Aku selalu berpikir bahwa pernikahan rahasia ini akan berjalan mudah asalkan kami tetap menjaga jarak di tempat kerja. Sebagai resepsionis, tugas utamaku adalah mengarahkan tamu, bukan menarik perhatian sang CEO. Namun, Bastian yang kutemui di rumah sebagai suami yang acuh tak acuh, perlahan-lahan menunjukkan intensitas yang berbeda di kantor. Dia mulai mengawasiku dari jauh dan membuat keputusan-keputusan sepihak yang memengaruhi pekerjaanku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad Fajar Rizky, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aku Tidak Bisa memberikan Cinta Kepadamu
"' Amara, ke ruangan saya sekarang."
Aku mengerjapkan mata, menatap layar ponsel sejenak untuk mengumpulkan kesadaranku. Aku segera bangkit berdiri, menepuk-nepuk kedua pipiku pelan untuk memulihkan fokus, lalu melangkah menuju ruang kerja CEO di lantai atas.
Di lingkungan kantor, aku selalu berkomitmen untuk menjaga batasan hubungan atasan dan bawahan yang profesional dengan Bastian. Aku mengetuk pintu ruangannya dengan sopan. Begitu mendengar suara Bastian memberi izin masuk, aku mendorong pintu kaca tersebut dan melangkah ke dalam. "Pak Bastian," sapaku dengan formal.
Bastian sedang duduk di kursi kebesarannya sambil memegang ponsel di telinga, tampaknya sedang tersambung dalam sebuah panggilan penting. Begitu melihat kedatanganku, dia tidak menyela bicaranya, melainkan hanya menunjuk sebuah kotak beludru persegi panjang yang terletak di atas meja kerjanya dengan jari-jarinya yang panjang.
Aku berjalan mendekat ke arah meja, membuka tutup kotak tersebut, dan langsung tertegun saat melihat belasan pasang cincin pernikahan yang berkilau di dalamnya. Aku mengambil salah satu cincin dan bertanya dengan suara setengah berbisik, "Ini... untukku?"
Bastian tidak langsung menjawab pertanyaanku. Dia memalingkan wajahnya sedikit ke arah jendela, lalu berbicara dengan nada tegas kepada orang di seberang telepon, "Kamu selidiki saja sendiri sampai tuntas dan urus semuanya. Saya tidak mau tahu bagaimana prosesnya, saya hanya ingin melihat hasil bersihnya segera."
Selesai bicara, Bastian langsung mematikan sambungan teleponnya. Dia memperbaiki posisi duduknya menjadi lebih tegak, lalu mengalihkan fokus matanya sepenuhnya kepadaku. "Pilihlah salah satu yang paling kamu sukai. Rian baru saja mengingatkanku tadi siang kalau pasangan yang sudah sah menikah secara hukum seharusnya memakai cincin kawin."
"Apa kita berdua benar-benar harus memakainya di kantor?" Aku menatap deretan cincin mewah di dalam kotak dengan perasaan yang campur aduk antara geli sekaligus cemas.
Karyawan yang bekerja di Group Wijaya ini semuanya memiliki otak yang encer. Jika aku sampai nekat memakai cincin yang sama dengan yang melingkar di jari bos besar mereka, aku berani jamin dalam waktu kurang dari dua puluh empat jam, semua orang di kantor ini sudah bisa menebak status hubungan kami yang sebenarnya.
Melihat ekspresi wajahku, Bastian tampaknya bisa langsung membaca apa yang sedang kukhawatirkan. Dia mengulurkan tangan untuk mengambil salah satu pasang cincin, lalu menyerahkan bagian cincin wanita kepadaku.
"Cincin ini menggunakan potongan berlian berbentuk hati dengan ukuran standar. Sedangkan untuk cincin pria, permukaannya sengaja dibuat dengan tekstur buram di bagian atas dan memiliki ukiran minimalis di bagian dalamnya. Kedua cincin ini sebenarnya dirancang agar bisa menyatu jika digabungkan, tetapi jika dipakai secara terpisah oleh masing-masing dari kita, tampilannya akan terlihat seperti cincin aksesori biasa. Cukup samar dan tidak mencolok untuk dipakai sehari-hari."
