Dikhianati suami tercinta selama tujuh tahun, Nadira baru tahu Raka sengaja menghalangi kehamilannya demi cinta lamanya. Saat nyawanya hampir habis, ia terlahir kembali ke malam kebakaran sebelum hari akad.
Melihat Raka meninggalkannya di api demi wanita itu, Nadira membatalkan pernikahan dan menikah kilat dengan Bima, petugas Damkar yang menyelamatkannya. Pernikahan kontrak demi balas dendam ini justru memberinya cinta yang tak terduga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lover, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 17
Bab 17
"Namanya Hans Kei."
Jawaban Kiana terdengar tenang, tetapi setelah mengucapkannya, ia menangkap sesuatu yang terlalu cepat di mata Erlan Kei.
Bukan terkejut.
Bukan juga tidak tahu.
Lebih mirip seseorang yang mendengar pintu diketuk dari dalam dadanya sendiri, lalu menolak menoleh.
"Begitu," kata Erlan Kei.
Hanya itu.
Ia tidak bertanya lagi. Tidak memberi komentar. Tidak menjelaskan kenapa nama seorang pemadam kebakaran cukup penting untuk dipanggil secara terpisah setelah sesi pitching. Kiana keluar dari Galeri Cahaya dengan satu kemenangan kecil dan satu tanda tanya baru yang menempel seperti serpihan kaca di pikiran.
Keesokan paginya, tanda tanya itu tertutup suara teriakan dari ruang kerja Navara Tech.
"Masuk! Masuk! Emailnya masuk!"
Lina hampir menjatuhkan gelas es kopi susu saat berlari ke meja utama. Dua engineer yang biasanya bicara pelan langsung berdiri. Fang membuka laptop dengan wajah kaku, tetapi tangannya bergerak lebih cepat dari biasa.
Kiana baru saja meletakkan tas ketika layar ruang rapat menampilkan surat resmi dari Vista Home.
Subjeknya pendek.
Penetapan Mitra Teknologi Tahap Awal Vista Home.
Fang membaca dua baris pertama, lalu berhenti. Matanya bergerak ke Kiana.
"Bu Kiana."
"Baca."
Suara Fang sedikit serak. "Dengan mempertimbangkan nilai teknis, diferensiasi produk, skema implementasi, dan potensi pengembangan jangka panjang, Vista Home menetapkan PT Navara Teknologi sebagai mitra teknologi tahap awal untuk program hunian pintar generasi baru."
Ruangan hening setengah detik.
Lalu pecah.
Ada yang menjerit. Ada yang memukul meja. Ada yang langsung menutup wajah dengan dua tangan. Lina benar-benar menangis, bukan jenis menangis cantik yang bisa dipakai di drama, melainkan menangis karena gaji bulan depan tiba-tiba tidak lagi terasa seperti mimpi buruk.
Fang tetap berdiri di depan laptop.
Matanya merah.
"Fang," kata Kiana.
"Saya tidak menangis."
"Saya belum bilang apa-apa."
"Saya cuma alergi kontrak besar."
Tawa meledak di ruang rapat. Kali ini Kiana ikut tersenyum. Bukan senyum tajam untuk musuh, bukan senyum formal untuk bisnis, melainkan senyum pendek yang terasa asing di wajahnya sendiri.
Navara Tech masih kecil. Masih punya utang teknis, utang vendor, utang kepercayaan. Tapi hari itu, untuk pertama kalinya sejak Kiana dilempar ke perusahaan ini sebagai hukuman, orang-orang di dalamnya berdiri seperti perusahaan yang punya masa depan.
Di bagian bawah surat, ada catatan tambahan dari Pak Linson.
Saya menunggu pengembangan sistem pemadam kebakaran Anda.
Kiana membaca kalimat itu dua kali.
Sistem pemadam kebakaran Anda.
Padahal kemarin ia menyebutnya sistem keselamatan. Entah sengaja atau tidak, Linson mengambil kata yang paling dekat dengan Hans.
Menjelang sore, Kiana pulang lebih awal. Ia membeli bahan makanan di supermarket dekat apartemen: iga babi untuk sup bening, tumis buncis, telur dadar dengan daun bawang, dan ikan kukus jahe yang dulu sering dibuat Mama saat ia butuh makan enak tapi tidak ingin perutnya protes.
Hans datang pukul tujuh lewat sepuluh.
Ia masih memakai kaus hitam polos dan celana panjang sederhana, rambutnya sedikit basah seperti baru mandi cepat di pos. Begitu pintu terbuka, ia mengangkat satu kantong berisi jeruk dan obat lambung.
"Untukmu."
Kiana melihat kantong itu, lalu meja makan yang sudah penuh. "Aku yang mengundang kamu makan untuk merayakan kontrak."
"Merayakan juga perlu obat lambung."
"Romantis sekali."
"Aku realistis."
