Mita tidak pernah meminta takdir ini. Baginya, Sam adalah kakak, pelindung, dan satu-satunya tempat bersandar setelah kedua orang tuanya tewas demi menyelamatkan keluarga Sam. Namun, sebuah pernikahan atas dasar utang budi mengubah segalanya dalam semalam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eleanor kici kici, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 17: Sudut Pandang dan Pengorbanan
Sam tidak langsung pergi setelah menurunkan Mita di depan kios laundry. Ia memarkirkan mobilnya di pinggir jalan, berniat untuk menunggu dan mengantarkan gadis itu pulang kembali ke rumah. Dari balik kemudi, Sam bisa melihat Mita sedang mengobrol dengan pemilik laundry—seorang ibu-ibu paruh baya yang tampak sangat ramah dan supel.
"Oh, ini mau cuci sprei ya, Neng? Boleh minta nomor kontaknya? Nanti kalau misalkan enggak sempat dijemput karena terlalu lama, kami bisa coba mengantarnya langsung ke alamat rumah. Tapi ya lihat kondisi juga, kalau toko lagi sibuk banget, kadang bisa berbulan-bulan baru sempat antar," ujar ibu pemilik laundry itu ramah sambil memeriksa bungkusan plastik hitam Mita.
"Eh, enggak usah, Bu. Insyaallah nanti kalau sudah selesai pasti langsung saya jemput sendiri," jawab Mita pelan.
"Enggak apa-apa, buat jaga-jaga saja," sahut ibu itu lagi sambil tersenyum. Namun, begitu mengeluarkan sprei putih dari dalam plastik, gerakan tangan ibu itu sempat terhenti sejenak sebelum menatap wajah Mita dengan pandangan menyelidik. "Eh... ini sprei jejak yang pertama ya, Neng? Wah banyak sekali ya! Duh, Neng juga pucat sekali. Kenapa enggak istirahat di rumah saja? Kenapa enggak suaminya yang mengantarkan ke sini?"
Mendengar rentetan pertanyaan spontan dari ibu tersebut, jantung Mita berdegup kencang. Ia refleks menoleh ke arah pinggir jalan, memastikan dengan cemas apakah ucapan ibu itu terdengar sampai ke telinga Sam. Mita seketika merasa lega saat melihat Sam ternyata sedang sibuk menempelkan ponsel di telinganya, kembali berdebat sengit dengan seseorang yang sudah pasti adalah Vanya.
Mita buru-buru mengalihkan pembicaraan dan berpamitan dengan mengisi data formal berupa nomor ponsel serta alamat rumah mereka yang sekarang di buku nota. Setelah menyelesaikan administrasi, Mita melangkah keluar dari kios dan berjalan mendekati mobil Sam dengan langkah yang masih terasa nyeri.
Begitu membuka pintu mobil, Mita melihat Sam masih tenggelam dalam amarahnya di telepon.
"Iya, iya, Vanya! Kalau semuanya sudah jelas, aku akan berusaha untuk bercerai secepat mungkin! Aku juga sedang mencari jalan keluarnya sekarang!" bentak Sam frustrasi ke arah speaker telepon.
Mita menatap Sam dengan pandangan teduh namun sarat akan ketetapan hati. Sambil memegang pintu mobil yang masih terbuka, Mita berkata lirih, "Mas, enggak apa-apa... biar saya jalan kaki pulang saja. Mas lanjut saja."
Sam tidak mendengarkan. Pria itu menggelengkan kepala memberi isyarat agar Mita tetap masuk, sementara mulutnya masih terus menyahuti suara melengking Vanya di seberang sana. Perdebatan itu terasa begitu berlarut-larut dan melelahkan.
Melihat lingkaran setan yang tidak kunjung usai itu, Mita menarik napas dalam-dalam. Dengan keraguan yang sempat melintas di matanya, ia memberanikan diri menyentuh lengan Sam.
"Mas, bagaimana kalau aku saja yang bicara dengan Mbak Vanya dulu?" tanya Mita lembut.
Sam tertegun. Di tengah rasa frustrasinya yang sudah di ubun-ubun, ia akhirnya pasrah dan menyerahkan ponselnya yang masih tersambung itu kepada Mita.
Mita menerima ponsel tersebut, lalu mendekatkannya ke telinga. "Halo, Mbak Vanya? Maaf ya, Mbak, saya keliru menyela pembicaraan kalian. Tapi setidaknya, mungkin saya bisa memberi jalan keluar yang pasti untuk kalian berdua," ujar Mita dengan suara yang sangat tenang namun bergetar menahan emosi di dadanya.
Suara di seberang telepon mendadak senyap, menunggu kelanjutan kalimat Mita.
"Mungkin beberapa hari lagi, sesuai dengan jadwal akhir pekan, kami selalu ada acara makan malam keluarga di rumah Besar—di rumah keluarga Baskoro. Di sana, saya sendiri yang akan mengajukan dan meminta perceraian ini di hadapan orang tua kami. Jadi, Mbak Vanya... saya mohon, tolong beri Mas Sam sedikit kesempatan dan waktu ya? Saya mohon," ucap Mita dengan nada penuh ketulusan yang menyayat hati.
Mendengar kalimat yang keluar dari bibir Mita, Sam yang duduk di kursi kemudi seketika terpaku. Jantungnya mencelos seketika, menatap adik angkatnya itu dengan tatapan tidak percaya sekaligus hantaman rasa bersalah yang kian mengimpit dadanya.(Jangan lupa klik tombol like di bawah ya, Kak!)