Tiga puluh ribu tahun peperangan berakhir dengan kehancuran Alam Dewa. Lin XingYu, sang Dewa Primordial terakhir, harus mengorbankan 99% basis kultivasinya demi memukul mundur sembilan Iblis Agung. Di ambang kematian, ia melintasi dimensi untuk mencari penerus dan menemukan Ling Xinyue—seorang gadis bumi berusia 16 tahun yang tengah menghitung detik terakhir hidupnya akibat kanker otak.
Kini, dengan jiwa manusia yang rapuh dalam raga dewi tercantik di jagat raya, Xinyue harus memulai perjalanan mustahil sejauh 50.000 mil menuju Pulau Warisan. Bersama Lian Yue, sang Merak Bulan Es, ia harus belajar menguasai kekuatan yang sanggup mengguncang semesta sebelum para Iblis Agung bangkit kembali. Ini bukan lagi tentang bertahan hidup dari penyakit, ini tentang menaklukkan takdir para dewa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon XING YI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 24:Tak Sadarkan Diri
Ketika tubuh Chen Lin tersedot sepenuhnya ke dalam pusaran spasial tersebut, ia kini berada di dalam kehampaan yang menakutkan, sebuah koridor tak kasat mata dari aliran ruang dan waktu.
Di dalam dimensi antara ini, segalanya berjalan di luar batas logika manusia. Aliran ruang dan waktu tidak berwujud air atau angin, melainkan jalinan jutaan benang cahaya yang melesat ke segala arah tanpa awal dan akhir.
Kadang kala warna di sekelilingnya berubah menjadi seputih perak yang menyilaukan, lalu dalam sekejap menyusut menjadi hitam legam yang pekat.
Meskipun tempat ini masih berada di lingkup batasan dunia alam bawah, koridor antar-dimensi ini adalah wilayah terlarang bagi siapa pun yang belum melampaui batas mortalitas.
"Ugh... Aaakh!"
Sebuah jeritan keputusasaan yang tertahan pecah dari tenggorokan Chen Lin, namun suara itu langsung ditelan oleh keheningan hampa. Rasa sakit yang menghantamnya saat ini berada di tingkat yang sama sekali berbeda dari luka tebasan pedang atau hantaman energi spiritual biasa.
Ini adalah penolakan mutlak dari alam semesta. Aliran ruang dan waktu di sekitarnya mulai menekan tubuh fisiknya, masuk menembus pori-pori kulitnya, dan mulai menghancurkan fondasi kehidupannya dari dalam.
Crack!
Suara retakan itu bergema langsung di dalam tengkoraknya. Pembuluh darah di sekujur tubuh Chen Lin mulai menegang dan pecah satu demi satu, menyemburkan darah segar yang langsung menguap menjadi partikel cahaya begitu menyentuh udara hampa.
Dantian di dalam perutnya bergetar hebat, seolah-olah siap meledak karena tidak mampu menahan tekanan eksternal yang teramat masif.
Aliran energi pelindung yang sebelumnya diberikan oleh Lin XingYu telah habis tak bersisa, meninggalkan Chen Lin sebatang kara menghadapi badai kosmis ini.
"Sial... apakah ini batas akhirku?" batin Chen Lin, kesadarannya mulai berayun di ambang maut.
Di dalam lautan pikirannya yang mulai meredup, ia mencoba memanggil gurunya.
"Senior Lin... tubuhku... tubuhku benar-benar akan hancur..."
Namun, tidak ada jawaban. Jiwa Lin XingYu telah tertidur terlalu dalam di sudut terdalam kalung Giok itu karena telah kehabisan seluruh kekuatannya.
Di dalam dunia kultivasi alam bawah, sudah menjadi hukum mutlak yang tertulis di atas batu bahwa aliran ruang dan waktu adalah wilayah kematian. Hanya para leluhur agung yang telah mencapai ranah Soul Essence para mistikus legendaris yang telah memurnikan jiwa mereka menjadi esensi abadi, yang mampu leluasa melangkah, bernapas, dan bergerak di dalam koridor ini tanpa takut hancur menjadi debu.
Sementara Chen Lin, yang bahkan belum menginjak pertengahan ranah Birth Soul, hanyalah seperti ranting kering yang mudah hancur di aliran ruang ini.
