Vina, gadis desa sederhana, menyelamatkan Radit, perwira militer yang terjebak perangkap dan badai kabut di hutan perbatasan. Merasa berutang budi sekaligus kagum, Radit akhirnya membawa Vina ke kota untuk dinikahi dan tinggal bersama keluarganya yang kaya raya serta terpandang.
Namun di rumah itu, Vina terus ditekan dan direndahkan sebagai "gadis kampung". Di tengah kejamnya intrik kasta kota dan perbedaan status sosial, sebuah rahasia masa lalu perlahan terkuak.
Akankah cinta mereka mampu bertahan diuji antara ketulusan, harga diri, dan kejamnya tatanan kasta kota?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PqxxyZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16 : Hadiah Untuk Sang Istri
Setelah Sella pergi dengan wajah merah padam menahan malu, suasana di ruang makan kembali tenang. Radit menyelesaikan suapan terakhir sup rumput lautnya, lalu meletakkan sendok dengan rapi.
Namun, saat ia mendongak dan menatap Vina yang sedang membereskan piring, pandangan mata elangnya tertuju lama pada pakaian yang melekat di tubuh istrinya.
Radit memperhatikannya dengan saksama. Qipao katun abu-abu itu tampak sangat kusam, tipis, dan bagian lengannya yang berlapis kapas sudah mulai mencuat keluar karena rapuh. Rambut panjang Vina pun hanya diikat seadanya dengan karet gelang lungsuran.
"Vina," panggil Radit sembari bangkit dari kursinya.
Vina menoleh dengan tangan masih memegang mangkuk kosong. "Iya, Mas?"
"Ganti pakaianmu yang lebih rapi sekarang. Kita keluar," perintah Radit lempeng, khas tentara yang sedang memberi instruksi apel pagi.
Vina mengerutkan keningnya polos, lalu melirik ke bawah, menatap pakaiannya sendiri. "Tapi... aku tidak punya baju lain lagi, Mas. Hanya ini satu-satunya pakaian yang kubawa dari kampung. Memangnya kita mau ke mana?"
Radit tidak menjawab. Ia justru melangkah mendekat, menatap Vina dari ujung rambut sampai ujung kaki, lalu mengembuskan napas pendek. "Karena itu kita keluar. Aku tidak mau istri seorang perwira Mahesa terlihat seperti habis kalah perang di dalam rumahnya sendiri. Cepat, ambil jaketmu, aku tunggu di jip."
Vina hanya bisa melongo menatap punggung tegap suaminya yang melenggang pergi begitu saja. Dengan sedikit bingung, ia terpaksa mengekor di belakang, naik ke atas jip hijau militer yang gagah itu.
Tujuan pertama mereka adalah butik pakaian terbesar di pusat kota. Begitu masuk, Vina langsung dibuat pusing oleh deretan gaun-gaun modern yang dipajang. Harganya yang tertera di label sukses membuat mata gadis desa itu hampir melompat keluar.
"Mas... ini mahal sekali! Satu baju di sini bisa untuk beli beras satu karung di kampung," bisik Vina panik, menarik-narik ujung seragam Radit dengan wajah pucat.
Radit hanya memasang wajah datar andalannya. Ia memanggil salah satu pelayan butik dengan jentikan jari yang tegas. "Mbak, ambilkan semua gaun terbaik yang cocok untuk ukuran tubuh istriku. Jangan tunjukkan label harganya pada dia, langsung masukkan ke kamar pas."
"Baik, Tuan Perwira!" sahut pelayan itu dengan mata berbinar-binar melihat dompet tebal sang tentara.
Vina dipaksa mencoba berbagai macam pakaian. Setiap kali Vina keluar dari kamar pas dengan gaun baru, Radit hanya duduk di sofa sembari melipat tangan di dada, memberikan penilaian layaknya komandan memeriksa barisan.
"Terlalu longgar," komentar Radit pada gaun pertama.
"Terlalu tipis, tidak aman," komentarnya pada gaun kedua yang agak terbuka di bagian bahu.
Sampai akhirnya, Vina keluar mengenakan sebuah gaun terusan berwarna merah salem yang pas di tubuhnya, dengan potongan sopan namun elegan. Radit tertegun sejenak, tenggorokannya mendadak terasa kering melihat betapa anggunnya gadis yang ia selamatkan di hutan itu.
"Bagaimana, Mas? Yang ini aneh ya?" tanya Vina ragu karena Radit terlalu lama diam.
Radit berdeham keras, berusaha menyembunyikan salah tingkahnya. "Ehem. Lumayan. Mbak, bungkus gaun yang ini, dan masukkan sepuluh gaun pilihan lainnya yang mirip seperti ini ke dalam kantong belanjaan."
