Arthur hanyalah bocah tujuh tahun yang ingin hidup tenang di Sektor Tujuh. Namun, dunia tidak mengizinkannya. Di balik tubuh mungil itu, bersemayam jiwa The Sovereign, entitas purba yang mampu menghapus konsep keberadaan hanya dengan satu sentilan.
Arthur tidak butuh ketenaran. Ia hanya ingin memastikan tidak ada yang mengganggu waktu santainya, meski itu berarti dia harus menghancurkan dewa dari bayangan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon By Magus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mahkota yang Tak Terlihat
Langit Sektor Tujuh tidak lagi tampak seperti langit. Di atas sana, hanya ada kegelapan metalik yang membentang sejauh mata memandang. Kapal induk The Arbiter bukan sekadar kendaraan perang, itu adalah sebuah kota terapung yang terbuat dari logam cair yang terus berdenyut, memancarkan cahaya ungu redup dari setiap sambungan pelatnya.
Suara gemuruh rendah yang dihasilkan oleh mesin gravitasi kapal itu membuat udara terasa bergetar, merontokkan butiran debu dari gedung-gedung di bawahnya. Ribuan drone pengintai berbentuk seperti serangga mekanik mulai keluar dari perut kapal, menyebar ke seluruh penjuru sektor untuk memetakan setiap inci kehidupan yang ada.
Di tengah kekacauan itu, Arthur melayang naik. Tubuh mungilnya tampak seperti butiran debu di depan tembok raksasa The Arbiter. Ia tidak menggunakan sayap, tidak juga menggunakan pendorong api. Ia hanya berdiri tegak di udara, seolah-olah ia adalah titik gravitasi baru yang menolak untuk tunduk pada hukum bumi.
"Terlalu besar," gumam Arthur sambil menatap permukaan kapal yang kini hanya berjarak beberapa ratus meter darinya. "Dan terlalu berisik. Kalian benar-benar tidak pernah belajar tentang etika bertamu di planet orang lain."
Arthur bisa merasakan ribuan sensor dari kapal itu sedang terkunci pada dirinya. Di dalam pusat kendali The Arbiter, para Architects pasti sedang kebingungan. Mereka melihat seorang anak kecil kelas dua SD melayang menuju mereka dengan ekspresi bosan, sementara detektor energi mereka menunjukkan angka nol.
Itulah kelebihan Sang Sovereign. Energinya tidak bisa dideteksi oleh mesin karena ia adalah sumber dari energi itu sendiri. Bagai mesin yang mencoba mengukur berat seluruh semesta dengan timbangan buah, teknologi Architects tidak memiliki skala yang cukup besar untuk memahami apa yang sedang mereka hadapi.
Tiba-tiba, permukaan logam The Arbiter mulai berubah bentuk. Ratusan lubang kecil muncul, dan dari sana menyembul laras-laras meriam plasma yang masing-masing berukuran lebih besar dari bus sekolah Arthur.
Tanpa peringatan, meriam-meriam itu melepaskan tembakan serentak. Ratusan kilatan cahaya ungu melesat ke arah Arthur, menyinari langit yang gelap dengan radiasi penghancur yang mampu menguapkan sebuah pulau dalam sekejap.
Arthur tidak menghindar. Ia bahkan tidak mengangkat tangannya. Ia hanya menutup matanya sejenak, membiarkan serangan itu menghantamnya.
BOOM!
Ledakan besar terjadi di udara. Cahaya ungu menelan sosok Arthur sepenuhnya, menciptakan bola api energi yang suhunya mencapai jutaan derajat. Warga Sektor Tujuh yang melihat dari bawah hanya bisa menjerit ketakutan, mengira bahwa apa pun yang mencoba melawan kapal itu baru saja musnah.
