Theo Falcon menganggap Zarlin Rahesa tidak lebih dari seorang ibu rumah tangga yang membosankan dan parasit. Demi ambisi dan pesona Bianca Amsel, Theo memfitnah, mengabaikan, dan bahkan menceraikan Zarlin tanpa memberinya sepeser pun. Dengan sebuah koper dan hati yang hancur, Zarlin pergi. Theo mengira Zarlin akan sangat terpukul. Namun, ia sangat salah. Zarlin menghilang dan kembali sebagai sosok yang sama sekali tidak dikenali, satu-satunya pewaris sebuah konglomerat yang cemerlang.
Situasi menjadi semakin kacau ketika Tristan Avalanka, CEO paling disegani dan dihormati dari perusahaan besar itu, berdiri di garis depan untuk melindungi Zarlin. Ketika bisnis Theo runtuh dan topeng Bianca terbongkar, Theo hanya bisa berlutut di tengah hujan deras, merangkak untuk memohon maaf kepada mantan istrinya. Tetapi bagi Zarlin, pintu pengampunan telah tertutup rapat, dan penyesalan Theo... sudah terlambat.
Follow tiktok : aricia.agestis6
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reenie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17. Pengadilan Negeri 2
Satu minggu kemudian, Pengadilan Negeri kembali menjadi saksi kelanjutan rumah tangga Zarlin dan Theo. Hari ini adalah agenda sidang pembuktian.
Zarlin terpaksa membohongi orang tuanya supaya aksinya berjalan lancar.
"Ayah, dua hari ini aku tidak ke kantor dulu ya." ujar Zarlin
Ayahnya mulai heran, sekitar sebulan yang lalu, putrinya juga minta izin untuk tidak masuk kerja.
"Kenapa, sayang? Ada masalah kah? Atau kamu kurang enak badan?" tanya Bramasta dengan perhatian.
Zarlin membuat senyum manisnya supaya tidak ketahuan.
"Aku ingin pulang ke rumah Theo, ayah. Ada sesuatu hal yang ingin kami lakukan." ujar Zarlin.
Bramasta terdiam sejenak. Ia teringat kembali saat Ia menyuruh Hendra, anak buahnya untuk melacak Theo apakah benar ada masalah atau tidak, dan kebetulan, Hendra tak mendapatkan apa-apa yang mencurigakan.
"Atau mungkin hanya aku saja yang terlalu berlebihan kepada Theo." batin Bramasta
Theo tidak pergi ke luar kota, Zarlin hanya membuat alasan supaya ayah dan ibunya tidak curiga mengapa dia tiba-tiba pulang waktu itu.
"Ayah, kenapa melamun?" tanya Zarlin
Bramasta langsung sadar dan tersenyum.
"Tidak sayang, ayah hanya teringat saat kamu bilang bahwa Theo kerja diluar kota. Dia sudah pulang kan?"
"Sudah ayah, makanya aku ke sana sekarang." bohong Zarlin.
"Jadi, siapa yang mengurus pekerjaan kamu?" tanya Bramasta
"Aku sudah menitipkannya pada Christiana, ayah. Semua akan aman ditangannya, lagian Christiana juga sudah lama menjadi sekretarisku."
Bramasta tersenyum dan mengangguk.
"Ya sudah, kalau begitu kamu hati-hati dan jaga kesehatan. Kalau kamu mau pulang ke sini, rumah selalu terbuka untukmu." Bramasta memeluk Zarlin.
...****************...
Zarlin pergi bersama pengacaranya, Samuel.
Di koridor pengadilan, Theo Falcon berjalan dengan angkuh, didampingi oleh pengacara pribadinya.
Di belakangnya, Bianca mengikuti dengan senyuman sinis yang menghiasi wajah liciknya. Meskipun perusahaan Falcon Corp sedang digempur habis-habisan oleh Aricia International dan Avalanka Group, Theo menolak kelihatan lemah di depan mantan istrinya.
"Theo, ingat ya, jangan mau kalah dari wanita itu. Dia pasti cuma menggertak," bisik Bianca memanasi, sambil membenarkan letak tas barunya yang dibeli dari hasil memeras dana kantor.
"Kamu tenang saja, Bianca. Zarlin tidak punya apa-apa untuk melawanku. Paling dia cuma bisa menangis dan mengemis harta gono-gini," balas Theo penuh percaya diri.
Pintu ruang sidang terbuka. Theo masuk dan langsung mendapati Zarlin sudah duduk tenang di kursi penggugat.
Hari ini Zarlin mengenakan setelah blazer berwarna hitam pekat yang elegan, dipadukan dengan kacamata hitam yang baru saja dia lepas.
Tatapan matanya lurus, tajam, dan sedingin es. Di sampingnya, Samuel Vaska tampak sibuk merapikan beberapa dokumen tebal di dalam map merah.
Theo duduk di kursi tergugat, lalu memberikan senyum meremehkan ke arah Zarlin. Namun, Zarlin bahkan tidak sudi menoleh sedikit pun ke arah pria yang pernah dia layani selama tiga tahun itu. Bagi Zarlin, Theo hanyalah hamparan debu yang siap dia sapu bersih.
