NovelToon NovelToon
Pasal 7: Pernikahan Kontrak

Pasal 7: Pernikahan Kontrak

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Nikah Kontrak / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Aksara Naura

Gara-gara utang ratusan juta dan insiden tumpahan wine di restoran, hidup Dokter Namira berubah 180 derajat. Ia mendadak dilamar oleh Maxwell Ezra Tanuwijaya—CEO dingin dan asing, yang ibunya merupakan pasien VIP-nya sendiri.

Awalnya Nami pikir ini cuma pernikahan kontrak biasa di atas kertas demi uang kompensasi. Sampai akhirnya ia membaca isi Pasal 7 di dalam map hitam itu:

"Pihak Kedua wajib melahirkan seorang anak hasil hubungan dengan Pihak Pertama selama masa kontrak berlaku."

Sanggupkah Nami bertahan dalam pernikahan sandiwara yang menuntut rahim dan harga dirinya ini?

Atau ia akan hancur sebelum kontrak itu selesai?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aksara Naura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

17 - Addendum

Pagi yang dingin itu datang tanpa ketukan.

Nami terbangun dengan rasa kaku yang menjalar di sekujur punggungnya. Kesadarannya terkumpul perlahan, dan hal pertama yang ia rasakan adalah kayu keras di bawah sikutnya. Ia menunduk kecil.

Tubuhnya benar-benar berada di ujung ranjang king size itu, begitu mepet dengan tepi kasur hingga jika ia bergeser dua sentimeter lagi ke kiri, ia pasti sudah jatuh ke lantai.

Nami menarik napas pelan, mencoba meredam degup jantungnya yang mendadak melompat liar. Ia memutar kepalanya dengan gerakan super lambat, menatap bentangan kasur sutra hitam yang luas di sebelahnya.

Di sana, Max masih terpejam. Pria itu berbaring telentang, napasnya teratur dan halus. Rambut hitamnya sedikit berantakan di atas bantal, menjatuhkan beberapa helai di dahi yang biasanya selalu berkerut tegas.

Dalam tidurnya, Max terlihat… tenang. Sangat tenang. Garis-garis tajam di wajahnya yang biasa memancarkan intimidasi mutlak dan membuat seisi ruangan terasa mencekam, entah ke mana pagi ini.

Wajah lelah pria itu saat tertidur terasa sangat berbeda dengan wajah angkuhnya saat memerintah orang.

Nami tertegun beberapa detik. Matanya tanpa sadar terkunci pada rahang tegas pria di hadapannya.

Selimut hitam itu bergerak. Max mengandalkan engsel bahunya untuk bergeser, kelopak matanya bergetar halus tanda kesadarannya mulai naik ke permukaan.

Kepanikan langsung menyerang Nami. Tanpa berpikir panjang, ia langsung memalingkan badannya membelakangi Max, memejamkan mata rapat-rapat, dan mengatur napasnya seolah-olah ia masih tenggelam dalam tidur yang lelap.

Ia mengepalkan jemarinya di atas selimut. Sial, ia tidak boleh ketahuan sedang memperhatikan gunung es itu di pagi buta.

Di belakangnya, terdengar suara gesekan kain sprei yang berat, disusul langkah kaki sendal rumahan yang menjauh menuju kamar mandi.

Pintu tertutup.

Nami langsung membuka matanya, mengembuskan napas panjang yang sejak tadi ia tahan di dada. "Gila," bisiknya pada diri sendiri.

***

Satu jam kemudian, atmosfer kamar utama telah berubah sepenuhnya. Rasa canggung pagi buta itu menguap, digantikan oleh hawa dingin yang formal.

Nami sudah rapi. Ia mengenakan kemeja kasual dan celana kain, bersiap untuk berangkat dinas pagi ke rumah sakit. Tas kerjanya sudah bertengger di bahu.

Namun, langkahnya terhenti tepat di depan meja kerja kamar saat sesosok tubuh tegap menghadang jalannya.

Max sudah berdiri di sana, mengenakan kemeja putih bersih yang kancing atasnya dibiarkan terbuka, memancarkan aura dominan yang biasa.

Tanpa sepatah kata pun, tangan kokohnya menyodorkan secarik kertas putih ke hadapan Nami.

Nami mengernyit. "Apa ini?"

"Addendum kontrak," jawab Max pendek. Suaranya tak berubah—datar, tapi sarat tuntutan.

Nami menerima kertas itu dengan dahi berkerut. Matanya bergerak cepat menyusuri barisan kalimat formal yang tercetak tebal di sana.

Hanya butuh waktu tiga detik bagi jiwa dokternya untuk merasa seperti dihantam gada besi. Kalimat di poin utama itu langsung menusuk tepat di ulu hatinya.

Pihak Kedua berkewajiban mengajukan cuti panjang atau pengunduran diri dari rumah sakit, dan menetap di rumah utama untuk fokus pada program kehamilan per tanggal hari ini.