Setiap inci dagingnya seolah sedang dipelintir dan ditarik oleh ribuan tangan tak kasat mata. Tulang rusuknya mulai retak, dan jalur meridian spiritualnya kusut masai, mengalirkan rasa perih yang membakar jiwa.
Ketika kabut kematian hampir sepenuhnya menutup pandangannya, dan ketika ia sudah bersiap menerima takdir bahwa eksistensinya akan terhapus dari dunia, sesuatu yang tertidur di dalam kode genetik dan spiritualnya tiba-tiba terbangun.
Tepat di titik tengah dadanya, sebuah titik cahaya kecil berwarna ungu cerah mendadak menyala.
Cahaya itu awalnya hanya seukuran biji kacang, namun dalam hitungan milidetik, ia meledak menjadi jaringan rasi bintang yang rumit, menjalar ke seluruh tulang, daging, dan pembuluh darah Chen Lin.
Itu adalah Universe Star Body—Fisik Bintang Semesta. Sebuah bakat fisik khusus dan langka yang tersembunyi di dalam garis keturunan spiritualnya, yang selama ini belum pernah bangkit sepenuhnya karena kurangnya pemicu yang ekstrem.
Di bawah ancaman kehancuran mutlak dari aliran ruang dan waktu, insting bertahan hidup dari Fisik Bintang ini akhirnya terstimulasi secara radikal.
"Ini... cahaya apa ini?" gumam Chen Lin dalam sisa kesadarannya, merasakan kehangatan yang asing tiba-tiba mengalir menggantikan rasa sakit yang membakar.
Rasi bintang di dalam tubuhnya mulai berputar bagaikan galaksi miniatur. Seolah memiliki kesadaran sendiri, Universe Star Body tidak lagi menolak tekanan luar, melainkan mulai membuka seluruh pori-pori dan meridian Chen Lin untuk bertindak sebagai pusaran hisap.
Benang-benang cahaya dari aliran waktu yang semula merobek dagingnya, kini justru mulai tersedot masuk ke dalam tubuh khusus tersebut.
Fisik Bintang Semesta miliknya secara ajaib mulai menyerap, menyaring, dan mengonversi kekuatan aliran waktu yang liar itu menjadi energi nutrisi spiritual yang murni.
Setiap kali seberkas energi waktu diserap, tanda rasi bintang di tulang Chen Lin bersinar lebih terang, secara drastis mengurangi dampak serangan spasial yang menghancurkan organ dalamnya.
Meskipun energi itu tidak serta-merta menyembuhkan luka-luka yang sudah ada, Universe Star Body berhasil menciptakan sebuah lapisan pelindung astral berwarna biru malam yang dihiasi pendaran bintang di sekujur tubuhnya.
Lapisan ini bertindak bagaikan baju zirah dewa, mengisolasi Chen Lin dari daya hancur koridor dimensi saat tubuhnya terus diseret entah kemana oleh arus ruang yang tak terkendali.
"Apa ini?..." bisik Chen Lin sebelum rasa lelah yang teramat sangat akibat kebangkitan fisik khusus itu benar-benar mengunci kesadarannya.
Jiwanya menyerah pada kegelapan, tertidur dalam perlindungan kepompong bintang yang melayang membelah batas dimensi.
Di sebuah wilayah yang sangat jauh dari Negara Bai Xue, langit siang yang cerah di atas sebuah hamparan ladang tiba-tiba terkoyak.
Sebuah celah spasial kecil berwarna hitam keunguan terbuka selama 3 detik, melemparkan sesosok tubuh manusia yang tidak berdaya sebelum celah itu menutup kembali dengan suara gemuruh yang pelan.
Tubuh itu adalah Chen Lin. Kepompong cahaya astral dari Universe Star Body miliknya telah memudar sepenuhnya begitu menyentuh atmosfer dunia fana, menyisakan tubuh fisiknya yang penuh dengan luka robek dan pakaian yang compang-camping.
Ia jatuh bebas dari ketinggian yang mengerikan, tidak kurang dari 60 meter di atas permukaan tanah. Dalam kecepatan jatuh yang begitu tinggi, menghantam permukaan tanah yang keras dengan kondisi tubuh yang sudah hancur dari dalam sama saja dengan mempercepat kematian.
Namun, tampaknya keberuntungan belum sepenuhnya berpaling dari pemuda ini.
