Tidak pernah terbayangkan jika perempuan urakan sepertiku pada akhir nya bisa menikah dengan lelaki pilihan papa yang katanya tampan, baik dan kaya melintir.
Aku terinspirasi dari pernikahan adikku yang berakhir bahagia karena pilihan papa.
Awalnya semua berjalan sesuai harapan, akad nikah yang sakral, resepsi yang mewah dan perlakuan suamiku yang teramat sangat baik. Tapi itu hanya mimpi selama dua hari di hidupku.
Enrico Putra Deisanto, seorang pengusaha dalam bidang farmasi yang menikahiku saat ini. Dia membawaku pulang ke sebuah rumah megah bak istana dengan puluhan pembantu.
Disinilah kisah hitamku dimulai, aku yang mencintainya pada pandangan pertama harus rela mengubur mimpiku untuk hidup bahagia dengan nya. Akhirnya aku tahu dia menikahiku karena paksaan ibu nya yang sedang sakit parah dan bukan kemauan nya sendiri.
Penderitaanku tak berhenti di situ, dengan santainya dia membawa pulang seorang perempuan yang akan tinggal satu rumah dengan kami. Seorang perempuan yang katanya sangat dia sayangi. Kalian tidak akan bisa membayangkan bagaimana jika seorang suami membawa perempuan lain di depan istri sah nya.
ini kisah saya,
ini cerita saya,
saya pemeran utamanya,
lalu apa posisi perempuan itu?
Aku harap dia hanya pemeran pembantu atau pelengkap latar yang hanya bisa diam, aku tetaplah pemilik suamiku yang sah...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon musbich, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17
CHELSEA ARBIANSYAH POINT OF VIEW:
🦋🦋🦋
Aku segera memakai dressku lagi ketika enrico memasuki kamar mandi. Ya Tuhan apa yang telah ku lakukan? Mendadak wajahku memerah mengingat apa yang baru saja ku lakukan bersama enrico.
Apa yang harus ku lakukan setelah ini jika bertemu dengan nya? Aku benar benar malu, mana bisa aku yang sudah terlanjur meminta cerai malah melakukan hal itu dengan nya.
Aku benar benar bisa gila karena ini. Dengan pelan ku ketuk kepalaku sendiri, kenapa aku bodoh sekali???
Beberapa menit kemudian terdengar knop pintu kamar mandi akan terbuka. Dengan terburu buru aku keluar dari kamar untuk menghindari nya.
Aku bahkan belum menyiapkan baju untuk nya. Masa bodoh! Toh dia sudah besar, pasti bisa mengambil pakaian sendiri kan.
Aku celingak celinguk mencari keberadaan ibu mertua, ternyata dia sedang memperhatikan beberapa bunga anggrek di halaman nya. Ibu mertuaku suka sekali dengan bunga tapi kenapa rumah anak nya gersang sekali, baru ada bunga ketika aku datang ke rumah nya.
“Chelsea,” ibu mertua memanggil namaku dengan lembut .
“Wah, ibu sedang apa?” tanyaku yang mulai tertarik dengan hobby nya.
“Menyegarkan pikiran,” sahut nya tersenyum lembut.
“Kalau begitu chelsea juga ikut,” kataku tersenyum pada nya.
“Bagaimana hubungan kalian berdua? Apa sedang baik baik saja?”
“Seperti yang ibu lihat, entahlah ibu mau berkomentar apa,” kataku tersenyum.
“Ku mohon tetaplah menjadi menantuku, jangan pernah ada niatan untuk meninggalkan enrico meskipun putraku terlalu banyak merepotkanmu,” kata ibu dengan tatapan yang sulit diartikan.
“Apa yang ibu bicarakan?” kataku tersenyum seraya menghembuskan napas berat sebentar.
“Ibu, kenapa ibu memilihku menjadi menantumu?” tanyaku tiba tiba.
Ibu mertua hanya tersenyum mendengar pertanyaanku.
