NovelToon NovelToon
TERSESAT DI DESA MISTERIUS

TERSESAT DI DESA MISTERIUS

Status: sedang berlangsung
Genre:Kutukan / Mata Batin / Tumbal
Popularitas:238.5k
Nilai: 5
Nama Author: Cublik

Semua bermula saat regu berjumlah enam anggota mahasiswa hendak bertolak ke sebuah perkampungan pelosok demi tugas KKN, mereka menolak ikut rombongan bus kampus, memilih menaiki mobil pribadi.

Sampai pertengahan jalan, sang sopir berbelok arah, mencari jalur alternatif agar cepat sampai tujuan, tapi malah memasuki wilayah tidak terdaftar pada peta digital maupun konvensional.

Keanehan, kejanggalan mulai terjadi kala sang waktu merambat memasuki malam hari. Langit berangsur-angsur berubah warna layaknya api menyala.

Ada apa sebenarnya? lantas bagaimana dengan nasib para mahasiswa, termasuk Candra Kanti, gadis pendiam yang dapat merasakan aura mistis disekitarnya ...?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cublik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pertolongan terhalang : 35

“Baik, ketua!” sikap tunduk mereka kepada pemimpin kawanan siluman Aul adalah harga mati.

Lilis berdiri pongah, bola matanya berkilat menciptakan warna merah dan hitam pekat.

“Sepertinya perburuan kali ini akan lebih seru. Diantara para manusia lemah, ada satu sosok memiliki keistimewaan – tulang wangi darah manis. Jika kita berhasil minum darah disaat puncak penyiksaan keji, maka keabadian milik klan Aul,” auranya bengis, dalam benaknya – tergambar wajah Candra Kanti.

Gadis yang kerap kali diintip saat mandi, tetapi tidak pernah bisa melihat fisik tanpa mengenakan sehelai pakaian.

Bu Sasmi, dan kedua anggota keluarganya menyeringai, aura pemburu, pembunuh berdesir panas pada urat nadi.

***

“Berapa lama lagi kita sampai?” tanya wanita berpenampilan berbeda dari biasanya, feminim.

Bu Laila Ngatemi, mengenakan celana panjang parasut longgar, kaos oblong, antisipasi agar ruang geraknya tidak terhalang pakaian.

Meskipun umurnya sudah 45 tahun, sisa-sisa kejayaan masa muda masih memancar. Tubuh bugar, penglihatan tajam, dan dibalik netra polosnya tersimpan kecerdikan.

Sang suami melihat jam pada pergelangan tangan, yang mana bagian lengan atas terdapat garis menonjol bekas luka bakar di masa lalu. “Penunjuk waktu telah mati, kita sudah memasuki hutan gaib.”

Tiba-tiba deru mesin mobil mati dengan sendirinya. Navigasi pada audio berhenti pada titik terakhir tiga kilometer dari sini jalan telah dilalui.

Dibalik setir kemudi, Resendriya memperhatikan sekitar lewat jendela kaca bagian depan.

Pak Pramudya, bu Laila melakukan hal sama. Mata mereka sangat awas, sikap waspada.

Suhu di dalam mobil yang semula dingin berkat ac, perlahan naik menghangat.

Klik!

Tombol pengunci pintu otomatis tertekan, seluruh jalur keluar mobil terkunci.

Tidak ada yang panik, ketiga sosok beda usia itu masih tenang kendatipun udara mulai pengab, oksigen menipis.

Hutan rimbun, jalan lurus layaknya lorong panjang tidak berujung masih memanjakan mata memberikan pemandangan bebas.

Namun hanya sebentar, sampai kabut keluar dari sela-sela pohon, melayang layaknya arakan awan.

Dalam sekejap mata, jarak pandang terganggu, jadi sangat terbatas, cuaca cerah seketika suram, putih keabu-abuan.

Wanita berprofesi sebagai dokter forensik di salah satu rumah sakit swasta – memejamkan, dari bibirnya terdengar pelafalan mantra aksara Nusantara. Suhu hangat terjun bebas, berganti dingin menusuk tulang.

Keempat pintu mobil yang semula terkunci, tiba-tiba terbuka bukan dengan perlahan melainkan terhempas kuat.

Hwarrrr ….

Secepat kilat, pusara angin menahan kabut menggumpal yang melesat hendak melukai para penumpang.

Brakk!

Suara tabrakan keras terdengar menggetarkan gendang telinga.

Diam-diam jin Kampret pelindung ibu Laila Ngatemi yang sedari tadi sudah mengendus bahaya, menampakan wujudnya lalu menyerang kumpulan kabut menyerupai gumpalan batu besar.

Resendriya menjejakkan kaki tanah terasa seperti es menembus sepatu yang dikenakannya.

