NovelToon NovelToon
Warisan Sembilan Naga : Sang Penakluk

Warisan Sembilan Naga : Sang Penakluk

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Epik Petualangan / Perperangan
Popularitas:7.3k
Nilai: 5
Nama Author: Nugraha

**INI ADALAH BOOK KE 2 DARI SEMBILAN GULUNGAN NAGA LEGENDARIS.**

Ketika seluruh semesta terancam, satu pemuda harus memilih: menjadi monster yang menyelamatkan dunia, atau tetap manusia dan membiarkan semua musnah.

Lin Tian, kehilangan segalanya, karena invasi entitas misterius yang melahap dimensi. Kini, sebagai pewaris teknik "Orkestrasi Sembilan Naga," ia melintasi batas dimensi untuk berburu Master mereka: Pemangsa Dimensi yang mengancam 30 dimensi sekaligus.

Di Dimensi Asura, dimensi pejuang brutal, Lin Tian menemukan kekuatan... tapi hampir kehilangan kemanusiaannya. Antara latihan mematikan, pertarungan melawan entitas cerdas, dan persahabatan yang tak terduga, ia belajar kebenaran paling sulit: kekuatan tanpa hati adalah tirani, tapi hati tanpa kekuatan adalah kehancuran.

Bisa kah ia menyelamatkan alam semesta tanpa kehilangan jiwanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nugraha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17 : Kemajuan

Setelah sesi demonstrasi selesai, Mira'tok langsung menyeret Lin Tian menuju area latihan terpisah.

Semangatnya sama sekali belum habis.

"Baik! Hari ini kita mulai dasar Langkah Petir!"

Lin Tian langsung merasa sedikit waspada melihat senyum Mira'tok.

Dan ternyata firasatnya benar.

"Langkah pertama adalah membentuk ulang otot dan sirkulasi energi tubuhmu."

Mira'tok meregangkan tubuhnya dengan santai.

"Prosesnya sangat menyakitkan, tapi hasilnya luar biasa."

Ia lalu menunjuk kaki Lin Tian.

"Kita akan menciptakan robekan kecil pada serat ototmu. Setelah sembuh, tubuhmu akan menjadi jauh lebih cepat."

Lin Tian langsung mengerti. Metode ini pada dasarnya menghancurkan tubuh lalu membangunnya kembali menjadi lebih kuat.

Mira'tok tertawa lebar. "Siap?"

Satu jam berikutnya terasa seperti neraka baru.

Tubuh Lin Tian dipaksa melakukan peregangan ekstrem yang hampir mustahil. Otot-ototnya terasa robek sedikit demi sedikit, sementara rasa sakit menyebar ke seluruh tubuhnya.

Bahkan dengan Regenerasi Jiwa miliknya, rasa sakit itu tetap luar biasa.

Namun di tengah penderitaan tersebut, Lin Tian bisa merasakan perubahan kecil mulai terjadi.

Tubuhnya menjadi lebih fleksibel.

Aliran energinya lebih lancar, dan potensi kecepatannya perlahan meningkat.

Sakit?

Sangat.

Tetapi sepadan.

Benar-benar sepadan.

Mira'tok memperhatikan Lin Tian yang masih mencoba mengatur napas setelah latihan peregangan brutal tadi.

Lalu ia tertawa puas.

"Bagus! Daya tahanmu benar-benar mengesankan."

Tatapannya penuh semangat.

"Kebanyakan orang sudah menyerah di tahap awal seperti ini." Ia lalu menunjuk kaki Lin Tian. "Besok kita lanjut lagi."

"Beberapa minggu lagi hasilnya pasti mulai terlihat."

Lin Tian mengangguk pelan sambil masih merasakan nyeri di seluruh tubuhnya.

Namun sebelum suasana tenang terlalu lama, Mira'tok kembali berbicara dengan mata berbinar.

"Oh iya!"

"Aku juga ingin belajar Langkah Kekosongan milikmu! Itu keren sekali!" Senyumnya menjadi lebar. "Pertukaran teknik yang adil, bagaimana?"

Lin Tian sedikit terdiam.