Vina membelalakkan mata. "Sepuluh?! Mas, uangmu bisa habis!"
"Uangku tidak akan habis hanya untuk membelikan baju istriku, Vina," sahut Radit tenang sembari menyodorkan kartu pembayarannya tanpa kedipan mata.
Puas memborong baju, Radit membawa Vina ke sebuah salon kecantikan terkemuka tepat di sebelah butik. Di sinilah komedi dimulai. Begitu kapster salon bertanya rambut Vina ingin dimodel seperti apa, Radit langsung maju paling depan.
"Tolong potong sedikit ujungnya agar rapi, beri dia perawatan rambut terbaik, dan ikat dengan model yang tidak membuat kepalanya pusing," ujar Radit penuh otoritas.
Si kapster salon tertawa geli. "Aduh, Tuan Perwira, ini salon, bukan barak militer. Serahkan pada kami ya."
Selama dua jam, Radit terpaksa duduk di pojok salon, dikelilingi oleh ibu-ibu yang sedang melakukan perawatan rambut dan membicarakan gosip tetangga. Sang perwira perkasa yang biasa menghadapi musuh dan jebakan hutan perbatasan itu kini tampak mati kutu, duduk tegap dengan wajah tegang memegangi tas belanjaan wanita di pangkuannya. Beberapa kali ia melirik jam tangan, merasa waktu berjalan lebih lambat dibanding saat latihan fisik lima puluh kilometer.
Namun, rasa bosannya sirna seketika saat Vina selesai ditangani. Rambut panjangnya yang tadi kusam dan acak-acakan kini tampak hitam berkilau, jatuh bergelombang dengan sangat indah membingkai wajah manisnya.
"Mas... ini tidak kemewahan, kan?" tanya Vina sembari menyentuh rambut barunya yang halus.
Radit bangkit berdiri, menatap istrinya tanpa berkedip. "Tidak. Ini baru namanya istriku."
Keseruan belum berakhir. Radit kemudian menggandeng Vina ke gerai kosmetik merek ternama. Di sana, deretan lipstik dan bedak berjejer rapi. Vina yang seumur hidup di kampung hanya mengenal bedak dingin buatan neneknya, benar-benar buta arah.
"Mbak, saya mau cari bedak," ucap Vina canggung pada pramuniaga.
"Mau yang jenis loose powder, twoway cake, atau cushion, Nyonya? Terus untuk lipstiknya mau yang hasil akhirnya matte, glossy, atau liptint? Oh ya, undertone kulitnya hangat atau dingin?" tanya si pramuniaga berondong-bondong dengan istilah kosmetik modern.
Vina seketika menoleh ke arah Radit dengan pandangan minta tolong, matanya berkaca-kaca karena pusing. "Mas... mereka bicara pakai bahasa apa? Aku tidak mengerti."
Radit yang juga sama butanya tentang dunia perlenongan wanita, langsung mengerutkan dahi dalam-dalam. Baginya, semua warna lipstik itu hanya satu warna: merah. Menolak terlihat bodoh di depan pramuniaga, Radit maju dengan wibawa militernya yang tinggi.
"Ambilkan saja satu set lengkap alat kecantikan yang paling bagus dan aman untuk kulit sensitif. Pilihkan warna merah yang... tidak terlalu galak," ujar Radit asal ceplos dengan nada serius, membuat pramuniaga di sana menahan tawa mati-matian.
"Baik, Tuan. Kami siapkan paket lengkap untuk pengantin baru," goda si pegawai toko.
Sebelum mereka pulang, Radit juga membelikan beberapa kotak oleh-oleh makanan kue basah premium dan buah-buahan segar berukuran besar dalam keranjang mewah.
"Mas, ini untuk siapa?" tanya Vina melihat tumpukan hadiah di kursi belakang jip.
Radit menyalakan mesin jipnya, lalu melirik Vina dengan senyuman tipis yang sangat jarang ia perlihatkan. "Itu hadiah untuk kita bawa pulang ke rumah. Anggap saja sebagai 'bom balasan' untuk Ibu dan Sella. Biar mereka tahu, menantu kampung yang mereka hina tadi pagi, sekarang sudah berubah jadi nyonya muda yang sesungguhnya."
Setelah semua kantong belanjaan dimasukkan ke dalam jip, Radit berniat membawa Vina berjalan kembali menuju area parkir. Namun, langkah tegap sang perwira mendadak melambat, lalu berhenti total di depan sebuah etalase kaca besar.
Vina yang menyadari suaminya berhenti melangkah, ikut menghentikan jalannya. Ia menoleh dan mendapati pandangan mata elang Radit sedang tertuju lurus pada sebuah toko elektronik besar yang memajang deretan televisi tabung berwarna, radio compo, dan mesin cuci yang masih berkilau baru.