Tepat di bawah titik jatuhnya, membentang sebuah ladang pertanian yang luas.
Di sudut ladang tersebut, terdapat sebuah tumpukan jerami raksasa yang sangat tebal dan tinggi, hasil panen kering yang baru saja dikumpulkan oleh para petani selama berminggu-minggu.
Benturan itu terdengar sangat keras. Tubuh Chen Lin menghantam tumpukan jerami tebal tersebut dengan telak, tenggelam ke dalam tumpukan tangkai padi kering hingga sedalam beberapa meter.
Meskipun jerami yang empuk dan tebal itu berhasil meredam sebagian besar momentum jatuh bebasnya dan menyelamatkan nyawanya dari kehancuran tulang total, dampak hantaman dari ketinggian 60 meter tetap mengirimkan gelombang kejut yang parah ke dalam tubuhnya yang memang sudah rapuh.
Darah segar kembali merembes dari mulut dan hidungnya, menodai jerami-jerami kering di sekitarnya menjadi merah pekat. Chen Lin tetap tidak sadarkan diri, terbaring diam bagaikan mayat di dalam pelukan jerami, dengan napas yang teramat tipis dan detak jantung yang nyaris tidak terdengar.
Tidak jauh dari tempat kejadian, di bagian ladang yang lain, seorang gadis remaja berusia sekitar enam belas tahun tengah sibuk mengikat seikat jerami terakhir.
Gadis itu mengenakan pakaian kain kasar yang sederhana namun bersih, dengan rambut yang dikucir kuda secara praktis. Wajahnya yang polos tampak berkeringat di bawah terik matahari siang. Namanya adalah Xiao Yu.
Mendengar suara hantaman yang begitu keras dari arah tumpukan jerami utama, Xiao Yu tersentak kaget hingga arit kecil di tangannya hampir terjatuh.
"Kakek! Kakek, apakah kau mendengar suara itu tadi?" teriak Xiao Yu dengan nada panik, matanya menatap waspada ke arah tumpukan jerami yang kini tampak berantakan dan mengeluarkan kepulan debu kering.
Dari balik pohon peneduh di pinggir ladang, seorang pria tua bertubuh agak bungkuk dengan janggut putih. Ia adalah Kakek Gu, pemilik ladang kecil ini. Wajahnya yang penuh kerutan langsung menegang mendengar teriakan cucunya.
"Suara apa, Xiao Yu? Jangan menakut-nakuti Kakek yang sudah tua ini. Apakah ada binatang buas yang turun dari gunung?" tanya Kakek Gu sambil melangkah tergesa-gesa dengan bantuan sebatang tongkat kayu, mendekati cucunya.
"Bukan, Kakek! Suaranya seperti sesuatu yang besar jatuh dari langit dan menghantam tumpukan jerami kita! Mari kita periksa," ajak Xiao Yu, rasa penasarannya mengalahkan rasa takutnya.
Gadis itu melangkah dengan hati-hati membelah tanaman kering, diikuti oleh Kakek Gu yang terus bergumam cemas di belakangnya.
Ketika mereka berdua tiba di depan tumpukan jerami, mereka melihat puncak tumpukan itu telah ambles ke dalam, dengan noda-noda merah yang mencolok di beberapa bagian batangnya.
"Bau darah..." Kakek Gu mengendus udara, wajahnya berubah serius.
"Xiao Yu, mundur ke belakang Kakek. Ini tidak benar."
Namun, Xiao Yu sudah melangkah lebih dekat dan mengintip ke dalam celah jerami yang runtuh. Matanya seketika terbelalak lebar, dan tangannya spontan menutup mulutnya karena terkejut.
"Kakek! Ada... ada orang di dalam sini! Seorang pemuda!" seru Xiao Yu, menunjuk ke dalam tumpukan jerami.
Kakek Gu terkejut, segera menggeser jerami-jerami kering itu menggunakan tongkatnya. Di sana, terbaring sesosok pemuda berpakaian compang-camping yang dipenuhi noda darah, dengan wajah yang pucat bagaikan kertas.
Kulitnya dihiasi oleh garis-garis luka memar berwarna keunguan yang aneh, seolah-olah ia baru saja lolos dari mesin penggiling daging.