Langkah Kekosongan bukan teknik sederhana. Manipulasi ruang membutuhkan pemahaman yang jauh lebih rumit dibanding teknik fisik biasa.

Namun Mira'tok memang sudah mengajarinya dengan tulus. Dan sejauh ini, ia belum pernah menunjukkan niat buruk apa pun.

Lin Tian akhirnya mengangguk. "Aku akan mencoba mengajarimu."

"Manipulasi ruang cukup sulit, tapi dasar-dasarnya masih bisa dibagikan."

Mira'tok langsung tampak semakin bersemangat.

"Sempurna! Kita bisa belajar bersama!"

Ia tertawa lebar sebelum tiba-tiba berhenti dan menatap Lin Tian dengan ekspresi lebih serius.

"Lin Tian." Nada suaranya kali ini jauh lebih tulus. "Aku benar-benar menawarkan persahabatan. Bukan cuma hubungan latihan."

"Persahabatan sungguhan." Tatapannya lurus tanpa keraguan. "Kau menerimanya?"

Lin Tian sedikit membeku.

Persahabatan…

Sudah berapa lama sejak terakhir kali ia benar-benar memiliki teman?

Mungkin sejak masa akademi.

Dan setelah semua yang terjadi, ia terus berjalan sendirian.

Selalu sendiri.

Ikatan dengan orang lain terasa berbahaya. Karena semakin dekat seseorang, semakin besar kemungkinan kehilangan mereka.

Namun di saat yang sama… Kesendirian juga melelahkan. Dan Mira'tok terasa benar-benar tulus.

Lin Tian terdiam beberapa saat sebelum akhirnya menjawab pelan,

"Aku menerimanya, aku akan mencoba."

Wajah Mira'tok langsung bersinar. "Bagus! Akhirnya punya teman baru!"

Ia tertawa keras sambil menepuk bahu Lin Tian dengan penuh semangat. "Kau memang terlalu serius, tapi aku tahu kau orang baik!"

"Percaya saja, kita pasti akan akrab!"

Lin Tian tidak tahu harus menjawab apa.

Namun anehnya… Perasaan itu tidak buruk.

Malam harinya, keempat murid kembali berkumpul di area istirahat setelah seluruh latihan selesai.

Tidak ada pertarungan kali ini.

Hanya percakapan santai di bawah langit merah Dimensi Asura.

Dan seperti biasa, Zhen'ar menjadi orang pertama yang membuka pembicaraan.

"Aku punya pertanyaan." Tatapan peraknya menyapu semua orang. "Apa sebenarnya arti kekuatan?"

Suasana langsung menjadi lebih tenang. Khor'sal menjawab lebih dulu tanpa ragu.

"Kekuatan adalah kekuatan. Sesederhana itu."

"Mengalahkan musuh, mendominasi lawan, itulah arti nya kekuatan."

Jawabannya terdengar sangat khas dirinya.

Namun Mira'tok langsung mengangkat tangan sambil berpikir.

"Aku setuju sebagian, tapi menurutku kekuatan juga berarti melindungi teman."

"Atau membantu orang yang lebih lemah, itu juga bentuk kekuatan."

Lalu tatapan mereka beralih pada Lin Tian.

Lin Tian terdiam sejenak sebelum perlahan berbicara.

"Kakekku pernah mengatakan bahwa kekuatan memiliki tiga pilar."

"Kekuatan, Kehendak dan karakter." Tatapannya sangat tenang. "Jika ketiganya bersatu, barulah seseorang memiliki kekuatan sejati."

"Kalau berdiri sendiri-sendiri… semuanya tidak lengkap."

Zhen'ar langsung mengangguk kecil. "Ajaran Kepala Perang juga sama." Tatapan peraknya sedikit menyipit.

"Menarik, budaya berbeda, tetapi kebijaksanaannya sama."

"Mungkin memang itulah kebenaran universal."

Khor'sal terlihat sedikit tidak nyaman. "Karakter… benar-benar sepenting itu?"

Tatapannya turun sesaat. "Berarti kekuatan saja tidak cukup?"

Lin Tian menjawab dengan tenang. "Kekuatan tanpa karakter hanya akan berubah menjadi tirani."