“Ibu, aku sedang serius bertanya,” kataku manja.
“Kenapa ibu tidak menolak saja ketika papa menawarkan diriku untuk putramu?” tanyaku lagi.
“Mana bisa aku menolak permintaan papamu,” sahut ibu mertua tersenyum.
“Jadi ibu menerimaku hanya karena papaku?” tanyaku sedikit kecewa.
“Ibu tidak melihat sesuatu yang special dariku?” tanyaku lagi.
“Chelsea, aku mengenal baik papamu. Dan aku yakin jika papamu juga sudah mendidikmu dengan sangat baik. Aku yakin jika kamu gadis baik,” kata ibu mertua mulai menghentikan aktivitas nya dan menuntunku untuk duduk bersama nya di halaman rumah sambil menikmati minuman.
“Mana bisa ibu menyebutku gadis baik. Lihatlah rambutku yang ku cat pirang ini, bajuku yang sexy misal nya? Atau caraku berpakaian yang berlebihan, apa ibu tidak takut jika nanti nya uang enrico akan habis untuk membeli bajuku yang selalu berlebihan?” cerocosku.
“Lalu aku harus menyebutmu gadis apa?” Tanya ibu terkekeh.
“Siapa tahu ibu akan memandangku negative,” kataku pelan.
“Ibu tidak pernah melihat seseorang dari cover nya,”
Aku cukup tercengang mendengar jawaban nya yang lumayan bijak.
“Ibu,” kataku memeluk lengan nya dengan tatapan nanar.
“Ibu dulu juga sama sepertimu, malah rambut ibu berwarna warni. Tapi itu dulu, sekarang sudah beruban,” kata ibu tersenyum.
“Benarkah?” tanyaku tak percaya.
“Hem,” jawab ibu dengan senyuman teduh nya.
“Aku fans beratmu kalau begitu, bu,” kataku semakin erat memeluk lengan nya.
“Ehem…” suara deheman enrico mengagetkan kami berdua.
“Aku cemburu melihatmu memeluk ibuku seperti itu, kamu bahkan tidak pernah memelukku seperti itu,” celetuk enrico seraya menyerahkan dasi nya padaku.
Dengan sedikit berjinjit, aku mulai memasangkan dasi nya.
“Aku berangkat dulu,” kata enrico seraya mengecup bibirku singkat di depan ibu mertua yang membuatku mematung di tempat dan membuat wajahku memerah karena malu.
Kesambet setan apa dia sampai berani melakukan hal konyol seperti itu.
“Tunggu aku pulang,” kata nya kemudian.
“Hem, ibu nggak dicium juga?” Tanya ibu tersenyum tiba tiba yang membuatku salah tingkah seraya menggaruk tengkukku.
“Ibu juga tunggu aku pulang,” kata enrico seraya mengecup pipi ibu nya.
“Mau dibawakan apa nanti?” Tanya enrico seraya menatap mataku.
“Tidak perlu bawa apa apa,” jawabku cepat.
“Nanti pulang ke rumah kita ya?” Tanya enrico.
Aku terdiam mendengar ajakan nya. Tiba tiba ada rasa takut di hatiku, kenapa dia mengajakku pulang ke rumah nya lagi? Apa sikap nya padaku dari kemarin itu hanya acting saja? Apa dia akan jadi dingin lagi ketika kembali ke rumah nya? Apa dia jadi baik padaku hanya karena kita sedang berada di rumah orangtua nya? Tiba tiba ada rasa takut di hatiku.
“Bagaimana? Apa kamu setuju jika kita kembali pulang?” Tanya enrico membuyarkan lamunanku.
“Bisakah kita di sini lebih lama lagi?” tanyaku hati hati.
“Kenapa? Apa kamu tidak suka dengan rumah kita?” Tanya enrico heran.
“Aku ingin menemani ibu, kita terlalu sibuk dengan kehidupan kita sampai kita lupa bahwa orangtua kita juga semakin menua,” sahutku.
