"Dasar anak Kunti!"
"Aku bukan anak Kunti! berhenti memanggilku anak Kunti! namaku Kalingga Arsana!"
Kalingga sering di panggil anak Kunti oleh teman temannya dan para warga di tempat dia tinggal, bukan tanpa alasan, itu karena dia lahir dari rahim seorang perempuan yang sudah di kubur.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ridwan01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penyelesaian dari Karman
"Lihat pak, akhirnya Kalingga bisa keluar dari kampung tanpa kesakitan" ucap Kaelan yang pagi itu akan membawa Kalingga pergi lagi tapi bukan ke kampung Mahoni tapi ke makam Maryani.
Usia Kalingga sekarang sudah enam bulan, dia sudah berkeliling ke banyak tempat bersama Kaelan, mulai dari kampung Mahoni, kampung Sukun bahkan Kaelan juga mengajak Kalingga ke resort dengan cara meminjam motor milik Liam supaya dia bisa memangkas waktu lebih pecat.
Kalingga juga terlihat anteng di ajak Kaelan berjalan jalan, mendapatkan banyak hadiah dari orang orang yang dulu jadi rekan kerja Kaelan dan selalu membuat semua orang di kampung Mahoni gemas dengan cara tertawanya, tapi membuat warga kampung cadas takut.
"Kalingga sudah semakin dekat dengan Kinanti, jadi sekarang adalah waktu yang tepat untuk kalian menikah, jangan sampai Kalingga sudah terlalu besar dan dia tidak bisa merasakan kasih sayang seorang ibu" ucap Jamal
"Iya pak, kami juga mau ijin ke Maryani dulu, kami mau berdo'a di sana dan mau mengatakan kalau sekarang Kaelan akan menikah dengan Kinanti" jawab Kaelan
"Ibu sudah dari sana tadi, seperti biasa warga tidak ada yang mau membersihkan makam Maryani tapi makam Maryani selalu bersih, rumput hanya tumbuh di bagian atas makam Maryani, tidak pernah tinggi dan selalu terlihat indah dengan pohon bunga kantil sebagai penanda makam itu" ungkap Saidah
"Tidak apa Bu, kita masih ada, selama mereka tidak sampai merusak makam Maryani Kaelan tidak akan marah" jawab Kaelan
Kaelan berangkat karena hari itu dia harus berangkat ke kampung Mahoni, Kaelan meminta ijin menginap tiga hari pada Narno karena Narno sudah tahu Kaelan akan menikah dengan Kinanti besok.
Awalnya Narno marah bahkan sampai mendatangi Karman di kampung Mahoni untuk protes setelah lamarannya di tolak Karman secara terang terangan dengan alasan Kinanti sudah memiliki calon tapi saat itu Narno tidak tahu kalau Kaelan lah yang akan jadi suami Kinanti.
Kemarahan Narno bahkan bisa di rasakan Kaelan saat mereka saling berhadapan di rumah Karman empat bulan lalu, saat Kaelan datang bersama Jamal dan Saidah untuk melamar Kinanti secara resmi.
Flashback on.
"Saya datang dengan niat baik Mbah, saya juga sangat menghormati Mbah sebagai tetua paling kuat yang pernah saya kenal, tapi kenapa Kaelan? Kaelan adalah warga kampung cadas dan pastinya saya akan melihat dia setiap hari kalau dia yang menikah dengan Kinanti!" ungkap Narno yang saat itu datang bersama Beno untuk melamar Kinanti dan Kaini yang ke dua kalinya setelah dia di tolak sebelumnya.
"Aku tahu Narno, tapi aku juga tidak bisa menarik kembali kata kataku karena Kaelan sudah lebih dulu menyampaikan niat baiknya untuk Kinanti satu bulan lalu" jawab Karman
"Tapi jika Kaelan menikahi Kinanti, saya tidak mengijinkan Kinanti masuk ke kampung cadas" ucap Narno membuat semua orang terkejut
Ada lima tetua kampung Mahoni saat itu, Karman sebagai tetua paling di hormati di sana, Rumi, Abidin, Karna dan Panca. mereka di panggil Karman untuk menyaksikan keputusan yang akan di ambil Karman, karena keputusan di kampung masih akan di ambil para tetua paling di hormati di sana jika ada bentrok ataupun pertikaian di kampung itu.