"Seseorang akan menggunakan kekuatan hanya demi dirinya sendiri."

"Itu bukan kekuatan sejati. Itu adalah kelemahan yang disembunyikan."

Khor'sal langsung mengangkat kepalanya. "Kau menyebutku lemah?"

Namun Lin Tian tetap tenang.

"Aku tidak menyerangmu, aku hanya menjelaskan filosofi yang kupahami."

"Jalan hidup tetap pilihanmu sendiri, dan aku tidak punya hak untuk menghakimi."

Keheningan kembali muncul. Namun kali ini suasananya tidak setegang sebelumnya.

Mira'tok mengangguk setuju.

"Lin Tian benar, Kekuatan itu hanya alat. Tujuan penggunanya yang menentukan nilainya."

"Melindungi orang lain itu kekuatan. Menindas orang lemah justru menunjukkan kelemahan."

Zhen'ar juga ikut berbicara.

"Khor'sal. Kau sudah memiliki kekuatan, Sekarang kau hanya perlu mengembangkan karaktermu."

"Jika keduanya bersatu, kau akan menjadi jauh lebih kuat."

Khor'sal tidak langsung menjawab. Ia hanya duduk diam sambil menatap tanah.

Namun untuk pertama kalinya, ekspresi keras kepalanya mulai sedikit melemah.

Mungkin…

Mungkin selama ini dirinya memang terlalu fokus pada kekuatan semata.

Dan mungkin… Itu sebabnya ia selalu merasa ada sesuatu yang kurang.

Setelah itu Lin Tian kembali ke kamarnya, ia duduk sendirian sambil memikirkan seluruh kejadian hari ini.

Hari kedua latihan terasa sangat produktif.

Pertukaran teknik memberi banyak pelajaran baru baginya.

Teknik Zhen'ar menunjukkan arti efisiensi sempurna.

Gaya bertarung Khor'sal memperlihatkan kekuatan yang jujur dan langsung.

Sedangkan kecepatan Mira'tok membuka kemungkinan baru untuk perkembangan Langkah Kekosongan miliknya.

Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama… Lin Tian mulai memiliki hubungan dengan orang lain lagi.

Mira'tok menawarkan persahabatan.

Khor'sal perlahan mulai menghormatinya.

Dan bahkan Zhen'ar mulai menunjukkan pengakuan kecil.

Semua itu terasa aneh.

Namun juga menyenangkan.

Selama ini, Lin Tian selalu berpikir bahwa berjalan sendirian adalah satu-satunya cara untuk tetap kuat.

Namun sekarang ia mulai memahami sesuatu.

Kesendirian yang terlalu lama justru bisa menghancurkan seseorang perlahan-lahan.

Yeye benar sekali lagi.

Hubungan dengan orang lain itu penting.

Dan menjaga kemanusiaan menjadi jauh lebih mudah ketika seseorang tidak terus hidup sendirian.

Lin Tian perlahan menghembuskan napas panjang.

Tiga bulan pelatihan ini ternyata bukan hanya membuatnya lebih kuat.

Tetapi juga perlahan membentuk dirinya menjadi manusia yang lebih utuh.

Dan untuk pertama kalinya setelah waktu yang sangat lama, Senyum kecil muncul di wajahnya.

Senyum yang benar-benar tulus.

Kemajuan.

Ini benar-benar kemajuan.

1
Rinaldi Sigar
lanjut
Rinaldi Sigar
lnjut
Rinaldi Sigar
lanjut
Rinaldi Sigar
lnjut
Rinaldi Sigar
lanjut
Rinaldi Sigar
lnjut
Rinaldi Sigar
lanjut
Rinaldi Sigar
lnjut
Rinaldi Sigar
lanjut
Rinaldi Sigar
lnjut
Rinaldi Sigar
lanjut
Rinaldi Sigar
lnjut
Rinaldi Sigar
lanjut
Rinaldi Sigar
lnjut
Rinaldi Sigar
lanjut
Rinaldi Sigar
lnjut
Rinaldi Sigar
lanjut
Rinaldi Sigar
lnjut
Mat
seru, semangat thor💪
Rinaldi Sigar
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!