“Baiklah, kita akan tinggal di sini beberapa hari lagi,” kata enrico lembut seraya mengusap rambutku.
“Kamu ingin makan apa nanti? Akan ku masakkan,” kataku.
“Kita makan di luar saja nanti, kamu istirahat saja sekarang. Kamu pasti lelah,” kata nya seraya mengacak rambutku dan berjalan menuju mobil nya.
“Dia banyak berubah,” kata ibu mertua pelan.
“Siapa bu?” tanyaku.
“Enrico, baru kali ini ku lihat dia tersenyum begitu,” kata ibu menatapku tersenyum.
🦋🦋🦋
Siang ini ku habiskan waktuku dengan ibu mertua di halaman rumah merawat tanaman anggrek yang menghiasi rumah besar ini. Tidak hanya itu, kami juga menyuruh tukang kebun untuk memanen mangga yang kelihatan nya sudah ranum. Alhasil hari ini kami mendapatkan dua keranjang mangga yang memang sudah siap untuk di konsumsi.
Kami berdua berbincang bincang di halaman seraya mengupas mangga dan memotong nya menjadi dadu serta menaruh nya di mangkuk.
🦋🦋🦋
Sore ini enrico datang ketika aku sedang melihat beberapa foto nya yang ada di album bersama ibu mertua. Dia menghampiri kami yang sedang tertawa melihat foto masa kecil nya.
“Sepertinya seru sekali,” celetuk enrico seraya duduk tepat di sampingku dan melonggarkan dasi nya.
“Lihatlah gigimu, kenapa bisa hitam begitu hampir ompong. Kamu kebanyakan makan permen?” kataku seraya menunjuk foto nya ketika berumur 5 tahun.
“Lihatlah yang ada di sampingku itu lebih kucel dariku,” kata enrico menunjuk foto tara.
“Tapi gigi nya tidak seburuk gigimu,” kataku mencoba menatap nya meskipun hatiku sekarang sedang tak karuhan ketika tangan nya mulai berada di bahuku.
Aku mulai membantu nya membuka dasi dengan posisi kami yang begitu dekat ini.
“Mandilah,” kata enrico menyuruhku mandi.
“Kenapa? Apa aku bau?” tanyaku seraya mencoba mengendus tubuhku sendiri.
“Kita makan di luar,” jawab nya.
“Apa ibu mau ikut?” tanyaku pada ibu mertua yang sedang ada di sampingku.
“Ibu juga pernah muda, kalian saja yang keluar,” sahut ibu dengan senyuman teduh nya.
🦋🦋🦋
Aku mulai membersihkan diriku sendiri dan memakai dress yang terlihat memukau, kapan aku pernah memakai dress sederhana. Tidak pernah! Bahkan dressku saat ini tepat selutut berwarna navy, ku poles wajahku dengan make up tipis di depan meja rias.
“Apa tidak ada baju lain?” Tanya enrico mulai melihat dressku yang tanpa lengan.
“Tidak ada,”
“Ini musim hujan, kamu akan kedinginan jika memakai dress model begitu,”
“Ini nama nya fashion,” celetukku.
“Ya sudahlah, aku sedang malas berdebat,” katanya seraya menarik tanganku untuk mengikuti nya keluar kamar.
🦋🦋🦋
Kami berdua masih terdiam di dalam mobil, lebih tepat nya aku yang merasa canggung karena nggak tau mau ngomong apa? Enrico masih focus dengan jalanan yang sedikit gerimis, ahh kenapa selalu gerimis kalo keluar sama dia?
“Mau makan dimana?” pertanyaan enrico membuyarkan lamunanku tentang gerimis.
“Terserah kamu, enak nya dimana?” tanyaku balik.
“Makan dimana aja juga enak, kamu mau makan apaan?”
“Apa ya? Terserah deh, aku bingung,” kataku seraya mencoba berpikir enaknya makan apa.
“Nggak ada rumah makan terserah, ke kedai biasanya ya?”