Namun, saat cahaya itu meredup, pemandangan yang mustahil terlihat. Arthur masih berdiri di sana, tanpa luka sedikit pun. Piyama birunya bahkan tidak kotor oleh abu. Di sekelilingnya, sebuah lapisan transparan tipis berkilauan, sebuah perisai konsep yang membelokkan seluruh energi penghancur itu ke dimensi hampa.
"Tembakan yang payah," ucap Arthur datar. "Mainan kalian membosankan."
Di dalam ruang kendali kapal, Sang Pemimpin Architects, sebuah entitas tanpa wajah dengan jubah perak, terdengar mengeluarkan suara distorsi yang penuh kemarahan.
"Mustahil! Perisai energi organik kita tidak bisa menembusnya? Aktifkan Singularity Beam! Hapus koordinat itu dari keberadaan!"
Lantai bawah The Arbiter terbuka, memperlihatkan sebuah lensa raksasa yang mulai mengumpulkan cahaya hitam pekat. Ini adalah senjata utama mereka, sebuah laser yang bekerja dengan cara merobek kain ruang-waktu untuk menciptakan lubang hitam buatan di titik sasaran.
Arthur merasakan bahaya yang sebenarnya kali ini. Jika laser itu ditembakkan, Sektor Tujuh di bawahnya akan terhisap masuk ke dalam kehampaan sebelum ia sempat melakukan apa pun. Ia tidak bisa hanya diam sekarang.
Arthur merogoh tas sekolahnya dan mengeluarkan Heart of Gaia. Kristal putih itu bergetar hebat di tangannya, siap melepaskan seluruh cadangan energinya.
"Gaia, berikan aku sedikit pondasi," bisik Arthur.
Ia melemparkan kristal itu ke arah lensa raksasa kapal induk. Kristal itu meluncur perlahan, namun setiap inci gerakannya menciptakan retakan di udara. Saat kristal itu menyentuh permukaan lensa The Arbiter, Arthur menjentikkan jarinya.
TIK.
Bukan suara ledakan yang terdengar, melainkan suara denting kaca yang pecah secara kolosal. Cahaya hijau zamrud meledak dari titik kontak, menyebar ke seluruh badan kapal induk sepanjang tiga kilometer tersebut.
Dalam sekejap, logam cair yang membentuk kapal itu mulai membeku. Struktur gravitasi yang menopang kapal itu runtuh, digantikan oleh hukum fisika bumi yang normal secara mendadak. The Arbiter yang tadinya melayang gagah, kini mulai miring dengan suara decitan logam yang memilukan.
Arthur menggunakan energinya untuk menahan beban kapal itu agar tidak langsung jatuh menimpa kota. Ia menciptakan tangan-tangan gravitasi tak terlihat yang menyangga kapal induk raksasa itu di udara.
"Paman Berbaju Emas," suara Arthur bergema di dalam kepala Valerius melalui jalur telepati kosmik. "Ini giliranmu. Aku sudah mematikan semua mesin mereka. Kapal ini sekarang hanya tumpukan besi tua yang membeku. Datanglah dan tunjukkan pada dunia bagaimana kau 'menjatuhkan' kapal induk ini."
Valerius, yang masih berada di atas kapal induk Armada Kedelapan di laut, tersentak. Ia segera memahami instruksinya. "Pilot! Aktifkan semua pendorong! Kita terbang menuju Sektor Tujuh sekarang juga!"
"Tapi Komandan, kapal induk kita tidak dirancang untuk terbang setinggi itu!" protes sang pilot.
"Lakukan saja! Kemenangan sudah di depan mata!" teriak Valerius, suaranya kini dipenuhi keberanian palsu yang didorong oleh keputusasaan.
Di darat, Silas sedang sibuk mengarahkan drone media. Ia menggunakan wewenangnya sebagai investigator untuk memastikan semua kamera drone terfokus pada arah datangnya Valerius. Ia mengedit metadata siaran secara real-time, memasukkan narasi bahwa GDC telah mengaktifkan Protokol Penumbang Dewa yang dipimpin oleh Valerius.
