NovelToon NovelToon
PERNIKAHAN SANDERA: MEMPELAI PENGGANTI SANG MILIARDER

PERNIKAHAN SANDERA: MEMPELAI PENGGANTI SANG MILIARDER

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Balas Dendam
Popularitas:3.5k
Nilai: 5
Nama Author: Satisuci Ituaku

Naya terpaksa menggantikan kakak tirinya yang kabur beberapa jam sebelum pernikahan dengan Adrian, seorang CEO dingin yang lumpuh akibat kecelakaan misterius.

Bagi Adrian, Naya hanyalah pengganti yang harus menanggung dosa keluarganya. Di rumah mewah yang terasa seperti penjara, Naya dipaksa menjalani kehidupan penuh penghinaan dan penderitaan.

Namun Adrian tidak mengetahui satu kebenaran besar.

Wanita yang selama ini ia benci adalah orang yang pernah mempertaruhkan nyawanya untuk menyelamatkan dirinya dari maut tiga tahun lalu.

Saat perlahan rahasia itu mulai terungkap dan hati Adrian mulai luluh, Naya justru memilih pergi.

Kini Adrian harus menghadapi satu pertanyaan yang terus menghantuinya:

Masih adakah kesempatan untuk memperbaiki semua kesalahannya sebelum wanita yang dicintainya menghilang untuk selamanya? ❤️

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Satisuci Ituaku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17: Murka Seorang Suami

Suara sirene ambulans dan kendaraan keamanan masih terdengar samar di kejauhan.

Jalanan yang beberapa menit lalu berubah menjadi medan perkelahian kini dipenuhi para petugas keamanan yang sedang mengamankan lokasi.

Para preman yang terlibat dalam percobaan penculikan sudah diborgol dan dikumpulkan di satu tempat.

Namun tidak ada satu pun dari mereka yang berani mengangkat kepala.

Terutama setelah melihat sorot mata Adrian.

Tatapan itu terlalu dingin.

Terlalu mengerikan.

Seolah mampu menghancurkan siapa pun yang berdiri di hadapannya.

Di sisi lain, Naya masih berada dalam pelukan Adrian.

Tubuhnya perlahan berhenti gemetar, tetapi ketakutan di wajahnya belum sepenuhnya hilang.

Adrian mengusap punggung istrinya dengan lembut.

"Kamu sudah aman."

Naya mengangguk pelan.

Namun jemarinya masih menggenggam erat lengan kemeja Adrian.

Seolah takut pria itu menghilang jika dilepaskan.

Melihat hal itu, dada Adrian terasa sesak.

Andai saja dirinya lebih waspada.

Andai saja pengamanan tadi tidak sempat ditembus.

Mungkin Naya tidak perlu mengalami ketakutan seperti ini.

"Mas..."

Suara Naya terdengar lirih.

"Iya?"

"Aku baik-baik saja."

Adrian tersenyum tipis.

Namun senyum itu tidak sampai ke matanya.

Karena kemarahan yang membara di dalam dirinya belum padam sedikit pun.

Tatapannya kembali mengarah kepada Roni yang sedang berlutut di atas aspal.

Pria itu terlihat pucat pasi.

Tubuhnya gemetar hebat.

"Aku sudah mengatakan semuanya!" teriak Roni panik.

"Tolong lepaskan aku!"

Adrian menatapnya tanpa ekspresi.

"Kau pikir semuanya selesai hanya karena mengaku?"

Roni langsung membeku.

"Kau menerima uang."

"Kau menyusun rencana."

"Kau membawa orang-orang bersenjata."

"Kau mencoba menculik istriku."

Setiap kalimat yang keluar dari mulut Adrian membuat wajah Roni semakin pucat.

"Aku... aku hanya disuruh..."

"Itu bukan alasan."

Suara Adrian terdengar datar.

Namun justru itulah yang membuat semua orang merinding.

Dimas yang berdiri di sampingnya bahkan bisa merasakan betapa besar amarah yang sedang ditahan sang bos.

"Tuan Adrian."

"Ya?"

"Tim hukum sudah bergerak."

Dimas menyerahkan sebuah tablet.

"Kami juga sudah mulai memblokir beberapa rekening perusahaan keluarga Ketrin."