Hakim Ketua mengetuk palu tiga kali, menandakan sidang pembuktian resmi dibuka.
"Baik, pihak Penggugat, silakan ajukan bukti-bukti yang melandasi gugatan cerai Anda terhadap Tergugat," ujar Hakim Ketua dengan tegas.
Samuel Vaska berdiri dengan wibawa seorang pengacara papan atas.
"Terima kasih, Yang Mulia. Di sini kami membawa bukti-bukti otentik bahwa Tergugat, Tuan Theo Falcon, telah melakukan pelanggaran berat dalam rumah tangga yang membuat pernikahan ini tidak dapat dipertahankan lagi."
Samuel melangkah maju, menyerahkan map merah itu ke hadapan majelis hakim, lalu memberikan salinannya ke pengacara Theo.
"Bukti pertama," suara Samuel menggema di ruang sidang. "Adalah hasil Visum Resmi dari Rumah Sakit Pusat yang diambil tepat tiga minggu lalu. Klien saya, Nona Zarlin Rahesa, mengalami kekerasan fisik berupa cengkeraman kasar hingga menyebabkan luka memar parah di lengan kanannya akibat tindakan Tergugat saat mengusir Penggugat dari rumah."
Deg! Deg! Deg!
Jantung Theo seketika berdetak lebih kencang. Matanya membelalak lebar saat melihat lembar foto berukuran besar yang menunjukkan luka memar membiru di lengan Zarlin terpampang di meja hakim.
"I-Itu tidak benar! Dia sengaja membuat luka itu sendiri untuk menjebak saya!" bantah Theo refleks, langsung berdiri dari kursinya dengan wajah panik.
"Harap Tergugat tenang dan menjaga sopan santun di ruang sidang!" tegur Hakim Ketua dengan suara menggelegar, membuat Theo terpaksa duduk kembali.
Samuel Vaska tersenyum tipis, lalu melanjutkan, "Bukti kedua, Yang Mulia. Kami melampirkan rekening koran tabungan milik Nona Zarlin selama tiga tahun terakhir. Tergugat, Theo Falcon yang berstatus sebagai CEO kaya raya terbukti melakukan penelantaran finansial dengan memotong uang nafkah secara tidak wajar dan membiarkan Penggugat hidup dalam tekanan, sementara Tergugat justru memanjakan wanita lain yang bukan haknya. Tergugat dinyatakan melakukan perselingkuhan terhadap Nona Zarlin"
Wajah Theo yang tadinya kemerahan karena emosi, kini menjadi agak pucat. Dia benar-benar tidak menyangka kalau Zarlin yang dulu diam dan penurut, bisa mengumpulkan bukti sedetail dan semematikan ini di balik punggungnya.
Pengacara Theo mencoba membela, "Yang Mulia, klien saya hanya melakukan tindakan tegas sebagai kepala rumah tangga karena Penggugat membangkang—"
"Tegas atau kriminal, Rekan?" potong Samuel Vaska dengan nada sarkas yang menusuk.
"Bukti visum dan rekam medis tidak pernah berbohong. Tindakan Tuan Theo sudah masuk ke dalam KDRT."
Zarlin yang sejak tadi diam, akhirnya membuka suara. Dia menatap Theo dengan pandangan paling rendah dan jijik yang pernah ada.
"Tiga tahun aku diam bukan karena aku lemah, Theo," ujar Zarlin, suaranya pelan namun terdengar begitu menusuk di keheningan ruang sidang.
"Aku hanya sedang mengumpulkan setiap tetes air mata dan luka yang kamu berikan, untuk dijadikan bahan yang akan menghancurkan kesombonganmu hari ini."
Theo terdiam, tenggorokannya seperti terasa kering kerontang. Harga dirinya sebagai seorang CEO serasa diinjak-injak didepan umum.
Dia melirik ke arah Bianca di pintu luar yang tampak mulai panik dan ketakutan melihat jalannya persidangan yang berbalik arah tidak sesuai dengan dugaan mereka.
Hakim Ketua mengetuk palunya dengan tegas.
"Baik, semua bukti dari pihak Penggugat sah dan diterima oleh majelis hukum. Sidang hari ini ditutup, dan akan dilanjutkan dua minggu lagi dengan agenda pembacaan Putusan Akhir dari Majelis Hakim!"
...Tok! Tok! Tok!...
Begitu palu diketuk, Zarlin langsung berdiri, memasang kembali kacamata hitamnya dengan anggun, dan keluar ruang sidang bersama Samuel Vaska tanpa sudi melihat wajah busuk Theo lagi.
Sementara Theo termenung di kursinya dengan tangan bergetar. Di dalam hatinya, sebuah rasa sesak yang aneh mulai menyergap.
Theo merasakan firasat buruk bahwa dia telah melepaskan wanita yang salah, dan penyesalan itu perlahan mulai mengetuk pintu hidupnya.
itu justru malah menguatkan kebenaran...
semoga lancar proses perceraiannya !!