kisah seorang dokter internship yang bertemu dengan seorang polisi yang menurutnya sangat menjengkelkan dan terjebak pernikahan dengannya akibat kejadian suatu malam
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nad Nanad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 17
"Kamu yakin hari ini mau masuk?" Tanya Dean pada Anna yang Sedang berusaha membuka sabuk pengaman yang ia gunakan.
"Iya." Jawab Anna dengan semangat dan setelah sabuk pengamannya terlepas, ia kemudian mengambil almamaternya yang berada di jok belakang.
"Anna masuk dulu ya kak." Ucap Anna sambil membuka pintu mobil lalu tangannya dicekal oleh Dean.
"Kenapa?" Tanya Anna was-was karena pasti Dean ada maunya ini.
"Semangat kerjanya sayang." Ucap Dean membisikkan di telinga Anna.
"Hanya itu?"
"Iya, kenapa? kamu mau lebih? Kalau gitu ini buat nyonya Andrean Prasetya." Dean mencium bibir Anna sekilas.
"Dasar mesum!". Ujar Anna memukul lengan Dean lalu turun dari sana. Dean tersenyum penuh kemenangan saat melihat gadisnya itu kesal padanya, ya Anna memang masih gadis.
Ditengah perjalanan, Anna tak henti-hentinya tersenyum sambil memegang bibirnya dan ia tak segan-segan menyapa suster maupun dokter yang lewat, sikapnya sungguh berbeda hari ini tak seperti biasanya.
"drtttt drtttt". Suara notifikasi chat dari ponsel Anna.
Saat Anna membukanya, ternyata dia lagi.
Anna bingung, untuk apa dia menghubunginya kembali, bukankah pria itu sudah menikah? Dan pasti juga sudah memiliki anak. Ia memutuskan memblokir nomor tersebut agar ia tak kembali diganggu olehnya.
Saat Anna telah sampai di depan pintu ruangannya, disana sudah ada dokter Anggi yang berdiri di hadapannya.
"Kamu yang namanya Anna?" Tanya dokter Anggi dengan sinis.
"Iya." Jawab Anna singkat, dia sudah tau pasti dokter Anggi pasti akan melabraknya.
"Kamu masih dokter internship di sini kan? Jadi jangan banyak tingkah saya gak suka. Kamu tau siapa saya?"
"Tau, dokter Anggita Sari anak dari pak Hanan Dirut Rumah Sakit ini." Jawab Anna tanpa ada rasa takut di matanya.
"Hmm kamu sudah tau kan? jadi jangan macam-macam sama saya, jangan ganggu calon suami saya, Andrean Prasetya." Ucap dokter Anggi dengan menekankan kata 'Calon Suami'.
"Oh calon istrinya pak Dean, yakin banget buk dokter." Ucap Anna tersenyum licik.
"Kamu berani sama saya? Sekarang pun saya bisa kembaliin kamu ke kampus asal kamu, kamu udah tau kan kalau saya punya kekuasaan disini?" Ucap Anggi semakin mengancam Anna,
"Menindas orang dengan kekuasaan yang dimiliki? Cihh sungguh tidak terhormat." Ucap Anna berdecih yang membuat dokter Anggi tidak menyangka bahwa Anna sama sekali tidak takut dengan dirinya.
"Ini peringatan pertama dan terakhir buat kamu, jauhi Dean atau kamu akan menyesal selamanya."
"Atas dasar hak apa anda menyuruh saya menjauhi suami saya sendiri?" Ujar Anna yang membuat dokter Anggi terlonjat kaget.
"Suami?" Tanya dokter Anggi tak percaya.
"Oh iya saya belum memperkenalkan diri sebelumnya pada buk dokter, saya nyonya Andrean Prasetya, kami sudah menikah dan maaf waktu itu tidak mengundang buk dokter Anggi karena saya rasa itu tidak terlalu penting untuk Bu dokter." Ucap Anna sambil memperlihatkan foto pernikahannya dengan Dean di ponselnya.
Anggi hanya diam mematung tak percaya dengan semua ini. Karena sudah tidak ada yang perlu dibicarakan lagi, Anna pun meninggalkan dokter Anggi lalu membisikkan sesuatu di telinganya.
"Kau pikir saya takut padamu? Kau salah memilih lawan." Ucap Anna sinis.
Anna meninggalkan dokter Anggi yang kesal di tempatnya.
***
My Husband💙
[Punten Bu dokter]
[Udah makan belum nih?]
[Kalo belum, makan dulu sana nanti sakit lagi]
[Atau mau saya antarkan lagi?]
^^^[Gak usah kesini, nanti digodain lagi]^^^
Anna membalas pesan dari Dean dengan senyuman yang mengambang walaupun pesannya masih bercentang satu itu artinya Dean sudah tidak aktif.
Tiba-tiba seorang suster masuk ke ruangan Anna.
"Permisi, dokter Anna dipanggil pak Hanan ke ruangan meeting." Ujar suster itu lalu pergi.
