NovelToon NovelToon
Unseen Friend

Unseen Friend

Status: sedang berlangsung
Genre:Thriller / Horor / Misteri
Popularitas:64
Nilai: 5
Nama Author: CRZ CREW

Sejak kecil, Josh memiliki teman yang tak bisa dilihat siapa pun. Tiga belas tahun kemudian, teman itu kembali. Bersama Veron, Brandon, dan Gibran, ia mengungkap misteri yang telah terkubur selama puluhan tahun. Namun semakin dekat pada kebenaran, semakin dekat pula mereka pada kematian. Karena... tidak semua teman yang tak terlihat datang dengan niat baik.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CRZ CREW, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3: Sinyal yang Kembali

Pesan tanpa nama pengirim itu masih terngiang di kepala Josh keesokan paginya. Ia sudah mencoba membalasnya semalam mengetik

"siapa ini?"

berkali-kali tapi pesan itu selalu gagal terkirim, seolah nomor itu tidak pernah benar-benar ada. Saat ia memeriksa lagi paginya, riwayat pesan itu bahkan sudah tidak ada di kotak masuknya, seolah tidak pernah dikirim sama sekali. Ia tidak menceritakannya pada siapa pun. Belum.

Sepanjang perjalanan ke sekolah pagi itu, Josh terus memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang bisa menjelaskan pesan aneh semalam mungkin nomor iseng, mungkin gangguan sistem operator, mungkin sekadar prank dari salah satu teman sekelas yang tahu soal masa lalunya. Namun setiap penjelasan yang ia pikirkan terasa terlalu dipaksakan untuk benar-benar bisa ia percaya sepenuhnya.

Di kelas, suasana terasa lebih tegang dari biasanya karena hari itu jadwal try out serentak untuk seluruh angkatan. Seperti biasa, ruang ujian ditentukan lewat nomor peserta yang diacak, bukan berdasarkan kelas jadi Josh, Veron, dan Brandon kebetulan mendapat ruangan yang sama, sementara Gibran ditempatkan beberapa ruangan lebih jauh di ujung koridor. Ruangan dipenuhi suara kertas dibolak-balik dan bunyi pensil menggores lembar jawaban, sementara pengawas berjalan pelan di antara barisan bangku dengan wajah waspada seperti biasa.

Josh mencoba fokus pada soal-soal di hadapannya, tapi pikirannya terus melayang pada pesan misterius semalam, pada catatan aneh di buku hariannya dua hari lalu, pada tatapan Naya yang terlalu tenang untuk anak baru. Ia menggeleng pelan, memaksa diri kembali pada soal matematika yang sedang ia kerjakan. Tepat saat itu,

lampu di ruangan berkedip sekali.

Tidak ada yang memperhatikan pada awalnya mungkin hanya gangguan listrik biasa. Tapi beberapa detik kemudian, lampu itu berkedip lagi, lebih cepat, lebih tidak beraturan, dan suhu ruangan seperti turun drastis dalam waktu singkat. Beberapa murid mulai saling berbisik, menoleh ke arah lampu di langit-langit yang kini berkedip liar seperti sedang kesetrum.

Josh merasakan sesuatu yang familiar mulai bergolak di dadanya sensasi hangat yang perlahan menjalar ke ujung jari-jarinya, persis seperti yang ia rasakan malam puncak dulu. Ia buru-buru menggenggam pinggir mejanya erat-erat, mencoba menahan diri, matanya melirik panik ke arah Veron yang duduk beberapa bangku di depannya. Veron sudah menoleh lebih dulu, wajahnya pucat, seolah tahu persis apa yang sedang terjadi pada Josh.

"Kenapa ini lampunya?"

bisik salah satu murid, suaranya mulai gemetar. Sebelum keadaan makin kacau, suara benda pecah yang keras memecah ketegangan ruangan jendela di dekat bangku Brandon retak dalam pola yang aneh, seperti jaring laba-laba, tanpa ada benda apa pun yang menabraknya.

"WOI, APAAN TUH?!"

salah satu murid menjerit, membuat seisi kelas panik seketika. Pengawas ujian buru-buru menghampiri jendela yang retak, wajahnya bingung mencari penjelasan logis.

"Tenang, tenang! Mungkin cuma kaca lama, tetap di tempat masing-masing!"

Josh menatap Brandon yang duduk membeku di kursinya, tangannya sendiri gemetar hebat, matanya menatap jendela retak itu dengan campuran kaget dan ketakutan yang jelas terlihat. Josh tahu persis apa yang baru saja terjadi kekuatan Brandon, yang selama tiga bulan terakhir tidak pernah muncul lagi, baru saja lepas kendali tanpa peringatan sedikit pun.

...****************...

...Setelah try out selesai, mereka bertiga Josh, Veron, dan Brandon berkumpul diam-diam di sudut kantin yang sepi, menjauh dari keramaian murid lain yang masih ribut membicarakan jendela retak tadi. ...

"Gue nggak ngerti," kata Brandon, suaranya masih bergetar.

"Gue nggak ngerasa apa-apa sebelumnya, tiba-tiba aja rasanya kayak ada yang dingin banget di sekitar gue, terus... jendela itu retak sendiri."

"Gue juga," sahut Josh pelan.

"Gue ngerasa energinya mau keluar lagi, kayak dulu. Padahal udah tiga bulan tenang-tenang aja."

Brandon menunduk, menatap tangannya sendiri seolah mencari jawaban di sana.

