No Plagiat ❌
Sejak kecil, Valerie Sinclair selalu bermimpi tentang seorang anak laki-laki bernama Hazel yang tumbuh bersamanya, namun setelah Hazel di mimpinya tumbuh remaja wajahnya tak pernah terlihat jelas. Setelah kehilangan kedua orang tuanya dalam kecelakaan tragis, Valerie menikah kontrak dengan Damian demi membalas budi keluarga konglomerat yang diselamatkan orang tuanya.
Seiring waktu, Valerie jatuh cinta pada Damian karena sosoknya begitu mirip dengan pria dalam mimpinya. Namun sikap Damian yang dingin membuat Valerie memilih bercerai. Saat Damian akhirnya menyadari perasaannya dan berusaha merebut kembali hati Valerie, sebuah kecelakaan mengungkap rahasia mengejutkan tentang mantan istrinya yang membuat Damian prustasi.
Mampukah Damian mendapatkan kembali cinta wanita yang pernah ia sia-siakan, atau kesempatan kedua ini justru datang terlambat?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Luh Belong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hanya bertahan sesaat
“Jangan terlalu jauh.”
Valerie justru menjulurkan lidah.
“Aku bukan anak kecil.”
“Tapi badanmu masih kecil.”
“Kamu body shaming?!”
Valerie mendengus kesal. Ia membungkuk di tepi pantai, kedua telapak tangannya menyendok air laut yang jernih. Senyum jahil langsung menghiasi wajahnya.
“Dasar pria menyebalkan."
Byur!
Air laut melayang ke arah Damian.
Damian tidak sempat menghindar. Meski percikannya tidak mengenai tubuh bagian atas, air itu cukup membasahi ujung celana dan sepatunya. Damian menunduk menatap celananya yang kini basah.
“Valerie...”
Nada suaranya tetap datar, tetapi tatapannya dipenuhi peringatan.
Bukannya merasa bersalah, Valerie justru tertawa semakin keras.
“Hahaha... ngapain ke pantai kalau takut basah?”
Damian mengembuskan napas panjang. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, ia melepas kedua sepatunya dan meletakkannya di atas pasir. Kemudian ia menggulung sedikit ujung celananya sebelum melangkah mendekati bibir pantai.
Valerie mulai menyadari sesuatu.
“Damian?”
Damian membungkuk perlahan, kedua telapak tangannya menyendok air laut. Senyum tipis muncul di sudut bibirnya.
“Kamu duluan ya!”
Valerie yang melihat itu langsung membelalak.
“Tunggu?!”
“Kamu ngapain?!”
“Takut basah?” tanya Damian sambil mengangkat sebelah alis.
Valerie buru-buru mundur.
“Jangan curang!”
“Kamu lebih tinggi dariku!”
Damian tersenyum tipis.
“Memangnya kenapa?”
Valerie langsung berbalik.
“Tolong!”
Ia berlari di sepanjang pantai.
Damian menggeleng pelan sebelum mengejarnya.
“Valerie!”
“Jangan lari!”
Valerie berusaha menyelamatkan dirinya.
“Jangan mendekat!”
Damian masih mengejarnya.
“Kamu akan tetap tertangkap.”
Valerie tertawa sambil terus berlari.
Beberapa wisatawan yang melihat mereka ikut tersenyum, mengira mereka pasangan muda yang sedang berlibur.
Karena terlalu fokus menoleh ke belakang, Valerie tidak melihat ombak kecil yang datang.
“AHHH...”
Kakinya terpeleset, tubuhnya oleng.
Namun sebelum benar-benar jatuh, Damian berhasil menangkap pergelangan tangannya. Sekali tarik, Valerie langsung menabrak dada Damian.
BUK.
Keduanya kembali saling menatap.
“Tuh kan?”
“Anak kecil harus dibawa pantauan orang dewasa.”
Valerie mendengus pelan.
“Itu gara-gara kamu!”
“Kalau langkah kakimu tidak cepat, aku pasti tidak panik.”
Damian terkekeh pelan.
“Jadi sekarang salah ku?”
“Memang salahmu!”
