"Kamu harus tahu diri. Kamu wanita yang tidak pernah di inginkan oleh mas Yusuf. Jangan sesekali meminta perhatian darinya. ingatlah, mas yusuf menikahimu hanya ingin bertanggung jawab pada bayi itu!" tekan Nora.
"Aku tahu, Mbak. Maaf jika sikapku sudah membuat mbak nora tidak nyaman," jawab Siti hajar dengan wajah menunduk.
Kejadian yang tak terduga membuat Siti harus mengandung anak dari majikannya. Menjadi orang ketiga, dan di nikahi secara siri tidaklah membuat gadis malang itu bahagia. ia harus menerima segala hujatan dari nora istri sah Yusuf.
Bagaimana kisah selanjutnya? yuk ikuti ceritanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Risnawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Maafkan aku
Suasana ruangan itu kini berubah total. Dari ketegangan dan rasa sakit yang mencekam, berganti menjadi kehangatan dan kebahagiaan yang begitu nyata, seolah udara pun ikut bergetar karena rasa syukur yang meluap. Namun di sudut pandang Nora, kehangatan itu justru terasa membakar kulit, menyisakan rasa dingin yang menusuk hingga ke tulang sumsum.
Nora masih berdiri diam di tempatnya, tangan yang baru saja selesai membersihkan alat medis terasa kaku. Matanya tak lepas dari pemandangan di hadapannya. Yusuf duduk di pinggir ranjang, tubuhnya condong ke depan, matanya tak berkedip menatap bayi mungil yang kini berbaring di dada Siti. Wajah Yusuf bersinar, penuh kelembutan yang selama ini jarang Nora lihat—kelembutan yang dulu hanya diperuntukkan baginya dan Haikal.
"Anak kita... tampan sekali, persis seperti kamu," gumam Yusuf pelan, jarinya menyentuh pipi bayi itu dengan sangat hati-hati, seolah takut menyakiti makhluk kecil yang rapuh itu. Kemudian, pandangannya beralih ke wajah Siti yang masih pucat namun berbinar bahagia. "Dan kamu... kamu hebat, Siti. Kamu sungguh hebat."
Siti tersenyum lemah, tangannya yang gemetar berusaha menyentuh lengan Yusuf. "Semua berkat doa dan dukungan Mas... kalau Mas tidak ada di sini, aku mungkin tidak sekuat ini."
Yusuf menggenggam tangan itu, menempelkannya ke dadanya sendiri, tepat di atas jantungnya yang berdetak kencang. "Mas akan selalu ada. Jangan pernah berpikir kamu akan sendiri menanggung apa pun lagi. Mulai sekarang, ada kita bertiga. Mas, kamu, dan anak ini."
Kalimat itu terucap begitu saja, begitu alami, tanpa beban. Bagi Yusuf, itu mungkin hanya ungkapan rasa tanggung jawab dan kebersamaan sebagai orang tua bagi anak yang baru lahir. Namun bagi Nora, kalimat itu terdengar seperti pisau yang berputar di luka yang sama. 'Ada kita bertiga...' Lalu aku di mana? batin Nora menjerit tertahan. Apakah aku sudah tidak lagi dihitung? Apakah aku hanya penonton dalam kisah bahagia kalian ini?
Bu Aminah yang sedari tadi mengamati dari pinggir, akhirnya bergerak mendekat, memecah momen yang terasa begitu menyakitkan bagi Nora. Wanita tua itu tersenyum haru, namun sorot matanya mengandung keteduhan dan keprihatinan saat menatap Nora. Ia mengerti betul apa yang sedang dirasakan menantu pertamanya itu.
"Nak, terima kasih banyak ya. Berkat bantuanmu, semuanya berjalan lancar dan selamat," ucap Bu Aminah lembut, menyentuh lengan Nora pelan, berusaha memberi kekuatan lewat sentuhan itu. "Kamu pasti lelah sekali. Sudah, sana istirahat dulu. Sisanya biar Ibu yang urus."