Anna mengernyitkan dahinya, untuk apa pak Hanan memanggilnya? Apa karena masalahnya tadi dengan dokter Anggi? Tak ingin menghabiskan waktu berfikir, Anna memutuskan untuk segera ke sana.
Di tengah perjalanan ia bertemu dengan Ify yang ternyata juga dipanggil untuk ke ruangan meeting tersebut. Bukan hanya mereka berdua tetapi semua dokter yang sedang shift pada waktu itu. Berarti ini bukan masalahnya dengan dokter Anggi melainkan hal lain.
Saat Anna dan Ify masuk ke ruangan tersebut, nampak para dokter sudah memenuhi ruangan besar itu mulai dari dokter senior hingga yang masih junior seperti mereka berdua.
Di samping pak Hanan juga sudah ada dokter Anggi yang terus menatap Anna dengan sinis, Anna hanya memutar bola matanya malas tak mau meladeninya.
Saat semua dokter sudah terkumpul semua, Pak Hanan mulai membuka pembicaraan dan tibalah saatnya ia memanggil seseorang untuk diperkenalkan pada semua yang hadir dalam ruangan tersebut.
"Saya mengumpulkan kalian semua disini untuk memperkenalkan seorang dokter spesialis jantung yang akan bekerja bersama-sama dengan kita di Rumah Sakit ini, dokter Aditya Anggara". Ucap pak Hanan yang membuat Anna gemetaran setelah mendengar nama itu diucapkan oleh pak Hanan terlebih lagi saat orang yang disebutkan itu maju mensejajarkan dirinya dengan pak Hanan di sana. Dan benar saja dia, dia yang pernah memberikan warna pada hidup Anna dan dia pula yang membuatnya suram.
Ify yang melihat itu juga lalu menggenggam tangan Anna menyalurkan kekuatan pada sahabatnya itu sambil membisikkan sesuatu di telinganya.
"Jangan lemah, buktikan kalo kamu udah move on dari dia ingat suami kamu Dean!" Ucap Ify di telinga Anna.
Anna hanya mengangguk gugup apalagi saat Aditya mulai berbicara memperkenalkan dirinya.
"Selamat siang semua, perkenalkan nama saya Aditya Anggara kalian boleh memanggil saya Adit atau Aditya. Saya disini akan membantu rekan-rekan sekalian untuk melayani pasien, saya harap bisa bekerja sama dengan baik bersama kalian semua." Suara itu sama persis di telinga Anna saat ia membisikkan kata-kata manisnya dulu bahkan wajahnya tak berubah sedikit pun.
Setelah lamanya memperkenalkan diri, akhirnya acara itu diakhiri dengan sesi salam-salaman antara dokter Adit dengan dokter yang lain. Ify memanfaatkan kesempatan itu untuk membawa Anna secepatnya pergi dari sana.
Ify membawa Anna ke taman belakang rumah sakit, ia lalu menyodorkan sebotol air untuk Anna yang sedari tadi diam.
"Ini minum dulu." Ujar Ify namun Anna masih saja diam hingga Ify menepuk pelan punggungnya dan membuat Anna tersadar.
Sejujurnya jika ia tidak menerima pesan apapun dari Adit ia mungkin tidak secemas ini. Ia bisa saja bersikap bodo amat atau menganggap Adit tidak pernah hadir dalam hidupnya.
Tapi karena pesan yang dikirimkan Adit kemarin membuatnya khawatir, ia tahu betul sikap Adit yang tidak pernah menyerah jika menginginkan sesuatu bahkan sekalipun itu sudah menjadi milik orang lain.
"Adit kemarin chat aku." Ucap Anna datar lalu merogoh sakunya untuk mengambil handphone lalu memperlihatkan beberapa pesan dari Adit yang membuat Ify juga kaget bukankah Adit itu sudah menikah?.
"Kamu gak usah ladenin dia, tindakan kamu ngeblok nomor dia ini udah tepat, jangan salah langkah! Dean suami kamu itu udah nyaris sempurna jangan karena laki-laki brengsek itu rumah tangga kamu jadi hancur."
Anna hanya mengangguk lalu meraih kembali ponselnya untuk memesan ojek online dia ingin segera pulang karena perasaannya masih kacau apalagi jika sampai Adit melihatnya.
"Fy aku pulang duluan ya! jadwal shiftku udah selesai." Ujar Anna lalu melangkah lewat gerbang belakang rumah sakit.
"Maaf ya An Aku gak bisa nganter kamu pulang! Ini juga aku udah telat masuk shiftnya." Ucap Ify merasa tak enak.
"Udah gak apa-apa aku bisa pulang sendiri."
"Kenapa gak telpon suami kamu aja?" Tanya Ify
"Dia kayaknya lagi sibuk aku takut ganggu dia, yaudah kalo gitu aku duluan ya! Abang gojeknya udah nunggu di luar."
***
Anna tidak langsung pulang ke rumah Dean, tetapi ia singgah di rumah lamanya untuk mengambil sepeda motornya sekaligus ia sudah rindu dengan rumahnya itu.