Kakek Gu berlutut dengan susah payah, menempelkan dua jarinya yang kasar ke leher Chen Lin untuk memeriksa urat nadinya. Setelah beberapa saat yang menegangkan, pria tua itu mengembuskan napas panjang.
"Dia masih hidup... tapi detak jantungnya sangat lemah, " kata Kakek Gu dengan nada berat.
"Luka-lukanya sangat aneh. Ini bukan luka akibat senjata tajam biasa atau gigian binatang. Ini seperti luka dalam yang disebabkan oleh fluktuasi energi."
"Lalu apa yang harus kita lakukan, Kakek?" tanya Xiao Yu, matanya dipenuhi rasa iba menatap kondisi Chen Lin yang mengenaskan.
"Kita tidak bisa meninggalkannya di sini di bawah terik matahari. Jika kita membiarkannya, dia pasti akan mati sebelum matahari terbenam."
Kakek Gu menatap langit sejenak, lalu menatap cucunya dengan pandangan penuh pertimbangan.
"Dunia ini kejam, Xiao Yu. Menolong orang asing yang tidak dikenal sering kali membawa petaka bagi orang kecil seperti kita. Bagaimana jika dia adalah buronan dari sekte kultivator atau penjahat yang melarikan diri?"
"Tapi Kakek selalu mengajariku untuk memiliki hati yang belas asih," sanggah Xiao Yu dengan nada mendesak, matanya menatap lurus ke arah kakeknya.
"Lihatlah dia, dia seusia denganku atau mungkin sedikit lebih tua. Dia bahkan tidak memiliki senjata di tangannya. Bagaimana bisa kita membiarkan sesama manusia mati di ladang kita sendiri?"
Mendengar kata-kata cucunya, Kakek Gu menghela napas panjang, senyum tipis yang penuh kehangatan namun sarat akan kelelahan muncul di wajahnya.
"Kau benar. Hatimu jauh lebih murni daripada pikiran kakekmu yang sudah tua dan penuh kecurigaan ini. Mari, bantu Kakek memapahnya. Kita bawa dia ke pondok kita sebelum malam tiba."
Dengan susah payah, pria tua dan gadis remaja itu menarik tubuh Chen Lin yang tak berdaya keluar dari tumpukan jerami, meletakkannya di atas gerobak kayu kecil yang biasa mereka gunakan untuk mengangkut hasil panen, lalu mendorongnya perlahan menyusuri jalan setapak menuju sebuah pondok jerami sederhana yang terletak di pinggiran desa terpencil tersebut.
Hari berganti hari, dan lembaran waktu terus berputar tanpa memperdulikan pemuda yang tengah berada di ambang kematian di dalam pondok kayu kecil itu.
Luka-luka yang dialami Chen Lin akibat distorsi ruang dan waktu terlalu parah untuk disembuhkan oleh ramuan obat herbal biasa milik manusia fana.
Beruntung, sisa-sisa energi dari kebangkitan Universe Star Body di dalam tubuhnya secara pasif terus bekerja, mengalirkan pendaran cahaya astral mikroskopis yang perlahan-lahan menyambung kembali meridian yang putus dan menstabilkan organ dalamnya yang retak.
Namun, proses perbaikan internal berskala besar ini menguras seluruh energi vitalnya, memaksa kesadarannya untuk tetap terkunci di dalam ruang kegelapan yang pekat.
Selama masa-masa kritis itu, Xiao Yu adalah sosok yang paling setia merawatnya. Setiap pagi sebelum matahari terbit, gadis itu akan pergi ke hutan dekat desa untuk mencari tanaman obat liar penurun demam yang diajarkan oleh kakeknya.
Ia akan menumbuk obat-obatan itu hingga halus, lalu menyuapkannya secara perlahan ke dalam mulut Chen Lin yang terkatup rapat, setetes demi setetes dengan kesabaran yang luar biasa.
"Kakek, ini sudah hari kesepuluh, tapi mengapa dia masih belum menunjukkan tanda-tanda akan bangun?" tanya Xiao Yu pada suatu sore, sambil mengganti kain kompres dingin di dahi Chen Lin.
Di luar, suara rintik hujan musim gugur mulai membasahi atap jerami pondok mereka, menciptakan irama yang sunyi.
"Demamnya terkadang sangat tinggi hingga tubuhnya mengeluarkan cahaya biru yang aneh... Aku takut dia tidak akan pernah membuka matanya lagi."