Aku menerima cincin itu dari tangannya, lalu mengamatinya dengan saksama di bawah pendar lampu ruangan sambil mencerna penjelasannya. Aku melirik ke arahnya sekilas tanpa melepaskan pandangan dari cincin itu. "Bagaimana kalau tetap ada orang jeli yang menyadarinya?"
"Di perusahaan ini, menurutmu siapa orang yang punya keberanian untuk memegang dan memeriksa telapak tanganku hanya demi melihat detail cincin yang kupakai?" jawab Bastian dengan nada sedikit geli. Namun, setelah kalimat itu selesai, dia menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi dan senyum tipis di wajahnya langsung memudar. "Amara, apa kamu sebegitu takutnya jika sampai ada orang lain yang tahu kalau kita sudah resmi menikah? Apa penampilanku sebagai suamimu benar-benar seburuk itu sampai harus disembunyikan?"
"Tentu saja tidak!" jawabku cepat dengan nada tegas, naluri bertahan hidupku otomatis aktif seketika untuk meredam potensi masalah. "Jika sampai para karyawan perempuan di kantor ini tahu kalau aku sudah merebut CEO yang selama ini mereka impikan siang dan malam, bagaimana mungkin aku bisa tenang melanjutkan pekerjaanku di sini?"
Mendengar penjelasanku, mata Bastian yang tajam sedikit menyipit. "Apa benar hanya karena alasan itu saja?"
"Seratus persen benar!" ujarku meyakinkan sambil menepuk dadaku pelan. Aku segera memasangkan cincin berlian berbentuk hati itu ke jari manis tangan kiriku, lalu menggoyang-goyangkan jariku di depan wajahnya. "Hmm, harus kuakui pilihanmu bagus, cincin ini terlihat sangat cantik. Pak CEO, kamu ternyata tahu ukuran jariku dengan sangat akurat."
"Tentu saja," sahut Bastian pendek. Dia mengambil bagian cincin pria dari atas meja, memasukkannya ke jari manisnya sendiri, lalu memutarnya sedikit untuk memastikan posisinya sudah pas. "Aku sudah berulang kali menyentuh dan menggenggam tanganmu selama tiga tahun ini, jadi tidak mungkin aku salah menentukan ukurannya."
Mendengar kalimat Bastian yang diucapkan dengan begitu kasual, aku sempat terpaku di tempat selama beberapa detik. Begitu kesadaranku kembali pulih, aku bisa merasakan seluruh permukaan wajahku langsung merona merah karena malu.
Aku segera berpamitan dan berjalan keluar dari ruang kerja Bastian dengan langkah terburu-buru demi menyembunyikan wajahku yang kepanasan. Tepat di area meja depan, Rian yang sedang memeriksa dokumen sempat melirik ke arah jari manis tangan kiriku, lalu menyunggingkan sebuah senyuman tipis penuh arti ke arahku.
Aku hanya bisa terdiam menahan malu dan berpura-pura tidak melihat reaksinya.
Beruntung, sore ini bertepatan dengan waktu tersibuk kantor menjelang jam pulang, sehingga rekan kerja yang lain sedang fokus pada komputer masing-masing dan tidak ada yang menyadari tingkah anehku. Aku bergegas kembali ke kubikel kerjaku sendiri, lalu menatap lekat-lekat cincin yang kini melingkar di jariku. Sebuah pertanyaan mendadak melintas di kepalaku, apakah ada kemungkinan kalau Bastian sebenarnya sudah mulai jatuh cinta kepadaku?
Namun, sebelum pemikiran itu sempat berkembang lebih jauh, aku langsung menggelengkan kepalaku dengan kuat untuk menepisnya tidak mungkin! Itu sangat tidak masuk akal.
Aku masih ingat betul di awal masa hubungan kami dulu, Bastian pernah menegaskan satu hal kepadaku dengan suaranya yang dingin tanpa emosi: "Amara, aku bisa memfasilitasi banyak hal untuk hidupmu uang, kenyamanan, atau posisi karier tetapi aku tidak akan pernah bisa memberikan cinta kepadamu."
Baru mampir, sepertinya ceritanya menarik