NovelToon NovelToon
Cinta Dalam Dilema

Cinta Dalam Dilema

Status: sedang berlangsung
Genre:Percintaan Konglomerat / Beda Usia / Romantis
Popularitas:24.6k
Nilai: 5
Nama Author: Septira Wihartanti

Rangga melamarnya setelah suaminya meninggal. Mirisnya, Suaminya meninggal karena Rangga. Apakah Arumi dapat bertahan dalam takdir yang seakan sedang berkelakar ini?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Septira Wihartanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kesepakatan dengan anak-anak

Suasana ruang tamu terasa mencekam. Arumi duduk tegak di sofa usang, sementara Rian dan Aryo duduk di depannya dengan wajah yang berubah dari bingung menjadi merah padam setelah mendengar penjelasan singkat ibu tiri mereka.

"Mamah udah gilaaaa?!" Aryo, si bungsu yang meledak-ledak, berdiri hingga menjatuhkan toples camilannya. "Menikah dengan pembunuh Ayah ? Mamah mau menjual diri demi uangnya?!"

Rian, si sulung yang biasanya tenang, hanya diam membeku. Tangannya yang kasar akibat bekerja di minimarket mengepal hingga memutih. Matanya menatap Arumi dengan tatapan kecewa yang sangat dalam. "Mah... kita bisa makan tempe setiap hari, nggak apa-apa. Aku bisa kerja lembur. Tapi jangan ini. Ini menghina martabat Ayah."

Arumi menarik napas panjang, menatap kedua anak laki-lakinya satu per satu dengan sorot mata sedingin es namun setajam silet. Ia tidak menangis. Ia tidak membela diri dengan kata-kata manis.

"Duduk," perintah Arumi. Suaranya rendah, namun mengandung otoritas yang membuat Aryo terpaksa duduk kembali.

"Dengarkan Mama baik-baik. Kalian pikir Mama melakukan ini karena Mama mendadak jatuh cinta pada pria itu? Atau karena Mama silau melihat dana di rekeningnya?" Arumi mencondongkan tubuh. "Mama melakukan ini karena Mama sadar, kemarahan kita tidak akan pernah membuat perut kalian kenyang. Air mata kita tidak akan membayar biaya kuliah Bang Rian yang puluhan juta itu."

"Aku nggak butuh kuliah kalau harganya begini, Mah!" sela Rian pahit.

"Tapi Mama butuh kamu kuliah!" bentak Arumi, membuat kedua remaja itu terdiam. "Mama butuh kalian berdua jadi orang hebat. Orang yang punya kuasa, punya jabatan, punya uang lebih banyak dari Rangga Adiwilaga. Dan bagaimana cara kalian mencapainya kalau sekarang kalian cuma jadi kasir minimarket atau montir bengkel?"

Arumi memegang tangan Rian yang kasar. "Tatap Mama, Bang. Kadangkala, untuk mencapai tujuan hidup yang lebih besar, manusia harus berani mundur satu langkah untuk menang di akhir. Anggap ini taktik perang. Kita masuk ke rumahnya, kita gunakan uangnya, kita ambil seluruh fasilitasnya untuk memperkuat diri kita sendiri."

Arumi beralih menatap Aryo. "Ini bukan balas budi. Jangan pernah merasa berutang budi pada Rangga. Ini adalah cicilan hutang yang harus dia bayar atas nyawa Ayah kalian. Dia yang menawarkan diri menjadi pelayan, maka biarkan dia melakukannya."

"Tapi orang-orang bakal bilang apa tentang Mama?" tanya Aryo lirih, suaranya pecah.

Arumi tersenyum tipis, senyum yang tidak sampai ke mata. "Biarkan dunia menghina Mama. Mama tidak peduli. Sejak Mbak Rani meninggal dan mamah menikah dengan ayah kalian, mama sering dihina, mama terbiasa. Yang penting bagi Mama adalah suatu saat nanti, kalian berdua berdiri di atas kaki sendiri, cukup kuat untuk menendang Rangga dan segala kesombongannya keluar dari hidup kita. Sampai hari itu tiba, kita akan bertahan di dalam istananya sebagai orang asing yang menagih hutang."

Rian menatap mata Arumi, mencari keraguan di sana, namun yang ia temukan hanyalah tekad baja. “Mama bukan ibu. Bukan ibu kami. Kenapa mama melakukan ini?” baginya semua yang dilakukan Arumi sejak awal wanita itu menikahi ayahnya, tidak masuk akal. “Ayah dan Ibu sudah tidak ada. Mama bisa saja bebas dan meninggalkan kami.” Desis Rian lagi.