Nami mendongak cepat, matanya melebar menatap Max dengan kilat kemarahan yang tidak ditutup-tutupi.

"Kau bercanda? Menyuruhku berhenti dari rumah sakit? Aku sudah berjuang setengah mati untuk sampai di tahap residen ini, Max!"

"Aku tidak pernah memasukkan lelucon ke dalam dokumen legal, Namira," sahut Max, datar.

"Aku bisa membagi waktu, Max! Aku bisa mengambil shift yang lebih longgar—"

"Tidak bisa," potong Max cepat, memotong kalimat Nami dengan nada dingin yang mutlak. Pria itu melangkah satu kali ke depan, memangkas jarak mereka.

"Kau pikir apa tujuan utama dari kontrak pernikahan satu miliarmu, Dokter Namira? Mengurus rumah sakit?"

Nami terdiam, rahangnya mengatup rapat.

"Target kita adalah seorang anak. Secepatnya," ucap Max tanpa basa-basi, gamblang dan menusuk.

"Bagaimana tubuhmu bisa mempersiapkan kehamilan jika kau terus-menerus stres karena dinas malam, kurang tidur, dan kelelahan di koridor rumah sakit? Semua itu hanya akan menghambat poin utama kontrak kita."

Nami mencengkeram kertas di tangannya. "Tapi—"

"Kondisi Ibuku juga belum stabil. Jantungnya lemah, dan dokter bilang Ibuku tidak boleh menghadapi tekanan psikologis apa pun," sela Max, sepasang mata elangnya mengunci manik mata Nami tanpa ampun.

"Ibuku butuh melihat pernikahan ini berjalan nyata. Beliau butuh kabar baik tentang cucu itu segera agar fisiknya punya motivasi untuk sembuh. Dan itu tidak akan terjadi kalau kau malah sibuk mengurung diri di rumah sakit 24 jam."

Skakmat. Semua kalimat yang diucapkan Max menggilas seluruh argumen medis yang sempat disusun Nami di kepalanya.

Nami tidak bisa mengelak dari logika dingin pria itu. Ini semua memang demi kontrak sialan mereka.

"Ini tidak adil," bisik Nami, matanya mulai memanas bukan karena sedih, melainkan karena amarah dan harga dirinya yang dipaksa tunduk. "Kau egois."

"Aku realistis," sahut Max. Wajahnya tetap datar, tak tersentuh oleh makian Nami.

Max meraih sebuah pulpen berujung emas dari saku kemejanya, lalu meletakkannya dengan bunyi klik yang nyaring di atas kertas addendum di meja kerja.

"Tanda tangani, Namira," perintah Max, suaranya berat dan menuntut kesetiaan mutlak.

"Uang yang kukirim ke rekeningmu sudah lebih dari cukup untuk membeli seluruh waktu dan kariermu saat ini. Hari ini, urus izinmu di rumah sakit secara terhormat… atau aku sendiri yang akan menggunakan caraku untuk membuat pihak rumah sakit membebastugaskanmu."

Nami membeku. Tubuhnya gemetar hebat menahan gelombang amarah yang membakar batinnya. Kata-kata Max barusan menginjak-injak seluruh martabat yang ia bangun dengan tetesan keringat selama bertahun-tahun. Ditukar dengan angka di dalam rekening.

Namun, bayangan utang-utangnya dan wajah Nyonya Sofia semalam kembali berputar di otaknya. Ia tidak punya pilihan. Ia terjebak.

Dengan jemari yang bergetar menahan desakan emosi yang menyesakkan dada, Nami perlahan mengulurkan tangannya. Meraih pulpen emas itu dengan batin yang tertekan hebat, siap menggoreskan akhir dari kebebasannya.

"Dan siap-siap nanti malam."

Nami membeku. Nami membeku. Ia mendongak cepat, menemukan sepasang mata elang Max yang kini menatapnya dengan binar kepemilikan yang mutlak.

Pria itu tidak sedang menawarkan pilihan, melainkan sebuah pengumuman bahwa mulai nanti malam, tubuh dan waktu Nami sepenuhnya adalah milik Max.

1
Linzyasila Linzyasila
lanjut dong thor
Aksara Naura: tungguin yahh
total 1 replies
Linzyasila Linzyasila
aku selalu menunggumu up lak😍
Aksara Naura: makasih yaaa kak🥺🫶🏻 ak jdi semangat wk
total 1 replies
Aksara Naura
Gimana bab ini???🤭
Risma Arsita
Max udah mulai suka sama dokter Nami🤭
Risma Arsita
Dokter Nami panik🤣
Risma Arsita
Nyimak, sepertinya cerita ini seru
Aksara Naura: makasihh! dan selamat kamu komentar pertama 🤭😭 makasih yaa, tunggu terus kelanjutannya!
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!