Kayla dan Arka terjebak dalam hubungan friends with benefits yang nggak pernah punya arah. Buat Arka, Kayla cuma tempat pulang saat lagi kesepian. Tapi buat Kayla, Arka adalah orang yang diam ia cintai selama bertahun tahun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mahendra Andhika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 17.
Arka melajukan motornya tanpa arah pasti setelah meninggalkan Clarissa di depan hotel. Angin malam Jakarta menerpa wajahnya kasar, tapi itu sama sekali tidak membantu meredakan isi kepalanya.
Yang ada justru semakin berisik.
Tentang Kayla, te ntang foto itu, tentang Clarissa, tentang dirinya sendiri.
Motor sport hitam itu akhirnya berhenti di pinggir jalan layang yang sepi. Arka mematikan mesin, lalu membuka helmnya kasar.
Brak.
Helm itu dilempar asal ke jalan.
Cowok itu mengusap wajahnya frustasi. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Arka merasa hidupnya berantakan. Dan yang paling membuatnya kesal, semua itu karena satu perempuan.
“Tai…” gumamnya pelan sambil menunduk.
Ponselnya kembali ia ambil. Chat terakhir dengan Kayla masih centang satu.
Arka: Lo dimana?
Arka: Angkat.
Arka: Kayla.
Tidak ada balasan, tangannya mengepal lagi.
Padahal dulu, sebelum mereka sejauh ini, Kayla selalu membalas cepat. Bahkan hanya untuk pesan tidak penting sekalipun.
Sekarang?
Kayla seperti benar-benar menghilang dari hidupnya, dan Arka membenci kenyataan itu.
...---...
Sementara itu di minimarket, jam sudah menunjukkan hampir pukul sebelas malam. Kayla baru selesai merapikan rak bagian belakang. Kakinya pegal, punggungnya sakit, dan matanya mulai berat.
“Kamu belom pulang juga?” Kayla berjalan mendekat sambil membawa botol minum dingin.
“Belom.” Dimas masih duduk santai di kursi kasir sambil memainkan korek api.
“Astaga” Kayla menghela napas panjang.
“Sini.” Dimas terkekeh kecil melihat ekspresi lelah perempuan itu.
“Apa?” Kayla mengerutkan keningnya, namun ia tetap mengikuti ucapan Dimas untuk mendekat
Dimas menarik tangan Kayla pelan, membuat perempuan itu duduk di kursi sebelahnya, membuat Kayla sedikit terkejut
“Capek ya?” suara Dimas kali ini lebih pelan.
“Lumayan.” Kayla diam sebentar, lalu mengangguk kecil.
Dimas memperhatikan wajah Kayla beberapa detik. Wajah perempuan itu memang cantik, t
Cowok itu mendecak kecil dalam hati kalimat itu membuat Kayla diam sesaat. Dimas memang selalu seperti ini. Berisik. Tengil. Nyebelin. Tapi selalu ada ketika dia butuh.
...---...
Di Apartment mewah milik keluarga Sebastian, tepatnya di unit tempat Arka tinggal suasana malam justru terasa dingin. Arka baru sampai, cowok itu masuk dengan langkah malas, membuka pintu Rumah tanpa tenaga. Ja hitamnya dilempar sembarangan ke sofa.
Ruangan besar itu kosong, cowok itu berjalan menuju dapur, mengambil air dingin, lalu meminumnya langsung dari botol.
Tatapannya kosong sampai ponselnya bergetar lagi. Nama yang muncul membuat rahangnya mengeras.
Celine calling.
Arka langsung mengangkat.
“Apa?” Suara Arka ketus
“Galak banget.” Suara Celine terdengar santai di seberang sana.
“Lo ngapain ngirim foto itu?”
“Loh? Salah ya?” Celine tersenyum kecil.
“Jangan main-main sama gue, Cel.”
“Main apa?” Celine tertawa kecil.
“Bukannya aku bantu buka mata kamu?”
Arka diam karena sialnyan foto itu memang berhasil menghancurkan moodnya.
“Lo maunya apa?” suara Arka mulai dingin.
“Mau kamu.” Celine bersandar santai di kursi kamarnya.