"Istri harus bersama suaminya Narno" ucap Karman
"Saya tahu tapi saya tidak mau berat sebelah nanti jika melihat Kaelan, dia sudah saya hukum lima tahun tetap tinggal di kampung cadas dan mungkin saya akan menambah hukuman lebih berat lagi kalau Kinanti menikahi Kaelan" jawab Narno
"Kinanti juga menolak kamu Narno" ucap Rumi
"Keputusan anak itu ada pada orang tuanya Rumi" jawab Narno
"Dan aku tidak menerima lamaran kamu" jawab Karman tegas
"Jangan sampai masalah ini jadi alasan buruknya hubungan dua kampung Mbah" ucap Narno
"Itu sebabnya aku menerima Beno untuk menikah dengan Kaini, itu agar dua kampung tetap aman, Kaini bersedia tapi aku tidak bisa mempercayakan dua keturunan dari keluargaku ada di satu rumah, Kinanti itu bibinya Kaini dan dia tidak bisa jadi ibunya Kaini, begitupun kalau Kinanti menikah dengan kamu, Beno tidak bisa menikah dengan Kaini karena aku tidak mau mereka nantinya punya hubungan yang canggung" ungkap Karman dan Narno tidak bisa membalas lagi karena dia juga begitu menyayangi Beno, tidak mungkin dia egois memaksa menikahi Kinanti tapi Beno tidak bisa bersama Kaini.
"Bagaimana? pilih salah satu dari dua keluargaku ini, hanya satu yang bisa kamu bawa, tapi aku juga punya satu perempuan yang sudah siap menikah, dia adalah putri dari tetua di sini juga, adik ipar dari Lintang, Listiani" ucap Karman supaya Narno tidak terlalu kecewa.
"Adik ipar Lintang orang kota itu?" tanya Narno
"Iya, dia selama ini tinggal di kota bersama putra dari Lintang dan sudah kembali dua Minggu yang lalu, usianya dua puluh lima tahun dan dia cocok untuk kamu jadikan istri" jawab Narno
"Pak..."
"Tenang nak, bapak juga tidak akan egois memaksa Kinanti, Kaini sudah pasti akan menikah dengan kamu dan bapak bisa menahan amarah bapak" jawab Narno langsung di peluk Beno yang menangis karena terharu
"Terima kasih pak" ungkap Beno
"Hiduplah bahagia dengan istri kamu nanti" jawab Narno mengepalkan tangannya dengan mata masih menatap tajam Kaelan.
"Maafkan saya Mbah, Kalingga sangat menyukai Kinanti dan mereka sudah seperti ibu dan anak, saya tidak bisa menolak keinginan Kalingga" ungkap Kaelan
"Dia masih bayi" sinis Narno
"Tapi Kalingga akan tenang bersama Kinanti dan itu adalah tanda kalau Kalingga memilih Kinanti untuk jadi ibunya" jawab Kaelan
"Kamu lihat saja dulu Listiani setelah itu baru kamu putuskan" ucap Karman
"Iya kak, jangan sampai karena masalah ini Kinanti jadi dapat masalah di kampung cadas, aku mau adikku hidup tenang di sana" ucap Karna membujuk Narno bahkan merangkul Beno yang masih terharu.
"Baiklah, aku sudah bilang kalau aku akan melamar seorang perempuan ke sini, akan sangat memalukan kalau aku tidak membawa perempuan itu ke kampung cadas nanti" jawab Narno pasrah meskipun hatinya masih terasa panas karena impiannya untuk menikahi Kinanti tidak bisa terwujud.
"Mbah memanggil kami?" tanya Lintang yang datang bersama Laily, Liam dan Listiani.
Lintang, Liam dan Laily dengan sopan mencium tangan Narno dan para tetua di sana, mereka juga tidak duduk di samping para tetua melainkan di hadapan mereka bersama Kaelan yang memangku Kalingga, Kinanti, Kaini dan Aini istri Karna.