Adera mencintai Ezra selama dua tahun, tapi cintanya diremehkan dan ditolak mentah-mentah. Saat hatinya mati dan ia memilih fokus pada diri sendiri, Ezra justru menyesal dan panik.
Namun terlambat, karena kini hadir Damar pria yang jauh lebih sempurna yang ternyata adalah calon suaminya.
Akankah Damar mampu menghidupkan kembali rasa cinta Adera yang bertekad untuk tidak jatuh cinta lagi?
Simak kisah cinta mereka bertiga, di novel ini akan disuguhi komedi yang lucu agar tidak terlalu mengantuk ketika membaca.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Abu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 17
Malam semakin larut. Adera masih terbaring memikirkan kejadian sore tadi. Matanya tak sengaja tertuju pada buket bunga indah pemberian Damar yang ditaruhnya di sudut kamar.
Angin malam yang masuk lewat jendela membawa wangi semerbak bunga itu tercium oleh hidung Adera, membuat pikirannya melayang entah ke mana.
"Humm... wangi banget..." gumam Adera pelan sambil memejamkan mata. "Sejujurnya Damar itu tipe pria yang pengertian banget. Tapi sumpah, ini semua rasanya terlalu cepat buat gue." ucapnya lirih.
Aroma wangi dari buket bunga begitu menenangkan dan familiar. Perlahan tapi pasti, ingatannya kembali melayang pada sosok Damar. Senyumnya, tatapan tajamnya, dan juga kotak hadiah kecil yang dia berikan hari itu.
"Ah iya! Hadiahnya belum gue buka!" seru Adera dalam hati.
Rasa penasaran langsung menguasai dirinya. Dengan cepat dia bangun dari tempat tidur dan mengambil kotak kecil berwarna biru tua yang terlihat mewah dan elegan itu.
Jari-jemarinya gemetar sedikit saat membuka penutup kotak tersebut perlahan.
Cklek...
Mata Adera langsung berbinar-binar takjub.
Di dalamnya, tergeletak sebuah kalung mungil dengan liontin yang sangat cantik dan elegan. Desainnya simpel tapi terlihat sangat mahal dan berkelas. Batu kecil yang memancarkan cahaya lembut itu terlihat begitu memikat mata.
Entah kenapa, begitu melihat kalung itu, hati Adera langsung merasa senang dan sangat menyukainya. Ada perasaan hangat yang muncul, seolah benda ini memang sudah seharusnya menjadi miliknya.
"Cantik banget..." gumam Adera takjub, jari tangannya menyentuh permukaan kalung itu pelan. "Ternyata kita punya selera yang sama."
Tanpa pikir panjang, Adera pun memutuskan untuk mencobanya. Dia memakai kalung itu di lehernya yang jenjang.
Begitu dikaitkan dan liontinnya berada tepat di tengah dadanya...
"Wah..." Adera membelalakkan mata melihat pantulan dirinya di cermin.
Kalung itu terlihat sangat pas dan cocok sekali di lehernya. Seolah-olah kalung itu memang dibuat khusus hanya untuk dirinya. Membuat penampilannya terlihat makin cantik, anggun, dan berseri-seri.
Adera tersenyum lebar menatap bayangannya sendiri. Dia memegang liontin itu dengan perasaan hangat. Di dalam hati kecilnya, tembok pertahanan yang dia bangun perlahan mulai retak sedikit demi sedikit.
Satu bulan berlalu...
Waktu berjalan begitu cepat, namun selama itu pula Damar dan Adera tidak pernah bertemu lagi sejak hari wisuda itu. Damar benar-benar menepati janjinya untuk memberi ruang dan waktu bagi Adera. Dia sengaja menjauh sementara, tidak menghubungi, dan tidak muncul-muncul agar gadis itu bisa lebih tenang dan berpikir jernih tanpa ada tekanan.
Tapi...
Di sudut kamar, Adera sering kali melamun sendirian. Tangannya tanpa sadar memegang kalung kecil di lehernya yang selalu dia pakai setiap hari.
"Gimana kabar dia ya..." gumam Adera pelan, wajahnya terlihat sendu. "Ah nyesel banget gak kasih nomor handphone ke dia."
Entah kenapa, hatinya terasa sedikit hampa. Adera mencoba menyangkal, mencoba bilang kalau dia baik-baik saja, tapi hatinya tidak bisa berbohong. Dia merindukan sosok Damar. Merindukan tatapannya, suaranya, bahkan aroma parfum khasnya yang menenangkan. Rasa itu tumbuh diam-diam tanpa dia sadari.
Suatu hari...
Suasana di Rumah Sakit Adisakti kembali ramai. Di koridor utama, terlihat seorang wanita dengan gaya busana yang sangat modis dan stylish sedang berjalan bersama temannya.
Dia adalah Stella.
Stella kebetulan sedang mengantar temannya yang sakit untuk berobat. Saat berjalan, matanya tertuju pada seorang pria tampan yang sedang berjalan sigap dengan jas putih dokternya.