Kiana menahan senyum dan membiarkannya masuk.
Makan malam berjalan lebih tenang dari pesta kecil di Navara. Hans tidak banyak bicara, tetapi ia makan semua yang Kiana ambilkan. Ketika ia mencicipi sup, gerakannya berhenti sebentar.
"Terlalu asin?" tanya Kiana.
"Enak."
"Kamu berhenti seperti sedang mengevaluasi operasi penyelamatan."
"Aku sedang memastikan ini bukan untuk orang lain."
Kiana hampir tersedak.
Hans menunduk, mengambil ikan kukus untuknya, seolah kalimat barusan hanya laporan cuaca. "Makan."
Setelah beberapa suap, Kiana akhirnya berkata, "Kontrak Vista Home keluar. Navara menang."
"Aku tahu."
"Kamu tahu?"
"Fang mengirim pesan singkat. Isinya hanya: selamat, dia tidak menangis."
Kiana tertawa pelan. "Dia pasti menangis."
"Pasti."
Keheningan yang jatuh setelah itu terasa nyaman. Kiana memutar sumpit di jari, lalu berkata dengan nada lebih pelan, "Proposal itu... inspirasinya memang dari pekerjaanmu."
Hans mengangkat mata.
"Bukan karena kamu pernah bicara banyak," lanjut Kiana. "Kamu justru jarang bicara. Tapi dari cara kamu melihat api. Kamu selalu menghitung jalan keluar lebih dulu. Korban dulu, barang belakangan. Aku cuma memasukkan cara pikir itu ke sistem."
Hans diam lama.
Lampu apartemen memantul di matanya, membuat wajahnya yang biasanya keras terlihat lebih muda.
"Kalau sistem itu benar-benar bisa menyelamatkan orang," katanya akhirnya, "lebih bernilai dari apa pun."
Kiana menatap tangannya yang sedang memegang mangkuk. Jari-jari itu punya bekas kecil, kasar di buku-buku, berbeda dari tangan pria yang seumur hidup hanya menandatangani kontrak. Entah kenapa, kalimat sederhana itu membuat dadanya hangat.
Setelah makan, Hans membawa piring ke dapur tanpa bertanya. Kiana berdiri di sebelahnya, mengiris jeruk untuk pencuci mulut.
"Erlan Kei kemarin bertanya tentang kamu," katanya tiba-tiba.
Pisau kecil di tangan Hans berhenti menyentuh talenan selama satu detik.
Hanya satu detik.
Lalu ia melanjutkan memotong daun bawang sisa tanpa mengangkat kepala. "Apa yang dia tanya?"
"Namamu."
"Kamu jawab?"
"Hans Kei."
"Hm."
Kiana menyipitkan mata. "Kalian benar-benar bukan saudara?"
"Bukan."
"Wajah kalian hampir sama."
"Dunia penuh orang mirip."
"Jawabanmu payah."
"Tapi benar."
Ia mengatakannya terlalu datar. Justru karena terlalu datar, Kiana merasa ada dinding tipis yang baru saja diturunkan di antara mereka. Bukan dinding yang kasar, tetapi cukup rapat untuk membuatnya tahu: ada sesuatu di sana, dan Hans belum ingin membukanya.
Malam itu, Hans pulang setelah mencuci semua piring. Ia meninggalkan jeruk yang sudah dikupas rapi di kotak kaca, bersama secarik sticky note.
Jangan minum kopi malam.
Kiana duduk di sofa, menatap tulisan kaku itu cukup lama sebelum menyalakan televisi. Berita malam sedang membahas kebakaran besar di sebuah ruko dekat pelabuhan. Kamera menampilkan asap hitam, sirene, dan tulisan berjalan: Unit Pos Damkar Tanjung Priok dikerahkan ke lokasi.
Jantung Kiana langsung mengetuk rusuknya.
Ia mengambil ponsel dan membuka chat Hans.
Kamu di lokasi?
Pesan itu terkirim.
Satu menit.
Dua menit.
Di layar televisi, seorang petugas pemadam berlari masuk ke bangunan dengan helm tertutup asap. Kiana berdiri tanpa sadar, ponsel menggenggam begitu erat sampai jarinya sakit.
Balasan masuk pada menit ketiga.
Bukan sifku. Aku di rumah. Habiskan jerukmu.
Kiana membaca pesan itu dua kali.
Lalu duduk kembali perlahan.
Rasa lega datang begitu tiba-tiba sampai lututnya hampir lemas. Ia meletakkan ponsel di dada, menatap langit-langit apartemen, dan untuk pertama kalinya menyadari bahwa kekhawatiran itu datang sebelum logika sempat memberi izin.
Di apartemen seberang kota, Hans berdiri di balkon gelap dengan ponsel lain di tangan.
Suara dari seberang terdengar sangat hormat.
"Erlan Kei, dokumen Vista Home sudah diamankan."