NovelToon NovelToon
Lencana Cinta Sang Kapten

Lencana Cinta Sang Kapten

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Militer
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: istimariellaahmad

Adeeva Zamira Arjunka tidak pernah menyangka bahwa sifat pemberontaknya justru menjadi alasan ia terjebak dalam pernikahan militer. Seharusnya, Kak Adiba—kembarannya yang sholehah dan lembut—lah yang bersanding dengan Kapten Shaheer Ali. Namun, sang perwira pasukan khusus itu secara mengejutkan justru menjatuhkan pilihan pada Adeeva, si gadis keras kepala yang terang-terangan membenci dunia militer.
Terpaksa menggantikan posisi kakaknya, Adeeva masuk ke kehidupan Shaheer dengan dendam dan penolakan. Baginya, lencana dan seragam hijau Shaheer adalah simbol pengekangan. Namun, perjalanan takdir adiba ke tanah Mesir dan kehadiran buah hati di balik pagar pinus perlahan mengubah segalanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istimariellaahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pintu yang terkunci

Assalamu'alaikum, ini adalah novel bebu yang baru, semoga suka ya...

Happy reading...

Suara selawat tarhim mulai mengalun dari pengeras suara masjid, memecah kesunyian sepertiga malam di kompleks Pondok Pesantren Al-Arjun. Di koridor lantai dua rumah utama yang berlapis kayu jati, suasana mendadak tegang.

Adeeva Zamira merapatkan jaket kulit hitamnya, mencoba menyembunyikan atasan tank top yang melekat ketat di tubuhnya. Ia berjalan berjinjit, menenteng sepatu hak tingginya agar tidak menimbulkan suara di lantai kayu. Ia baru saja masuk melalui jendela kamar mandi di lantai bawah—rute pelarian favoritnya setiap kali ingin keluar malam bersama Alesha.

Baru saja kakinya hendak melangkah masuk ke kamarnya, sebuah bayangan tinggi tegak berdiri di ujung lorong yang remang.

Klik. Saklar lampu ditekan. Cahaya neon yang putih dan tajam seketika menyinari koridor, menelanjangi penampilan Adeeva yang berantakan.

"Dari mana, Adeeva?"

Suara itu berat dan dingin. Abi nya berdiri di sana, masih mengenakan sarung dan sorban putih, siap untuk mengimami salat Subuh. Di sampingnya, Umi berdiri dengan wajah pucat dan mata yang sembab karena menangis.

Adeeva mematung. Ia menarik napas panjang, mencoba menenangkan jantungnya yang berdegup kencang. "Rumah Alesha, Bi. Ada tugas kuliah yang harus diselesaikan," jawabnya dengan nada datar, mencoba terlihat tenang.

"Tugas kuliah macam apa yang membuatmu pulang jam empat pagi dengan bau asap rokok dan pakaian seperti itu?" Abi melangkah maju. Matanya menatap tajam pada celana jeans robek dan riasan wajah Adeeva yang mulai luntur.

"Cuma jaket, Bi. Di dalam gerah," Adeeva membela diri, namun suaranya mulai meninggi.

"Jangan berbohong! Alesha menelepon Umi jam sepuluh malam tadi menanyakan keberadaanmu karena ponselmu mati. Kamu ke tempat terkutuk itu lagi, kan? Ke klub malam itu?" Abi menunjuk ke arah luar, suaranya menggelegar di keheningan subuh.

Adeeva melempar sepatu hak tingginya ke lantai dengan kasar. Brak! Suaranya bergema di seluruh koridor. "Iya! Aku ke sana! Terus kenapa? Aku cuma mau napas, Bi! Di rumah ini semuanya bikin sesak. Semuanya harus ikut aturan Abi, harus seperti Adiba, harus pakai kain lebar-lebar. Aku bukan Adiba!"

"Adeeva! Jaga bicaramu!" Umi menghampiri putri bungsunya, mencoba memegang lengan Adeeva, namun Adeeva menepisnya.

"Umi jangan menangis terus. Adeeva capek lihat Umi menangis hanya karena Adeeva tidak bisa jadi ustadzah atau santri teladan," ucap Adeeva dengan nada bergetar.

Abi menghela napas panjang, memejamkan mata sejenak untuk menahan emosi. "Kamu itu anak pemilik pondok, Deeva. Ribuan santri melihat keluarga kita sebagai contoh. Apa kata mereka kalau tahu putri bungsu Kyai Arjunka keluyuran malam dengan pakaian kekurangan bahan seperti itu? Kamu mempermalukan Abi."