Sorot mata Adrian tidak berubah.

"Itu baru permulaan."

Dimas mengangguk.

Ia tahu persis apa arti kalimat tersebut.

Ketika Adrian benar-benar marah, dia tidak pernah setengah-setengah.

Dan kali ini yang menjadi sasaran adalah keluarga Ketrin.

Sementara itu...

Di sebuah apartemen mewah di pusat kota.

Ketrin sedang menikmati secangkir kopi sambil tersenyum puas.

Ia yakin semuanya berjalan sesuai rencana.

Menurut perhitungannya, saat ini Naya pasti sudah berada di tangan anak buah Roni.

Ponselnya bergetar.

Senyum Ketrin semakin lebar.

"Pasti kabar baik."

Namun sesaat setelah membuka pesan yang masuk, senyumnya langsung membeku.

Isi pesan itu hanya satu kalimat.

Rencana gagal.

Semua orang tertangkap.

Wajah Ketrin seketika memucat.

"Apa?"

Tangannya mulai bergetar.

Belum sempat ia mencerna isi pesan tersebut, teleponnya kembali berdering.

Kali ini dari ayahnya.

Dengan jantung berdebar, Ketrin menjawab panggilan itu.

"Halo, Ayah?"

Suara panik langsung terdengar dari seberang sana.

"Ketrin! Apa yang sebenarnya kamu lakukan?!"

Ketrin membeku.

"Maksud Ayah?"

"Semua rekening perusahaan dibekukan!"

"Apa?!"

"Kita juga kehilangan beberapa kontrak besar dalam satu jam terakhir!"

Wajah Ketrin berubah pucat pasi.

Ia langsung berdiri dari kursinya.

"Itu tidak mungkin."

"Tapi itu terjadi!"

Suara sang ayah terdengar putus asa.

"Semua klien besar mendadak membatalkan kerja sama!"

Ponsel hampir terlepas dari tangan Ketrin.

Karena hanya ada satu orang yang memiliki kekuatan sebesar itu.

Adrian.

Air dingin seolah disiramkan ke seluruh tubuhnya.

Untuk pertama kalinya, Ketrin benar-benar merasa takut.

Sementara di lokasi penyergapan, Adrian menerima laporan baru dari Dimas.

"Tuan."

"Ada apa lagi?"

"Kami menemukan bukti transfer dari rekening pribadi Ketrin kepada Roni."

Tatapan Adrian semakin dingin.

"Bukti yang cukup."

"Ya, Tuan."

Adrian mengangguk perlahan.

Lalu menatap langit sore yang mulai berubah gelap.

"Kali ini dia tidak akan bisa lolos."

Dimas memahami maksudnya.

Karena kali ini bukan sekadar persaingan cinta.

Bukan sekadar fitnah.

Melainkan percobaan penculikan.

Sebuah kejahatan yang tidak akan pernah ditoleransi Adrian.

Pria itu lalu menatap Naya yang masih berdiri di sampingnya.

Tatapan dinginnya seketika berubah lembut.

"Ayo pulang."

Naya mengangguk.

Namun sebelum masuk ke mobil, entah kenapa jantungnya kembali berdebar tidak tenang.

Seolah ada sesuatu yang belum berakhir.

Dan firasat itu ternyata benar.

Karena tanpa diketahui siapa pun, dari dalam sebuah mobil yang terparkir jauh di ujung jalan, sepasang mata sedang mengawasi mereka.

Pria misterius itu menurunkan kaca mobilnya perlahan.

Tatapannya tertuju lurus kepada Naya.

Kemudian senyum tipis muncul di bibirnya.

"Menarik..."

Pria itu menyalakan mesin mobil.

"Sepertinya aku harus turun tangan sendiri."

Bersambung...

1
falea sezi
😒 telat lu bangke
Dinatha: saya follow ya🙏
total 4 replies
Satisuci Ituaku
mksih kk
Rani Saraswaty
knp cpt bgt tau sih??? 🤭
Satisuci Ituaku: mksih udah mampir kk
total 1 replies
Rani Saraswaty
kan kaya...mudah tuh cari yg bw lari uangnya...knp repot2...seluruh kluarga bs msk sel
Satisuci Ituaku
siap kk mksih udh mampir
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!