Dien Moretz adalah sarjana pengangguran yang selalu gagal dalam wawancara kerja, karena memiliki kekurangan bibir sumbing yang menyebabkan komunikasinya tidak lancar dan dianggap sebuah beban. Suatu hari saat sedang mencari pekerjaan, tiba-tiba ada monster yang muncul dan memangsa orang-orang. Dien yang selamat akhirnya menyadari bahwa ada dunia lain, dunia yang berbeda dari yang dia jalankan selama ini. Dien yang tertarik dan tidak mendapatkan pekerjaan akhirnya memilih menjadi bagian dari dunia tersebut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YT FiksiChannel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kekacauan
Danau Liverl, Kota Selabatu.
Orang-orang kaget mendengar teriakan lantang yang disertai ketakutan. Tidak butuh waktu lama bagi mereka untuk menemukan sumber suara teriakan. Teriakan ketakutan itu berasal dari seorang pria yang berada di ujung danau dekat semak-semak. Pria setengah telanjang itu tampak keluar dan merangkak menjauh dari semak-semak yang bergoyang seakan-akan ada sesuatu dibaliknya. Orang-orang hanya bisa bengong dan heran, namun melihat kondisi pria setengah telanjang mereka langsung paham bahwa dia baru saja berbuat mesum di semak-semak tersebut.
“Setelah selesai enak-enak, kamu langsung menyebut kekasihmu sebagai monster! Apakah jonimu digigit olehnya? HAHA.” Seorang pria berkata dengan tawa bercanda.
“HAHA"
“HAHA"
“HAHA”
Sontak candaan itu mengundang gelak tawa para pengunjung lainnya.
Saat semua orang tenggelam dalam gelak tawa, tiba-tiba seekor kelabang raksasa keluar dari balik semak-semak sambil mengunyah seorang wanita setengah telanjang. Melihat adegan mengerikan itu, untuk sesaat semua orang bingung dan tidak tahu bagaimana harus merespon.
Dien ngeri melihat kelabang raksasa yang mengunyah mangsanya tersebut. Dien tidak bisa membantu dan memilih melangkah kabur menjauh dengan cepat. Dien sadar bahwa berdiam lebih lama hanya akan membuatnya menjadi mangsa selanjutnya.
“Apa itu?"
“Ahhh!!!”
“Monster!!!”
“ADA MONSTER!!!”
Orang-orang ketakutan, bingung, dan panik sendiri melihat kelabang raksasa merah tersebut. Salah satu dari mereka teriak dengan nada ketakutan, menunjuk monster kelabang raksasa dan berlari sejauh mungkin.
Seketika semua orang panik, beberapa lainnya sudah lari menjauh dengan ketakutan. Dengan cepat suasana danau yang tenang dan damai tiba-tiba jatuh dalam kekacauan. Kelabang raksasa merah menelan mangsanya, lalu mencaplok kepala pria yang merupakan pasangan mesum sang wanita.
“MONSTER!!!”
“ADA MONSTER!!!"
“LARI!!!”
Orang-orang mulai berteriak memperingati yang lainnya sembari lari menjauh tanpa memperdulikan apapun. Mereka tanpa ampun menabrak beberapa dagangan pedagang yang menghalangi jalan. Beberapa orang terjatuh ditabrak atau didorong dari belakang oleh orang lain, dan beberapa orang lainnya terinjak-injak akibat terjatuh.
Monster kelabang bergerak cepat memangsa orang-orang yang bernasib sial tersebut.
“Bagaimana bisa? Bagaimana bisa ada kelabang sebesar itu?” Dien bertanya pada dirinya sendiri.
Seseorang mendorong Dien hingga terjatuh dan terinjak-injak.
Orang-orang tidak peduli dengan keadaan Dien yang terinjak-injak, bahkan beberapa orang dengan sengaja mendorong Dien yang berusaha keras berdiri kembali. Dien pada akhirnya berhasil berdiri dan lari menjauh setelah memukul beberapa orang nakal yang berusaha mendorongnya jatuh.
Tabrakan keras!
Seseorang kembali menabrak Dien dari belakang dan membuatnya jatuh tersungkur dengan kepala lebih dulu. Orang yang menabrak, ternyata seorang wanita muda dengan rambut hitam yang dikepang dua dan beberapa helai rambut berwarna pink.
