NovelToon NovelToon
Checkmate,Papa! : Strategi Sikembar Penguasa Bayangan

Checkmate,Papa! : Strategi Sikembar Penguasa Bayangan

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Genius / Mafia / Reinkarnasi
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Mysterious_Man

"Papa, posisi kakimu salah. Satu inci lagi, dan sensor laser akan membelah jas mahalmu."
Damian Xavier, sang Raja Mafia 'Vipera' yang tak kenal ampun, tidak pernah menyangka bahwa hidupnya akan dikendalikan oleh sepasang kembar berusia 8 tahun. Ia mengira telah menemukan anak rahasianya, namun kenyataannya, ia menemukan dua penguasa bayangan yang sedang mencari 'pion' untuk melindungi ibu mereka.
Leo adalah reinkarnasi sang Marsekal Perang Legendaris yang tewas dikhianati, sementara Lea adalah mantan Profiler Kriminal FBI yang ahli dalam bedah jiwa manusia. Bagi mereka, Damian hanyalah aset strategis yang perlu dijinakkan, dan Qinanti—ibu mereka yang lembut—adalah satu-satunya harta yang harus dilindungi.
Selamat datang di papan catur keluarga Xavier, di mana sang Raja Mafia hanyalah salah satu pion dalam strategi besar anak-anaknya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 26: MELATIH SANG RATU

​POV: LEO (Jiwa Sang Marsekal)

​Logistik adalah jantung dari setiap kemenangan. Tanpa suplai yang tepat, strategi paling jenius sekalipun hanyalah coretan di atas kertas yang akan terbakar oleh api peperangan. Aku duduk di depan barisan monitor yang kini menampilkan skema arsitektur mansion dalam bentuk 3D. Garis-garis merah menandai jalur laser, sementara titik-titik hijau adalah sensor biometrik yang baru saja selesai dipasang oleh unit 'Ghost'.

​"Papa, jika kau masih memegang senjata itu seolah-olah kau sedang memegang tongkat pemukul kasti, lebih baik kau letakkan sekarang sebelum aku memotong anggaran amunisimu," ucapku tanpa menoleh.

​Damian Xavier, pria yang ditakuti oleh seluruh dunia bawah tanah Jakarta, menghela napas panjang. Ia sedang berdiri di sudut ruangan, mencoba menyesuaikan diri dengan sistem bidik holografik yang baru saja kurancang. "Leo, senapan ini memiliki berat yang berbeda dari yang biasa kugunakan. Keseimbangannya terlalu sempurna hingga terasa tidak alami."

​"Itu karena aku telah menghitung gravitasi mikro dan distribusi massa berdasarkan panjang lengan Papa," aku memutar kursi, menatapnya dengan mata abu-abu gelapku yang dingin. "Dunia lama Papa adalah dunia tentang siapa yang lebih cepat menarik pelatuk. Duniaku adalah tentang siapa yang sudah memenangkan perang bahkan sebelum musuh sempat membeli tiket pesawat mereka."

​Aku melangkah mendekatinya. Tubuh kecilku ini memang menyebalkan—aku harus mendongak jauh hanya untuk menatap matanya. "Baron dan Alexander tidak sedang mengirim preman pasar. Mereka mengirim unit 'Gorgon'. Mereka adalah manusia yang sudah dicuci otaknya untuk tidak merasakan takut. Mereka tidak akan berhenti karena Papa menatap mereka dengan aura intimidasi. Mereka hanya akan berhenti jika kepala mereka terpisah dari lehernya dengan presisi nol koma dua milimeter."

​Damian berlutut, menyamakan tingginya denganku. Ada kilat kebanggaan yang aneh di matanya, jenis kebanggaan yang membuat jiwaku yang berumur puluhan tahun ini merasa sedikit... terusik. "Kau benar-benar ingin aku menjadi mesin pembunuhmu, bukan?"

​"Aku butuh perisai yang tidak bisa retak, Papa," jawabku datar. "Karena hari ini, aku akan mulai memindahkan bidak-bidak catur kita ke luar mansion. Kita akan menyerang jalur suplai mereka di pelabuhan. Dan sementara aku melakukan itu, Papa harus memastikan perimeter ini tetap steril. Tidak boleh ada satu pun debu dari London yang masuk ke kamar Mama."

