NovelToon NovelToon
Cinta Ditolak Sebab Status

Cinta Ditolak Sebab Status

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Diam-Diam Cinta / CEO
Popularitas:375
Nilai: 5
Nama Author: Bila Official

Aurel, gadis sederhana dari desa Kembang, datang ke Jakarta demi menggantikan ibunya yang sakit. Hidupnya berubah saat ia bekerja di rumah keluarga kaya dan tanpa sengaja terlibat dalam kehidupan Arvano—pria dingin yang tak peduli wanita selain ibunya.

Perasaan yang seharusnya tidak ada— justru tumbuh di antara mereka.

Namun perbedaan status menjadi tembok besar yang memisahkan. Penolakan, penghinaan, dan masa lalu yang tersembunyi mulai menguji hubungan mereka.

Saat semuanya perlahan membaik dan kebahagiaan hampir tergenggam— sesuatu yang tak terduga terjadi.

Aurel menghilang.
Diculik oleh seseorang yang ingin menghancurkan hidupnya.

Dalam keputusan dan waktu yang terus berjalan, Arvano harus memilih—
Menyelamatkan wanita yang ia cintai?
atau kehilangan segalanya untuk kedua kalinya?.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bila Official, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17. Nonton Bareng

Pagi itu rumah keluarga Argas terasa jauh lebih santai dibanding biasanya. Hari libur membuat suasana rumah tidak terlalu sibuk. Tidak ada suara langkah tergesa-gesa menuju kantor, tidak ada panggilan rapat dari telepon Bagaskara, dan tidak ada suara mobil keluar sejak pagi.

Matahari bersinar cerah dari balik jendela besar rumah, udara terasa hangat, dan entah kenapa, hari itu hati Aurel juga terasa lebih ringan.

Sejak resmi berpacaran diam-diam dengan Arvano, hidupnya terasa berubah perlahan. Hal-hal kecil yang dulu terasa biasa sekarang bisa membuatnya tersenyum sendiri. Dari mulai panggilan “sayang”, tatapan Arvano, perhatian kecil pria itu. Semuanya terus teringat di kepala Aurel sejak bangun tidur tadi.

Aurel harus tetap bersikap normal, karena hubungan mereka masih rahasia, dan itu berarti, mereka harus pandai berbohong.

Seperti biasa, pagi itu Aurel membantu Feni di dapur. Ia memotong sayur sambil sesekali mengaduk sup hangat di atas kompor.

Sementara Feni sedang menggoreng ayam.

“Bi Feni, garamnya di mana?”

“Di samping kecap.”

“Oh iya.” Aurel mengambil garam sambil tersenyum kecil.

Suara langkah kaki terdengar dari belakang, Aurel langsung refleks menoleh. Seperti biasa jantungnya langsung berdebar.

Arvano masuk ke dapur dengan kaus hitam santai dan celana training abu-abu. Rambutnya sedikit berantakan seperti baru bangun tidur. Karena hari ini libur, Arvano terlihat jauh lebih santai dibanding biasanya.

Feni langsung menoleh. “Tumben bangun pagi.”

“Hm.” Arvano mengambil air dingin dari kulkas.

Namun tatapannya diam-diam mencari Aurel, dan saat mata mereka bertemu, sudut bibir Arvano langsung sedikit terangkat.

Aurel buru-buru menunduk malu.

“Mas Arvano, mau sarapan sekarang?” Tanya Feni.

“Nanti aja.” Arvano menjawab santai.

Arvano mendekati meja dapur tempat Aurel berdiri.

“Aurel.”

“I-iya?”

“Nanti malam ikut aku.”

Deg.

Aurel langsung panik. “Hah?!”

Feni langsung menoleh heran. “Ikut ke mana?”

Arvano menjawab santai sekali. “Belanja.”

“Oh…” Feni mengangguk polos lalu kembali memasak.

Sementara Aurel gugup.

Arvano lalu mendekat sedikit dan berbisik pelan,

“Nonton bioskop.”

Jantung Aurel langsung berdetak tidak karuan. “Mas…”

“Nanti malam habis kerjaan kamu selesai.”

Aurel langsung gugup setengah mati. “Kalau ketahuan gimana?”

“Makanya diam-diam.”

Dan tanpa menunggu jawaban lagi, Arvano langsung keluar dapur sambil membawa air minumnya. Meninggalkan Aurel yang masih bengong sendiri.

Aurel benar-benar tidak fokus. Tangannya memang bekerja seperti biasa. Menyapu, mengepel, mengelap meja. Namun pikirannya terus memikirkan satu hal yaitu Bioskop.

Ia belum pernah pergi ke bioskop berdua dengan laki-laki, apalagi dengan Arvano.

Wajah Aurel langsung memerah sendiri setiap memikirkannya.

Sementara di sisi lain, ada rasa takut yang terus mengganggu. Bagaimana kalau ketahuan?Bagaimana kalau Indah atau Bagaskara curiga?

Bagaimana kalau Erika tahu?

Namun meski takut, jauh di dalam hatinya. Aurel juga sangat bahagia, karena Arvano benar-benar serius menjalani hubungan mereka.

Semua pekerjaan rumah akhirnya selesai. Feni sedang duduk sambil melipat kain di ruang belakang. Sementara Aurel berdiri gugup di dekat pintu dapur.

Aurel terus memainkan ujung bajunya sendiri. “Bi…”

“Hm?”