Arthur melihat dari kejauhan saat Valerius muncul di cakrawala, terbang dengan pendorong roket di punggungnya dan pedang cahaya yang bersinar lebih terang dari biasanya (berkat bantuan energi yang diam-diam disalurkan Arthur dari kejauhan).
"Pose yang bagus, Paman," gumam Arthur sambil tersenyum kecut.
Valerius melesat menuju The Arbiter. Di depan jutaan pasang mata yang menonton siaran langsung, ia mengayunkan pedangnya ke arah pusat kapal. Tentu saja, pedangnya tidak akan cukup untuk memotong kapal sebesar itu, namun saat pedang itu hampir menyentuh permukaan logam, Arthur melepaskan tekanan gravitasinya.
BOOM!
Kapal induk Architects itu terbelah menjadi dua bagian besar, meledak dengan kembang api ungu yang sangat indah di langit sore. Potongan-potongan kapal itu kemudian perlahan menguap menjadi debu cahaya, hasil dari manipulasi molekuler yang dilakukan Arthur agar puing-puingnya tidak menghujani pemukiman warga.
Sorak-sorai pecah di seluruh penjuru bumi. Masyarakat menangis bahagia melihat kapal induk kiamat itu hancur di tangan pahlawan mereka. Nama Valerius diteriakkan di setiap sudut jalan, di setiap rumah, dan di setiap stasiun berita.
Arthur turun perlahan, mendarat kembali di koridor sekolahnya yang sudah sepi. Ia merapikan piyamanya yang sedikit berdebu, lalu mengambil tas sekolahnya yang terjatuh di lantai.
Ia melihat Silas berlari menghampirinya, wajahnya penuh dengan keringat dan kelegaan. "Arthur... kau melakukannya lagi. Kau benar-benar menghancurkan armada utama mereka hanya dengan sebuah kristal?"
"Aku hanya meminjamkan mereka sedikit kenyataan," jawab Arthur sambil mulai berjalan keluar menuju halaman sekolah. "Tapi ini belum selesai, Silas. The Arbiter hanyalah ujung tombak. Architects yang sebenarnya sedang memperhatikan kita dari sisi lain Jembatan. Dan mereka tidak akan senang melihat mainan termahal mereka hancur."
Arthur berhenti sejenak, melihat ke arah langit yang kini kembali cerah. "Tapi untuk sekarang, tugasmu adalah memastikan Valerius tidak pingsan saat memberikan pidato kemenangannya. Dan Silas... pastikan susu stroberiku edisi terbatas dikirim dua boks kali ini. Aku butuh banyak gula untuk memulihkan energiku."
Arthur berjalan pulang melewati kerumunan orang yang sedang bersorak sorai merayakan kemenangan palsu tersebut. Di tengah dunia yang sedang berpesta, sang penyelamat yang sebenarnya hanyalah seorang bocah yang kini sedang pusing memikirkan bagaimana caranya menjelaskan pada Clara kenapa ada lubang besar di langit-langit sekolahnya besok pagi.
Jauh di Pasifik, Jembatan itu tidak menutup. Ia justru semakin bergetar, memancarkan sinyal merah yang jauh lebih gelap. Para Architects di dimensi tinggi telah membuat keputusan. Mereka tidak akan lagi mengirim kapal perang.
"Aktifkan Protokol Genesis," suara dingin di dimensi tinggi bergema. "Jika kita tidak bisa memiliki planet itu, maka tidak akan ada yang bisa memilikinya. Kirimkan Sang Penghancur Dunia."
Arthur, yang sedang berjalan menuju rumahnya, tiba-tiba berhenti. Ia menoleh ke arah laut dengan tatapan yang sangat tajam.
"Mereka benar-benar ingin mempercepat akhir dari novel ini, ya?" bisik Arthur. "Sayang sekali bagi mereka, aku baru saja mulai menikmati peranku sebagai bocah SD."