Mentari, si gadis bar-bar kaya raya, dipaksa menukar gemerlap kelab malam dengan dinginnya lantai pesantren. Baginya, ini adalah hukuman mati, sampai ia bertemu Gus Zikri putra Kyai tampan yang sangat dingin dan selalu menjaga pandangan.
Merasa tertantang karena diabaikan, Mentari bertekad menaklukkan hati sang Gus. Namun, misinya tidak mudah. Ia harus menghadapi tiga teman sekamar yang ajaib: Fahma yang super lemot,Bondan yang genit mata keranjang, dan Hafizah yang hobi berceramah.
Di antara godaan pesona dan benteng iman, mampukah Mentari melelehkan hati Gus Zikri? Atau justru ia yang terjerat dalam sujud yang panjang?
"Satu misi gila: Membuat sang Gus jatuh cinta."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PETUALANGAN ZAYAN DAN KEMBALINYA GORESAN PENA
Bulan-bulan berlalu dengan sangat cepat di Pesantren Al-Hidayah. Muhammad Zayan Al-Fatih kini bukan lagi bayi merah yang hanya bisa berbaring pasrah. Di usianya yang menginjak bulan kedelapan, Zayan telah bertransformasi menjadi bayi yang sangat aktif, bermata bulat cerdas warisan Mentari, dan memiliki ketenangan wajah khas Gus Zikri. Namun, ada satu sifat yang tampaknya ia warisi murni dari sisi "bar-bar" Mentari dulu: rasa penasaran yang tidak ada habisnya.
Pagi itu, rumah kecil Gus Zikri mendadak heboh. Mentari yang baru saja selesai mandi dan masih mengenakan handuk di kepala, berteriak kaget saat melihat area bermain Zayan di ruang tengah kosong melompong.
"MAS! ZAYAN MANA?!" teriak Mentari panik.
Gus Zikri yang sedang menyiapkan materi kajian di meja kayu juga tersentak. "Tadi dia masih asyik sama mainan gajahnya di karpet, Sayang."
Mereka berdua melihat ke arah pintu depan yang ternyata sedikit terbuka. Zayan, dengan kecepatan merangkak yang melebihi rata-rata bayi seumurannya, telah berhasil menaklukkan teras dan kini sedang meluncur bebas menuju area asrama putri yang jaraknya hanya beberapa puluh meter dari rumah mereka.
Di area asrama putri, suasana yang tadinya tenang mendadak pecah oleh pekikan gemas. Zayan berhasil merangkak masuk ke area jemuran asrama putri. Dengan popoknya yang menyembul di balik celana pendeknya, ia tampak asyik menarik-narik ujung sarung salah satu santriwati yang sedang dijemur.
"YA AMPUN! ANAK GANTENG!" teriak salah satu santriwati.
Dalam sekejap, Zayan dikerumuni oleh belasan santriwati. Ada yang memberinya biskuit bayi, ada yang berebut ingin menggendongnya, dan ada pula yang asyik memotretnya secara sembunyi-sembunyi. Zayan sendiri tampak sangat menikmati perhatian itu, ia tertawa lebar sampai memperlihatkan dua gigi susunya yang baru tumbuh.
"Zayan! Astaghfirullah, Nak!" Gus Zikri muncul dengan napas terengah-engah, diikuti Mentari yang sudah berpakaian rapi namun wajahnya masih menunjukkan sisa kepanikan.
Para santriwati langsung merapikan barisan dan menunduk hormat. "Maaf, Gus... tadi Zayan merangkak sendiri ke sini."
Zikri mengambil Zayan ke dalam gendongannya. "Kamu ini, baru bisa merangkak sudah mau 'sidak' asrama putri," gumam Zikri sambil mencium pipi Zayan yang wangi bedak.
Mentari menghela napas lega sambil mencubit pelan paha Zayan. "Anak nakal ya! Bikin Ummi jantungan aja!"