Sejenak, Arumi pun tertegun.

Ia langsung mengerti.

Oh, inilah yang dirasakan Rangga.

Perasaan tanggung jawab akan sebuah janji yang terjadi.

Bukan siapa-siapa tapi merasa siapa-siapa.

Arumi pun mengangguk sambil tersenyum tipis. Perlahan ia bisa merasakan perasaan Rangga.

“Ibu kalian hanya satu, Ibu Rani. Dan mama kalian... hanya ada satu. Mama. Ya kan? Selamanya mama akan jadi mama kalian. Walau pun mama berganti suami. Ayah juga tetap jadi ayah kalian, walau pun secara Kartu Keluarga, si Rangga itu selanjutnya akan jadi Papa kalian. Makanya sebutannya dibedakan. Yang pasti, kami semua adalah orang tua kalian, seperti apa pun sebutannya.”

Rian langsung berlutut di depan Arumi dan mencium punggung tangannya. Sementara Aryo langsung mendekap Arumi dengan erat.

Sesaat kebersamaan mereka teredam dalam syahdunya keheningan malam.

Sampai Rian akhirnya menjelaskan keraguannya yang mengganjal. "Mama yakin... bisa tahan tinggal serumah sama dia?"

"Mama akan jadi wanita paling menyebalkan yang pernah dia temui, Bang," jawab Arumi tegas. "Dia ingin 'perisai', maka Mama akan jadi perisai yang tajam. Dia ingin menggantikan posisi Ayah kamu di hati mama, maka Mama akan tunjukkan padanya bahwa posisi itu tidak akan pernah bisa digantikan, bahkan dengan seluruh harta di dunia ini."

Rian akhirnya mengangguk pelan, meski hatinya masih terasa berat. Aryo hanya bisa menunduk, meratapi realita yang memaksa mereka tumbuh dewasa lebih cepat dari usia mereka.

Mereka terdiam beberapa saat memikirkan semuanya, lalu akhirnya Rian buka suara dan menatap rumah mereka. “Akhirnya... kita tak perlu menjual rumah ini kan?”

“Mamah sedang mengusahakan agar kita tidak kehilangan apa pun lagi mulai sekarang.” Arumi menghela nafas panjang.

“Mah,” Rian duduk di sebelah Arum. “Kenapa mamah tidak membawa Rangga ke meja hijau Mah? Kalau rumah ini terjual kan kita punya cukup uang untuk membawanya ke pengadilan. 5000 karyawannya bukan urusan kita Mah. Tapi ayah adalah urusan kita.”

Arumi menggelengkan kepalanya. “Kalian tahu, mama sudah cek ke pengacara lain, konsultasi sesaat. Mengenai klausul yang disebutkan Pengacaranya Rangga waktu itu. Yang namanya Denny itu, yang tampangnya sinis dan otaknya penuh teori kayak buku undang-undang berjalan.” Arumi masih sakit hati dengan sikap Denny yang seakan memandangnya rendah.

Rian ikutan mencebik, “Yeah, aku ingat. Dia sangat menyebalkan. Pingin banget kutonjok. Tapi aku bisa kena pidana. Liat aja kalau ada kesempatan dia beneran bakal kutonjok.”

Aryo mengangguk, “Aku juga sudah cek klausula itu, yang soal kalau kematian Papah bukan murni kesalahan Rangga kan?”

“Ya, yang itu.” Arumi mengangguk. “Mama sudah melihat rekaman dari kepolisian. Akhirnya mama konsultasi ke pengacara lain. Dan setelah pengacara yang Mama datangi meninjau rekaman tersebut, dia langsung bilang bahwa secara hukum kita akan sulit menuntut Rangga. Sebab, truk di samping motor ayah kalian itu seharusnya berjalan sangat lambat. Sopirnya melihat langsung saat Rangga dan Ayah bertabrakan. Dia pasti tahu ke arah mana tubuh Mas Ary terjatuh.”

Arumi menjeda kalimatnya, tangannya mengepal di atas pangkuan. “Dalam kondisi lalu lintas yang padat merayap, orang normal pasti akan menginjak rem demi keselamatan siapa pun. Tapi yang satu ini... entah apa yang ada di pikirannya, dia justru terus melaju dan melindas...”

Kalimat Arumi terhenti. Rasa sakit yang teramat sangat nampak jelas di wajahnya. Ia menarik napas gemetar sebelum melanjutkan.