Nora mengerjap, berusaha mengembalikan kesadarannya yang sempat melayang jauh karena perasaannya sendiri. Ia menoleh ke Bu Aminah, lalu memaksakan senyum paling tulus yang bisa ia buat, meski rasanya bibirnya begitu berat untuk bergerak.
"Sama-sama, Bu. Itu sudah tugas saya. Alhamdulillah semuanya selamat," jawab Nora, suaranya terdengar tenang dan profesional, seolah tak ada badai yang sedang mengamuk di dalam dadanya. Ia melirik sekilas ke arah Yusuf dan Siti yang masih sibuk dengan dunia kecil mereka, lalu menelan ludah dengan susah payah. "Saya... saya ke luar sebentar. Mau mencuci tangan dan membereskan berkas administrasi."
Tanpa menunggu jawaban, Nora berbalik perlahan, melangkah keluar dari ruangan itu. Setiap langkahnya terasa berat, seolah ada beban berton-ton yang membebaninya di punggung. Begitu pintu tertutup di belakangnya, menutup pemandangan yang menyakitkan itu, napasnya langsung tersengal berat. Ia bersandar ke dinding koridor rumah sakit yang dingin itu, menutup matanya rapat-rapat, berusaha menahan air mata yang akhirnya lolos jatuh membasahi pipinya.
"Sabar, Nora... sabar..." bisiknya pada dirinya sendiri, tangannya menekan dadanya yang terasa sesak luar biasa. "Kamu yang memilih jalan ini. Kamu yang mengizinkan semua ini terjadi. Jangan bersikap seolah kamu tidak tahu risikonya."
Namun logika dan akal sehatnya tak sanggup melawan rasa sakit hati yang begitu nyata. Ia tahu Yusuf lelaki yang baik, bertanggung jawab, dan punya hati yang lembut. Ia tahu Yusuf takkan mungkin berbuat curang atau sengaja menyakiti hatinya. Tapi melihat sendiri, merasakan sendiri bagaimana perhatian, kasih sayang, dan panggilan manis yang dulu miliknya mutlak, kini terbagi dan bahkan terasa lebih besar diberikan pada wanita lain... itu jauh lebih menyakitkan daripada sekadar berbagi status istri.
Di dalam ruangan, Yusuf seketika merasa ada yang hilang begitu Nora pergi. Ia menoleh ke arah pintu yang tertutup itu, dahinya sedikit berkerut. Samar-samar ia merasakan suasana hati yang berubah, namun di momen bahagia dan melelahkan itu, pikirannya belum sanggup menjangkau lebih jauh untuk memahami perasaan istrinya yang lain.
"Di mana Mbak Nora?" tanya Siti pelan, menyadari kepergian dokter yang membantunya melahirkan itu.
"Katanya mau membereskan sesuatu di luar sebentar," jawab Yusuf sambil kembali menatap wajah istrinya itu. Ia mengusap keringat yang masih tersisa di kening Siti. "Kamu jangan memikirkan apa pun dulu ya. Sekarang tugasmu cuma satu. istirahat dan pulihkan tenaga. Biar semua urusan di luar, Mas dan Ibu yang atur."
Siti mengangguk lemah, namun matanya menatap Yusuf dengan tatapan yang begitu dalam, penuh rasa terima kasih yang tak terhingga. "Mas... terima kasih sudah ada di sini. Terima kasih sudah mau menerima aku dan anak ini dengan begitu besar hati. Kalau saja Mas tidak sebaik ini... aku tidak tahu apa yang akan terjadi padaku."
Yusuf tersenyum tipis, senyum yang menyiratkan banyak hal—rasa tanggung jawab, rasa iba, dan rasa kasih sayang yang memang tak bisa ia pungkiri lagi keberadaannya. Ia sadar, Siti adalah wanita yang hebat, yang berjuang sendirian, yang menderita, dan yang kini melahirkan darah dagingnya. Mustahil rasanya baginya untuk bersikap dingin atau biasa saja. Hatinya memang terbagi dua, namun ia berjanji pada dirinya sendiri, bahwa keduanya akan ia jaga sebaik-baiknya, dengan porsi dan cara masing-masing.
