NovelToon NovelToon
OBSESSION SANG TUAN MUDA

OBSESSION SANG TUAN MUDA

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Obsesi
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Nurfazilah Cell

Gadis polos yang dunia nya hancur, saat kecelakaan yang merenggut nyawa kedua orang tua nya, di saat paling rapuh ia jatuh kedalam pelukan pria berkuasa sekaligus pemimpin gelap

Bagis pria itu gadis kecil ini adalah hak mutlak , satu satu nya obsession yang tak pernah ia lepas kapan pun

"Kau milik ku gadis kecil, selama nya semua yang ada padamu itu milik ku tidak akan pernah menjadi milik orang lain, sayang, " ucap nya dengan penuh obsession

Gimana kah cerita nya ,dari pada penasaran kuy baca novel aku 😘

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nurfazilah Cell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18. Obsesif

satu malam penuh Alesha terbaring terjaga, pikirannya berputar kacau di antara rasa sakit, rasa lapar, dan kebingungan yang semakin dalam. Setiap kali ia mencoba memejamkan mata, ingatan akan tekanan di kakinya dan suara ancaman Aiden kembali terngiang jelas di telinganya. Ia tahu: ini bukan sekadar pertarungan fisik, tapi pertarungan untuk mempertahankan sisa jati diri yang masih tersisa.

Pagi harinya, pintu kamar terbuka lagi. Aiden masuk dengan langkah tenang, wajahnya sudah kembali tampak terkendali, tapi matanya langsung mengunci pandangan pada Alesha — mengamati setiap perubahan sekecil apa pun pada ekspresi dan tubuh gadis manis nya itu.

Ia meletakkan nampan di meja, kali ini berisi kembali makanan kesukaan Alesha, minuman hangat, dan juga bungkus obat pereda rasa sakit yang masih baru. Namun ia tidak langsung memberikannya, melainkan berlutut lagi di posisi yang sama, menatap lurus ke mata Alesha seolah menantang untuk melihat apakah semalam sudah membuatnya berpikir jernih.

“Sudah cukup istirahat sayang hmm?” tanyanya lembut, tapi nada bicaranya tetap terasa seperti pengawasan yang tak terlihat. “Pasti kau sudah tahu apa yang harus kau pilih, bukan? Tubuhmu sudah memberi jawaban yang jelas semalam.”

Alesha menggigit bibirnya keras, menahan keinginan untuk meludah atau membentak kembali. Ia merasakan perutnya yang terasa kosong melompong, dan kaki kanannya yang masih berdenyut nyeri seperti ditusuk jarum halus terus-menerus. Namun ia tetap mengangkat wajah, suaranya lebih lemah tapi masih menyimpan sisa duri perlawanan:

"Alesha tahu apa yang kak Aiden inginkan… kak Aiden ingin mendengar Alesha mengaku bahwa semua ini benar, bahwa kak Aiden satu-satunya yang baik untukku, bahwa Alesha harus menyerahkan segalanya padamu. Tapi dengar ini baik-baik, kak Aiden."

Ia menarik napas panjang untuk mengumpulkan tenaga, lalu melanjutkan dengan suara yang lebih mantap:

“Kalau Alesha bicara apa yang kak Aiden mau dengar hari ini… bukan berarti Alesha setuju. Bukan berarti Alesha percaya omongan kak Aiden yang diputarbalikkan itu. Alesha hanya melakukannya karena tubuhku sudah tidak sanggup lagi menahan rasa sakit dan lapar ini. Jangan salah mengartikannya sebagai kemenangan gila kak Aiden .”

Sudut bibir Aiden terangkat sedikit membentuk senyum yang puas — meski Alesha masih berusaha melindungi harga dirinya, baginya itu sudah menjadi langkah pertama yang paling berharga. Ia mengulurkan tangan, tidak mencengkeram, hanya menunggu dengan tatapan yang mendesak.

“Boleh saja kau pikir begitu sesuka hatimu,” jawabnya pelan, tapi penuh keyakinan. “Tapi kata yang keluar dari mulutmu itu akan menjadi kenyataan yang mulai kau jalani. Sekarang… ucapkan saja kalimatnya. Perlahan, jelas, dan agar Aku benar-benar mendengarnya.”

Alesha menunduk, air mata menggenang di kelopak matanya, lalu dengan suara yang terguncang dan tertekan, ia melafalkan kata-kata yang terasa seperti pisau yang mengiris lidahnya sendiri:

“Maafkan Alesha… Kak Aiden. Alesha akan mendengarkan… dan mengikuti apa yang kak Aiden katakan.”

Begitu kalimat itu selesai terucap, hening sejenak meliputi ruangan. Aiden menatapnya dalam-dalam, seolah ingin memastikan setiap suku kata itu tertanam baik di udara, di telinganya sendiri, dan di hati Alesha meski masih dipenuhi rasa benci.

