NovelToon NovelToon
KALA CEO LAPUK JATUH CINTA.

KALA CEO LAPUK JATUH CINTA.

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Komedi / Romantis
Popularitas:17.2k
Nilai: 5
Nama Author: Ramanda

Di usia 35 tahun, Ghufran Arfathan sukses besar memimpin GA Corp. Baginya, wanita hanyalah pengganggu kesuksesan, membuatnya tak peduli dicap "bujang lapuk". Ia percaya harta bisa membeli segalanya, termasuk wanita.

Namun, keyakinan itu runtuh saat ia mengunjungi sebuah desa dan terpikat oleh Zhawa Khalisha (22 tahun). Berbeda dari wanita kota, Zhawa tampil bersahaja dengan gamis longgar dan hijab. Terpesona, Ghufran mencoba menaklukkan hati Zhawa menggunakan kekayaannya lewat berbagai hadiah fantastis.

Sayangnya, Zhawa menolak mentah-mentah karena ia telah memiliki tunangan. Penolakan itu menjadi tamparan keras bagi ego sang miliarder. Ghufran kini sadar, berlimpahnya harta di rekening bank ternyata tidak berdaya di hadapan kesetiaan seorang gadis desa. Perjuangan konyol sang CEO lapuk demi mengejar cinta pertamanya pun dimulai!

Yuk ikuti kisahnya si 'Bujang lapuk' dan jangan lupa berikan dukungannya untuk Author Ramanda ya, terimakasih 🙏🏻.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ramanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KEPANIKAN SI BUJANG LAPUK.

Ghufran langsung menyusupkan kedua lengannya ke bawah tubuh Zhawa, mengangkat gadis itu dalam satu hentakan kuat. Wajah sang CEO kini sudah tidak ada wibawanya sama sekali, berganti pucat pasi laksana kertas kuarto.

"Doni! Buka pintu mobil! Cepat, Don!" teriak Ghufran histeris pada asisten pribadinya yang kebetulan baru keluar lobi. "Kita ke rumah sakit sekarang! Nyawa orang ini, Don!"

Doni yang kaget setengah mati langsung berlari tunggang-langgang membukakan pintu kursi belakang mobil SUV. Ghufran melompat masuk sambil memangku tubuh ringkih Zhawa, sementara Doni langsung menginjak pedal gas dalam-dalam hingga ban mobil mencicit keras membelah jalanan kota menuju rumah sakit terdekat.

Sesampainya di selasar gawat darurat, Ghufran kembali berteriak heboh layaknya bapak-bapak yang istrinya mau melahirkan. "Suster! Dokter! Ini ada yang pingsan! Tolong cepat, bawa brankar! Jangan lambat-lambat, cepat Sus!"

Para perawat yang melihat seorang pria berjas mahal berteriak panik langsung bergerak cepat membawa ranjang dorong dan membawa Zhawa ke dalam ruang tindakan. Ghufran tertahan di luar, berdiri dengan kaki lemas dan tangan yang gemetar hebat. Ia terus berjalan mondar-mandir di depan pintu laksana setrikaan rusak.

Melihat bosnya sudah kehilangan akal sehat, Doni berinisiatif menjauh sedikit lalu meraba saku celananya untuk menghubungi Rian. Doni tahu persis, hanya Rian yang punya jimat penjinak untuk menenangkan Ghufran jika mode panik akutnya sudah kumat. Hubungan mereka memang unik, sering berdebat sampai urat leher keluar, tapi sepuluh menit kemudian sudah bisa merangkul sambil tertawa lagi.

"Halo, Pak Rian? Tolong segera ke Citra Hospital sekarang, Pak," bisik Doni di telepon dengan nada rahasia. "Pak Bos sedang panik kuadrat ini. Ada wanita yang pingsan di depannya tadi."

Di seberang telepon, Rian mengernyitkan dahi sembari menjauhkan ponsel dari telinganya. "Aih, maneh jangan bercanda, Don! Ghufran panik karena wanita? Mustahil pisan! Eh, tunggu dulu... Don, apakah wanita itu memakai hijab?"