“Tadi siapa yang duluan?”
Valerie pura-pura berpikir.
“...”
“Aku tau kamu sengaja.”
Valerie tersenyum jahil.
Damian menggeleng sambil tertawa pelan, karena ini pertama kalinya dalam beberapa hari terakhir, percakapan mereka mengalir tanpa pertengkaran.
Valerie kemudian duduk di atas pasir putih sambil memeluk kedua lututnya, matanya memandang garis cakrawala.
“Damian...”
“Hm?”
“Kenapa membawaku ke sini?”
Damian ikut duduk di sampingnya, beberapa saat ia hanya memandang laut yang bergelombang tenang.
“Aku melihat gambaranmu, penuh dengan gambaran laut.”
Valerie menoleh perlahan, ia tidak menyangka Damian memperhatikan gambarannya.
“Jadi?”
Damian tersenyum tipis tanpa menatapnya.
“Aku hanya menduga.”
Valerie menatap wajah Damian beberapa saat, sudut bibirnya perlahan terangkat.
“Terima kasih.”
Damian tidak menjawab, entah mengapa ia menjadi canggung.
Hanya ada suara deburan ombak, semilir angin pantai, dan dua hati yang perlahan mulai menemukan kembali jalan untuk saling mendekat, meski belum ada satu pun yang berani mengakuinya.
Langit perlahan berubah jingga. Matahari tenggelam di balik cakrawala, menutup sore yang dipenuhi tawa mereka di pantai.
Sepanjang perjalanan pulang, suasana di dalam mobil terasa jauh lebih hangat dibanding beberapa hari terakhir.
Valerie sesekali menatap ke luar jendela sambil tersenyum tipis, sementara Damian diam-diam beberapa kali melirik ke arahnya.
Mobil akhirnya memasuki halaman Mansion Robert. Donny menghentikan mobil tepat di depan pintu utama.
Valerie membuka pintu lebih dulu dan turun.
Saat itulah ponsel Damian berdering, nama Olivia muncul di layar. Damian segera mengangkat panggilan itu.
“Iya, Olivia?”
Wajahnya perlahan berubah serius.
“Apa?”
“Baik, aku akan segera kesana.”
Valerie yang baru beberapa langkah berjalan tanpa sengaja mendengar ucapan itu, ia berhenti sejenak.
Damian menutup telepon lalu menghampirinya.
“Valerie.”
Valerie menoleh.
“Olivia sedang sakit.”
Damian menghela napas pelan.
“Aku harus ke sana memastikan kondisinya.”
Valerie terdiam beberapa saat. Kemudian ia tersenyum tipis, senyum yang terlalu tenang.
“Iya.”
Hanya itu. Tidak ada pertanyaan, tidak mencegahnya, maupun wajah kesal seperti biasanya.
Valerie berbalik dan melangkah masuk ke dalam mansion.
Damian memandang punggungnya hingga menghilang di balik pintu. Entah mengapa, respons Valerie justru membuat dadanya terasa sesak.
Valerie seolah tidak lagi peduli.
Damian mengepalkan tangannya pelan.
“Kenapa jadi begini?”
gumamnya lirih. Dengan perasaan yang sulit dijelaskan, ia kembali masuk ke mobil.
“Donny.”
“Ya, Tuan.”
Mobil kembali meninggalkan mansion.
Dari balik jendela lantai dua, Valerie melihat mobil Damian perlahan menghilang dari halaman. Senyum di wajahnya perlahan menghilang.
“Rupanya aku masih cemburu.”
Ia memejamkan mata.
“Mengapa aku tidak bisa menepis perasaan ini?”
Valerie menyandarkan dahinya pada kaca.
“Aku sadar, Damian mendekatiku hanya karena tidak terbiasa dengan perubahan dirumahnya.”
“Bukan karena dia mencintaiku.”
Meski sudah memahami kenyataan itu, hatinya tetap terasa nyeri.
Malam semakin larut.
Untuk mengalihkan pikirannya, Valerie duduk di ruang utama sambil menggambar di atas kanvas. Gerakan kuasnya perlahan menjadi lebih tenang, hingga seorang pelayan datang menghampiri.
