[NIKAH KONTRAK]❗
[OBSESI] ❗
[DARK ROMANCE] ❗
start proses : Juni 2026-Ongoing
by Leni Utami
"Cinta yang seharusnya membuat Layla merasa bebas, justru menjadi rantai belenggu yang mengikat erat dirinya. Di antara kekuasaan dan luka masa lalu serta hasrat panas membara, ia terjebak di kobaran asmara yang gelap. Bayangan kelam masa lalu masih menghantuinya. Akankah ia bisa memilih melepaskan diri dari belenggu yang menyiksa batinnya atau memeluk belenggu itu selamanya?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lenny Utami, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CDB 19
Pipi Layla masih terasa perih akibat tamparan keras yang diterimanya tadi. Sepanjang perjalanan menuju toko, ia terus menggerutu sendiri.
"Aduh... sakit banget. Mak Lampir itu namparnya enggak kira-kira. Kayak ibu tirinya Bawang Putih saja. Aduh..." Layla meringis sambil mengusap pipinya.
Beberapa langkah kemudian ia menghela napas.
"Tapi kalau dipikir-pikir, memang aku yang salah juga sih masuk begitu saja. Mana aku tahu mereka lagi mau mesra-mesraan di ruang tengah. Ya ampun... nasib banget."
Ia lalu mendengus pelan.
"Eh, tapi cepat juga, ya. Baru lima menit ditinggal, mereka sudah lengket lagi. Zhao Lee... semoga Mak Lampir itu enggak nyesel nantinya."
Layla mendongak menatap langit sore.
"Ini... apa pertanda kebebasanku sudah dekat, Tuhan?"
Matanya berkaca-kaca penuh harap. Namun harapan itu langsung runtuh saat mengingat isi kontrak. Pernikahan itu masih harus berjalan setidaknya satu tahun, kecuali pihak pertama yang mengakhirinya lebih dulu.
"Sial..." ucap Layla kesal.
TING... KLING...
Bel pintu toko berbunyi saat Layla masuk sambil menyeret dua koper besar. Bajunya basah oleh keringat karena berjalan cukup jauh di bawah terik matahari.
"Air... aku butuh air," gumamnya lirih.
Melihat kondisi Layla, Riri langsung tertawa.
"Pffft... habis kecebur got mana? Kok basah banget?"
Layla langsung memasang wajah kesal.
"Aku baru datang sudah diajak berantem. Ini keringat, tahu! Bukannya kasih minum malah ngeledek. Sahabat macam apa kamu," ucap Layla.
"Wah, kopernya gede banget. Habis ngerampok ya?" goda Riri lagi.
Layla memelototinya.
"Riri, kamu mau masuk rumah sakit atau liang kubur?"
"Sudah, sudah. Jangan godain Layla terus," sela Bennedict sambil tertawa kecil. "Kelihatannya dia lagi banyak masalah."
Layla langsung mengangguk.
"Huhuhu... Ben memang paling mengerti aku." ujar Layla dalam hati
Riri akhirnya menghentikan tawanya.
"Iya deh. Sekarang masalah apa lagi?" Riri bertanya penasaran.
Layla malah tersenyum lebar.
"Sekarang aku resmi jadi gembel. Diusir." ucap Layla semangat.
Riri mengernyit.
"Baru kali ini lihat orang diusir malah senang."
"Terus kamu mau tinggal di mana?" tanya Bennedict khawatir.
"Ya di sini dong. Iya kan, Bos Riri?" Layla terkekeh.
Riri hanya mengangkat bahu.
"Terserah."
Bennedict masih penasaran.
"Memangnya kenapa kamu sampai diusir?"
Layla menghela napas.
"Calon tunangan Zhao Lee mulai tinggal di sana hari ini. Mana mungkin aku tetap tinggal satu rumah. Cepat atau lambat semuanya bakal terbongkar."
Lalu Layla tersenyum kecil.
"Justru bagus. Sekarang tanggung jawabku jadi lebih ringan. Zhao Lee pasti sibuk sama tunangannya. Mudah-mudahan dia lupa kalau masih punya istri kontrak." ucap Layla.
Bennedict mengangguk pelan.
"Kalau begitu biar aku bantu angkat kopermu."
"Hoho... makasih." Layla kegirangan.
