Rania selalu dihina dan direndahkan oleh mertuanya, dia mendapatkan caci makian itu dan suaminya hanya berdiam diri tanpa membelanya.
Ardi sang suami selalu beralasan jika ibunya sudah tua sehingga ingin melihatnya menjadi orang sukses sehingga dia menggunakan identitas Rania untuk membuat ibunya bahagia.
Cinta yang besar dimiliki Rania tidak mampu membuatnya berharga dan terlihat dimata keluarga suaminya, dia memutuskan untuk berhenti dan mengambil kembali semua miliknya.
Suaminya yang Menumpang tapi dirinya yang selalu dihina, dia membalas semua rasa sakit hatinya membuat suami dan keluarganya panik dan kalang kabut
Akankah, perjuangannya mendapatkan kebahagiaannya kembali
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ummu Umar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 17
Ardi menunduk pelan, harga dirinya yang sejak tadi hancur lebur karena kedua sahabat istrinya itu, dia tidak bisa bergerak karena sadar jika dirinya kini dalam masalah besar, dia lupa siapa Rania dan para sahabatnya itu.
Cinta Rania yang begitu besar dan juga baktinya selama ini membuatnya terlena dan menutup mata pada kenyataan jika dia bukan siapa-siapa tanpa Rania.
Dia membiarkan keluarganya menindas istrinya karena merasa istrinya akan tetap bersamanya bagaimanapun keadaannya karena Rania begitu mencintai dirinya tapi sekarang semuanya hancur dan dia bahkan tidak punya apa-apa.
Dia berdiri dan berjalan dengan gontai keluar dari restoran itu, dia sudah sekarang, jika dia berani mendekati Rania kariernya akan hancur oleh Tania.
Dia kembali kembali ke kantor nya, tapi langkahnya terhenti begitu melihat Tania yang kini berjalan dari dalam ruangan bosnya mendekati dirinya.
Jantungnya seakan berhenti berdetak melihat tatapan Tania yang menghunusnya dan penuh makna tersembunyi itu.
"Apa yang kamu lakukan disini Tania? ". Tanyanya dengan suara bergetar ketakutan.
Dia tidak bisa membayangkan nasibnya seandainya Tania betul-betul melaksanakan ancamannya tadi, dia akan kehilangan karir nya dan juga sumber uang terakhir yang dia miliki dan itu akan berdampak buruk bagi dirinya dan keluarganya.
Tania yang kini berhadapan dengan Ardi tersenyum sinis kepadanya, dia bahkan memandangnya dengan tatapan meremehkan.
"Memangnya kenapa jika saya berada dikantor milik suami saya? , harusnya anda tahu diri Tuan Ardi dan menjaga kesopanan anda, anda pikir anda sedang berbicara dengan siapa? ". Ucapnya dengan tatapan penuh intimidasi.
Dia mendekati Ardi sehingga secara refleks Ardi memundurkan langkahnya karena ketakutan. Dia terkekeh kecil sambil melipat tangannya didada begitu mengintimidasi Ardi
"Seorang karyawan seperti mu sangat lancang berbicara dengan tidak sopan kepada istri dari pemilik perusahaan, seperti nya kamu sudah tidak sabar untuk pergi dari kantor suami saya sampai dikantor seperti ini kamu berbicara seolah-olah kita adalah teman dekat? ". Ucapnya sambil menyunggingkan senyum sinis kehadapan Ardi.
Lutut Ardi melemas seketika, dia lupa jika Tania adalah istri bosnya, dan baru saja tadi dia bicara secara tidak sopan padanya di kantor, dia dalam masalah besar. Dia terlalu meremehkan kedua teman Rania sejak kecil tanpa tahu jika mereka adalah orang-orang berpunya yang hidup sederhana.
"Maa.. Maaf Bu, saya terbiasa memanggil anda seperti itu sejak dulu, tolong maafkan saya". Ucapnya dengan ketakutan, dan juga dengan amarah tertahan.
Dia tidak punya pilihan selain menahan amarahnya, dia masih butuh pekerjaan ini untuk hidupnya dan juga hidup keluarganya. Jika sampai Tania memecatnya habislah dia
Tania terkekeh pelan terkesan sangat mengejek, dia menepuk kedua tangannya menatap Ardi dengan tatapan meremehkan.
"Anda memang sejak dulu selalu meremehkan ormag lain seakan anda adalah orang yang sangat cerdas padahal anda bisa seperti itu berkat sahabat saya".
"Tolong jangan mengatakan hal yang tidak berkaitan dengan pekerjaan bu, sikap tidak sopan saya tadi salah saya tapi jangan bawah-bawah rumah tangga saya ke kantor itu tidak ada hubungannya".