​"Janji seorang prajurit?" tanya Damian dengan senyum miring.

​"Instruksi seorang Marsekal," koreksiku.

​Aku kembali ke monitorku. Detak jantungku stabil di 65 bpm, namun otaku sedang bekerja dengan frekuensi tinggi. Di layar sebelah kiri, aku melihat rekaman CCTV dari kamar Mama. Lea sedang duduk di sana bersama Qinanti. Strategi 'Pembersihan Mental' sedang dimulai.

​“Lea, status psikologis Mama?” tanyaku melalui Shadow Talk.

​“Mama baru saja melewati fase 'Shock'. Sekarang dia berada di fase 'Resilience-Building'. Dia sedang bertanya padaku bagaimana cara mengetahui jika seseorang memegang pisau di balik punggungnya. Dia siap untuk belajar, Kak,” suara Lea berdesir di benakku.

​“Bagus. Jadikan dia bunga mawar yang memiliki duri beracun. Aku tidak ingin dia menjadi variabel lemah dalam perhitungan perang ini,” balasku.

​POV: LEA (Jiwa Sang Profiler)

​Kamar Mama beraroma lavender dan ketakutan yang tersisa. Aku duduk bersila di atas tempat tidur empuk, memangku boneka kelinciku, Mochi. Di depanku, Qinanti—Mama—duduk dengan punggung tegak, namun tangannya yang memegang cangkir teh masih sedikit bergetar.

​"Mama, lihat mata Lea," ucapku dengan suara paling lembut namun memiliki otoritas yang tidak bisa dibantah.

​Mama menatapku. Matanya yang indah masih menyisakan bekas air mata. "Lea... apa yang sebenarnya kalian sembunyikan? Mengapa kalian begitu... berbeda?"

​"Mama, dunia ini adalah tempat di mana kebohongan adalah bahasa utama. Dan orang-orang jahat seperti Baron, mereka menang karena mereka pikir kita tidak bisa membaca bahasa mereka," aku meletakkan Mochi di sampingku. "Mama tidak perlu tahu semua rahasia kami sekarang. Yang Mama perlu tahu adalah: Mama tidak boleh lagi menjadi rusa yang gemetar. Mama harus belajar membaca serigala."

​Aku mengambil sebuah foto dari meja samping tempat tidur. Foto Alexander Xavier yang diambil dari rekaman video kemarin. "Lihat pria ini, Ma. Apa yang Mama lihat?"

​"Dia... dia terlihat sombong. Menakutkan," bisik Mama.

​"Secara makro, ya. Tapi lihat mikro-ekspresinya," aku menunjuk ke arah sudut bibir Alexander yang sedikit turun ke kiri. "Setiap kali dia menyebut nama Papa, otot wajahnya ini bereaksi. Itu bukan benci, Ma. Itu adalah 'Insecurity'. Dia merasa terancam oleh Papa. Dan pria yang merasa terancam adalah pria yang akan melakukan kesalahan fatal jika kita menekannya di titik yang benar."

​Mama tampak tertegun. Ia meletakkan cangkir tehnya, mulai tertarik pada analisisku. "Bagaimana kau tahu semua ini, Lea?"

​"Lea hanya memperhatikan, Ma. Tubuh manusia tidak bisa berbohong sesempurna mulutnya," aku memberikan senyum tipis—senyum yang dulu membuat para kriminal di ruang interogasi merasa telanjang. "Sekarang, mari kita berlatih. Jika seseorang masuk ke ruangan ini dengan senyum yang sangat ramah, tapi bahunya sedikit condong ke depan dan tangannya menyentuh ikat pinggang setiap tiga detik, apa artinya?"

​Mama berpikir sejenak. "Dia... dia ingin menyerang?"

​"Bukan sekadar menyerang. Dia sedang mengonfirmasi posisi senjatanya. Itu adalah gerak gerik 'Pre-Attack Cues'. Mama harus bisa melihat itu dalam hitungan detik. Dan saat Mama melihatnya, Mama tidak boleh lari. Mama harus tersenyum lebih manis, lalu segera menuju ke arah pintu yang sudah Leo siapkan sensor keselamatannya."

