NovelToon NovelToon
Terpaksa Menjadi Istri Kontrak

Terpaksa Menjadi Istri Kontrak

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Bad Boy
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: annin

"Saya tidak mau nikah kontrak, Pak. Saya mau pernikahan ini berjalan sebagaimana mestinya ...." Rea terdiam sejenak. Mengambil napas sebelum ia melanjutkan kalimatnya. Sebuah kalimat yang mungkin akan ia sesali seumur hidupnya.

Bagaimana tidak. Tidak ada yang ingin menikah untuk bercerai, tapi Rea melakukannya.

" ... tapi, kapanpun Pak Dewa ingin menceraikan saya. Saya akan siap."

_________________________________________________

Demi biaya keluarganya di kampung, Rea rela menerima tawaran untuk menjadi istri sementara seorang aktor terkenal—Dewangga Rahardian. Awalnya ia meyakinkan diri semua akan mudah, karena Dewangga menjanjikan bahwa ia tak akan pernah menyentuh Rea dan akan menceraikan Rea dalam waktu dekat. Pun kompensasi yang akan Rea terima nantinya bernilai cukup fantastis bagi Rea yang merupakan anak kampung.

Namun, seiring waktu apa yang Dewa janjikan tak pernah terjadi. Pria itu lebih suka menyiksa Rea dengan membelenggunya dalam ikatan pernikahan palsu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon annin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 17

'Prang'

"Hentikan, Sher! Kalau lo pecahin semua barang-barang ini, suami lo bakal makin curiga?" Tata—manager Sherly—mencoba mengingatkan.

Sejak melihat berita di media sosial, Sherly langsung kalap. Ia tidak rela pria yang sejak dulu ia damba menikah dengan wanita lain. Apa lagi setelah perjuangannya berhasil dekat dengan Dewa. Ia bahkan rela kalau harus berpisah dengan suaminya asal bisa bersama pria yang sejak dulu ia idam-idamkan.

"Biarin aja, biar dia tahu kalau selama ini gue nggak pernah cinta sama dia. Gue cintanya sama Dewa, bukan sama dia!"

Tata langsung mendekat. Menutup mulut Sherly dengan tangannya. "Sttt ... ati-ati lo kalau ngomong. Kalau suami lo denger bisa-bisa kita diusir dari rumah ini."

"Lepas!" Sherly dengan kasar menepis tangan sang manager.

"Gue nggak takut. Gue udah muak. Gue muak sama dia, gue muak sama pernikahan palsu ini. Gue mau bahagia sama Dewa!" teriak Sherly. Mengutarakan isi terdalam dari hatinya.

Selama ini ia tak pernah mencintai Dev—seorang produser kaya raya. Ia mau menikah dan bahkan menjadi istri ketiga Dev demi mendongkrak karirnya saat ia debut menjadi seorang artis. Semua atas bujukan Tata, agar ia menerima tawaran Dev menjadi gundik demi memuluskan karir keartisannya.

Sherly yang saat itu hanya tergiur ketenaran dan uang, mengikuti saja saran dari sang manager. Ia abaikan perasaan yang sudah lama muncul untuk Dewa. Namun, kini semua ketenaran dan uang sudah ia dapatkan, karena itu ia ingin mengejar kebahagiaannya bersama Dewa.

Segala macam cara ia lakukan agar bisa dekat dan bersama sang aktor tampan, tapi sekarang pria itu justru bersanding di pelaminan bersama wanita lain. Ia tidak terima!

"Iya gue tahu, tapi kita nggak boleh gegabah. Kita harus main cantik. Lo mau pisah tanpa sedikit pun gono-gini yang sudah jelas nilainya fantastis?" Tata masih saja membujuk Sherly untuk bertahan. Dev adalah sumber uangnya. Lewat Sherly Dev tak segan menggelontorkan banyak uang untuk Tata.

"Gue nggak butuh gono-gini, gue nggak butuh harta. Gue cuma butuh Dewa." Sherly meraung. Air matanya menetes deras. Dalam dada terasa pilu dan sesak mengingat pria pujaannya bersanding dengan wanita lain.

Badannya luruh ke lantai. Tangisnya tak kunjung berhenti, bahkan semakin menjadi. Ia seperti kehilangan arah hidupnya. Dewa yang menjadi tujuannya justru memilih orang lain. Setelah banyak hal ia korbankan untuk bisa bersama pria itu.

Gosip antara dirinya dan Dewa mulai memicu pertengkaran-pertengkaran dengan sang suami. Bahkan Dev tak segan melakukan kekerasan jika Sherly tak mau bicara ataupun menjelaskan. Sherly rela menanggung semua derita itu asal bisa bersama Dewa.

"Gue mau Dewa," raungnya. Dengan tangis mengiringi.

Tata sampai bingung melihat Sherly. Artisnya itu tak pernah sekalut ini. Sherly bahkan lebih mirip orang gila dengan penampilannya saat ini. Duduk bersimpuh di lantai dengan rambut acak-acakan, mekap berantakan dan tangis yang kunjung berhenti.