"Ya sudah, anggap saja aku tidak ada, Bi! Bilang saja anak Abi cuma satu, Adiba Zaheera. Beres, kan?" Adeeva menunjuk ke arah kamar kakaknya yang tertutup rapat. "Adiba yang sholehah, Adiba yang mau ke Mesir, Adiba yang sempurna. Biarkan aku hidup dengan caraku sendiri."

"Hidup dengan caramu itu menuju kehancuran!" bentak Abi. "Mulai hari ini, semua fasilitasmu Abi cabut. Motor, kartu kredit, semuanya. Kamu tidak akan keluar dari gerbang pondok tanpa pengawalan santri senior. Paham?"

Adeeva tertawa hambar, matanya mulai berkaca-kaca. "Lakukan saja. Kurung saja aku sekalian di gudang bawah tanah. Itu kan yang Abi mau? Membuat aku 'hilang' supaya nama baik Abi tetap bersih di depan para wali santri?"

Tepat saat itu, pintu kamar di sebelah Adeeva terbuka pelan. Adiba Zaheera muncul dengan wajah tenang namun penuh kesedihan. Ia mengenakan mukena putih bersih yang menjuntai hingga lantai, sangat kontras dengan Adeeva yang tampak seperti pemberontak.

"Abi, sudah... sebentar lagi iqamah," ucap Adiba lembut. Ia mendekati adiknya, mencoba mengambil jaket kulit Adeeva yang berbau asap. "Deeva, masuk kamar dulu ya? Mandi, istirahat. Nanti kita bicara baik-baik."

Adeeva menatap kakaknya dengan pandangan benci sekaligus iri. "Tidak perlu sok baik, Kak. Fokus saja urus visa kamu ke Mesir. Biar Abi semakin bangga punya anak satu-satunya yang berguna bagi agama."

Adeeva masuk ke kamarnya dan membanting pintu sekeras mungkin. Suara dentuman itu membuat Umi terisak lagi.

Abi memegang dadanya yang terasa sesak. "Adiba, masuk ke kamar Abi dan Umi setelah salat Subuh nanti. Ada hal penting yang harus Abi sampaikan mengenai masa depanmu."

Adiba hanya menunduk, tak berani membantah. "Baik, Bi."

Satu jam kemudian, di dalam ruang kerja Abi yang penuh dengan kitab-kitab tebal, Adiba duduk bersimpuh di depan orang tuanya. Abi menyodorkan sebuah amplop cokelat besar berisi berkas dan foto seorang pria berseragam militer.

"Ini dari Jenderal Ali, sahabat lama Abi. Putranya, Shaheer Ali, baru saja menyelesaikan tugas di luar negeri. Dia seorang perwira, juga seorang hafidz Al-Qur'an. Jenderal Ali mengirimkan CV ta'aruf untukmu," jelas Abi.

Adiba tertegun melihat foto pria di dalam berkas itu. Tatapannya tajam, wajahnya bersih tanpa ekspresi, khas seorang prajurit. "Tapi Bi... Adiba baru saja diterima di Al-Azhar. Keberangkatan Adiba tinggal menghitung minggu."

"Ta'aruf dulu, Nak. Abi sangat mempercayai keluarga Jenderal Ali. Jika memang berjodoh, masalah kuliahmu bisa dibicarakan dengan Shaheer. Abi hanya ingin memastikan kamu ada yang menjaga sebelum kamu pergi jauh ke negeri orang," suara Abi melunak, terselip rasa lelah yang amat sangat.

Umi menggenggam tangan Adiba. "Tolong pertimbangkan ya, Sayang. Abi sedang banyak pikiran karena tingkah laku adikmu. Setidaknya, berikan satu kabar bahagia untuk Abi dan Umi."

Adiba menelan ludah. Ia merasa tidak punya pilihan lain selain mengangguk. Ia tidak tahu bahwa di balik pintu kamar yang tertutup rapat tak jauh dari sana, Adeeva sedang mengemasi tasnya, bersiap untuk nekat keluar lagi pagi ini karena ia sudah berjanji bertemu Alesha untuk mencari info kuliah desain yang dirahasiakannya dari Abi nya.

Happy reading sayang...

Baca juga cerita bebu yang lain...

Annyeong love...

1
Fauziah Rahma
👍
Ana
lbjut
Titik Sofiah
awal yg menarik ya Thor moga konfliknya nggak trllau berat 😍😍😍
Ana
lnjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!