Kakek Gu yang sedang duduk di dekat perapian sambil merajut keranjang bambu, memandang ke arah tempat tidur kayu di sudut ruangan.
"Tubuh anak muda ini memiliki rahasia yang besar, Xiao Yu. Kakek telah hidup selama hampir tujuh puluh tahun, dan kakek tahu bahwa orang biasa tidak akan pernah selamat setelah jatuh dari ketinggian seperti itu dengan luka dalam yang begitu parah. Fakta bahwa napasnya semakin hari semakin stabil adalah sebuah keajaiban. Yang bisa kita lakukan hanyalah memberi makan fisiknya dan menyerahkan sisa takdirnya pada kehendak langit."
"Aku hanya berharap dia segera bangun," bisik Xiao Yu pelan, menatap wajah Chen Lin yang kini tidak lagi sepucat saat pertama kali ditemukan.
"Aku ingin mendengar ceritanya... dari mana dia berasal, dan mengapa dia bisa jatuh dari langit."
Waktu terus merayap maju, hingga hampir 20 hari telah berlalu sejak hari pertama Chen Lin terdampar di ladang jerami tersebut.
Pada hari kesembilan belas, malam telah larut dan seluruh desa telah tenggelam dalam keheningan yang absolut.
Di dalam pondok, hanya ada suara kayu bakar yang berderak pelan di perapian, memancarkan cahaya jingga yang hangat ke dinding-dinding kayu.
Di atas tempat tidur, jemari tangan kanan Chen Lin tiba-tiba bergerak sedikit.
Gerakan kecil itu diikuti oleh getaran halus di kelopak matanya.
Di dalam lautan kesadarannya yang gelap, kabut tebal yang mengurungnya selama hampir tiga minggu terakhir perlahan-lahan mulai tersapu oleh embusan angin spiritual yang jernih. Kesadaran Chen Lin yang tercerai-berai mulai menyatu kembali, mengembalikan fungsi panca indranya secara bertahap.
Hal pertama yang ia rasakan adalah rasa sakit. Rasa sakit itu tidak lagi tajam dan membakar seperti di dalam aliran waktu, melainkan rasa pegal dan kaku yang teramat sangat di sekujur otot dan tulangnya, seolah-olah tubuhnya baru saja terkubur di bawah tumpukan batu selama berabad-abad.
Ia menarik napas dalam-dalam secara tidak sadar, menghirup aroma udara yang sangat berbeda, aroma kayu bakar, tumbukan daun herbal yang pahit, dan kehangatan tanah kering. Ini bukan udara dingin Negara Bai Xue, bukan pula atmosfer hampa dari ruang dimensi.
"Ugh..."
Sebuah lenguhan pelan, serak, dan penuh kelelahan keluar dari bibir Chen Lin yang pecah-pecah.
Dengan usaha yang menguras seluruh sisa tenaganya, ia perlahan-lahan membuka kedua matanya.
Pandangannya kabur dan buram untuk beberapa saat, hanya mampu menangkap bayangan langit-langit pondok yang terbuat dari jalinan bambu dan jerami kering, yang disinari oleh cahaya remang-remang dari perapian di dekatnya.
Ia mencoba menggerakkan lehernya untuk melihat ke sekeliling, namun rasa kaku di otot lehernya membuatnya mengerang kesakitan.
"Jangan bergerak dulu! Tubuhmu masih sangat lemah!"
Sebuah suara perempuan yang lembut, jernih, dan dipenuhi oleh keterkejutan sekaligus kegembiraan yang luar biasa tiba-tiba terdengar dari arah samping tempat tidurnya.
Chen Lin memutar bola matanya dengan lambat, menatap ke arah sumber suara. Di sana, seorang gadis remaja berpakaian kain kasar tengah berdiri dengan mata terbelalak lebar, memegang sebuah mangkuk tanah liat berisi air hangat.
Wajah gadis itu tampak benderang oleh kebahagiaan yang tulus, seolah-olah dia baru saja melihat sebutir benih mati yang mendadak tumbuh menjadi bunga di musim dingin.
"Kau... siapa...?" tanya Chen Lin dengan suara yang teramat lirih, hampir seperti bisikan angin yang lewat di sela-sela dinding bambu.