Di kamar kecil lantai atas, Bennedict meletakkan koper Layla di sudut ruangan. Tatapannya kemudian tertuju pada pipi Layla yang masih kemerahan.
"Pipimu masih bengkak."
"Oh... ini? Tadi ditampar Sechpia. Katanya aku mengganggu privasi mereka."
Bennedict mengepalkan tangannya.
"Tunggu sebentar."
Ia turun mengambil kotak P3K, lalu kembali membawa salep dan kompres dingin.
"Duduk."
Dengan hati-hati ia mengoleskan obat pada pipi Layla.
"Sudah. Tempelkan kompres ini beberapa menit. Hari ini kamu istirahat saja. Biar aku yang mengurus pekerjaan."
Layla menatap Bennedict dengan mata berkaca-kaca.
"Ben... terima kasih."
Senyum tulus Layla membuat Bennedict terdiam beberapa saat sebelum akhirnya ikut tersenyum.
Sementara itu, di lantai bawah, Riri diam-diam menelepon seseorang.
"Hubungan mereka semakin dekat."
Suara pria di seberang terdengar puas.
"Bagus. Biarkan semuanya berjalan sesuai rencana."
Telepon langsung ditutup sebelum ada yang melihat.
Malam mulai larut. Setelah merasa sedikit lebih baik, Layla kembali membantu pekerjaan di toko. Bennedict tetap bersikeras menemaninya.
"Aku tidur di sofa bawah saja malam ini."
"Ben, enggak usah. Aku baik-baik saja."
"Aku enggak percaya Zhao Lee bakal diam."
Layla hanya tersenyum pahit.
"Aku sudah terlalu sering menghadapi tabiatnya."
Belum sempat percakapan mereka berlanjut, ponsel Layla berdering.
Nama Zhao Lee muncul di layar.
Layla menjauh beberapa langkah sebelum mengangkatnya.
"Halo. Saya masih bekerja."
"Kamu di mana?"
"Di toko."
Suara Zhao Lee terdengar tenang.
"Malam ini datang menemuiku."
Layla menghela napas.
"Bukankah sekarang ada Nona Sechpia di rumah? Saya rasa Tuan tidak membutuhkan saya,'' ucap Layla.
"Itu tidak ada hubungannya,'' kata Zhao Lee tegas.
Layla menggigit bibir.
"Pembohong..." gumam Layla.
"Apa katamu?" tanya Zhao Lee.
"Tidak ada,'' Jawab Layla singkat.
Zhao Lee melanjutkan dengan nada santai. "Dia sedang tidur. Aku meninggalkannya di kamar."
"Lalu kenapa menelepon saya?" tanya Layla sinis.
"Karena kamu istriku," ucap Zhao Lee tenang.
Kalimat itu membuat Layla tersenyum sinis.
"Istri yang hanya diingat saat Tuan mau." Layla menyindir Zhao Lee.
Layla mencoba mencari alasan yang tepat untuk menghindar.
"Saya sedang tidak enak badan."
"Uhuk uhuk uhuk,'' Layla mencoba akting batuk, namun aktingnya terdengar sangat kaku.
"Layla, jangan bohong."
Jantung Layla berdegup lebih cepat.
"T-Tuan..."
"Aku tahu kebiasaanmu."
Layla terdiam.
Bagaimana mungkin pria itu mengetahui begitu banyak tentang dirinya?
Perlahan ia menoleh ke luar jendela toko.
Sebuah mobil hitam terparkir di seberang jalan.
Di balik kaca gelapnya, Zhao Lee duduk sambil memperhatikan setiap gerak-gerik Layla dan Bennedict.
Senyum tipis terukir di wajahnya.
Seperti seekor pemburu yang yakin mangsanya tak punya jalan untuk melarikan diri.
Tanpa disadari Zhao Lee, semua perlakuannya justru menghancurkan Layla sedikit demi sedikit. Luka lama yang belum sembuh kini kembali terkoyak. Masa lalu terus menariknya ke belakang, sementara Zhao Lee memaksanya melangkah menuju masa depan yang tak pernah ia inginkan.
Layla merasa hidupnya seperti terbelah menjadi dua. Satu sisi ingin bebas dari bayang-bayang masa lalu, sementara sisi lainnya terus terikat oleh pria yang paling ia benci.
...****************...