"Iya, Pak. Berhijab," jawab Doni cepat.

"Astagfirullah, alamat kiamat ini mah! Oke, gue meluncur sekarang!" Rian langsung memutus sambungan telepon sepihak, menyambar kunci mobil, dan tancap gas menuju rumah sakit yang disebutkan.

Begitu Rian sampai di lorong rumah sakit, pemandangan pertama yang ia tangkap adalah Ghufran yang sedang duduk menunduk dalam-dalam di kursi tunggu dengan rambut yang sudah acak-acakan karena frustrasi. Rian melangkah santai, lalu menepuk pundak kokoh sahabatnya itu dengan keras.

"Woy, Fran! Kenapa Lo jadi seperti ayam sayur begini, hah?" tanya Rian blak-blakan.

Ghufran mendongak, matanya menyiratkan kecemasan yang mendalam. "Aku juga tidak tahu, Yan. Zhawa tiba-tiba saja pingsan tepat di depan lobi perusahaan gue."

Rian langsung mengambil posisi duduk di sebelah Ghufran, melipat tangannya di dada dengan wajah penuh selidik. "Mengapa dia bisa ada di sana? Apakah dia sengaja datang karena masih berharap Lo nikahi, Fran? Hayo, ngaku!"

"Bukan begitu, Rian. Justru situasinya kacau karena mantan tunanganku, Renita, tiba-tiba datang ke kantor," keluh Ghufran sembari memijat pelipisnya yang mendadak pening.

Rian terkejut hingga badannya melonjak sedikit dari kursi. "Harababah! Mau apa lagi itu wanita ular datang kemari?"

"Dia menuntut perjodohan lama kami dilanjutkan. Nah, saat gue mau memarahinya, gue tidak sengaja melihat pantulan Zhawa di kaca lobi sedang berjalan di belakang gue. Karena gua ingin Zhawa menjauh seutuhnya dan tidak merasa berutang budi lagi, gua sengaja berlagak menerima Renita. gua bahkan merangkul pundak Renita di depan mata Zhawa," cerita Ghufran dengan nada menyesal.

Rian langsung menepuk jidatnya sendiri dengan keras. "Aduh, Ghufran! Maneh mah bodoh atau bagaimana, sih? Terus, Zhawa bagaimana?"

"Dia langsung berbalik pergi sambil menangis. gua pikir dia sudah pulang naik taksi, makanya setelah itu gue langsung mendorong Renita, memakinya habis-habisan, lalu menyuruh satpam mengusirnya dari gedung. Tapi ternyata, Zhawa malah balik lagi ke lobby. Begitu dia melihat mukaku yang sedang mengamuk, dia mendadak pucat lalu limbung begitu saja," jelas Ghufran panjang lebar.

Rian spontan tertawa renyah, menggeleng-gelengkan kepalanya melihat drama picisan sahabatnya. "Mungkin dia syok berat, Fran. Dia pasti berpikir, 'Gusti Nu Agung, ternyata calon suamiku ini kejam pisan dan punya bakat jadi psikopat'."

Ghufran mendengus kesal, memalingkan mukanya yang memerah. "Ah, bodo amat! Malah bagus kalau dia berpikir sembarangan tentang diri gue, biar dia tidak perlu terpaksa menyerahkan dirinya hanya untuk balas budi."

Tak lama kemudian, pintu ruang tindakan terbuka. Seorang dokter pria paruh baya melangkah keluar sembari melepas masker medisnya. Ghufran yang melihat keberadaan dokter tersebut langsung melompat dari kursinya, menyambar lengan sang dokter dengan mode wajah yang teramat cemas.

"Dokter! Bagaimana keadaan dia? Dia tidak apa-apa, kan? Tolong katakan dia selamat, Dok!" cerocos Ghufran tanpa titik koma.

Dokter tersebut tampak kebingungan, lalu membetulkan letak kacamata minusnya. "Maaf, Tuan. Anda ini siapanya pasien, ya?"

Ghufran seketika tergagap, lidahnya mendadak kelu untuk menjawab. "Eh... itu... dia... dia teman saya, Dok."

