Reigan Douglas hanya bisa patuh saat Kakek memaksanya menikahi Hana—gadis "kampung" bermata bulat. Pernikahan itu terasa datar dan mati. Bagi Reigan, kehadiran wanita itu hanya akan membatasi geraknya sebagai penguasa Odelgard.
Namun, segalanya berubah ketika sebuah peluru melesat dan nyaris menembus pelipisnya. Reigan pun menyadari satu fakta yang menghantam egonya: peluru penyelamat itu berasal dari senjata milik Vesper—sniper legendaris yang ternyata adalah Hana, istrinya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 33 Sudah Cukup Bersandiwara
Cara Hana menaruh iba pada daftar buruannya sedikit membuat dada Reigan terasa hangat. Dia bisa merasakan kebaikan terselubung dari hati wanita ini, meskipun tidak sepenuhnya.
Apa ini yang membuat kakek menjodohkanku dengan dia? Tidak. Kakek bukan orang yang hangat. Reigan menipiskan bibir mencela dirinya sendiri karena berpikir seperti itu.
"Makanan ini banyak, apa kamu bisa menghabiskannya?" tanya Hana menunjuk makanan yang dibuat Hana. "Kamu mengusir Marco tadi." Hana minta pertanggungjawaban Reigan karena itu.
Reigan ingat. Dia mengusir Marco karena tidak ingin bawahannya makan masakan yang dibuat Hana pagi ini. Jelas dia tidak ingin apapun yang sudah dibuat wanita ini akan diberikan pada orang lain. Dia tidak suka itu.
"Aku akan makan," sahut Reigan.
Hana menatap pria ini agak lama. Ada nada ramah disana. Namun dia segera menepisnya.
"Terimakasih," ujar Hana formal. Dia hendak beranjak pergi karena dia sudah selesai sarapan.
"Duduk. Aku belum selesai sarapan," perintah Reigan tanpa basa basi.
Dia memintaku menemaninya selesai makan? Hana kemudian duduk lagi. "Aku harus melakukan apa?" tanya Hana.
Sepasang matanya yang sedingin es menatap Reigan yang kini mulai meraih cangkir berisi kopi hitam pekat tanpa gula miliknya. Di sudut meja, berdampingan dengan tumpukan steak, terdapat semangkuk kecil buah beri gelap dan kacang almond panggang yang disiapkan Hana sebagai pelengkap nutrisi
"Duduk saja disana."
"Melihatmu makan?"
Reigan menghentikan makannya. "Ya. Duduk dan lihat aku makan sampai selesai."
"Baiklah." Hana tidak perlu memikirkan banyak hal hanya untuk duduk. Meskipun sedikit aneh karena Reigan sedang makan sambil memperhatikan dirinya.
Netra Hana menunduk. Memilih kalah daripada terus beradu pandang dengan pria ini.
Ponsel Reigan berdering. Netra Reigan bergeser ke gawai pipih di atas meja dekat dengan tangan kirinya.
Nico.
Setelah Marco, kini Nico? Reigan terpaksa menerima panggilan telepon itu.
"Ada apa Nico?"
"Tuan ada Tuan besar ..."
Bersamaan dengan itu pintu apartemen berbunyi klik. Reigan dan Hana menoleh.
"Halo cucuku," sapa kakek Arthur bersama dengan Rowand di belakangnya.
Hana langsung sigap berdiri untuk menyambut.
"Dia sudah ada disini, Nico," desis Reigan langsung memutus saluran telepon. Klik.
"Selamat datang Kakek. Kakek sehat?" tanya Hana.
"Tentu. lihatlah."
"Benar. Aku senang melihat kakek sehat. Bagaimana perjalanannya?" tanya Hana lembut.
"Sedikit melelahkan, tapi tidak apa-apa. Untuk bisa bertemu denganmu disini, cucuku." Seperti biasa. Kakek Arthur selalu bersikap manis. Pria tua itu memperlakukan Hana bagai cucu kesayangannya.
Reigan menipiskan bibir. Lalu ia berdiri memberi hormat. "Mengejutkan sekali kakek datang pagi ini," kata Reigan sedikit terkejut. Walaupun dia paham pria tua ini selalu memberi kejutan.
"Ya. Aku tidak perlu bertanya lebih dulu jika ingin bertemu cucuku, kan?"
"Tentu saja, Kek."
"Oh, kamu sedang sarapan?" tanya Kakek Arthur melihat steak daging dan asparagus panggang di atas meja.
"Ya. Kakek ikut sarapan juga? Aku sangat berterima kasih jika kakek bersedia," tawar Hana. Kepada kakek Arthur, dia merasa begitu dekat karena terasa mirip dengan kakeknya sendiri. Perlakuannya memang terasa hangat.
"Boleh. Aku juga ingin mencicipi makanan yang kamu buat."
"Silakan duduk, kakek." Hana mempersilakan.
Rowand menarik kursi untuk beliau.