“Nona Muda!”
Valerie mengangkat kepala.
“Tuan Damian menelepon, beliau mengatakan tidak akan pulang malam ini.”
“Jadi Nona tidak perlu menunggu.”
Valerie mengernyit.
“Aku tidak sedang menunggunya.”
gumamnya pelan setelah pelayan pergi.
Ia mendengus kesal.
“Besar kepala.”
“Kalau merasa ditunggu, setidaknya menelfon ku bukan menelfon pelayan.”
Valerie membawa peralatan gambarnya menuju kamar, namun baru saja ia duduk di tepi ranjang.
TING!
Ponselnya berbunyi, sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak dikenal.
Valerie mengernyit.
“Nomor siapa?”
Ia membuka pesan itu.
Seketika wajahnya memucat. Sebuah foto memenuhi layar, damian sedang tertidur di atas satu ranjang bersama Olivia. Olivia tampak memeluk lengan Damian, sementara Damian terlihat terlelap di sampingnya.
Ponsel di tangan Valerie bergetar hebat.
“Apa-apaan ini?”
Bisiknya lirih, tangannya melemas.
BRUK.
Ponsel itu terjatuh ke lantai.
Valerie mundur beberapa langkah sebelum terduduk lemas di sisi ranjang. Air mata yang sejak tadi ditahan akhirnya mengalir deras, kedua tangannya mencengkeram rambutnya sendiri.
“Kenapa?”
“Kenapa aku masih berharap?”
Isaknya pecah memenuhi kamar yang sunyi.
“Aku tahu...”
“Aku tahu dia tidak akan pernah mencintaiku...”
“Lalu kenapa...?”
“Kenapa aku tetap bahagia, setiap kali dia mendekat maupun setiap dia bersikap baik?”
Dadanya terasa sesak. Harapan kecil yang baru saja tumbuh setelah mereka menghabiskan sore bersama di pantai, seolah hancur hanya karena satu foto.
Valerie memeluk kedua lututnya sambil menangis tanpa suara. Malam itu, ia mulai membenci dirinya sendiri. Karena masih mencintai pria yang hatinya belum pernah benar-benar menjadi miliknya.
Ia tiba-tiba teringat ucapan Olivia beberapa waktu lalu, tentang satu ruangan di mansion ini yang tidak pernah diizinkan Damian dimasuki siapa pun. Ruangan yang menyimpan kenangan yang paling berharga baginya.
Saat itu Valerie mengira Olivia hanya sedang mencoba memancing emosinya. Namun sekarang, keraguan itu perlahan menghilang.
Valerie mengusap air matanya kasar.
“Aku akan menghampiri ruangan itu.”
“Aku ingin tahu... apa yang sebenarnya selama ini dia sembunyikan.”
Dengan langkah lemah, ia berdiri. Pintu kamarnya dibuka, Valerie berjalan pelan melewati lorong. Kakinya membawanya menuju lantai tiga, tangga demi tangga ia naiki dengan dada yang semakin berdebar.
Semakin dekat, semakin besar rasa takut yang memenuhi hatinya.
Bagaimana jika semua ucapan Olivia memang benar, jika dirinya lah yang dapat memahami Damian?
Bagaimana jika selama ini Damian memang tidak pernah bisa melupakan wanita itu?
Valerie menggigit bibir bawahnya, berusaha menahan isak yang kembali ingin keluar. Setibanya di lantai tiga, ia menghentikan langkah. Lorong panjang itu tampak begitu sunyi, hanya cahaya lampu dinding yang redup menerangi setiap sudut mansion.
Valerie berjalan perlahan. Matanya menyapu setiap pintu yang dilewatinya, satu demi satu.
Hingga.
Langkahnya terhenti.
Di ujung lorong berdiri sebuah pintu kayu besar yang berbeda dari pintu-pintu lainnya. Pintu itu tampak lebih megah, lebih kokoh. Seolah sengaja dibuat untuk tidak sembarang orang memasukinya.
Jantung Valerie berdetak semakin cepat.
“Jadi...”
“Ini kamar yang dimaksud Olivia?”