Kedatangan murid baru di SMA Adiwijaya langsung jadi perbincangan hangat. Kabar bahwa anak pemilik sekolah ikut pindah di hari yang sama, membuat suasana sekolah makin ramai dan penuh teka-teki.
Sekelompok murid berpengaruh berambisi mencari siapa sosok pewaris asli yang disembunyikan. Siapa pun yang dianggap mengganggu atau tidak pantas, akan mereka singkirkan tanpa ampun.
Naysilla, gadis pindahan yang polos dan tak paham aturan keras di sana, tiba-tiba jadi sasaran utama kecemburuan dan perundungan. Di saat ia dikucilkan, disudutkan, dan tak ada satu pun yang berani mendekat, selalu ada satu sosok yang diam-diam hadir.
Raynor Mohan, cowok berkacamata yang penampilannya sederhana, pemalu, dan selalu dipandang sebelah mata oleh semua orang. Namun bagi Naysilla, sosok itulah satu-satunya tempat aman untuk pulang. Di balik sikapnya yang cupu, Naysilla perlahan menemukan sisi lain yang hanya ia bisa lihat sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon arina_ar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32.
Mohan menutup teleponnya perlahan, namun gerakan itu terasa berat seolah menahan amarah yang meluap hingga ke ubun‑ubun.
Ia kembali menatap Satria, tatapannya tak lagi sekadar khawatir, melainkan dalam, tajam, dan seolah bisa menembus setiap rahasia yang tersembunyi di hati kakak kelasnya.
“Katakan semuanya. Jangan ada satu kata pun yang ditutupi,” desisnya rendah. Suaranya masih sama lembut seperti biasanya, namun ada getaran dingin yang membuat hawa di ruangan itu terasa mendadak membeku.
Satria menggigil, bukan karena luka atau dinginnya malam, melainkan karena rasa takut yang tiba‑tiba menjalar di sekujur tulang sumsum. Ia menelan ludah susah payah, lalu membuka semuanya dengan suara terbata.
Ia membuka mulutnya, menceritakan kembali semuanya. Rencana hajat itu, keterlibatannya juga rasa bersalahnya, ia mengakuinya sungguh-sungguh.
Mohan hanya diam. Tidak membentak, tidak memaki. Namun keheningan itu justru terasa lebih menakutkan daripada teriakan apa pun.
Yang tidak diketahui Satria, dan bahkan tidak akan pernah dibayangkan olehnya adalah kenyataan yang jauh lebih mengerikan. Tentang identitas aslinya yang di sembunyikan.
Di mata Satria, Mohan masih terlihat sama, pemuda pendiam, sederhana, terlihat lembut dan hampir terkesan cupu seperti biasa.
Namun sesuatu telah berubah. Aura yang tadinya samar dan tertutup, kini meledak keluar sepenuhnya, berat, pekat, menekan, dan memancarkan wibawa seorang pemimpin yang ditakuti banyak orang, kekuasaan yang tak terlihat oleh mata biasa, namun terasa hingga ke tulang sumsum.
Satria menunduk dalam, tidak mengerti mengapa keringat dingin tiba‑tiba membasahi seluruh tubuhnya, mengapa rasanya ia berdiri di hadapan sesuatu yang jauh lebih besar dan berbahaya daripada yang ia bayangkan. Ia tidak tahu siapa Mohan sesungguhnya, tidak tahu bahwa ia baru saja membangkitkan binatang buas yang selama ini dikurung rapat demi kedamaian.
Mohan melangkah mendekat, menatap lurus ke dalam mata Satria, membuat pemuda itu membeku di tempat.
“Siapa pun yang berani mendekati milikku, tidak akan menemukan tempat untuk bersembunyi, bahkan di ujung dunia sekalipun" ucapnya dingin. Di sudut ruangan, Dewi pun memandang dengan ekspresi ketakutan.
Tanpa penjelasan lebih lanjut, Mohan berbalik badan. Pintu ruang UKS terbuka dan tertutup kembali, meninggalkan Satria yang masih tertegun, bertanya‑tanya pada dirinya sendiri: Siapa sebenarnya pemuda yang baru saja ia hadapi?
Dan di luar sana, di tengah guyuran hujan yang makin deras, Mohan mengangkat ponselnya sekali lagi. Kali ini suaranya benar‑benar dingin, tanpa belas kasihan sedikit pun.
“Bersihkan semuanya!” perintahnya mutlak, suaranya terasa berat.