​Aku menggenggam tangan Mama. Tangannya terasa hangat sekarang. "Mama, kami mencintaimu. Itulah satu-satunya hal yang murni dari kami. Tapi cinta tanpa kekuatan adalah tragedi. Biarkan kami memberimu kekuatan itu."

​Mama menarik napas panjang, lalu ia memelukku erat. "Maafkan Mama, Lea. Mama terlalu lemah selama sembilan tahun ini. Mama pikir menjauhkan kalian dari Damian adalah solusinya. Ternyata, Mama hanya menjauhkan kalian dari perlindungan yang seharusnya kalian miliki."

​"Mama tidak salah," bisikku. "Mama hanya terlalu baik untuk dunia yang kotor ini. Tapi tenang saja... Lea akan memastikan tidak ada yang bisa membohongi Mama lagi. Kita akan menjadi tim, oke?"

​Mama mengangguk mantap. Aku bisa merasakan perubahan variabel dalam emosinya. Ketakutan itu masih ada, namun kini tertutup oleh tekad yang membara. Transformasi 'Ratu' telah dimulai.

​POV: DAMIAN XAVIER

​Aku berdiri di balkon lantai dua, menatap ke arah gerbang utama mansion yang kini dijaga oleh unit Ghost dengan persenjataan yang bisa meratakan satu batalyon infantri. Di sampingku, Leo sedang berdiri tegak, tangannya terselip di saku celana kainnya, matanya menatap tajam ke arah cakrawala Jakarta yang mulai dipenuhi lampu kota.

​"Papa," ucap Leo tiba-tiba.

​"Ya?"

​"Mengapa Papa mencintai Mama?" pertanyaan itu keluar begitu saja dari mulutnya, datar namun mengandung rasa ingin tahu yang ganjil bagi seorang 'Marsekal'.

​Aku terdiam sejenak. Aku teringat pertemuan pertama kami di galeri seni tua itu, sembilan tahun yang lalu. Qinanti adalah satu-satunya cahaya yang tidak silau oleh kegelapan namaku. "Karena dia adalah satu-satunya orang yang melihatku sebagai Damian, bukan sebagai Vipera. Dia memberikan apa yang tidak bisa dibeli dengan uang atau kekuasaan, Leo. Dia memberikan kedamaian."

​Leo mengangguk perlahan. "Variabel emosi yang tidak logis, namun memiliki daya tahan yang luar biasa. Aku mengerti sekarang mengapa Papa bersedia menjadi 'pion' dalam strategiku."

​"Aku bukan pion, Leo," aku terkekeh pelan sambil menepuk bahunya yang kecil. "Aku adalah bentengnya. Dan benteng tidak akan pernah runtuh selama ada raja dan ratu yang harus dilindungi di dalamnya."

​Leo melirikku, dan untuk pertama kalinya, aku melihat secercah kelembutan di matanya yang dingin. "Diterima, Papa. Status: Benteng Terkonfirmasi."

​Tiba-tiba, jam tangan Leo bergetar. Ia menekan tombol di sisinya, dan sebuah hologram kecil muncul—wajah Marco yang tampak pucat.

​"Tuan Muda, pergerakan terdeteksi di koordinat X-45. Kapal kargo klan pusat sudah merapat di pelabuhan ilegal utara. Mereka menurunkan unit Gorgon. Jumlahnya sekitar lima puluh orang. Mereka membawa peralatan pemutus sinyal kelas militer."

​Wajah Leo seketika kembali menjadi sedingin es. Aura komandonya meledak, membuat udara di balkon itu terasa mencekam. "Sudah waktunya. Papa, ambil senjatamu. Pastikan kacamata termalmu aktif. Aku akan mengalihkan sistem listrik kota di sektor utara untuk memberi kita keunggulan dalam kegelapan."

​"Apa rencanamu, Jenderal?" tanyaku, adrenalin mulai mengalir deras di nadiku.

