Di sebuah wilayah terpencil di kaki Bukit Wengker, hidup seorang anak bernama Gandraka—anak dari Ki Bagaskara, penjaga ilmu lama yang nyaris dilupakan. Sejak kecil, Gandraka menunjukkan tanda-tanda yang tak biasa: ia memahami lambang-lambang kuno, mampu meredam sesuatu yang bersemayam di dasar sumur tua, dan menjalankan ritual yang bahkan orang dewasa tak berani sentuh.
Namun Wengker bukan tanah biasa.
Di balik perbukitan dan sunyinya desa, tersegel kekuatan gelap yang perlahan mulai bangkit. Sesuatu yang tak hanya membawa kegelapan… tetapi juga kehampaan yang menelan segala.
Saat segel mulai melemah, Gandraka dihadapkan pada takdir yang tak bisa ia hindari—menjadi penjaga… atau berubah menjadi algojo bagi dunia yang tak pernah benar-benar memahami dirinya.
Di tanah Majapahit yang tampak damai, bara itu diam-diam menyala.
Dan ketika waktunya tiba… tidak semua yang hidup akan tetap menjadi manusia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Jigur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31
Tanpa memberi jeda pada jiwanya yang mulai retak, Gandraka langsung memburu aliran energi berikutnya yang mengikat si kembar, Tirta dan Asri. Sukmanya tersedot jauh ke bawah tanah, masuk ke dalam labirin air yang gelap dan dingin di bawah sumur tua desa.
Di sana, di dasar air yang pekat, si kembar Tirta dan Asri tampak mengambang dengan mata terpejam. Leher mereka terlilit oleh akar-akar pohon beringin gaib yang terus menghisap sari pati kehidupan mereka untuk dikirimkan kepada Eyang Jagad Ireng.
Suara tawa Eyang Jagad Ireng menggema di dalam air, membuat telinga sukma Gandraka berdengung hebat.
"Kau sudah kehabisan tenaga, Cucuku! Jika kau potong akar ini, air sumur ini akan berbalik menghisap sukmamu hingga kau mati kekeringan!"
Gandraka batuk darah di alam nyata. Jantungnya berdetak tak beraturan. Jayantaka yang menyalurkan energi mulai terengah-engah, wajah sang Senopati pucat pasi. "Bagaskara! Jiwa anakmu hampir terurai! Dia memaksakan diri memutus dua pasak sekaligus!"
Ki Bagaskara menggeram. Ia menancapkan kedua pedang kembarnya ke tanah di samping Gandraka, lalu meletakkan tangannya di pundak Jayantaka. "Gunakan seluruh sisa umurku, Senopati! Salurkan pada anakku!"
Ledakan energi murni dari sang jagal legendaris mengalir bak air bah menembus raga Gandraka.
Di dalam air gaib, sukma Gandraka yang nyaris meredup mendadak meledak dengan cahaya keemasan bercampur perak yang menyilaukan. Matanya berkilat jantan.
"Aku tidak akan membiarkanmu mengambil satu nyawa pun lagi, Eyang!" teriak Gandraka di dalam air.
Ia menerjang maju, tangan kanannya membentuk bilah cahaya tajam yang dipinjam dari sisa aura keris Kyai Gajah milik Gajah Mada yang tadi sempat ia serap. Dengan dua tebasan searah, Gandraka memotong akar beringin gaib yang melilit leher Tirta dan Asri secara bersamaan.
CRASH! CRASH!
Akar-akar itu menjerit, mengeluarkan darah hitam sebelum akhirnya membusuk dan hancur. Air sumur yang pekat itu mendadak berubah menjadi jernih seketika.
"PASAK KELIMA DAN KEENAM... HANCURRR!!!"
BOOOMMMMM!!!
Ledakan spiritual yang luar biasa dahsyat menghantam seluruh Desa Mojorejo. Matahari merah ilusi di atas langit retak seribu belahan, lalu pecah berkeping-keping layaknya kaca yang dihantam godam. Kegelapan pekat yang menyelimuti desa itu runtuh, digantikan oleh hamparan langit malam yang asli, lengkap dengan taburan bintang dan sinar rembulan yang syahdu.
