NovelToon NovelToon
Milly Sang Pelihat Terakhir

Milly Sang Pelihat Terakhir

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Mata Batin / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:541
Nilai: 5
Nama Author: Liza Navy

Kehidupan Milly yang tenang di sebuah kota kecil, Glenmore, perlahan mulai berubah menjadi mencekam. Perburuan demi perburuan mengejarnya. Ia harus lari, sejauh mungkin dari rumah, menjauhkan dari nenek Dorothy. Nenek yang mengadopsinya dari panti asuhan.
Pelarian demi pelarian membawanya ke sebuah misteri hidup yang selama ini ia pertanyakan. Siapa dirinya? Darimana asalnya? Kenapa ia memiliki kemampuan yang tidak dimiliki orang sekitarnya? Mengapa mereka mengejarnya?

Akankah takdir akan membawa Milly menemukan jawaban?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Liza Navy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17 Obat yang Ditukar

Di depan pintu gerbang, Milly berpisah dari Alletta, karena arah rumah mereka berbeda. Rumah Alletta ada di pusat kota. Sebenarnya andai ia pulang ke rumah Wayne, mereka bisa berjalan ke arah yang sama. Tapi ia sudah janji pada neneknya, hari ini ia akan pulang ke rumah. Berbeda dari rumah Wayne yang juga berada di pusat kota, rumah Nenek Dorothy ada di pinggir kota.

Wayne menyamakan langkahnya dengan Milly. Mereka berdua berjalan berdampingan sepanjang jalan.

"Kita mampir ke apotek," ujar Wayne menahan langkah Milly. Tak jauh dari tempat mereka memang ada apotek. Itu apotek terkenal di kota kecil Glenmore. Bahkan sebelum Nenek Dorothy lahir, apotek itu sudah berdiri. Apotek itu diwariskan dari generasi ke generasi. Usianya jauh lebih tua dari usia neneknya.

Wayne mengajak Milly masuk ke dalam apotek. Ia menyerahkan copy resep obat Milly yang selalu ia bawa di tasnya.

Mereka diminta menunggu sebentar. Apoteker mengambil copy resepnya obatnya.

Wayne mengajak Milly menepi ke sudut ruangan. Disana ada ruang tunggu dan kursi yang disediakan. Di kaca jendelanya ada emblem gelas kaki dengan tubuh ular melilit pada gelasnya.

"Apa yang dikatakan Alletta di kamar mandi?" ujar Wayne menuntut penjelasan, tanpa basa-basi. Seolah Wayne memang berhak mengetahui sedetail apapun rincian dalam hidup Milly.

"Alletta??" ulang Milly pura-pura bloon. Ia sebenarnya ingin menghindar dari pertanyaan ini.

"Iya Alletta," ujar Wayne menatap Milly tajam. Ia mengangkat dagu Milly. Berdiri di depan Milly, menutup jalan keluar untuk melarikan diri dari pertanyaannya. Punggungnya yang lebar membelakangi counter apotek.

"Aku tahu kamu tahu yang kumaksud. Jangan pura-pura bodoh," tegas Wayne mengunci tatapan Milly.

Milly menepiskan tangan Wayne yang memegang dagunya. Ia sempat berpikir--ahh, tidak satupun bisa lepas dari pantauan Wayne. Bahkan hal sekecil ini yang ia kira bakal lolos, ternyata Wayne menangkapnya. Satu kesimpulan akan Wayne yang dibatinnya--adalah tidak mudah mengakali Wayne.

"Alletta minta maaf, ia ingin rekonsiliasi hubungan kita." Jeda. "Aku percaya Alletta juga punya kesulitannya sendiri," aku Milly terus terang.

"Kesulitan seperti apa?" selidik Wayne. Alisnya seolah menyatu dalam satu garis.

"Alletta katakan dia terguncang karena rumahnya terbakar," beritahu Milly dengan wajah polosnya. Seperti dugaan Wayne, Milly mudah tergerak hatinya oleh belas kasihan.

"Kau percaya?" kernyit Wayne menatap Milly lebih dalam.

Milly hanya membeo. "Percaya apa?"

"Menurutmu?" Wayne tampak sedikit kesal. Milly entah naif atau benar-benar mulia. Terlalu mulia sampai menjadi bodoh. Dikibuli Alletta juga tidak menaruh kecurigaan apapun.

"Percaya pada Alletta??" timpal Milly kembali, dengan tatapan polos.

Wayne menarik sudut bibirnya. Ia tampak sangat menahan diri menghadapi Milly.

"Aku pikir aku dan dia sudah berteman hampir 6 tahun. Sejauh ini hubungan pertemanan kami baik-baik saja. Jadi, apa salahnya jika aku memberi kesempatan padanya sekali lagi. Mungkin kebakaran kemarin memang membuatnya shock," ujar Milly mengutarakan pikirannya.

Wayne menghela nafas panjang. "Gadis bodoh," gumamnya lirih. Padahal ia saja, orang di luar mereka, bisa melihat jika perubahan sikap Alletta menunjukkan itu memang diri Alletta yang asli. Entah disengaja atau tidak, satu lapis dalam diri Alletta terbuka, ia mungkin sedang kehilangan kontrol atas dirinya dan satu topengnya yang dijahit rapi selama ini retak. Herannya, Milly tak menyadari dan dengan naif termakan bualan-nya.

"Nona Milly," suara apoteker memanggil dari mikrofon.