​"Kita tidak akan menunggu mereka di sini. Kita akan melakukan penyergapan di jalur distribusi logistik mereka," Leo mengeluarkan sebuah kontroler kecil dari sakunya. "Aku sudah menyiapkan 'hadiah' di sepanjang jalan tol. Papa hanya perlu memastikan tidak ada satu pun dari mereka yang kembali ke London untuk menceritakan kekalahan mereka."

​"Laksanakan," jawabku mantap.

​Aku melangkah masuk, melewati kamar Qinanti. Aku melihat melalui celah pintu, Lea sedang mengajarkan Qinanti cara mengunci pintu secara digital dengan kecepatan tinggi. Pemandangan itu membuat hatiku berdenyut aneh—campuran antara ngeri karena anak-anakku tidak normal, dan syukur karena mereka adalah anak-anakku.

​Malam ini, Jakarta akan menjadi saksi. Bahwa klan Xavier pusat melakukan kesalahan terbesar saat mereka mengira bisa merebut apa yang sudah aku miliki. Mereka mungkin punya tentara, tapi aku punya dua penguasa bayangan yang sedang haus akan kemenangan.

​Checkmate, Alexander. Checkmate, Baron.

​Kami tidak sedang bertahan. Kami sedang memulai pemusnahan.

​POV: QINANTI (Mama)

​Aku menatap layar tablet yang diberikan Lea. Di sana, aku bisa melihat denah setiap sudut rumah ini dalam bentuk sensor panas. Titik-titik biru adalah para penjaga kami. Jika ada titik merah yang muncul, itu berarti bahaya.

​"Mama, ingat," suara Lea memecah konsentrasiku. "Jika titik merah muncul di sektor kamarmu, Mama jangan bersembunyi di bawah tempat tidur. Masuklah ke dalam lemari rahasia yang sudah Kak Leo buat, dan jangan buka pintunya sampai Mama mendengar kode suara dari kami."

​"Mama mengerti, Lea," aku menarik napas panjang. Aku menatap putri kecilku yang kini tampak begitu dewasa dengan penjelasan teknisnya. "Lea... apakah Papa akan baik-baik saja?"

​Lea tersenyum, lalu ia memanjat ke pelukanku dan mencium pipiku. "Papa adalah pria terkuat yang pernah Lea kenal, Ma. Tapi Papa menjadi sepuluh kali lebih kuat karena dia tahu ada Mama yang menunggunya pulang. Kak Leo tidak akan membiarkan Papa kalah. Bagi Kak Leo, kekalahan adalah sesuatu yang... tidak efisien."

​Aku tertawa kecil mendengar kata 'tidak efisien'. Itu benar-benar gaya bicara Leo.

​Di luar sana, aku mendengar suara deru mesin mobil yang menjauh. Aku tahu Damian dan Leo sedang menuju ke arah bahaya demi melindungi kami. Selama sembilan tahun aku lari dari kegelapan ini, namun malam ini, aku menyadari satu hal. Kegelapan tidak bisa dihindari dengan cara lari. Kegelapan hanya bisa dikalahkan dengan cara kita menjadi cahaya yang paling terang di tengahnya.

​Aku menggenggam tablet itu erat-erat. Aku bukan lagi wanita yang lari dari Jakarta sembilan tahun lalu. Aku adalah seorang ibu. Dan jika ada yang berani menyentuh anak-anakku atau pria yang kucintai... mereka akan tahu bahwa mawar pun bisa mencabik kulit mereka sampai berdarah.

​"Ayo, Lea. Ajari Mama cara menggunakan sensor ini lagi," ucapku tegas.

​Lea menyeringai—sebuah seringai yang sangat mirip dengan kakaknya. "Itu baru Mamanya Lea! Ayo, kita audit sistem keamanan sektor sayap barat sekarang!"

​Malam itu, di bawah atap mansion Vipera, sebuah keluarga yang rusak tidak lagi sekadar bertahan. Kami sedang bertransformasi menjadi sebuah kekaisaran yang tak tergoyahkan. Dan bagi dunia di luar sana... badai baru saja dimulai.

1
Xenovia_Putri
.ceritanya bagus tpi sayang.q pov char bukan pov author... sorry skipp
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!