“Itu… malam ini saya mau keluar sebentar.”

Feni langsung menoleh. “Mau ke mana?”

Aurel langsung gugup, Akhirnya berkata cepat,“Mau ketemu teman SMA saya.”

“Oh? Yang di Jakarta itu?”

“Iya… Tara.”

Feni mengangguk pelan. “Pulang jangan malam-malam.”

“Iya, Bi.” Aurel langsung menghela napas lega kecil.

Namun sebenarnya, hatinya sedikit tidak enak karena berbohong.

Sementara itu di kamar lantai atas, Arvano sedang duduk di sofa sambil memainkan ponselnya. Tak lama kemudian, ponselnya berbunyi.

Grup sahabatnya.

Alga : “Libur malah ngilang.”

Fero : “Jangan bilang lagi sama Aurel.”

Devon : “Fix jatuh cinta parah.”

Arvano langsung menghela napas malas, lalu mengetik cepat, pesannya.

Arvano: Nanti kalau keluarga gue nanya, bilang aja gue nongkrong sama kalian.

Alga: HAHAHA serius banget bohongnya.

Devon: Bioskop ya?

Fero: Awas ketahuan Om Bagaskara.

Arvano: Bacot.

Alga : “Tenang aja. Kita bantu.”

Arvano akhirnya tersenyum tipis, untuk pertama kalinya, sampai harus meminta bantuan teman-temannya demi menyembunyikan hubungan dengan seseorang. Dan anehnya, temannya tidak keberatan sama sekali.

Malam akhirnya datang. Lampu kota Jakarta mulai menyala terang. Udara malam terasa lebih ramai dibanding desa tempat Aurel berasal.

Aurel keluar rumah pelan-pelan setelah berpamitan lagi pada Feni. Jantungnya benar-benar tidak tenang. Dan begitu sampai depan gerbang, Ia langsung melihat mobil hitam Arvano sudah menunggu di luar.

Kaca mobil terbuka pelan. “Masuk.”

Aurel buru-buru masuk sambil melihat sekitar takut ketahuan. Begitu duduk, Ia langsung menatap Arvano dengan gugup. “Deg-degan.”

Arvano tertawa kecil. “Kenapa?”

“Takut ketahuan.” Sahut Aurel dengan ketakutannya.

“Ada aku.” Jawaban sederhana Arvano langsung membuat hati Aurel hangat lagi.

Mobil pun melaju meninggalkan rumah. Dan sepanjang perjalanan, Aurel terus melihat keluar jendela dengan mata berbinar.

Jakarta malam hari terlihat sangat indah baginya. Gedung tinggi, lampu jalan, keramaian kota. Semuanya terasa seperti dunia lain.

Arvano diam-diam memperhatikan ekspresinya. Dan tanpa sadar, Arvano tersenyum sendiri.

Begitu sampai di bioskop.

Aurel langsung terpana. “Bagus banget…”

Arvano menahan senyum kecil. “Kampungan.”

Aurel langsung manyun. “Aku kan belum pernah.”

“Makanya aku ajak.”

Jantung Aurel langsung kembali berdebar. Mereka akhirnya masuk membeli tiket. Dan karena takut ketahuan, Arvano memilih bioskop yang cukup jauh dari rumah.

Saat duduk di dalam studio, Aurel terlihat sangat gugup. Tangannya menggenggam popcorn terlalu erat. Sementara layar besar mulai menyala.

Namun jujur saja, Aurel tidak terlalu fokus pada filmnya. Karena sejak tadi, Ia sadar tangan Arvano perlahan mendekat ke tangannya.

Arvano menggenggam tangannya pelan. Aurel langsung membeku dengan wajahnya yang memerah total. “Mas…”

“Hm?”

“Orang-orang…”

“Biarin.”

Aurel langsung tidak bisa fokus lagi sampai film selesai.

Mereka keluar bioskop hampir tengah malam. Udara malam terasa dingin. Namun hati Aurel justru terasa hangat.

Aurel masih sulit percaya dengan dirinya, yang hanya gadis desa biasa, bisa berjalan berdampingan dengan Arvano seperti ini.

Dan lebih anehnya lagi, Arvano benar-benar memperlakukannya seperti orang paling berharga.

Saat di parkiran, Arvano tiba-tiba berhenti berjalan. “Aurel.”

“Iya?”

“Kamu bahagia?” Pertanyaan Arvano membuat Aurel menatapnya pelan, lalu tersenyum kecil.

“Iya.” Jawaban sederhana Aurel entah kenapa membuat dada Arvano terasa penuh.

Arvano langsung mengusap pelan kepala Aurel. “Bagus.”

Mereka akhirnya pulang larut malam. Untungnya, rumah sudah sepi. Lampu ruang tamu dimatikan. Semua orang tampaknya sudah tidur.

Aurel menghela napas lega. “Untung enggak ketahuan.”

Arvano tersenyum kecil. “Aku bilang apa.”

Mereka masuk diam-diam dari pintu belakang. Namun saat Aurel hendak masuk ke kamarnya, Arvano tiba-tiba menarik pelan tangannya.

Aurel langsung menoleh gugup. “Mas?”

Arvano menatapnya beberapa detik, lalu berkata pelan, “Makasih udah mau ikut.”

Jantung Aurel kembali berdebar. “Hmm.”

Arvano Kekamarnya, lalu tidur. Sedangkan Aurel langsung menutup pintu, kemudian berbaring dan ketiduran.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!