"Sher, tenang ...."

"Gue mau Dewa!"

"Iya gue tahu. Makanya lo berhenti nangisnya. Kita beresin semua sebelum Pak Dev pulang," bujuk Tata.

"Gue nggak peduli. Gue cuma mau Dewa!"

Seberapa pun Tata membujuk, Sherly tetap bersikeras. Saat ini wanita itu benar-benar di puncak emosi.

*****

Dewa menatap Rea serius. Membuat Rea dalah tingkah.

"Mau lo bagaimana. Kalau lo mau kita tidur bersama, gue sih oke-oke aja."

Spontan Rea menyilangkan kedua tangannya di depan dada. Itu membuat Dewa tertawa.

"Ya, enggak lah. Gue akan tepati janji gue. Gue nggak akan nyentuh lo, sampai lo sendiri yang ngasih ijin."

"Idih, aku mah nggak akan kasih ijin ke Mas Dewa. Enak aja!"

Dewa semakin tertawa. Dua minggu bersama wanita itu membuat Dewa merasa Rea sangat berbeda. Ia tak seperti Rea yang dulu pertama kali bertemu. Rea yang sekarang ternyata jauh lebih asik.

"Jadi Mas Dewa atau aku nih yang tidur di sofa?"

"Biar gue aja. Masak gue tega nyuruh istri gue tidur di sofa di malam pertama kita."

"Ish ... apaan sih ...." Rea makin salah tingkah kala Dewa kembali menggodanya.

Pipinya bahkan bersemu merah. Rea memilih untuk pergi ke kamar mandi agar Dewa tak menyadari kalau ia tengah salting.

Dewa hanya tersenyum melihat Rea pergi. Ia tahu benar Rea tersipu malu. Ia bukan pria bodoh. Ia pemain ulung, dan ia tahu bagaimana cara memberi umpan dan membuat lawannya menyerahkan diri dengan suka rela.

Begitu kembali dari kamar mandi Rea sudah melepas cadarnya. Bahkan sudah berganti dengan piyama lengan panjang, juga hijab pendek yang menutupi kepala.

Dewa yang tadinya rebahan di sofa, terduduk melihat Rea yabg naik ke ranjang. Ia melihat penampilan wanita itu.

"Kamu nyaman nggak pakai hijab dan cadar?" tanya Dewa tiba-tiba.

"Nyaman-nyaman aja," jawab Rea sembari membetulkan letak bantalnya.

Rea memang nyaman dengan gaya berpakaiannya sekarang. Ia bahkan mulai konsisten memakai hijab di mana pun pergi.

"Yakin?"

"Iya ...."

"Kalau nggak nyaman lepas aja. Lagi pula ini kan mau tidur. Kalau di kamar kamu usah pakai hijab. Kalau keluar aja."

"Tapi kan ada Mas Dewa."

"Gue kan suami lo. Kita nikahnya beneran, gue halal liat lo tanpa hijab. Tanpa baju aja halal kok," celetuk Dewa.

Membuat satu bantal melayang ke muka pria itu. Bukannya marah Dewa justru terkekeh sendiri. Terlebih saat melihat Rea yang langsung bersembunyi di balik selimut.

Bagi Dewa, lucu saja tingkah Rea. Untuk apa gadis itu sembunyi di balik selimut. Kalau Dewa mau, ia bisa saja menerkam Rea saat ini juga. Jangankan bersembunyi dibalik selimut yang dengan mudah bisa ia sibak. Bersembunyi dibalik pintu saja bisa ia dobrak. Untungnya, Dewa masih punya otak waras untuk menepati perjanjian pra nikah mereka.

Kalau nanti mereka berpisah, biarkan Rea dengan mudah melupakannya. Dan ia juga akan mudah melupakan Rea, jika hubungan ini tanpa dasar perasaan dan hubungan fisik.

Sebuah notifikasi pesan membuat Dewa membuka ponsel yang ia genggam. Dari Sherly.

Wanita itu mengirim banyak pesan marah karena Dewa menikah. Mengutarakan kekecewaan karena Dewa tak menganggapnya ada.

Ia bahkan mengirim kalimat ancaman agar Dewa datang padanya malam ini.

[Kamu temui aku sekarang di apartemen. Kalau tidak aku akan sebar foto-foto kita saat bersama]

Pesan ini bertujuan agar Dewa melewatkan malam pertama dengan istrinya. Sherly tak kuat kalau harus membayangkan Dewa berc*nta dengan wanita lain. Ini lah cara yang terpikir olehnya. Membuat Dewa datang padanya.

[Aku serius dengan ucapanku. Jadi jangan coba-coba mengujiku!]

[Datang sekarang juga, atau aku share sebanyak-banyaknya foto kita!]

Sherly terus mengirim pesan ancaman untuk membuat Dewa datang.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!