Tenggorokannya terasa sangat perih dan kering bagaikan terbakar setiap kali ia mencoba mengeluarkan kata-kata.
Xiao Yu segera meletakkan mangkuk air di atas meja kecil, lalu duduk di tepi tempat tidur dengan gerakan yang sangat hati-hati.
"Namaku Xiao Yu," jawab gadis itu dengan senyum manis yang menenangkan.
"Jangan takut, Tuan Muda. Kau berada di tempat yang aman. Ini adalah pondok kediamanku dan kakekku. Kami menemukanmu terkapar tidak berdaya di dalam tumpukan jerami di ladang kami hampir dua puluh hari yang lalu."
"Dua puluh... hari?" Chen Lin mengulangi kata-kata itu di dalam hatinya dengan keterkejutan yang mendalam.
Ia tidak menyangka bahwa ia telah kehilangan kesadaran selama itu. Pikirannya langsung berputar, mencoba mengingat kejadian terakhir yang dialaminya.
"Distorsi ruang... pertarungan enam master... dan aliran waktu yang merobek tubuhku..."
Ia mencoba memeriksa lautan kesadarannya sendiri, memanggil sosok yang selalu menjadi penuntun takdirnya.
"Senior Lin... apakah kau mendengar aku?" panggil Chen Lin dalam hati, suaranya bergema di ruang jiwanya yang sunyi.
Namun, jawaban yang ia harapkan tetap tidak kunjung datang. Di sudut terdalam jiwanya, eksistensi Lin XingYu masih terbungkus dalam kabut tebal, tertidur pulas tanpa ada tanda-tanda akan terbangun dalam waktu dekat.
Chen Lin menghela napas panjang dalam batinnya, menyadari bahwa untuk saat ini, ia benar-benar harus mengandalkan dirinya sendiri sepenuhnya di dunia luar yang asing ini.
"Di mana... tempat ini? Apakah ini... masih di wilayah Negara Bai Xue?" tanya Chen Lin lagi setelah berhasil menelan sedikit ludah untuk membasahi tenggorokannya yang kering.
Xiao Yu mengerutkan dahi indahnya, memandang Chen Lin dengan tatapan bingung yang tulus.
"Negara Bai Xue? Aku belum pernah mendengar nama tempat seperti itu sepanjang hidupku. Tempat ini adalah Desa Dahe, sebuah desa kecil yang berada di bagian tenggara dari Kota Angin Hijau, wilayah barat dari Kekaisaran Shenhuang.
Apakah tempat asalmu sangat jauh dari sini?"
Mendengar nama 'Kekaisaran Shenhuang' dan kenyataan bahwa gadis itu bahkan tidak mengetahui keberadaan Negara Bai Xue, jantung Chen Lin terasa seolah-olah melewatkan satu detakan.
Konfirmasi ini mempertegas spekulasi terburuknya, badai ruang dan waktu dari formasi kuno itu telah melemparkannya sangat jauh, melewati batas-batas geografis yang pernah ia ketahui, menembus ribuan mil daratan menuju wilayah antah berantah yang sama sekali baru di lingkup alam bawah ini.
"Kekaisaran Shenhuang..." gumam Chen Lin pelan, sebuah senyuman pahit yang sarat akan ironi takdir mengembang di sudut bibirnya yang terluka.
"Tampaknya... aku benar-benar telah terlempar ke dunia yang tidak kukenal."
Mendengar gumaman pemuda itu yang sarat akan kesedihan dan kebingungan, hati Xiao Yu yang lembut kembali tersentuh oleh rasa iba. Ia mengambil mangkuk tanah liat berisi air hangat, lalu menyendok sedikit air menggunakan sendok kayu kecil dengan gerakan yang pelan.
"Minumlah ini sedikit demi sedikit, Tuan Muda," ucap Xiao Yu dengan nada yang sangat menenangkan, mengarahkan sendok kayu itu ke bibir Chen Lin.
"Kakek berkata bahwa ingatan dan tubuh seseorang yang baru saja lolos dari hantaman besar sering kali akan merasa linglung. Jangan memikirkan hal-hal yang berat terlebih dahulu. Yang terpenting sekarang adalah mengembalikan kekuatan fisikmu. Kau telah tertidur sangat lama, dan tubuhmu sangat membutuhkan nutrisi."