"Sudah, jangan banyak bicara dulu. Istirahatlah. Nanti kalau kamu sudah cukup pulih, kita bicara panjang lebar lagi," ucap Yusuf lembut. Ia mencium kening Siti sekali lagi, lalu perlahan bangkit berdiri untuk memberi ruang pada Bu Aminah yang mulai mendekat hendak merawat cucunya.
Yusuf melangkah keluar ruangan, ingin mencari Nora. Ada rasa ingin tahu, ada rasa ingin memastikan keadaannya. Saat ia keluar ke koridor, ia melihat Nora berdiri membelakangi pintu, menatap ke arah jendela kaca yang memandang ke taman rumah sakit di bawah sana. Punggung wanita itu terlihat begitu kurus dan sendirian di balik jas dokternya yang putih bersih.
Langkah Yusuf melambat. Ia mendekat perlahan, suara kakinya tak terdengar di lantai keramik yang halus. Saat ia berdiri tepat di samping Nora, ia melihat sekilas wajah istrinya itu—mata yang sembab, pipi yang masih basah jejak air mata. Hati Yusuf seketika terasa tercubit keras. Ia tahu. Ia paham. Meski tak semua, ia cukup mengerti apa yang membuat wanita ini menangis.
"Nora..." panggil Yusuf pelan, suaranya rendah dan penuh penyesalan.
Nora tersentak kaget, buru-buru menyeka sisa air matanya dengan punggung tangan, lalu berbalik menghadap Yusuf dengan senyum yang dipaksakan sekuat tenaga.
"Mas... Mas sudah selesai? Bagaimana keadaan Siti dan bayinya?" tanyanya, berusaha terdengar profesional dan tenang, meski suaranya bergetar halus.
Yusuf tidak menjawab pertanyaan itu. Ia justru melangkah maju selangkah, lalu dengan lembut namun tegas, ia menarik tubuh Nora ke dalam pelukannya. Pelukan yang hangat, yang begitu Nora rindukan, namun pelukan yang kini terasa menyakitkan karena ia tahu, Yusuf baru saja memeluk wanita lain dengan rasa yang sama, atau bahkan lebih.
"Maafkan aku..." bisik Yusuf tepat di telinganya, tangannya mengusap punggung Nora perlahan. "Maaf kalau aku menyakiti hatimu hari ini. Aku tidak bermaksud begitu. Kamu harus tahu, bahwa apa yang aku lakukan di dalam sana... itu semua karena aku tidak tega, karena aku merasa bertanggung jawab, dan karena aku tidak ingin Siti merasa sendirian saat berjuang mempertaruhkan nyawanya demi anakku."
Nora memejamkan mata rapat-rapat, membiarkan air matanya kembali menetes, kali ini membasahi bahu Yusuf. Ia ingin marah, ia ingin berteriak, ia ingin bertanya 'lalu bagaimana dengan perasaanku?', tapi ia sadar, itu takkan mengubah apa pun. Itu hanya akan membuatnya terlihat egois, sementara wanita lain baru saja berjuang mati-matian melahirkan anak suaminya.
"Aku mengerti, Mas... aku mengerti," jawab Nora parau, suaranya terdengar lelah sekali. "Aku dokter, aku istri, aku juga wanita. Aku paham alasan Mas. Aku cuma... cuma butuh waktu untuk menyesuaikan diri saja. Melihat Mas begitu lembut, begitu penuh kasih sayang pada Siti... rasanya aku seperti kembali ke masa dulu, saat kita berdua saja. Tapi sekarang... ada orang ketiga yang mendapatkan semua itu juga."
Yusuf mengeratkan pelukannya, rasa bersalahnya semakin menjadi-jadi. Ia sadar, kebaikan hatinya sering kali menjadi pisau bermata dua yang melukai wanita-wanita yang dicintainya.
