NovelToon NovelToon
Benteng Ke-8

Benteng Ke-8

Status: sedang berlangsung
Genre:Perperangan / Fantasi / Mengubah Takdir
Popularitas:243
Nilai: 5
Nama Author: Nana

Delapan anak muda berusia enam belas tahun hingga delapan belas tahun dengan latar belakang jauh berbeda. Delapan kehidupan yang tidak pernah bersinggungan sebelumnya. Ada yang sejak awal memiliki rumah yang hangat, ada yang memiliki rumah tapi tidak berhak atas rumah tersebut, ada juga yang tidak memilikinya sejak awal.

Tak seorangpun dari mereka tahu bahwa jalan yang sedang mereka tempuh itu akan mengarahkan mereka ke satu tempat yang sama.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 18

Sejak pasukan inspeksi meninggalkan Draven, hampir di setiap sudut barak, para prajurit terus membicarakan pemimpin pasukan yang masih memilih tinggal.

Termasuk dua orang prajurit yang sedang berjalan menuju pos jaganya.

“apa kita akan kena masalah?” tanya prajurit tersebut pada rekannya.

“bukankah lebih baik begini? pemimpin elit istana ada di sini artinya istana akan lebih memperhatikan kita kan?”

“iya juga ya.”

Saat keduanya melewati pos jaga Evren, ia sempat mendengar sekilas pembicaraan tersebut lalu bertanya kepada rekan di sampingnya.

“apa itu sesuatu yang aneh?” tanyanya sambil menunjuk dua prajurit yang baru saja lewat menggunakan dagunya.

Rekannya sempat melirik dua prajurit yang dimaksud Evren untuk mencari tahu apa maksudnya. Kemudian ia langsung mengangguk saat memahami konteks yang ditanyakan oleh Evren.

“tentu saja aneh, Tugas utama mereka memang melakukan inspeksi ke seluruh benteng di perbatasan. Besar ataupun kecil, semuanya harus mereka datangi. Karena itu mereka tidak pernah benar-benar tinggal lebih dari tiga hari, kecuali…” jedanya membuat Evren semakin penasaran.

“kecuali?”

Rekan jaga Evren memberikan gestur agar Evren mendekat. Lalu ia berbisik,

“Nah... ini yang jarang diketahui orang. Kalau perang pecah saat mereka berada di benteng, mereka tidak boleh pulang sebelum perang itu dimenangkan. Jadi mereka bisa tinggal lebih dari tiga hari karena mereka juga harus turun ke baris terdepan.”

“Nah sekarang di Draven tidak sedang perang, semua anggotanya sudah pulang ke ibukota, malah pemimpin dan satu prajuritnya masih tinggal di sini,” Jelasnya.

“itu tidak masuk akal, medan perang bukan kondisi yang pasti.”

Medan perang merupakan tempat paling tidak bisa diprediksi. Semua hal saling berkaitan dan bisa mempengaruhi hasil perang, mulai dari logistik, peralatan tempur, jumlah prajurit, hingga kondisi mental pasukan. Menuntut sesuatu seperti kemenangan mutlak sebagai syarat agar mereka bisa kembali merupakan syarat yang terlalu kejam menurutnya.

“mereka utusan langsung dari istana, berbeda dengan orang biasa seperti kita.”

Telinga Evren sedikit berkedut saat mendengar kata terakhir dari rekannya. Ia merasa seperti sedang diingatkan tentang statusnya sekarang.

Sementara itu, Xavier sedang membaca buku di dalam tenda, selama tiga hari terakhir, hampir tidak ada hal lain yang ia lakukan selain membaca. Selain makanan, tempat tidur, dan air untuk mandi, tidak banyak yang berubah dibandingkan kehidupannya di rumah. Ia bahkan mulai tidak memperdulikan perbedaan itu karena masih bisa melakukan hal yang paling disukainya, yaitu membaca buku.