Pak Pramudya, lewat tatapan mata tajam dapat melihat rombongan sosok berbadan manusia, kepala Anjing, kaki terbalik – siluman Aul. Diapun turun dari dalam mobil, disusul sang istri.

“Mereka penjaga batas alam manusia dengan wilayah gaib dihuni oleh kaumnya,” ujar bu Laila Ngatemi. Tangan ramping, jemari lentik yang biasa menolong ibu-ibu melahirkan, merogoh saku celana mengambil sebuah besi dingin yang dipercaya sangat tidak disukai serta ditakuti sosok gaib.

Benda bulat padat telah berisi mantra, dilempar ke arah kawanan siluman Aul.

Terdengar bunyi ledakan, dan sosok makhluk astral bagi mata manusia awam sangat menyeramkan mulai menampakkan wujud.

Belasan kelelawar bermata merah darah, tubuh raksasa, kaki panjang dengan jari-jari terbungkus kulit tanpa daging, gigi runcing siap menyobek mangsa, kepakan sayap sanggup merobohkan pohon berdiameter sedang – berdiri setengah membungkuk menjadi garda terdepan sang majikan.

Kelelawar jadi-jadian itu peliharaan pak Pramudya, bersarang di dalam gua balik air terjun tempat bu Laila melahirkan Candra Kanti dan kembarannya.

Lolongan serigala bersahutan-sahutan, bukan menerjang melainkan melarikan diri menghilang tersapu kabut tebal.

“Mereka lemah disaat langit belum berubah jingga layaknya api menyala. Kekuatan mereka ada pada cahaya kemerahan, dan pada waktu itulah makhluk Aul beraksi mengeksekusi korbannya,” jelas Driya, netranya memandang lekat bagaimana Jin Kampret sedang bertarung dengan gumpalan kabut.

“Kita harus cepat mencari jalan masuk ke wilayah mereka. Jika dilihat dari tebalnya kabut ini, tak lama lagi waktu malam dialam ini.” Pak Pramudya melangkah maju, sedikitpun tidak merasa takut.

Resendriya mengangguk, berjalan lain arah, menelisik sekitar, harus secepatnya menemukan celah masuk ke dunia tak kasat mata yang mengurung Candra Kanti dan teman-temannya.

Jin pelindung Laila Ngatemi mengamuk, menggunakan kekuatan angin berhasil menghantam kabut terlempar jauh lalu pecah menyatu dengan udara.

Para makhluk kelelawar berjaga-jaga selagi tuan mereka sibuk mencari jalan masuk.

***

“Aku gak sanggup lagi,” kalimat Abeer terputus-putus, dia kelelahan.

Ahwaya juga merasakan hal sama, bahkan terdengar suara napas seperti mengidap penyakit asma tengah kambuh.

Kanti membungkuk, kedua tangan bertumpu di atas lutut, napasnya terengah-engah.

“Dimana tempat persembunyian aman itu? Wilayah ini hanya menyuguhkan pemandangan hutan belantara, dari yang gersang sampai sekarang rimbun pepohonan raksasa.” Sambara berputar tanpa merubah posisi berdiri. Kala mendongak, jarak ujung pandangnya terhalang dedaunan hijau saling bergesekan dengan dahan dari pohon bersebelahan.

Sedangkan Aji menatap bagian bawah, sejauh mata memandang – tumbuhan pakis liar sangat rimbun, akar-akar pohon bergelantungan, dan tanah berlumut lembab menguarkan bau kayu busuk.

Buah-buahan hasil curian sudah habis dimakan mereka, sekarang persediaan makanan kosong, sementara belum mendapatkan tempat aman di antah berantah ini.

Netra bulat Kanti bergerak cepat, mencari sesuatu yang bisa dijadikan petunjuk atau buah-buahan hutan untuk mengganjal perut.

Matanya memicing kala sebuah ide terlintas begitu saja. Tadi sama sekali tidak kepikiran akan hal ini.

“Biar aku panjat pohon itu untuk melihat lebih jauh, siapa tahu ada sesuatu petunjuk yang bisa menyelamatkan kita.” Kanti melangkah ke sebuah pohon cabang pertamanya cukup rendah untuk dia gapai.

“Biar aku saja,” Aji tidak tega melihat gadis kesayangannya kelelahan, berkeringat.

“Gapapa aku aja. Lagian kalau kamu yang naik ke atas malah buat repot kita, dan pastinya bakalan berisik karena dirimu sendiri gak tahu tempat aman yang cocok untuk kita,” Kanti menolak bantuan temannya.

Candra Kanti memeluk batang pohon, lalu kakinya menekan kuat pada bagian bawah, sedikit bersusah payah mulai memanjat. Kala tangannya menggapai dahan pertama, langsung saja naik lebih tinggi lagi.

Pada ketinggian empat meter dari permukaan tanah, Kanti duduk di sebuah cabang cukup kuat, berpegangan pada batang pohon berkulit kasar membuat lengannya perih akibat tergores.