"Obatnya sudah bisa diambil"--desis Milly memberitahu Wayne. Milly berusaha mengalihkan percakapan mereka. Meski ia tidak tahu apa alasannya, tetapi ia bisa merasakan dan melihat dari sikap Wayne, tanpa ditutupi terlihat nyata Wayne tidak menyukai Alletta.

Wayne mengacak rambut Milly, sebelum tubuhnya berbalik ke counter kasir untuk membayar dan mengambil obat Milly.

Milly bersungut kesal merapikan kembali rambutnya. Ia menunggu Wayne menghampirinya, baru bangkit dari tempat duduknya.

Sepanjang jalan berikutnya menuju rumah Nenek Dorothy, mereka tak saling bicara. Hanya berjalan berdampingan. Beberapa kali Wayne menarik tangan Milly ke sampingnya ketika Milly mulai bergerak lebih cepat menjauhi.

Urusan kecepatan, Wayne jagonya--Milly mau tak mau harus mengakui hal itu. Secepat apapun larinya, tak bakal mungkin menandingi kecepatan Wayne.

Huft... Satu tarikan nafas dan desahan berat mengikutinya.

Hari masih terang, ketika akhirnya mereka sampai rumah Nenek Dorothy. Dari jauh Milly sudah melihat siluet Nenek Dorothy yang sedang menyiram tanaman di teras.

"Nenek," seru Milly memanggil girang. Untung di rumah ada nenek, jadi ia bisa lepas sejenak dari Wayne yang seolah tatapan matanya ingin menahannya. Menakutkan, menakutkan--pikirnya. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya sendiri.

Nenek Dorothy tersenyum dan langsung memeluk Milly begitu Milly mendekat.

"Masuk dulu, Wayne," undang Nenek Dorothy mengintip dari balik punggung Milly. Ia melihat Wayne yang tak sedetik pun melepaskan tatapannya dari Milly. Baginya itu wajar--bagi seorang yang kasmaran--bagaimana pun ia cukup senang karena itu berarti Wayne menaruh Milly di hatinya.

Wayne mengangguk setuju. Ia mengalihkan tatapannya kepada Nenek Dorothy. Tangannya kemudian menyerahkan satu kantong plastik berisi sebotol obat kepada Milly. "Jangan lupa minum obatmu," ujarnya perhatian.

Milly mengiyakan. "Terimakasih," katanya lirih. Ia iseng mengeluarkan obat itu dari kantongnya dan membuka botolnya. Matanya menyipit sambil menggoyangkan pelan botol di tangannya.

"Aneh. Warna obatnya kok berubah, sebelumnya warnanya putih," desisnya pada diri sendiri.

Wayne yang sedari tadi memperhatikan tingkah laku Milly mengambil alih botol obat itu dari tangan Milly. Ia ikut mengintip isinya. Obatnya kali ini memang berwarna biru. Ia juga ingat jika sebelumnya warna obat Milly memang putih.

"Aku akan memeriksanya dulu," katanya. Ia menyingkir dari mereka berdua. Lalu melakukan panggilan telepon ke dokter pribadi keluarganya. Ia juga mengirimkan foto isi obat dan label obatnya. Betapa kagetnya ia, ketika dari ujung telepon, dikatakan obat ditangannya itu sejenis racun yang bisa mengambil nyawa seseorang secara perlahan.

"Beraninya mereka," kata Wayne marah besar. Tangannya mengepal kuat menahan emosinya yang hampir meledak.

"Sepertinya urusan ini tidak sesederhana itu," suara dari ujung telepon.

"Maksud dokter?" sahut Wayne bertanya.

"Seperti katamu, mereka apotek terkenal dan terpercaya. Mengganti obat dengan racun bukan urusan sederhana. Ini tindakan beresiko yang mempertaruhkan reputasi mereka. Jadi menurutku orang di balik layar ini, jelas seorang yang mengenal Milly atau dirimu, yang ingin menggunakan tangan mereka buat mencelakai orang di sampingmu," suara di ujung telepon memberi penjelasan panjang lebar.

"Aku akan menyuruh orang menyelidikinya," putus Wayne. Ia akan melakukan panggilan lain begitu panggilan ini ditutup.

"Kirimkan alamat Milly, aku akan mengirim obat yang benar ke alamatnya sekarang," timpal suara di seberang kembali.

"Terimakasih, dok," ucap Wayne sungguh-sungguh.

Sementara itu, Nenek Dorothy sudah mengajak Milly masuk ke dalam rumah lebih dulu. Ia meminta Milly membersihkan diri, mengganti baju dan kembali ke bawah untuk makan bersama.

Milly mengangguk dan mengikuti apa yang dikatakan neneknya.

Wayne baru masuk ke dalam rumah sesudah ia menerima kiriman obat yang benar dari dokter. Ia juga sudah mengirim obat yang palsu itu ke orang kepercayaannya. Ia harus menyelidiki siapa di balik semua ini.

***

1
Devi..
ceritanya seru thor.. gk bisa ditebak alur dan endingnya gmana.. semoga ceritanya terus berlanjut smpai selesai dan byk pembaca yg menikmati cerita ini🤗
Liza Tan: makasii Kak.. terus ditunggu yaa kelanjutannya 🫰🏻😉
total 1 replies
Davina Aurora
cerita nya bagus semangat ka😊🩷
Liza Tan: thank you Kak 🫰🏻💞
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!