Kriet

Xavier menoleh ke asal suara dan melihat pemuda pirang itu sudah duduk dengan wajah khas orang baru bangun tidur. Rambutnya berantakan, jubah yang dikenakannya kusut, bahkan ada bekas bantal yang cukup jelas di sisi wajahnya. Kemudian Xavier kembali fokus ke buku di tangannya.

“sudah bangun?” tanya Xavier dengan mata yang terpaku pada barisan huruf di depannya.

“berapa lama aku tertidur?”

“kamu tidur tiga hari penuh.”

“oh.”

Tiba-tiba Xavier menutup bukunya lalu berdiri. Meletakkan bukunya diatas meja, merapikan pakaiannya kemudian berjalan keluar dari tenda.

“ayo!”

“...” Zephyr menatap Xavier dalam diam. Yang ditatap pun akhirnya menoleh lalu menjelaskannya.

“Tadi ada prajurit datang. Katanya, kalau kamu sudah bangun, kita harus menemui komandan untuk melapor. Evren juga melakukan hal yang sama saat pertama kali tiba di sini.”

Xavier lebih dulu melangkah keluar dari tenda, sementara Zephyr berjalan mengikutinya dengan langkah tenang. Ia merapikan jubahnya lalu menutupkan tudung jubah itu ke kepalanya. Membuat orang lain hampir tidak bisa melihat wajahnya sama sekali.

Sesampainya di depan tenda komandan, mereka diminta menunggu. Prajurit yang berjaga di depan pintu masuk segera masuk untuk melaporkan kedatangan mereka. Setelah mendapat izin, barulah keduanya dipersilakan masuk.

Saat berada tepat di depan pintu masuk tenda, angin tiba-tiba berhembus di sekitar mereka berdua hingga membuat tirai penutup pintu sedikit terbuka. Bahkan jubah Zephyr pun sedikit berkibar karenanya.

Mereka berdua masuk lalu memberi hormat kepada Kaelen. Kaelen duduk di kursinya dengan sebuah kertas di tangannya.

“Xavier von Starling dan…”

Kaelen mengangkat pandangannya ke arah pemuda berjubah ungu itu.

“Zephyr,” jawab Zephyr.

Kaelen mengangguk lalu kembali melihat ke arah kertas di tangannya. Keheningan kembali memenuhi tenda. Xavier mulai merasa gelisah. Ia menyukai suasana tenang, tetapi bukan keheningan seperti ini. Baginya, diam hanya terasa nyaman saat ditemani buku di tangannya.

Sementara Zephyr diam-diam melirik ke sudut ruangan yang terhalang oleh sebuah lemari besar. Sesaat sebelum memasuki tenda, Zephyr sempat melepaskan sedikit energinya. Dari sana ia merasakan keberadaan tiga orang di dalam ruangan. Namun sekarang, yang terlihat hanya dua—komandan dan pria tua yang berdiri di sampingnya.

“Xavier, aku sudah menerima surat pengantar dari keluargamu. Mulai sekarang kamu akan dilatih di Draven sebagai prajurit. Untuk peraturan hingga fasilitas yang ada, nanti akan dijelaskan oleh orang di luar,” ucap Kaelen sambil mengangkat kertas pengantar yang sejak tadi dipegangnya. Lalu ia kembali melipatnya dan meletakkan di atas meja.

Xavier mengangguk lalu ia keluar dari tenda dan benar sudah ada seorang pria tinggi besar sedang menunggunya.

Begitu tirai tenda kembali tertutup setelah Xavier keluar, suasana langsung berubah. Keheningan memenuhi ruangan. Tidak ada lagi sapaan ramah ataupun basa-basi.

Hening menyelimuti mereka cukup lama hingga Kaelen mengangkat wajahnya dan menatap langsung ke arah wajah Zephyr yang tertutup tudung jubahnya.

“namamu Zephyr? asalmu dari mana?”