“Bosen ahh,” sahutku cepat.
“Tadi bilang nya terserah tapi dipilihin tempat bilang nya bosen. Aku yang makan trus kamu nonton aku makan aja gimana?” Tanya enrico.
“Sialan banget sih kamu,” kataku mulai terkekeh dan suasana jadi lumayan mencair.
“Jadi ke kedai biasanya nih?” Tanya enrico lagi.
“Ke café langgananku aja gimana?”
“Emang nya kamu punya tempat nongkrong tetap?”
“Tapi agak jauh sih,”
“Nggak papa,” sahut nya.
🦋🦋🦋
Tibalah kami di sebuah caffe yang menyajikan nuansa alam, dengan design interior café yang dipenuhi gambar abstrak berwarna hitam putih dan suasana hijau di sekitarnya. Udara nya begitu bersih serta alam nya yang masih asri sangat cocok untuk merilekskan tubuh sejenak dari hiruk pikuk perkotaan.
Café ini dibagi menjadi dua bagian yaitu indoor dan outdoor, design nya minimalis dengan banyak jendela kaca yang mengelilingi nya supaya pengunjung tetap bisa melihat pemandangan luar.
Pada bagian indoor juga Nampak cozy dan homy abis dengan dengan kursi sofa empuk dan beberapa aksesories bunga. Ruangan nya di dominasi dengan warna hitam dan putih, semua perabotan di dalam nya tampak kompak sehingga bisa menenangkan mata.
Sedangkan di semi outdoor dilengkapi dengan meja panjang dan kursi kayu serta taman bunga.
Kami berdua memasuki caffe dengan enrico yang menggandeng lenganku possessive. Aku memilih tempat duduk yang berada di luar caffe seraya menikmati udara segar nya.
“Mbak Chelsea? Ini mbak chelsea kan? Kangen mbak, lama banget nggak kesini. Mana mas Alfath?” Tanya Rosa pelayan caffe di sana yang sudah mengenalku karena keseringan nongkrong di tempat ini dulu sebelum menikah.
Aku hanya melirik enrico yang wajahnya berubah masam ketika mendengarkan nama Alfath disebut oleh Rosa.
“Hem, kenalkan ini pacarku nama nya enrico,” kataku kemudian didahului deheman untuk menetralkan suasana kembali.
“Wah, pacar nya mbak chelsea ya,” kata Rosa menundukkan badan nya dan tersenyum ramah.
“Aku pesen spaghetti Bolognese dua, chicken strip udang salt egg, pisang keju dan dua orange squash,” kataku seraya menunjuk buku menu yang ada.
“Oke, ditunggu ya mbak,” kata Rosa seraya meninggalkan kami berdua.
“Eh, aku ini suamimu. Enak saja bilang pacar,”protes enrico.
“Kamu juga diem aja waktu Tara bilang kalo aku ini pembantumu. Untung aja hari ini ku akui kamu jadi pacarku," kataku cuek.
“Chelsea…” kata nya menghembuskan napas berat.
“Kita kesini untuk makan dan bukan untuk berdebat,” sahutku.
“Jadi kamu sering kesini dengan Alfath, laki laki yang tempo hari mengantarmu pulang itu kan?”
“Hem,”
“Aku tidak suka dengan nya, jangan bertemu dengan nya lagi,”
“Kenapa jadi gitu?” tanyaku protes.
“Karena aku suamimu,”
“Kalau begitu jangan bertemu Alina lagi,” kataku cepat.
Enrico terdiam dan mulai menatapku dalam.
“Tugasku saat ini hanya mencintaimu, jika kamu menyelingkuhiku maka tugasku selesai,” kataku membalas tatapan mata nya.
Jangan lupa like, comment and vote ya guys🙏😊
ku tunggu coment nya 👍
Aku mampir yahh dengan like dan rate nya, Jangan lupa mampir dan feedback ke novel ku yahh ❤Sabda Rindu❤
Terimakasih ditunggu kehadirannya 🥰