Lalu dalam sekejap, seluruh sikapnya berubah. Ia langsung meraih obat dan air minum, , lalu menyuapkannya sendiri ke mulut Alesha dengan gerakan yang tiba-tiba terasa sangat lembut dan penuh perhatian. seperti biasa nya sebelum pertengkaran itu terjadi

“Bagus… itu gadis yang pintar,” bisiknya lembut, lalu segera menyendok kan makanan hangat itu dan membawanya ke bibir Alesha. “Lihat saja, dalam sepuluh menit rasa sakit di kakimu akan berkurang, perutmu akan terasa nyaman kembali, dan besok pagi kita bisa duduk lama-lama di taman menikmati bunga yang sedang mekar cantik.”

Alesha hanya menelan apa yang dimasukkan, matanya menatap kosong ke depan, merasa seperti baru saja menandatangani perjanjian yang mengikat dirinya selamanya. Namun ia tidak bisa menyangkal — tidak lama kemudian, rasa nyeri di kakinya perlahan mereda, dan rasa hangat dari makanan mulai menyebar ke seluruh tubuhnya yang terasa kaku.

Namun diamnya itu tidak membuat Aiden berhenti berbicara. Justru ia mulai mengisi setiap keheningan dengan kata-kata yang membentuk pola pikir baru, dengan logika yang terus diputar ulang agar lama-kelamaan terasa masuk akal:

“Kau lihat kan? Segera setelah kau memilih jalan yang benar, kenyamanan kembali datang. Itu bukan kebetulan, Alesha. Ini bukti bahwa alam dan Tuhan pun setuju dengan aturan yang Aku buat. Melawan hanya membawa penderitaan, sedangkan mendengarkan membawa kedamaian.”

Alesha menunduk menutup matanya rapat, berusaha menyaring setiap kata itu agar tidak masuk terlalu dalam ke pikirannya, tapi suara Aiden terasa merayap masuk lewat celah pertahanannya yang mulai rapuh.

“Tapi ini masih dipaksakan…” gumamnya pelan, sisa perlawanan terakhir yang nyaris tak terdengar.

“Memang pada awalnya terasa begitu,” jawab Aiden segera, seolah sudah menyiapkan jawaban itu sejak lama. “Sama seperti saat belajar berjalan dulu — awalnya terasa sakit, terjatuh berkali-kali, tapi lama-kelamaan jadi kebiasaan yang tak terasa lagi. Begitu juga ini. Awalnya terasa seperti paksaan, tapi nanti akan berubah menjadi keinginan sendiri. Kau akan mulai sadar bahwa apa yang Aku atur selalu lebih baik daripada apa yang kau pikirkan sendiri.”

Ia terus menyuapi sampai nampan kosong, lalu dengan lembut mulai memijat bagian kaki yang masih terasa tegang, gerakannya terampil dan membawa rasa nyaman yang tak bisa dipungkiri. Setiap kali Alesha sedikit menggeliat atau mendesah lega, mata Aiden menyala terang seolah menerima konfirmasi bahwa metodenya bekerja sempurna.

“Mulai hari ini, kita akan ulangi ini setiap hari,” ucapnya sambil terus memijat, suaranya menjadi seperti irama yang menenangkan sekaligus memprogram. “Setiap kali kau bertanya, setiap kali kau ragu, ingat saja: pilih mendengarkan, tubuh tenang, pilih melawan , tubuh menderita. Akhirnya kau akan tahu mana yang paling menguntungkan dirimu sendiri.”

Alesha tidak menjawab lagi. Ia hanya membiarkan tangannya tergantung lemas di sisi kursi roda, mendengarkan suara itu, merasakan pijatan yang meredakan sakit, dan menyadari kenyataan pahit yang baru saja ia buktikan sendiri: tubuhnya sudah mulai mengajari dirinya untuk patuh, lebih cepat daripada hatinya sanggup melawan.

Dan di dalam hati Aiden, ia merasa seperti baru saja meletakkan batu fondasi terakhir dari istana penjara yang ia bangun khusus untuk mereka berdua. Sekarang, tinggal menunggu waktu agar dindingnya makin kokoh, dan agar isinya — pikiran serta hati Alesha — perlahan-lahan terisi penuh hanya dengan satu nama dan satu keinginan saja: dirinya sendiri.

Author : Jahat banget sih kamu Aiden, tapi Author suka heheh ini adalah keburukan yang bisa para pembaca terima 😁😁 semangat terus nya Aiden buat hati Alesha semakin ini tinggal dengan mu selama nya, jangan lupa kasih semangat juga buat Alesha, si gadis manis pecinta es krim heheh

Author: min kalau kalian merasa kok alur cerita di tokoh utama selalu sih, gini nya Author memang sengaja banyakin alur tokoh utama nya, tapi nanti bab bab berikut nya juga akan ada alur tokoh lain kok jadi santai saja baca nya dan terus ikutin alur cerita oke 👌

Bersambung

Thank you yang sudah baca cerita oyen😊

1
🦊 Ara Aurora 🦊
Gue jadi keingat dulu pas gue kecil dulu ayahku pasti jarang pulang gimana mau pulang eh jauh sekali tempat kerjanya yah maklumlah namanya juga cari nafkah ayah ku 😅 sorry yah gue nggak tahu mau komen apa nih
Nurfazilah Cell: iya gak papa kak 😄
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!