Reigan ikut kembali duduk saat kakek sudah duduk di kursinya. Sementara itu Hana menyiapkan piring untuk kakek. Ternyata piring yang dibawa ada dua.
"Ini untuk siapa?" tanya Kakek Arthur.
"Aku bawakan juga untuk Tuan Rowand," ucap Hana menunjuk asisten kakek Arthur yang sudah tua. "Lebih baik kalau beliau juga ikut sarapan."
Lihatlah. Dia bahkan mengajak Rowand sarapan disini. Apa dia pikir ini restoran umum? decak Reigan dalam hati.
"Rowand," panggil Arthur memiringkan kepala sedikit agar asistennya itu paham kalau dirinya mengajak bicara.
"Saya Tuan." Rowand membungkuk.
"Ikutlah sarapan. Hana sudah mempersilakan kita."
"Baik Tuan." Rowand mengangguk patuh. Hana dengan senyum tipis yang sarat akan hormat menyerahkan piring pada Rowand.
"Terima kasih, Nona." Rowand menerima piring dengan rendah hati. Lalu ketika akan duduk, dia membungkuk sedikit pada Reigan yang sejak tadi diam memperhatikan tingkah mereka di ruang makannya.
Netra Reigan mengamati kedua orang tua di depannya yang sedang mengambil steak tanpa merasa bersalah. Padahal dia adalah tuan rumah.
"Hana, ambilkan telur dan asparagus untukku," pinta Reigan setengah menggeram tiba-tiba.
Hana melirik pria di sebelahnya sekilas. Rahang Reigan mengetat kaku, menuntut perhatian yang sempat terenggut oleh Rowand beberapa detik lalu. Tanpa sepatah kata pun, Hana meraih capitan. Dengan gerakan tenang dan efisien, dia memindahkan sebutir telur mata sapi dan beberapa batang asparagus hijau ke atas piring Reigan.
Kakek Arthur yang melihat itu tersenyum misterius.
"Aku rasa, aku datang di waktu yang tepat," kata Kakek Arthur senang.
Karena kakek mengganggu makan pagiku? batin Reigan.
"Kedua cucuku terlihat baik-baik saja pagi ini," lanjut beliau setelah selesai melirik ke arah Reigan yang diam tapi terlihat beraura gelap.
Sementara Hana benar-benar sedang mendengarkan. Dengan sikap tenang, dia melihat ke arah kakek Arthur yang sedang mengunyah steak.
"Tidak ada yang lebih indah dari itu semua bukan, Rowand?"
"Benar, Tuan." Rowand mengangguk setuju sambil menatap Hana dan Reigan sebentar, lalu kembali melihat ke arah kakek Arthur.
"Aku harap kalian berdua selalu sehat dan selamat."
"Terima kasih Kakek." Hana mengangguk sopan.
"Tapi aku melihat cucuku satunya tidak senang aku datang dipagi yang cerah ini."
Reigan meletakkan pisau dagingnya sedikit lebih keras dari biasanya, memicu denting samar di atas piring porselen. "Kakek salah paham. Aku hanya terkejut karena kakek tidak memberi kabar lebih dulu," sahut Reigan dingin, mencoba menyembunyikan kekesalannya.
Kakek Arthur terkekeh pelan, seolah sangat menikmati reaksi cucunya itu. Beliau kemudian menatap Hana dengan binar hangat yang penuh arti.
"Hana, jaga pria keras kepala di sebelahmu ini dengan baik."
"Saya mengerti, Kakek," jawab Hana tenang. Walau hatinya merasa hangat karena kebaikan pria tua itu, otaknya yang terlatih langsung memetakan situasi bahwa pesta nanti malam pasti memiliki agenda faksi yang berat.
"Reigan, kamu juga jaga Hanaku. Cucu perempuanku ini hanya ada satu-satunya," pesan Kakek.
"Menjaganya? Bukankah dia cukup bisa menjaga dirinya sendiri?" tanya Reigan sambil menoleh pada Hana. Kalimat tadi sebuah cemoohan untuk wanita ini.
Hana menarik tatapannya dari kakek ke Reigan dengan sorot menajam.
Bibir Kakek Arthur tersenyum tipis melihat ketegangan diantara mereka berdua. Sementara Rowand melihat keduanya bersitegang, menurunkan mata untuk menjaga pandangan. Dia tahu batas bawahan dan atasan.
"Kenapa Hana bisa menjaga dirinya sendiri, Reigan?"
"Aku rasa kakek sudah tahu jawabannya," ujar Reigan kini berganti menatap beliau tajam.
Kakek masih menyisakan senyum tipis di bibirnya meski cucunya sudah meradang. "Apa aku memang tahu?"
Hana melirik ke arah kakek Arthur. Matanya tetap tenang.
"Sudah cukup sandiwara ini kakek, karena aku tahu Kakek menjodohkan aku dengan wanita berbahaya. Dia adalah pembunuh bayaran." Reigan menunjuk Hana geram.
Keheningan seketika menyergap ruang makan, begitu pekat hingga detak jam dinding terdengar jelas.
lanjutttt💪😄