“Pengacara itu bilang, ada kalanya sopir truk merasa lebih baik membuat korbannya meninggal dunia daripada cacat. Kalau cacat, mereka harus menanggung biaya perawatan yang tak terhingga selamanya. Tapi kalau meninggal... mereka pikir cukup mengganti biaya pemulasaran saja. Kalau ditagih ganti rugi untuk biaya hidup anak-anak korban, mereka tinggal bilang 'saya tidak punya apa-apa'. Lagipula, mereka pikir masuk penjara hanya akan sebentar saja.”

"Dan ada satu hal lagi yang Mama takutkan kalau kita nekat ke pengadilan," suara Arumi merendah, matanya menatap kosong ke arah meja. "Kalau kita menuntut, Rangga pasti akan membela diri dengan pengacara sekaliber Denny. Kalian lihat sendiri betapa tajamnya orang itu."

Rian dan Aryo terdiam, teringat sosok Denny yang dingin dan sangat menguasai keadaan di rumah sakit waktu itu.

"Begitu rekaman itu diusut lebih dalam di persidangan oleh Denny, dia akan membuktikan secara teknis bahwa Ayah kamu meninggal karena lindasan truk, bukan karena benturan mobil Rangga. Kalau hakim akhirnya mengetuk palu bahwa Rangga tidak bersalah dan tersangka utamanya adalah si sopir truk, maka pupus sudah harapan kita," Arumi menghela napas berat, jemarinya bergetar.

"Sopir truk itu tidak punya apa-apa, Nak. Mau dituntut ganti rugi seratus juta pun, dia hanya bisa pasrah masuk penjara. Sementara Rangga? Begitu dia dinyatakan bersih oleh pengadilan, dia tidak lagi punya kewajiban moral untuk membiayai kalian. Kita tidak akan mendapatkan apa-apa selain rasa puas sesaat melihat orang dipenjara, sementara pendidikan kalian terhenti di tengah jalan karena kita kehilangan akses ke sumber dana Rangga."

Arumi menatap Rian dengan tatapan yang sangat dalam. "Mama tidak mau berjudi dengan masa depan kalian. Lebih baik Mama 'mengikat' Rangga dengan rasa bersalahnya sekarang, daripada membiarkan pengadilan membebaskannya dari tanggung jawab."

Aryo dan Rian tertunduk lesu. Mereka baru menyadari betapa tipisnya batas antara keadilan dan kehancuran. Di dunia yang dikuasai orang-orang seperti Rangga, strategi ternyata jauh lebih berharga daripada sekadar kebenaran.

“Mah, kami mau ketemu Rangga.” Kata Rian selanjutnya.

1
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
aku jadi Arumi mending cuma tau duit nya ajalah🤣🤣🤣
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
kok bisa ya bintang kayak gitu, trauma apa yg membentuk dia seperti itu
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
bintang gak selamanya jadi bintang kan..
Lempongsari Samsung
makasih upnya maddam❤❤❤❤❤❤
HilVi Tanurahardja💋
tonyyyy, no no no no ya☝🏻
HilVi Tanurahardja💋
😆😆😆😆
HilVi Tanurahardja💋
betul, guru jg begitu
HilVi Tanurahardja💋
semoga GK ketemu 2 lagi ya rum, ngeri banget ih
mamaqe
mamaq mumet tau duit ajalah😅🤣🤣
Atala Putri
hadir madam💪 tak tunggu up mu
Naftali Hanania
26thn dah melesat kayak komet 😍👍
Hai Madam....Alhamdulillah nongol lg....hbs liburan ya Madam 💖
Miss F
Rangga pelukable loh rum,,MW rasain g??🤣🤣
Leni Pur indah sari
sudah tergoda belum mba arumi??🤭🤭
𝕭𝖚𝖊 𝕭𝖎𝖒𝖆 💱
weew ... selalu emejing tulisan madam 🤩🤩🤩🤩
Reni
Gimana Rum, Rangga emang se mempesona itu, gk heran banyak demit ganjen berkeliaran di kantor kan? tuh, biang demitnya si Bintang baru aja di amankan🤭
Siti Rohmah
mantap
Eni Istiarsi
kalo mau cari bacaan yang all in ya disini. ini udah kayak ruang publik yang one stop service.dapet hiburan, dapet ilmu, dapet realita hidup
Eni Istiarsi
mulai bergeser penilaian Arumi ke Rangga🤭
Dede Maesaroh
lanjut madam😍
virdarizki / ig vindy yuliana1
recomend banget semua novel kamu ka beda dari yg lain, ga bosen² baca nya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!