"Ada apa, Mas?" tanya Vina polos sembari mendongak menatap wajah samping suaminya.
Radit tidak langsung menjawab. Ia memandangi deretan barang elektronik itu sejenak, lalu menunduk menatap Vina. "Apa di rumah lamamu di kampung ada televisi atau semacam alat elektronik lainnya?"
Vina tertegun sedikit, lalu menggelengkan kepalanya pelan dengan senyum canggung. "Tidak ada, Mas. Di rumah kampung kami hanya punya lampu minyak dan sebuah radio tua pembagian kelurahan. Memang ada apa?"
Tanpa aba-aba atau penjelasan lebih lanjut, Radit langsung menggenggam jemari tangan Vina dengan lembut namun pasti, menariknya pelan untuk ikut masuk ke dalam toko elektronik tersebut.
Begitu melangkah masuk, seorang pramuniaga toko langsung menyambut mereka dengan senyuman lebar. Radit melihat-lihat sebentar sebelum akhirnya menunjuk sebuah televisi berwarna ukuran 14 inci yang paling bagus di sana, lengkap dengan sebuah radio tape baru.
"Mbak, tolong siapkan televisi yang ini, radio tape ini, dan tolong bungkus beberapa set baterai cadangannya yang banyak," ucap Radit lempeng, seperti sedang mendata logistik perang.
Mendengar suaminya memesan barang-barang mahal itu begitu saja, jantung Vina rasanya mau copot. Ia buru-buru menarik lengan seragam Radit, mencoba menjauhkan suaminya dari meja kasir dengan wajah yang dipenuhi rasa tidak enak yang teramat sangat.
"Mas... Mas Radit, tunggu dulu!" bisik Vina panik, suaranya agak bergetar. "Kenapa malah beli ini juga? Tolong dibatalkan saja, Mas."
Radit menghentikan gerakannya, menatap Vina dengan dahi berkerut. "Kenapa harus dibatalkan? Ini untuk ditaruh di rumah kampungmu. Biar ayahmu dan orang-orang di sana ada hiburan dan tidak ketinggalan berita."
Perasaan bersalah dan tidak enak hati seketika membuncah di dalam dada Vina. Ia meremas jemarinya sendiri, menatap Radit dengan pandangan bersalah. "Tapi, Mas... hari ini uangmu sudah keluar terlalu banyak untukku. Baju-baju mahal, ke salon, kosmetik, belum lagi oleh-oleh yang di jip itu. Sekarang ditambah televisi ini? Aku... aku benar-benar merasa tidak enak. Aku takut merepotkanmu dan menghabiskan seluruh tabungan gajimu sebagai tentara."
Melihat guratan cemas dan ketulusan di wajah istrinya yang tidak mau aji mumpung, tatapan mata Radit melembut. Ia memegang kedua pundak Vina, membuat gadis itu menatap langsung ke matanya.
"Vina, dengar aku," ucap Radit dengan suara baritonnya yang tenang namun penuh penekanan. "Seluruh barang yang kita beli hari ini, termasuk televisi ini, bukan kemewahan yang sia-sia. Ini adalah caraku memuliakanmu sebagai istriku. Jangan pernah merasa tidak enak atau berpikir kau sedang merepotkanku. Tugas seorang suami adalah menafkahi dan membahagiakan istrinya. Uang bisa kucari lagi dengan bekerja, tapi ketenangan hatimu dan keluargamu itu jauh lebih penting."
Radit terdiam sejenak, lalu sebuah seringai tipis dan jenaka muncul di sudut bibirnya. "Lagipula... kalau Ibu dan Sella melihat kita pulang membawa barang-barang ini, ekspresi syok di wajah mereka nanti malam pasti akan sangat mahal harganya dan sepadan dengan uang yang kukeluarkan sekarang. Jadi, biarkan suamimu ini pamer sedikit, paham?"
Vina yang awalnya ingin menangis terharu, seketika malah terkekeh geli mendengar alasan terakhir Radit. Rasa sesak di dadanya menguap begitu saja, digantikan oleh rasa hangat yang menjalar di seluruh hatinya.
"Baiklah, Mbak. Tolong sekalian nota pembayarannya," lanjut Radit kepada pramuniaga toko sembari mengeluarkan dompetnya kembali.
Setelah semua barang elektronik itu diangkut dengan aman ke bagian belakang jip bersama tumpukan oleh-oleh lainnya, Radit dan Vina akhirnya benar-benar masuk ke dalam mobil. Jip hijau militer itu pun melaju membelah jalanan kota, membawa sepasang pengantin baru itu kembali menuju mansion Laksmana.