“Sumbing sialan! Jangan halangi jalan!” Umpat wanita tersebut sembari mendorong Dien yang berusaha berdiri.
Dien mau tidak mau harus kembali jatuh dan terjatuh lagi ketika seseorang menabrak, menginjak, bahkan sengaja mendorongnya yang kesusahan. Hingga pada akhirnya monster kelabang sudah berada di hadapannya dengan mengunyah seorang pria muda.
Darah merah kental dari pria yang masih hidup tersebut terciprat di mana-mana, dan membasahi wajah Dien dengan merah darah yang kental. Dien hanya bisa mendongak ketakutan melihat monster kelabang, sembari mengusap darah di wajahnya. Monster kelabang menelan mangsanya, lalu mencoba mencaplok kepala Dien yang terpaku dan ketakutan.
Disaat-saat terakhir Dien menghindar ke samping dan dengan reflek melepaskan tinju keras ke punggung kepala kelabang raksasa merah.
“Ah keras sekali!” Dien mengeluh kesakitan di kepalan tinjunya.
Monster kelabang raksasa tidak merasakan apapun menerima tinju lemah Dien. Monster kelabang raksasa berwarna biru kemerahan itu menatap Dien dengan tatapan haus darah dan kemarahan seakan-akan tidak terima bahwa sang mangsa memukulnya.
“Grhaaa!” Raung monster kelabang raksasa dan mencoba memangsa Dien.
Dien dengan panik dan ketakutan melompat ke samping kanan menghindari terkaman dan bersembunyi di bawah kaki kursi, lalu lari dengan cepat memanfaatkan beberapa penghalang untuk menghalangi monster kelabang raksasa yang mengejar. Monster kelabang raksasa sangat marah melihat Dien berhasil lolos. Monster itu melihat dan mengejar target lainnya.
“Jangan!!!”
“Tidak!!!”
“Tolong aku!!!”
Pekik para korban dimangsa monster kelabang raksasa. Dalam waktu singkat, 7 orang berhasil dimangsa hidup-hidup. Monster kelabang dengan rakus memangsa orang-orang yang tidak sempat lari menyelamatkan diri, jatuh terinjak-injak, dan orang-orang yang diam terpaku.
Bugh!
Bugh!
Tendangan!
Bugh!
Sabetan!
Tembakan!
Tembakan!
Beberapa orang yang berani mencoba melawan balik dengan memukul monster kelabang raksasa merah dengan kursi, pentungan, meja, batu, tendangan, hantaman tinju, sabetan senjata tajam, bahkan tembakan pistol ilegal.
Sayangnya bagi monster kelabang serangan mereka terasa gatal saja.
“MONSTER! Kita tidak bisa melawannya! Kita tidak bisa melawannya!!!” Pekik salah satu penyerang memilih kabur menjauh sejauh-jauhnya.
Monster kelabang menghantamnya dengan ekor hingga orang itu terpental membentur dinding dengan kepala pecah.
“Tolong! Tolong! Seseorang tolong aku!” Pekik wanita kepang dua yang sebelumnya menabrak Dien.
Wanita itu tampaknya kesulitan berlari karena kakinya keseleo dan terasa begitu sakit ketika digerakkan meskipun hanya gerakan ringan.
“Wanita sialan itu… baguslah. Mati saja kau pelacur sialan!” Umpat Dien yang masih dendam.
Melihat wanita itu sangat kesusahan, Dien tidak bisa membantu dan hanya bisa tersenyum senang. Dien berharap wanita itu segera dimangsa monster kelabang raksasa tersebut.
Wanita itu merangkak menjauh sembari menahan sakit di kakinya. Monster kelabang mendekat dan seperti mempermainkan sang mangsa. Monster kelabang mendekat satu langkah ketika wanita tersebut menjauh satu langkah. Wanita itu sangat ketakutan, sementara sang monster menatapnya dengan tatapan superior.
“Tolong aku! Siapa saja tolong aku!” Teriak wanita tersebut meminta tolong.
Beberapa orang kasihan melihatnya, namun mereka tidak bisa menolong karena takut menjadi santapan monster kelabang.