Itu Dokter Ezra.
Wajah Stella langsung berseri-seri. Dia pun menyapa dengan ramah.
"Hai, Dokter Ezra!" panggil Stella ceria sambil melambaikan tangan.
Ezra menoleh, lalu tersenyum sopan. "Oh hai, Stella. Lama tidak bertemu. Baru balik ya?" tanya Ezra ramah.
"Iya nih, Dok. Baru seminggu yang lalu balik dari luar negeri. Kebetulan lagi ngantar temen kontrol," jawab Stella manis, keduanya pun saling berbasa-basi dengan akrab.
Padahal sebenarnya...
Stella tahu betul kalau dulu Adera itu tergila-gila banget sama Ezra. Dan sifat asli Stella memang begitu. Dia selalu ingin mengambil apapun yang menjadi milik atau incaran Adera.
Selama setahun terakhir ini dia memang sibuk berkarier di luar negeri sebagai desainer, jadi dia tidak tahu kejadian sebenarnya yang menimpa Adera dan Ezra, dan juga tidak tahu kalau sekarang Adera tidak lagi berharap pada Ezra. Stella berpikir Ezra masih jadi incaran Adera, makanya dia langsung berniat mendekat dan mengambil alih.
Namun sayang bagi Stella...
Adera sudah tahu betul kelicikan dan sifat asli sepupunya yang satu ini. Adera sudah tidak sebodoh dulu. Dia sudah waspada dan berhati-hati sekali, tahu betul kalau di balik senyum manis Stella, ada niat ingin bersaing dan mengambil apa yang jadi miliknya.
Melihat Ezra yang tampak santai dan ramah, Stella semakin mendapat kesempatan. Dia segera mengeluarkan ponselnya dan mendekat ke arah pria itu dengan senyum manis yang terkesan sangat akrab.
"Yuk Dok, kita foto bareng dulu dong! Kenang-kenangan nih setelah sekian lama gak ketemu," ajak Stella memelas sambil mengedipkan mata genit.
"Aduh maaf Stella, aku lagi buru-buru mau ke ruangan, pasien lagi nunggu," tolak Ezra halus, berniat untuk segera pergi.
Tapi baru saja dia mau melangkah, tiba-tiba sebuah ide muncul di kepalanya. Ezra berhenti sejenak.
'Wait... kalau aku foto sama dia, terus foto ini sampai ke telinga Adera gimana ya? Pasti dia bakal cemburu kan?' batin Ezra penuh strategi.
"Boleh deh, jangan lama-lama ya," kata Ezra akhirnya mengalah.
Dengan pemikiran itu, Ezra pun mengubah keputusannya. Dia malah tersenyum miring dan berdiri tegap di samping Stella.
"Wah serius? Makasih ya Dok!" seru Stella senang bukan main. Dia segera menyandarkan tubuhnya sedikit ke arah Ezra, memposisikan wajah mereka berdua terlihat sangat dekat dan mesra banget di dalam kamera.
Cekrek! Cekrek!
Beberapa foto terambil dengan pose yang terlihat sangat akrab dan manis. Stella terlihat sangat puas dan senang, sementara Ezra tersenyum penuh arti, membayangkan bagaimana reaksi Adera nanti kalau melihat foto ini. Dia berharap Adera bakal cemburu dan kembali mengejarnya seperti dulu.
Beberapa hari setelah pertemuan itu, sebuah postingan muncul di media sosial. Stella dengan bangga memamerkan foto dirinya yang terlihat sangat mesra berdampingan dengan Dokter Ezra. Wajahnya terlihat senang sumringah, seolah ingin memberi tahu dunia bahwa dia berhasil mendekatkan diri dengan pria incaran Adera dulu.
Tak butuh waktu lama, notifikasi itu langsung terbaca oleh mata awas Nindy. Tanpa pikir panjang, Nindy langsung berlari mendatangi Adera yang saat ini sedang asyik mencoba beberapa koleksi baju di sebuah butik terkenal di kota itu.
"DER!!! DERAA!! LO HARUS LIHAT INI?!" teriak Nindy panik sambil menyodorkan layar ponselnya tepat ke wajah Adera.
Adera yang sedang memegang sebuah gaun cantik langsung menoleh bingung. "Apasih Nin? Teriak-teriak gitu, kaget gue," tanya Adera kesal.
"INI NIH! STELLA! Dia pamer foto bareng Ezra! Gila ya dia emang! Deket banget lagi posenya!" cerita Nindy dengan nada kesal dan penuh api.
Adera menatap layar ponsel itu dengan tenang. Dia melihat foto itu jelas sekali. Wajah Ezra dan Stella yang tampak akrab. Namun, anehnya... Adera tidak merasakan sakit, tidak cemburu, dan tidak juga marah. Hatinya terasa datar saja, seperti melihat foto orang asing.