“Nyai, aku sudah sampai pucuk. Bisakah kamu memberi petunjuk dimana kami harus bersembunyi?” pintanya berbisik, perasaan mulai putus asa.

Lelah fisik, jiwa terguncang akibat kejadian mengerikan beruntun, Kanti seperti kehilangan semangat untuk hidup.

“Ibu, ayah ….” panggilnya sarat kerinduan mendalam. Matanya memerah menahan tangis. “Sudah dua puluh lima hari aku disini, terkurung di tempat bak neraka. Temanku meninggal satu, tersisa kami berlima dikejar-kejar makhluk buas. Bu, aku harus kemana supaya sedikit lebih lama menghadapi kematian yang mungkin sudah didepan mata.”

Ia memejamkan mata, membiarkan air matanya membasahi pipi.

“Cari sungai besar, Nak! Satu-satunya tempat dihindari oleh makhluk Aul. Namun kamu harus lebih berhati-hati, karena ….”

.

.

Bersambung.

1
Siti Siti
kak cubliikkkk dirimu gak di kurung aksateeee kan 😁😁😁kok aku tidak bisa mendeteksi keberadaan dikau🙈🙈🙈🙈
Betri Betmawati
mudah mudahan bisa ya,
ngk rela Kanti sampai nikah SMA aksata
Monica Lora
kantii bangunlh teman mu rindu.. bangunlh .pakai logika mu..madanada hidup dipedalaman tak jelas begitu akan bahagia
Abu bakar
bagus
neni nuraeni
semoga mereka segera menemukan titik terang agar tidak trlmbat menolong Candra Kanti,,, semoga pelindung knti bebas dan mngetahui knti ada di alam yg sama agar ibu Laila bisa mlck knti lewat pelindungnya,,, ayo knti sadar kamu cpt sadar... keluargamu serta temanmu Merinduknmu
Albina
memang kalo di daerah kyk bgt pantng ngmng smbrgn
Y.S Meliana
sabar beerr 😟
baru baca lg karya kak cublik yg ini, saking sibuk'y d dunia nyata
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
ayo Kanti kamu sadar kl itu hanya jebakan Aksata agar kamu tinggal di sana bersama Aksata 😏😏 kasihan keluargamu setiap hari menangisi mu dan teman"mu jg pd sedih liat kamu seperti itu 😏😏 apa Resendrya gak bisa bantu sama sekali Thor jujur saya gak rela kl Kanti nikah sama Aksata dan hidup di dunia siluman 😏😏
AFPA
Gak ada yg bisa nolong..ni dasah juga ga bisa nerawang dimana keberadaan jiwa kanti
tapi...ada seseorang yg bisa nolong kanti....CUBLIK...lah orangnya
KAK CUB..please jangan sama set-an sesat ya
Watiningsih
kamu jahat aksata kamu terobsesi pada kanti, kasian kanti terkurung di desa sunyi dia merasa kesepian bagai hidup di sangkar emas, sampai kapan kamu akan bohongi kanti. Jika kebenarannya terungkap kamu akan dibenci kanti
Diah_Kustantie ✨💛
Gercep seminggu lagi pernikahan pas juga seminggu lagi perban aji dibuka semoga ada jalan kemudahan buat kanti kembali.kek nya emang harus di nikahin kanti sama aji sebelum keduluan sama Aksata.
AFPA
saset..set-an..aku sebel..
jahat banget..
kanti..ayo usaha..
ga rela kl.kanti pasangan sm harimau
berharap aya,pacarnya, ember ,aji bisa ingat lagi
siapa yg hapus ingatan mereka ber 3?
Aprisya
coba minta bantuan sama suami ainur aja Bu laila
☠ᵏᵋᶜᶟ Қiᷠnꙷaͣŋͥ❁︎⃞⃟ʂ⍣⃝𝑴𝒊𝒔𝒔
sulit banget ya ... kekuatan aksata gak main2 ini berarti,..ni dasah aja susah masuk nya
Mudahlia Fitha
ayo dong Mak ah ini GK lucu AQ udah merinding disko ini
Shee_👚
nah ya bener, tombak candra kanti dari si pecundang aksata.
duh aku ko ya sebel banget sama aksata🙈
Shee_👚
ini berarti mayang, aji, abeer dan Aya anak tunggal semua ya. kecuali kanti yang punya sodara kembar
Shee_👚
aku ngak kuat😭😭😭😭😭
mereka bingung dengan perasaan mereka sendiri, merasakan sedih, kehilangan, dan menyayangi tanpa tau sebabnya.

kaya orang linglung
Shee_👚
semoga pertemanan kalian langgeng dan saling bantu, saling jaga satu sama lain😭
Shee_👚
bener hati gak bisa bohong, mereka merasakan kesedihan dan kedekatan itu dengn hati tulus😭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!