Rian yang berdiri di belakang Ghufran langsung menimpali dengan senyuman jahil. "Iya, Dok. Teman tapi sangat sayang ini mah. Tolong jelaskan saja kondisinya, Dok, biar jantung teman saya ini tidak copot di lantai rumah sakit."

Dokter itu tersenyum maklum lalu mengangguk. "Baiklah. Pasien sebenarnya hanya mengalami penurunan kadar gula darah yang cukup drastis atau hipoglikemia. Sepertinya dia juga terlalu lelah, kurang istirahat, ditambah lagi ada indikasi mengalami syok berat atau terlalu banyak pikiran. Untuk saat ini, pasien membutuhkan istirahat total secara intensif."

"Lalu apa yang harus saya lakukan, Dok? Makanan apa saja yang boleh dia makan? Apakah perlu saya pesankan makanan organik dari restoran bintang lima?" tanya Ghufran bertubi-tubi dengan raut muka yang luar biasa panik, bahkan tangannya sibuk mencari menu makanan sehat di ponselnya.

Rian yang menyaksikan tingkah konyol sahabatnya itu hanya bisa menahan tawa sampai bahunya berguncang. Di dalam hatinya, Rian tahu betul bahwa harga diri dan gengsi Ghufran yang setinggi langit itu sebenarnya sudah runtuh tak tersisa jika sudah menyangkut keselamatan Zhawa, cinta pertamanya yang belum selesai.

Rian menepuk-nepuk punggung Ghufran dengan gaya meledek. "Kalem, Fran, kalem. Jangan memalukan GA Corp di depan dokter atuh. Maneh ini bos besar, tapi kenapa jadi seperti remaja yang baru pertama kali pacaran begini?"

Ghufran langsung melotot tajam ke arah Rian. "Diam kamu, Rian! Aku serius bertanya pada dokter, bukan sedang bercanda!"

Rian hanya menjulurkan lidahnya, sama sekali tidak takut dengan gertakan Ghufran. Di dalam benaknya, sebuah rencana matang mulai tersusun dengan rapi. Rian bertekad di dalam hati, gimanapun caranya, si Bujang Lapuk gengsian ini harus bersatu dengan Zhawa. Mereka hanya butuh sedikit dorongan agar tidak terus-terusan terjebak dalam kesalahpahaman yang menguras emosi.

1
Nana Biella
penyesalan datang kan
Radya Arynda
sadar fran ghufran,,,,dholim sama istri itu yang parah
Nana Biella
lanjutkan
Radya Arynda
akhirnyaaa bangun juga,,,,ya zhawa di angurin biar aja bebas cari suami yang mencintainya
Ira Imel
di balik cuek bebe nya
Radya Arynda
mantap rian,,,biar ghufan bangun nanti sydah tidak menyalahkan mi
Nana Biella
ternyata si keponakannya sendiri
Enny Suhartini
semangat Rian 👍
Enny Suhartini
Alhamdulillah berlanjut lagi cerita nya
terimakasih
Indriani Kartini
dzolim sih sama istri jdi usahanya hmpir bangkrut
Radya Arynda
semogah saat kamu bangun nanti sudah ngaak sombong dan angkuh lagi fran ghufran
Ira Imel
menurutku cerita ini sangat menarik ada sedih ketawa keluargah bahkan sangat menghibur
Ira Imel
kejutan inmah yeyeyehhh di lanjut😄
Indriani Kartini
sombong bngt kamu, ktanya dah tobat, masa masalh seoerti itu aja ga termaafkan dasar bujang lapuk
Rima R P
alhamdulilah di lanjut lagi semangat thor😍
Radya Arynda
haguh ghufran,,,kamu akan menyesal kalau udah bangkrut Bari tau rasa
Rohmi Yatun
ehh ternyata dilanjutkan lg ni novel.. makasih Thor.. semangat ya👍💪
Indriani Kartini
klau jodoh ga akan ke mana
Siti Hawa
kasihan jahwa gufran pora2 ga pefuli
Siti Hawa
jahra harus bersabar menunggu gunung es cair
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!