"Bagiku, posisimu tidak akan pernah berubah, Nora. Kamu tetap yang pertama, kamu tetap pemilik hatiku yang utuh. Apa yang aku berikan pada Siti... itu adalah kasih sayang sebagai suami yang bertanggung jawab, sebagai teman hidup yang harus mendukung. Tapi apa yang kita punya... itu jauh lebih dalam, jauh lebih tua, dan jauh lebih abadi. Tolong percaya padaku."
Nora mengangguk pelan, meski di lubuk hatinya ia bertanya-tanya. Apakah batas antara kasih sayang karena tanggung jawab dan kasih sayang karena cinta itu setipis rambut saja? Dan apakah Yusuf sadar, bahwa perlahan namun pasti, ia mulai mencintai wanita lain itu dengan cara yang sama seperti ia mencintainya?
Namun kata-kata itu tertahan di kerongkongannya. Ia takut mendengar jawabannya, ia takut kebenaran itu terungkap. Ia memilih untuk diam, memilih untuk percaya pada janji Yusuf, dan memilih untuk bertahan dengan pernikahan rumit ini.
"Terima kasih sudah menjelaskan, Mas," ucap Nora pelan saat melepaskan pelukan itu. Ia menatap wajah suaminya, berusaha menyembunyikan rasa sakit yang masih mendalam di matanya. "Sekarang, Mas sebaiknya masuk lagi ke dalam. Siti pasti butuh Mas. Aku... aku mau ke ruang dokter sebentar, ada pekerjaan yang harus diselesaikan."
Yusuf menatap Nora lekat-lekat, ingin sekali memaksanya untuk beristirahat, namun ia tahu, memberikan ruang saat ini mungkin adalah hal terbaik yang bisa ia lakukan. Ia mengangguk perlahan, lalu mengusap pipi Nora yang masih terasa basah.
"Jangan terlalu lama. Nanti kalau semuanya sudah tenang, Mas akan cari kamu lagi. Kita makan siang bersama ya? Bertiga, bersama Haikal."
Nora tersenyum kecil, senyum yang penuh kepahitan namun tetap sopan. "Iya, Mas. Nanti aku susul."
Yusuf pun berbalik melangkah masuk kembali ke ruang bersalin, meninggalkan Nora yang berdiri sendiri lagi di koridor yang sepi itu. Nora menatap punggung suaminya yang menjauh, menatap pintu ruangan yang kini tertutup rapat lagi, memisahkan dirinya dari dunia kebahagiaan Yusuf dan Siti.
Di dalam sana, ada bayi yang baru lahir, ada ibu yang baru saja berjuang mati-matian, dan ada ayah yang penuh kasih sayang. Sebuah keluarga kecil yang baru saja terbentuk sempurna. Sementara di luar sana, Nora menyadari satu hal pahit yang harus ia terima mulai hari ini. Kehadiran anak itu bukan hanya menambah anggota keluarga, tapi juga semakin mengikat hati Yusuf pada Siti dengan ikatan yang tak terputuskan selamanya. Ikatan darah. Ikatan anak. Dan itu jauh lebih kuat dan lebih abadi daripada sekadar ikatan pernikahan.
Nora menarik napas panjang, menghapus sisa air matanya, lalu kembali memasang topeng tenang dan profesional. Ia harus kuat. Ia harus tetap menjadi Nora yang hebat, Nora yang sabar, dan Nora yang mengerti. Meski hatinya hancur berkeping-keping, ia berjanji akan tetap berdiri tegak di sisi Yusuf, menunggu saat di mana ia kembali menjadi satu-satunya wanita di hati suaminya. Namun pertanyaan besar masih menggantung di benaknya. Apakah hari itu akan pernah datang lagi?
Bersambung....
untung nora semoga aja ank nya haikal sendri yg nampak mama nya selingkuh sm raka 🤣🤣🤣