“apa aku harus menjawabnya?” tanyanya sambil melirik ke sudut.

Jika pertanyaan itu benar-benar berasal dari komandan, Zephyr tidak keberatan menjawabnya. Namun ia tahu, orang yang sebenarnya ingin mendengar jawabannya bukanlah Kaelen.

“iya.”

Zephyr terdiam sesaat lalu ia mulai menjelaskan tentang asal usulnya.

Zephyrus Nyx, nama yang diberikan secara khusus oleh pemimpin Menara Sihir. Ia lahir dan dibesarkan di sana tanpa pernah mengetahui siapa kedua orang tuanya.

“jadi, kenapa sekarang kamu ada di Draven?”

“ada beberapa konflik kecil yang membuatku diusir dari menara,” Jawabnya dengan begitu tenang, bahkan tidak terdengar ada emosi sedikitpun dari nada bicaranya. Seolah-olah itu adalah hal yang wajar terjadi. Padahal jika seorang penyihir diusir dari menara sihir, itu sama saja dengan kehilangan jati dirinya.

Namun Kaelen tidak langsung percaya dan hanya menatapnya. Penyihir adalah entitas yang sangat langka. Sekecil apapun kemampuannya pasti akan langsung dibawa ke menara sihir. Bahkan ada undang-undang khusus di kekaisaran yang menyatakan bahwa penyihir dilarang berperang di garis depan kecuali atas perintah Kaisar secara langsung.

Jika hanya karena konflik kecil, lalu seorang penyihir bisa diusir kapan saja, Kaelen merasa penyihir pasti sudah punah sejak dulu. Apalagi Zephyr sejak lahir sudah berada di bawah pengasuhan pemimpin menara sihir secara langsung.

“ini,” Zephyr melihat keraguan di mata Kaelen lalu ia mengeluarkan sebuah kertas dari balik jubahnya.

“ini…” Kaelen mengambil surat tersebut lalu membacanya. Isinya adalah pernyataan resmi bahwa Zephyr bukan lagi bagian dari menara sihir. Bahkan ada cap pemimpin menara sihir di bawahnya.

“surat resmi dari menara sihir, aku tidak kabur dan tidak melakukan tindakan kriminal.”

Kaelen mengangguk lalu mengembalikan surat tersebut kepada Zephyr.

“Baiklah, kalau begitu selamat bergabung di Draven.”

Zephyr hanya mengangguk lalu keluar dari tenda sebelum dipersilahkan keluar. Baginya, pembicaraan itu sudah selesai. Komandan sudah menerima penjelasannya, bahkan mengucapkan selamat bergabung. Itu berarti tidak ada lagi alasan baginya untuk tetap berada di dalam tenda.

Kaelen terdiam melihat pemuda itu pergi begitu saja dari hadapannya.

“Apa penyihir memang seperti itu?” Tanyanya kepada sang penasihat.

Lysander keluar dari balik lemari dan berjalan mendekat ke arah Kaelen. Sang penasihat langsung berdiri dan memberikan kursinya untuk Lysander.

“Penyihir yang lahir dan dibesarkan langsung di dalam menara tidak mengenal emosi apapun, seperti yang kamu lihat tadi,” ucap Lysander.

“Menurutmu bagaimana dengan penyihir itu?”

Mendapat pertanyaan seperti itu, Lysander tidak langsung menjawabnya. Ia mempertimbangkan beberapa hal, lalu akhirnya memberi perintah untuk melaporkan keberadaannya ke istana sesuai dengan apa yang dikatakan penyihir muda itu.

“Biarkan Kaisar yang menentukannya, tapi tidak perlu mengatakan hal yang memang tidak perlu,” Ucapnya.

Kaelen memahami ucapan tersebut lalu ia menoleh ke arah penasihatnya dan sebuah anggukan diberikan.