Dan ternyata Satya juga sudah pulang untuk beristirahat jadilah dia bisa melepaskan kerinduan pada abangnya juga.
"Bang sat Anna kangen." Ujar Anna buru-buru melepas helm kemudian berlari ke arah Satya yang baru turun dari kendaraannya.
"Neng! belum bayar neng." Ujar Abang gojek itu yang membuat Anna meringis malu lalu kembali memberi uang pecahan seratus ribuan pada Abang gojek itu.
"Ambil aja kembaliannya bang." Ujar Anna lalu berlari masuk ke dalam rumahnya karena Satya sudah duluan masuk.
Saat Anna masuk,.ia melihat Satya sedang duduk di sofa ruang tengah sambil membuka sepatunya.
"Bang Sat Anna kangen!" Ujar Anna duduk disamping Satya lalu memeluknya dari samping.
Satya memasang wajah cuek, entah ada apa dengan makhluk jadi-jadian yang satu itu. Mungkin dia sedang PMS jadi bad mood,
"Abang kenapa sih nyuekin Anna?" Ujar Anna dengan nada sedih.
"Kamu yang udah lupa sama Abang, mentang-mentang udah nikah gak pernah jengukin Abang lagi."
"Yaa bang sat kangen sama Anna yaaa?"
"KeGRan kamu, pasti udah ketularan sama Dean."
"Anna janji deh tiap pulang kerja Anna mampir kesini." Ujar Anna membujuk Satya agar tidak merajuk lagi.
"Izin dulu sama suami kamu."
"Pasti diizinin."Jawab Anna yakin
Satya menatap wajah Anna nampak jelas ia semburat kekhawatiran di wajah adiknya itu.
"Dek kamu kenapa? kok kayak khawatir gitu?" Tanya Satya curiga.
"Apa gara-gara Dean? kalo memang benar Abang samperin dia sekarang juga." Ujar Satya lagi lalu berdiri dari duduknya.
"Eh nggak kok bang, Anna cuma kecapean aja mungkin lagi banyak kerjaan jadinya gini, Kak Dean baik kok sama Anna." Ujar Anna berusaha menutupi masalahnya dari Satya karena Satya memang dulu sangat tidak suka pada Adit. Ya memang Satya sudah mengenal Adit saat mengantar Anna pulang. Entah kenapa dia tidak menyukainya Adit jika ditanya ia akan menjawab bahwa ia tidak suka dengan tatapan mata Adit,
Aneh memang. Bahkan saat ia tahu bahwa Adit meninggalkan Anna ia mengadakan syukuran 7 hari 7 malam di rumahnya tersebut, dasar bang Sat adeknya sedih malah ngadain syukuran.
"Kalo ada masalah sama Dean, bilang sama Abang nanti Abang patahkan lehernya." Ujar Satya dengan sombongnya.
"Sok-sokan mau patahin leher, diplototin aja waktu itu udah susah nelen ludah." Ujar Anna mengingatkan Satya saat momen lamaran waktu itu ia mendapat tatapan tajam dari Dean yang membuat ia terus menunduk.
"Kan dia atasan abang dek."Jawab Satya menggaruk tengkuknya.
"Bi Ira mana bang?" Tanya Anna mencari sosok Bi Ira
"Bi Ira udah gak kerja disini lagi, dia pulang kampung mau pensiun katanya." Jawab Satya.
"Bi Ira pulang kampung? kok gak ngabarin Anna, pantesan rumah ini berantakan kayak kapal pecah." Anna memperhatikan sekelilingnya yang acak-acakan.
"Kan Abang sibuk jadi gak sempet buat bersihin."
"Bilang aja males."
"Itu kamu tau."
"Anna pengen makan batagor bang, beliin ya."
"Kamu udah ngidam? cepet banget! Gila tuh si Dean belum genap sebulan nikah udah jadi aja." Ucap Satya yang dibalas cubitan di pinggangnya.
"Ngomongin apa hah?"
"Eh gak dek, yaudah Abang beliin sekarang kasian nanti ponakan Abang ileran." Jawab satya lalu bergegas pergi dari sana.
"Ihhh Abang Anna belum hamil." Teriak Anna dari dalam rumah namun Satya sudah tidak terlihat lagi keberadaannya.
Sambil menunggu Satya membeli batagor, Anna berniat membereskan rumah ini dulu, sebelum itu, ia mengirimi pesan pada Dean dulu agar tidak khawatir padanya. Namun pesannya yang tadi pun belum mendapat balasan dari Dean sepertinya pria itu memang benar-benar sibuk.
My Husband💙
^^^[Anna ada di rumah bareng bang Satya]^^^
^^^[Gak usah jemput, Anna mau pulang bawa motor]^^^
Setelah mengirim pesan itu, Anna melanjutkan kegiatannya itu.
To Be Continued ...
Maaf ya upnya telat:)
thor...
knpa g dilanjutin kisahnya Dean sm Anna
👍🤗