Ia melangkah menembus hujan dengan wajah merah padam. Dinginnya malam itu tak sanggup mendinginkan amarah yang membara di dadanya, apalagi menghangatkan hatinya yang terasa membeku. Dalam lamunannya, bayangan masa lalu perlahan kembali menyapa.
FLASHBACK ON
Seorang gadis kecil menangis, meringkuk dan menggulung tubuhnya di sudut ruangan. Di tangannya tergenggam erat selembar kertas putih, terlukis sebuah pohon bunga raksasa yang tampak begitu indah.
“Jangan takut, ada aku di sini,” ucap seorang anak laki-laki lembut di sampingnya. “Sini, buka matamu! Mereka sudah pergi.”
Gadis kecil itu mengintip keadaan lewat sela-sela jarinya, baru berani menatap lurus ke depan setelah memastikan keadaan aman. Wajah polosnya, pancaran matanya yang jernih, serta jejak air mata yang masih membasahi pipinya, terlihat begitu menggemaskan di mata anak laki-laki itu.
Ia mendekat, mengusap lembut sisa basah di pipi gadis itu, menenangkan dan menanamkan rasa aman. Lalu membisik lirih tepat di samping telinga: “Jangan takut, aku janji akan melindungimu sampai kapan pun.”
Mendengar kalimat itu, gadis kecil perlahan mendekat, lalu mendekap erat tubuh anak laki-laki itu. Usapan lembut di punggungnya adalah tanda terima kasih dan rasa percaya yang tulus.
FLASHBACK OFF
“Maaf… kali ini aku gagal menjagamu,” bisiknya lirih, terhanyut dalam rasa sesal.
Di sisi jalan, ia memungut dua kelopak bunga tabebuya berwarna kuning dan merah muda. Menatapnya lekat, lalu menggenggamnya erat seolah memeluk kembali kenangan masa silam.
FLASHBACK ON
Sore itu, gadis kecil menarik lembut tangan anak laki-laki menuju sudut taman. Wajahnya terlihat sedikit kesal, lalu ia mengeluarkan sisir kecilnya, merapikan rambut temannya dengan sangat teliti, mengancingkan kemejanya hingga rapi di kerah, lalu tersenyum puas melihat hasilnya.
“Kenapa mendandaniku seperti ini?” protes anak laki-laki itu, meski tetap diam dan patuh.
“Aku nggak suka kamu yang tadi.”
“Kenapa? Kan tampan.”
“Enggak… begini saja. Nanti kalau terlihat terlalu menarik, banyak yang melirikmu, aku nggak suka.”
Anak laki-laki itu hanya mengangguk patuh, tanpa benar-benar mengerti maksud gadis kecil itu. Ia menatap pantulan dirinya di air kolam, lalu terkejut sendiri.
“Aduh… jadi terlihat seperti anak cupu begini?”
“Enggak kok! Kamu tetap tampan di mataku. Dan tetap paling keren, karena selalu melindungiku,” ucap gadis itu polos, lalu kembali mendekap bahunya.
“Ini untukmu,” lanjutnya sambil menyodorkan selembar kertas. Di atasnya terlukis indah pohon bunga tabebuya.
“Apa ini lukisan?”
“Itu pohon bunga raksasa… namanya… eh, aku lupa, tapi aku sangat menyukainya.”
“Kalau kamu suka, kenapa malah memberikannya padaku?”
“Supaya kamu tidak pernah lupa apa yang aku sukai. Hehe...”
“Kalau begitu… apakah kamu mau suatu hari nanti aku tanamkan pohon sebesar ini untukmu?”
“Mau! Sangat mau!”
“Tunggu sampai kita besar dulu, ya. Pohon ini tumbuh menjadi raksasa, hanya untuk orang dewasa, bukan untuk anak-anak.”
“Iya, aku akan menunggumu.”
FLASHBACK OFF
Mohan menghentikan langkahnya tepat di depan kamar Naysilla, setelah bayangan masa lalu berputar di kepala.
Ia masih orang yang sama, patuh pada aturan nyeleneh gadis itu, ia kembali datang sebagai perisai untuk nya, ia kembali datang untuk memenuhi janji masa kecilnya. Tapi hati kecilnya berteriak lantang, seakan protes dengan keadaan.
"kenapa dirimu seakan lupa dengan semuanya? Kenapa dirimu seakan tak mengenali sosokku?" Bisiknya lirih dalam hati.
cupu tuh apaan ?