Setelah mengetahui apa yang ingin diketahui dan mengatakan apa yang ingin dikatakan, Lysander keluar dari tenda Kaelen. Kembali menuju ke tendanya sendiri.

“Tuan Lysander, sebaiknya anda pindah ke tenda Kaelen agar bisa beristirahat lebih dengan lebih nyaman,” Ucap sang penasihat kepadanya sebelum ia benar-benar keluar dari tempat tersebut.

“Tidak perlu, Alaric. Terima kasih perhatiannya, tapi aku tidak sedang berada di posisi untuk menerima kemewahan itu,” Jawabnya.

Sang penasihat pun mengangguk lalu membiarkannya keluar dari tenda. Sedangkan Kaelen kembali teringat pada pertanyaan yang sempat muncul saat pertama kali bertemu dengannya. Pertanyaan itu kembali muncul ke permukaan, “siapa dia? aku saja memanggilnya tuan Alaric, tapi dia memanggil nama langsung.”

Namun ia memilih menyimpan pertanyaan itu karena merasa itu sesuatu yang belum waktunya untuk ia ketahui.

Kaelen menuliskan selembar surat dan diakhiri dengan sebuah cap komandan miliknya.

“Kirimkan ke istana menggunakan merpati, harus segera sampai di istana secepat mungkin,” Perintahnya kepada prajurit yang berjaga di depan tendanya. Semakin cepat surat itu sampai, semakin cepat pula status Zephyr diputuskan. Itu akan memudahkannya mengurus keberadaan pemuda itu di Draven.

Di istana.

“Yang mulia, ada surat dari Draven.”

“Apa itu balasan dari Lysander?”

“Bukan yang mulia, ini surat dari komandan Kaelen Valmont.”

Cassian mengambil surat itu lalu membacanya. Isinya hanya membahas seorang penyihir muda yang telah dikeluarkan dari Menara Sihir. Menurutnya, itu bukanlah sebuah masalah besar. Masih banyak penyihir yang jauh lebih berkompeten daripada harus mengurus satu penyihir kecil sepertinya. Kemudian ia membuat sebuah dekrit kekaisaran yang berisi pembebasan Zephyrus Nyx dari menara sihir dan penugasannya di benteng Draven.

“ternyata hanya masalah penyihir kecil,” Gumamnya setelah membaca isi surat tersebut.

Ia terlalu fokus pada Lysander dan Evren yang kini sudah berada di dalam satu tempat yang sama.

Dekrit kekaisaran dikirim melalui jalur darat oleh utusan istana, sementara surat balasannya tetap diterbangkan dengan merpati agar status Zephyr tidak menggantung terlalu lama.

Setelah menerima surat balasan dari istana, Kaelen meminta bagian logistik untuk membuatkan satu set pakaian untuk Zephyr.

Pakaian itu diantar langsung ke tendanya dan diterima langsung oleh Zephyr. Ia melepas jubah ungu yang sudah dipakainya sejak lahir. Lalu menggantinya dengan pakaian baru. Ia mengencangkan ikat pinggangnya dan memandang dirinya sendiri. Merasa ada yang aneh, ia pun pergi ke bagian logistik dan bertanya.

“Apakah di sini ada jubah yang mirip dengan yang biasa aku pakai?”

Orang yang bertugas di sana pun terdiam sesaat dan saling pandang sebelum memintanya kembali ke tenda dan menunggunya. Setelah itu, mereka melaporkan permintaan Zephyr ke Kaelen dan meminta keputusan darinya.

“Astaga... ya sudah. Buatkan satu set lagi, modelnya sama seperti jubah yang biasa dia pakai. Bedanya, jangan gunakan warna ungu. Tambahkan lambang Benteng Draven di bagian dadanya.”

“Baik komandan.”

1
Tosari Agung
evren lu Galang kekuatan terus si kaisar anjing itu lu kudeta dan ajarkan ke dia gimana caranya membunuh orang sebelum sampai ke pengasingan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!