"Gue kira semuanya udah beres. Gue kira kita bisa hidup normal lagi."

Veron menggigit bibirnya, matanya menerawang.

"Firasat gue juga balik lagi sejak dua hari terakhir. Awalnya gue kira cuma efek kurang tidur, tapi ini... ini beda. Lebih kuat."

"Ini menurut lo ini ada hubungannya sama anak SD yang hilang kemarin?" tanya Brandon.

"Mungkin," jawab Veron. "Atau mungkin ini ada hubungannya sama sesuatu yang lain, yang belum kita ketahui. Tapi jangan buru-buru nyimpulin itu doang penyebabnya."

Josh diam sejenak, mengaduk-aduk makanannya tanpa nafsu, pikirannya masih dipenuhi bayangan lampu berkedip dan retakan kaca jendela yang muncul tanpa sebab jelas. Tiga bulan lalu, ia pikir semua kekacauan itu sudah berakhir sepenuhnya begitu Raka akhirnya pergi dengan tenang. Ternyata, ketenangan itu hanya jeda sementara, bukan akhir yang sesungguhnya.

"Kenapa Nggak?" tanya Brandon.

"Karena kalo salah tebak, kita bisa buang-buang waktu ke arah yang salah, sementara ancaman sebenarnya malah kita abaikan," jawab Veron tegas.

"Kita harus teliti soal ini."

Josh menatap teman-temannya satu per satu, menyadari bahwa mereka bertiga Josh, Veron, Brandon sudah lama saling menjaga tanpa harus diucapkan langsung. Betapapun beratnya apa yang menunggu di depan, setidaknya ia tahu tidak akan menghadapinya sendirian. Josh diam sejenak, mempertimbangkan apakah ini saatnya menceritakan soal catatan aneh di buku hariannya dan pesan misterius semalam. Tapi sebelum ia sempat membuka mulut, Gibran muncul dari kejauhan, membawa nampan berisi jajanan kantin dengan senyum lebar seperti biasa.

"Woy, ngumpul-ngumpul tanpa gue nih," katanya, duduk di sebelah Brandon.

"Btw, lo oke, Bran? Denger-denger jendela kelas lo pecah gila-gilaan tadi."

"Gue oke," jawab Brandon singkat, buru-buru mengalihkan pandangan. Gibran mengangguk, lalu menyodorkan tangannya ke saku celana Brandon.

"Eh, gantungan kunci yang gue kasih kemarin masih ada kan? Jangan sampe ilang, itu edisi terbatas tau, nenek gue susah payah nyariin."

Brandon meraba sakunya, menemukan gantungan kunci bulan sabit itu masih terpasang di ritsleting tasnya.

"Masih ada kok."

"Bagus."

Gibran tersenyum puas, lalu buru-buru mengganti topik pembicaraan ke hal-hal ringan lainnya, seolah tidak ada yang aneh sedang terjadi di sekitar mereka. Tidak ada satu pun dari mereka bertiga yang menyadari, sejak gantungan kunci itu tersemat di tas masing-masing, sensasi pusing dan tidak nyaman yang sesekali mereka rasakan justru selalu muncul paling kuat ketika benda kecil itu berada paling dekat dengan tubuh mereka.

...****************...

Pulang sekolah, Brandon berjalan sendirian lebih dulu karena harus ke apotek membeli obat untuk ibunya. Di tengah jalan, kepalanya tiba-tiba terasa berat, pandangannya sedikit kabur, dan sensasi dingin yang familiar menjalar dari saku celananya tempat gantungan kunci pemberian Gibran tersimpan. Ia berhenti sejenak, menyandarkan tubuh ke tiang listrik terdekat, mencoba mengatur napas. Saat itulah ia melihatnya sekelebat bayangan kecil berdiri di ujung gang sempit di seberang jalan, terlalu kecil untuk seorang dewasa, terlalu diam untuk seorang anak yang sedang bermain. Bayangan itu tidak bergerak sama sekali, hanya berdiri di sana, seolah sedang menatapnya lurus-lurus dari kejauhan.

Brandon mengerjapkan mata, mencoba memastikan penglihatannya tidak sedang bermasalah karena pusing yang ia rasakan. Ketika ia membuka mata kembali, bayangan itu sudah tidak ada di sana. Ia buru-buru melanjutkan langkah menuju apotek, jantungnya berdebar kencang, tanpa tahu bahwa sensasi dingin di sakunya baru saja menjadi tanda pertama dari banyak hal yang akan segera menyusul. Sesampainya di apotek, ia membeli obat yang diminta ibunya, lalu berjalan pulang lewat rute yang berbeda, sengaja menghindari gang sempit tempat ia melihat bayangan itu.

Sepanjang jalan, ia terus meraba saku celananya, merasakan dinginnya gantungan kunci pemberian Gibran, bertanya-tanya apakah benda kecil itu sekadar kebetulan, atau ada sesuatu yang jauh lebih rumit tersembunyi di baliknya.

Ia tiba di rumah menjelang senja, menyerahkan obat itu pada ibunya, lalu langsung mengunci diri di kamar. Ia duduk di tepi ranjang cukup lama, menatap gantungan kunci yang masih tersemat di ranselnya, mempertimbangkan apakah harus menceritakan semua ini pada Josh dan Veron malam itu juga, atau menunggu sampai ia benar-benar yakin dengan apa yang baru saja ia lihat.

...****************...

1
CRZ CREW
Good
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!