Tania langsung tertawa dengan keras, Ardi memang tidak tahu jika dia bisa masuk ke perusahaan ini dengan bantuan koneksi dari Rania
"Kamu itu bukan apa-apa tanpa Rania Ardi, sejak kuliah bahkan sampai bekerja pun kamu selalu dibantu Rania, kamu pikir dengan kemampuan mu yang Pas-pasan itu bisa bekerja di perusahaan besar seperti ini".
Tania tertawa pelan sambil menggelengkan kepalanya sambil menggerakkan jarinya untuk mendorong Ardi dengan pelan tapi bertenaga.
"Kamu hanya sampah yang terlalu menyombongkan diri seakan kamu punya kemampuan hebat, seakan lupa jika Rania lah yang ada dibalik semua itu bahkan skripsi dengan nilai sempurna itu adalah buatan Rania, kamu pikir aku tidak tahu? ".
Wajah Ardi memucat, rahasianya yang selama ini dia tutup rapat akhirnya terbongkar padahal dia sudah sepakat dengan Rania untuk tidak memberitahu siapapun
"Jika kamu pikir kamu bisa bekerja disini karena kemampuanmu, kamu salah Ardi, kamu bisa masuk kesini berkat dukungan Rania, jika bukan dia, suamiku tidak akan pernah menerima mu disini, jadi tahu dirilah sebelum saya bertindak dengan membuatmu keluar dari sini dengan tidak terhormat dan kamu pasti tahu apa akibatnya jika kamu keluar dengan cara seperti itu dari perusahaan besar ini".
"Aku". Ucap Ardi dengan tubuh bergetar hebat.
Tania berjalan semakin mendekati Ardi dengan tatapan ingin memakannya hidup-hidup. Kebenciannya kepada lelaki ini semakin besar melihat berapa kasarnya dia memperlakukan Rania dan memanfaatkannya
" Pastikan sidang perceraian mu dengan Rania tidak kamu persulit nanti jika tidak kamu akan tahu akibatnya, akan kubuat kamu kembali ke setelan awalmu sebelum kamu bertemu dengan Rania".
Dia berjalan keluar kemudian mendorong Ardi dengan keras dan langsung tersungkur karena dorongan itu.
"Mampus aku".
Ardi melirik ke kanan dan kekiri ternyata banyak orang yang menyaksikan bagaimana Tania memperlakukan dirinya barusan, tangannya mengepal erat mendengar bisikan samar dari teman-teman kantornya.
"Gila yah, ternyata Ardi itu masuk melalui jalur koneksi tanpa kemampuan, pantas saja sombongnya setinggi langit, dia pikir dia siapa".
"Benar, selama ini dia selalu mendapatkan semua promosi itu karena orang dalam, dasar tidak tahu malu".
"Syukur deh jika dia beneran dipecat dari sini, selama ini dia terlalu sombong karena banyak mendapatkan proyek dan promosi tahunya karena dia adalah suami dari sahabat pemilik perusahaan dasar penjilat".
Bisikan itu semakin terang-terangan dia dengar dari beberapa orang yang kini memandangnya sinis dan meremehkan.
Dia bangkit kemudian berjalan ketempat kerjanya dengan wajah memerah menahan amarah sekaligus rasa malu. Kehidupannya telah hancur karena dia menyia-nyiakan Rania selama ini.
"Saya ingin bertemu dengan Rania, apa dia ada? ". Tanyanya kepada salah satu perawat yang sedang bertugas.
"Maaf Bu, Rania yang mana ibu maksud, disini banyak perawat dan petugas bernama Rania". Jawabnya dengan sopan.
"Tenaga sukarelawan". Jawabnya dengan cepat.
Dia masih sangsi terhadap perkataan Rania kepadanya waktu itu, dia masih terus berpikir jika dia hanya tenaga sukarelawan dirumah sakit besar itu.
Mereka yang ada disana saling memandang karena kebingungan, karena tidak ada tenaga sukarelawan dirumah sakit besar ini, mereka semua digaji dan tidak ada yang sukarelawan.
"Maaf Bu, ibu salah rumah sakit mungkin, disini tidak ada tenaga sukarelawan seperti kata ibu barusan".
Mata ibunda Ardi itu member sempurna, dia tidak menyangka jika menantu yang selama ini dia hina ternyata bukan tenaga sukarelawan seperti yang dikatakan sang anak.
Dia ingat dengan jelas perkataan Rania waktu itu, tapi dia berusaha menyangkalnya.
"Kalau dokter Rania, dokter bagian UGD ada? ". Cicitnya pelan