“Kelabang jangan makan aku. Dagingku rasanya tidak enak! Makan mereka saja, makan mereka saja. Dagingku amis dan bau terasi. Jangan makan aku.” Mohon wanita kepang dua penuh harap sembari menunjuk-nunjuk beberapa orang yang berlarian menjauh.
“Tuhan tolong selamatkan aku. Aku mungkin bukan umat yang beriman, namun aku akan bertobat jika kamu menyelamatkanku dari monster ini.” Ucap wanita itu mulai berdoa dengan tulus.
“Tolong aku, Tuhan!!!” Wanita kepang dua memohon dengan ketakutan.
Monster kelabang tiba-tiba terdiam seakan-akan memberikan kesempatan wanita tersebut kabur. Alhasil wanita tersebut kabur dengan susah payah, namun monster kelabang dengan cepat bergerak mengejar dan dalam waktu singkat sudah menyusul.
“Tidak!!!” Pekik wanita kepang dua ketakutan melihat monster kelabang yang menerkam.
Knalpot motor meraung!
Pada akhirnya Dien tidak bisa membiarkan wanita itu begitu saja. Dien dengan cepat menghidupkan motor bututnya, lalu menarik gas hingga habis dan membuat motor tua itu meraung memecah keheningan.
Dien memasukkan gigi dan membuat motornya melompat ke depan. Dien dengan susah payah mengendalikan motor yang melaju dengan kecepatan tinggi tersebut. Dien melompat melepaskan motornya ketika jarak mereka begitu dekat.
Tabrakan keras!
Alhasil motor Dien meluncur kencang dan menabrak monster kelabang hingga terpental jauh.
“Terimakasih Tuhan! Terimakasih Tuhan!” Wanita muda itu bersyukur.
“Sumbing tolong aku!” Pekik wanita itu meminta tolong.
Dien menggendong wanita tersebut dan berlari menjauh.
Monster kelabang pusing sedikit dan meraung marah, lalu bergerak cepat mengejar. Tiba-tiba monster kelabang berhenti dan langsung menerkam ibu-ibu yang asyik melakukan siaran langsung sembari sembunyi di bawah bangku taman, membuat beberapa perekam lainnya kabur ketakutan.
“Bodoh sekali! Beberapa orang lebih memilih merekam video, atau melakukan siaran langsung daripada lari mencari tempat aman. Apakah mereka mengira mereka memiliki banyak nyawa?” Dien tidak habis pikir dengan para penggila Fyp tersebut.
“Haha. Ini adalah awal bagi para monster menunjukkan eksistensinya ke hadapan seluruh dunia. Aku ingin tahu apa yang akan dilakukan para praktisi spiritual untuk membendung informasi monster yang direkam langsung oleh warga? Apakah mereka akan mengatakan ini adalah berita hoax? Haha. Aku sangat penasaran.” Ucap seorang pria yang memakai topi bulat dan baju kantoran.
"Apapun itu, aku akan memberikan kompensasi yang besar kepada keluarga mereka atas perjuangan mereka yang mempertaruhkan nyawa demi melakukan siaran langsung menyebarkan keagungan dan kekuatan monster! Hahaha." Ucap pria berkulit sawo matang itu melihat para pencari Fyp yang dia sewa berlarian pergi.
Pria berambut keriting itu menoleh melihat Dien yang berlari sambil menggendong wanita berkepang dua.
“Menarik! Apakah dia berharap gadis itu akan menjadi pacarnya karena diselamatkan? Haha.” Gumam pria berambut keriting tertawa mengejek melihat perjuangan Dien.
Monster kelabang berhasil menyusul Dien. Sementara Dien malah tersandung jatuh dan langsung berhadapan dengan monster kelabang raksasa.
“Apa yang kau lakukan sumbing sialan! Kenapa kau jatuh? Ah… sakit sekali. Aduh dududu.” Umpat wanita kepang dua marah dan meringis kesakitan.
“Dari semua orang, kenapa kau mengirim pria sumbing bodoh ini untuk menyelamatkanku? YA TUHAN!” Pekik wanita kepang dua menahan sakit dan menyalahkan Tuhannya.
Dien hanya bisa ketakutan melihat monster kelabang raksasa merah menatapnya tajam dan bengis. Monster kelabang menatap Dien cukup lama, seakan-akan mengejek Dien yang tidak bisa lari lagi.
Bersambung.