama. Yang berubah... adalah pilihan yang diambil sang pemilik takdir."
Keheningan seakan menyelimuti lembah untuk sesaat.
Dari kejauhan terdengar nyanyian dan tabuhan gendang para Pargondang Langit, perlahan irama itu mengalun seperti gondang yang dimainkan di balik awan. Irama itu membuat butiran-butiran bintang berputar semakin pelan. Seolah ikut mendengarkan pelajaran sang penjaga waktu.
Ompu Tiktik memandang Deak dengan mata yang penuh kebijaksanaan, lalu berkata; "Putri. Banyak makhluk mengira waktu menentukan nasib. Padahal sebenarnya, sang waktulah yang paling sabar menunggu pilihan setiap jiwa."
Beliau kemudian membuka telapak tangannya. Di sana muncul satu butiran bintang yang sangat berbeda. Warnanya putih kebiruan. Cahayanya begitu lembut.
Namun ketika Deak menatapnya, dadanya berdebar. Ia merasa mengenali butiran itu dan bertanya: "Apa ini?"
Ompu Tiktik tidak segera menjawab, setelah menghela nafas sesaat, beliau akhirnya menjawab: "Ini adalah satu kemungkinan yang sangat jauh."
Beliau mengangkat butiran itu. Di udara perlahan terbentuk sebuah bayangan. Samudra yang tak bertepi. Kabut. Langit yang terlihat kosong.
Lalu... seorang perempuan muda berdiri sendirian di atas batu yang terlihat seperti mengapung. Rambutnya panjang diterpa angin. Ulos cahaya berkibar di bahunya. Perempuan itu adalah... Deak sendiri.
Ia menatap hamparan air yang belum memiliki nama. Di kedalaman samudra... dua buah mata hijau perlahan membuka. Naga Padoha.
Namun yang membuat Deak tercekat, adalah sesuatu yang tumbuh perlahan di balik punggungnya. Sebuah gunung. Terlihat seperti masih kecil, namun terus meninggi. Terus mengangkat dirinya dari lautan purba. Bayangan itu lenyap secepat ia muncul.
"Opung... Itu aku, bukan?" tanya Deak hanya ingin memastikan dugaannya.
"Ya." jawab Ompu Tiktik pelan.
"Itu akan terjadi?" tanya Deak kemudian.
Ompu Tiktik menatap Jam Pasir Bintang yang masih mengalir sambil menjawab: "Mungkin."
"Hanya mungkin?" tanya Deak lagim
Beliau tersenyum dan kembali dengan sabar menjawab: "Karena bahkan waktu... tidak pernah memaksa hati untuk memilih."
...****************...
Angin fajar kembali berembus. Di pucuk pohon Hariara Bolon, Burung Erung mengepakkan sayapnya sekali. Jauh di Banua Toru, Naga Padoha kembali merasakan getaran yang sama. Sementara di tangan Ompu Tiktik, butiran bintang terakhir belum juga jatuh.
Beliau menatapnya dengan penuh hormat sambil berkata: "Itulah sebabnya... aku tidak pernah menyebut benda ini Jam Pasir."
"Lalu apa namanya?" tanya Deak lagi.
Ompu Tiktik tersenyum dan menjawab: "Penjaga Kemungkinan. Karena selama masih ada kasih... masa depan belum pernah benar-benar selesai ditulis."
...****************...
Horas! 🌿
Mauliate godang.. 🤎
📖 Bersambung ke Bab 8. Bagian III: Ketika Waktu Berhenti di Ujung Sebuah Pilihan.
😏/CoolGuy//Casual//Shhh/
/Grin//Tongue//Facepalm//Joyful/