“Ngga lucu.” Jawaban itu membuat Arka tertawa sinis kecil
“Aku serius.”
“Cari cowok lain.”
“Tapi aku maunya kamu.”
“Gue lagi males ladenin lo.". Arka memejamkan mata sebentar, emosinya sudah terlalu penuh malam ini.
“Aku juga bisa bantu bisnis keluarga kamu.”
“Cukup.” Nada suara Arka berubah rendah tegas.
“Apa pun rencana lo, jangan ikut campur hidup gue.” Setelah itu telepon langsung dimatikan, Celine menatap layar ponselnya beberapa detik. Bukannya marah ia malah tersenyum tipis.
“Semakin susah didapat" gumamnya pelan.
“Semakin seru.”
...---...
Jam setengah dua belas malam, Kayla akhirnya selesai shift. Ia keluar dari minimarket sambil meregangkan tubuh kecilnya jalanan mulai sepi, hanya ada beberapa motor lewat sesekali.
“Yuk.” Dimas langsung berdiri dari motornya.
“Kamu serius nungguin dari tadi?”
“Emang iya.”
Kayla menghela napas pasrah.
“Gapunya kehidupan banget.”
“Punya.”
“Apa?”
“Lo.”
“Gombal mulu.”
Dimas cuma ketawa kecil sambil menyerahkan helm ke Kayla, mereka akhirnya naik motor menuju kost. Di sepanjang perjalanan, Kayla diam sambil memeluk tasnya. Angin malam terasa dingin di kulit. Sampai motor Dimas berhenti di depan gang kost.
“Thanks ya.” Kayla turun pelan
“Dibayar dong.”
“Apa sih?” Kayla tertawa kecil.
“Minimal peluk.”
“Ogah.”
“Yaudah gue ngambek.”
“Dasar bocah.” Kayla memutar mata malas, tapi akhirnya memukul bahu Dimas pelan.
Dimas tertawa puas, namun senyum cowok itu perlahan hilang saat melihat sesuatu di ujung gang. Suara motor terdengar, sebuah motor hitam dan seorang pria dengan ekspresi datar.
Arka.
Wajah Kayla langsung berubah, dadanya terasa berdebar debar seketika.
Arka berdiri diam dengan hoodie hitam dan tatapan gelap yang sejak tadi memperhatikan mereka. Entah sudah berapa lama, merasa ada yang aneh Dimas langsung berdiri didepan Kayla refleks melindungi.
Tatapan Arka turun ke arah tangan Dimas yang hampir menyentuh bahu Kayla. Lalu naik lagi, ke wajah Kayla.
“Seru ya?” Suara Arka rendah. Tapi cukup membuat suasana langsung mencekam.
“Arka…” Kayla menegang
“Gue ganggu?” Cowok itu tertawa kecil tanpa emosi.
Dimas menyipitkan mata.
“Pantesan hp mati.”
Kayla menggenggam tali tasnya pelan.
“Hp aku beneran mati.”
“Terus?” Arka berjalan mendekat perlahan.
“Oh…” Arka mengangguk kecil.
“Jadi lo cowok di foto itu.”
Dimas mengernyit.
“Foto?”
Nada suaranya dingin sekali sampai Kayla langsung terdiam.
Dimas langsung maju selangkah.
kecil sambil menatap Dimas dari atas bawah.
“Lo siapa?”
“Temennya Kayla.”
“Temen?” Arka mengangguk kecil lagi.
“Temen yang pegangan tangan?”
Kayla langsung panik.
“Itu salah paham”
“Gue ngomong sama dia.” Potong Arka lagi tanpa melepas tatapan dari Dimas.
Dimas mulai kesal.
“Terus kenapa emangnya? Kayla bukan cewek lo.”
Kalimat itu berhasil membuat rahang Arka mengeras. Sunyi beberapa detik sampai akhirnya Arka tersenyum tipis. Tapi senyum itu sama sekali tidak terlihat baik, Kayla melihat tatapan Arka benar-benar seperti orang yang siap menghancurkan siapa pun malam itu.
...---...
TO BE CONTINUE