Setelah drama "pelarian" Zayan berakhir, Mentari duduk di teras sambil memperhatikan putranya yang kini sudah tertidur lelap akibat kelelahan bertualang. Di saat itulah, ia merasakan sebuah kekosongan yang aneh. Sudah hampir setahun ia meninggalkan dunia kreatifnya di Jakarta. Ia rindu menulis. Ia rindu merangkai kata-kata yang dulu sering ia unggah di blog pribadinya sebelum kehidupan pesantren mengubahnya total.
Mentari mengambil laptop lamanya yang sudah berdebu di dalam lemari. Ia membukanya perlahan, jarinya mulai menyentuh tuts papan ketik.
"Mas... kalau aku mulai nulis lagi, boleh nggak?" tanya Mentari saat Zikri duduk di sampingnya sambil membawa dua cangkir teh hangat.
Zikri menatap layar laptop istrinya. "Menulis itu adalah ibadah jika tujuannya baik, Mentari. Kenapa harus dilarang?"
"Tapi aku mau nulis tentang kita. Tentang perjalanan aku dari Jakarta ke sini. Aku mau kasih tahu dunia kalau Islam itu nggak seseram yang mereka bayangkan, dan hidup di pesantren itu... indah," ucap Mentari dengan mata berbinar.
Zikri tersenyum, menggenggam tangan Mentari. "Mas akan jadi pembaca pertamamu. Tuliskanlah dengan hati, agar sampai ke hati."
Tentu saja, ketenangan itu tidak bertahan lama. Bondan dan Fahma muncul dengan membawa sebuah "kendaraan" baru untuk Zayan: sebuah baby walker yang dimodifikasi dengan stiker bergambar mobil balap.
"GUE DATANG! Siap membawa Zayan menuju kecepatan cahaya!" teriak Bondan.
Fahma mengikuti di belakang dengan membawa helm kecil berbahan plastik. "Tari, ini biar Zayan nggak benjol kalau nabrak tembok asrama putri lagi."
Mentari tertawa melihat tingkah dua sahabatnya itu. "Kalian ini bener-bener ya. Zayan baru bangun, jangan dikasih main balapan dulu!"
Bondan duduk di lantai teras, ia melihat laptop Mentari. "Lho, mau nulis lagi, Tar? Judulnya apa? 'Cintaku Nyangkut di Sarung Gus'?"
"Sembarangan lo, Bon!" Mentari tertawa sambil melemparkan bantal kursi ke arah Bondan. "Judulnya sudah ada di kepala gue: 'He is My Imam, Not My Oppa'."
Bondan dan Fahma saling lirik, lalu bertepuk tangan heboh. "GILA! Judulnya komersial banget! Pasti laku keras!" seru Bondan.
Malam harinya, setelah Zayan dan Zikri terlelap, Mentari mulai mengetik bab pertama novelnya. Suara jangkrik dan udara malam pesantren memberikan ketenangan yang berbeda dari kebisingan Jakarta yang dulu menemaninya menulis.
Ia menulis tentang bagaimana ia dulu membenci sarung, dan sekarang ia justru merasa pria bersarung adalah pria paling keren di dunia. Ia menulis tentang bagaimana ia dulu memuja "Oppa" di layar kaca, dan kini ia menyadari bahwa "Imam" di dunia nyata jauh lebih menenangkan jiwanya.
Di tengah keheningan itu, Zikri tiba-tiba terbangun dan menyelimuti pundak Mentari yang sedikit kedinginan. "Jangan tidur terlalu larut, Sayang. Besok Zayan pasti mau bertualang lagi."
Mentari tersenyum, menutup laptopnya, dan bersandar di pundak suaminya. Hidupnya kini terasa lengkap. Ia memiliki cinta yang halal, buah hati yang cerdas, sahabat yang setia, dan kini ia kembali menemukan suaranya lewat tulisan.
Di Pesantren Al-Hidayah, Mentari menyadari bahwa hijrah bukan berarti mematikan jati diri, melainkan mengarahkan bakat dan jati diri itu menuju jalan yang lebih diberkahi.