"Oh itu..." ucap Adera santai, lalu dia meletakkan kembali gaun itu ke gantungan. "Biasa aja kali Nin. Udah urusan mereka. Gue mah gak peduli."
"HAH?! Gak peduli?! Deraaa... lo beneran udah move on ya?!" tanya Nindy tak percaya, matanya melotot lebar.
"Iyalah... masa lalu doang. Udah kelar," jawab Adera singkat, padahal di dalam hatinya, bayangan wajah Damar justru yang muncul entah dari mana.
"Ah jangan-jangan dihati Lo sekarang sudah terisi oleh sosok pria tampan yang bermana Damar itu kan?" tebak Nindy sok tahu.
"Ishh apaan sih, sotoy banget jadi orang," ketus Adera sambil mendengus, pipinya sedikit memerah.
Mereka berdua pun kembali melanjutkan aktivitasnya memilih-milih baju, tak sadar jika butik mewah dan elegan tempat mereka berada ini ternyata adalah milik Nyonya Sinta, ibu kandung dari Damar.
Dan seolah takdir sedang mempertemukan mereka, tiba-tiba pintu kaca bagian dalam terbuka. Masuklah seorang wanita paruh baya yang penampilannya sangat anggun, berkelas, dan memancarkan aura keibuan yang hangat.
Itu adalah Nyonya Sinta. Dia kebetulan sedang berkunjung dan mengecek langsung tokonya hari ini.
Mata Nyonya Sinta langsung tertuju pada sosok Adera yang dia kenal baik. Wajahnya langsung berseri-seri penuh senyum.
"Oh... Adera?" panggil Nyonya Sinta lembut.
Adera dan Nindy langsung menoleh.
"Eh... Tante Sinta!" sapa Adera ramah, dia langsung mendekat dan mencium tangan Mama Damar itu dengan sopan. "Halo Tante, apa kabar? Lama tidak bertemu."
"Kabar baik sayang, kamu makin cantik saja," jawab Nyonya Sinta ramah sambil mengelus bahu Adera dengan sayang.
Mereka pun berbincang sebentar. Hingga akhirnya, Nyonya Sinta bertanya dengan nada penuh harap.
"Ngomong-ngomong... bagaimana perkembangan hubungan kamu sama Damar, Nak? Kalian sering ketemu kan?" tanya beliau penasaran.
Adera tersenyum tipis, sedikit ragu menjawabnya. Dia mengingat sudah satu bulan lamanya mereka tidak bertemu.
"Seperti biasa Tante... semua kan butuh proses. Maaf ya Tante seumpama kita tidak bisa sedekat itu," jawab Adera bijak, berusaha terlihat tenang meski sebenarnya dia juga merindukan pria itu.
Mendengar jawaban itu, Nyonya Sinta mengangguk mengerti, namun tiba-tiba wajahnya berubah sedikit sendu. Beliau menarik napas pelan.
"Iya sayang, Tante mengerti... dan Tante tahu Damar memang orangnya sabar, tenang dan dia sengaja memberi kamu ruang supaya kamu nyaman..." ucap Nyonya Sinta pelan.
"Kok Tante Sinta ada disini?" tanya Adera mengalihkan topik.
"Kebetulan butik ini milik Tante," jawab Nyonya Sinta santai.
"Astaga jadi selama ini butik Ramayana milik Tante ya, pantes aja namanya gak familiar," celetuk Nindy kaget.
"Nindy!" tegur Adera pelan, malu mendengar temannya yang bicara sembarangan.
"Oh iya Adera, kamu sudah tahu tentang Damar saat ini?" tanya Nyonya Sinta tiba-tiba.
"Kenapa Tante?" tanya Adera penasaran.
Jantung Adera serasa berhenti berdetak sesaat.
"...Damar mengalami kecelakaan kecil saat dalam perjalanan. Mobilnya ditabrak dari samping, lukanya cukup parah di bagian kaki dan kepala sedikit terbentur. Tapi kamu jangan khawatir ya Nak, keadaannya sekarang sudah mulai membaik dan stabil kok," jelas Nyonya Sinta berusaha terdengar tenang agar tidak membuat Adera terlalu panik.
BRUK!!!
Seolah ada palu godam yang menghantam dada Adera dengan keras. Wajahnya seketika berubah pucat pasi. Tangannya secara refleks mencengkeram lengan baju Nyonya Sinta kuat-kuat.
"A-apa?! Kecelakaan?! Da-damar kecelakaan?!" suara Adera bergetar hebat. Matanya membelalak lebar, rasa kaget dan cemas menyerang seluruh tubuhnya secara tiba-tiba.
Bayangan Damar yang gagah, dingin, tapi selalu tersenyum padanya, kini terbayang sedang terbaring lemah. Rasa khawatir itu muncul begitu saja, meluap-luap tanpa bisa ditahan. Rasa acuh tak acuhnya hilang seketika digantikan oleh kepanikan yang luar biasa.