Udara panas belerang lenyap seketika, berganti dengan embun malam yang sejuk. Kabut ilusi Surya Pralaya telah musnah total. Desa Mojorejo berhasil diselamatkan dari ritual maut Eyang Jagad Ireng.
Gandraka tersentak bangkit di dunia nyata, menarik napas sekuat-kuatnya seolah baru saja keluar dari dalam air, sebelum akhirnya ambruk tak sadarkan diri di pelukan ibunya. Ki Bagaskara dan Jayantaka terduduk lemas, napas mereka terengah-engah namun ada binar lega di mata mereka.
Namun, keheningan malam yang baru saja kembali itu tidak bertahan lama.
Dari arah batas desa, sayup-sayup terdengar suara yang membuat bulu kuduk mereka kembali berdiri. Suara sebentuk logam yang berdenting ritmis, diikuti oleh langkah kaki yang kaku dan berat di atas tanah kering.
Ting... ting... ting...
Denting lonceng maut milik Eyang Blarak Geni akhirnya bergema di tanah Mojorejo yang kini tak lagi berpelindung. Ra Kuti dan ribuan pasukannya telah tiba di gerbang desa.
Namun, tepat di batas hutan Mojorejo, Eyang Blarak Geni mendadak menghentikan langkahnya. Denting lonceng di tangan kirinya terdiam. Mata putihnya yang keruh menatap lurus ke arah desa, menangkap sisa-sisa getaran spiritual yang baru saja runtuh.
Ia bisa merasakan bahwa sukma Gandraka telah melemah drastis. sebuah pertanda bahaya yang besar. Akibat perlawanan gilanya dalam memutus pasak-pasak milik Eyang Jagad Ireng, Gandraka kini kehabisan tenaga dan berada dalam kondisi yang sangat kritis.
"Kita tidak bisa menyerang Desa Mojorejo sekarang, Ra Kuti," ucap Eyang Blarak Geni, suaranya memberat penuh penekanan. "Jiwa Gandraka dalam keadaan kritis. Saat ini, hanya ilmu penyembuhan dari Klan Anggrek Hitam milik orang tuanya yang bisa menyelamatkan nyawa bocah itu."
Ra Kuti yang sudah memegang hulu senjatanya seketika menoleh dengan dahi berkerut. "Apa maksudmu, Eyang? Gajah Mada sedang berada di sana! Ini kesempatan emas kita, kita habisi saja dia sekarang!"
"Jangan gegabah, Ra Kuti!" bentak Eyang Blarak Geni, membuat dua pendekar mayat hidup di belakangnya tersentak kaku. "Jika kita menyerang sekarang dengan kekuatan penuh, kita memang pasti menang atas Gajah Mada dan jagal Anggrek Hitam yang sedang lengah.
Tapi sukma Gandraka yang rapuh itu juga akan hancur dan musnah akibat benturan energi kita! Jika itu terjadi, maka percayalah, segala rencana besar yang kita susun akan menjadi sia-sia."
Ia menjeda kalimatnya, lalu menyeringai licik. "Aku tahu cara melemahkan dan menghancurkan raga mereka di sana, tanpa harus mengorbankan jiwa Gandraka."
"Tapi, Eyang...?" Ra Kuti mencoba membantah, tak rela membiarkan musuh bebuyutannya bernapas lebih lama.
"Ikuti rencanaku jika kau ingin berhasil kali ini!" potong Eyang Blarak Geni tidak mau dibantah. "Perintahkan pasukanmu untuk mundur dan buat perkemahan rahasia di dalam hutan ini. Lagipula, kita harus menunggu malam purnama kliwon, di mana kekuatan mistis dalam darah Gandraka akan mencapai puncaknya. Dan malam itu... masih seminggu lagi. Biarkan mereka merawat bocah itu untuk kita."
Ra Kuti terdiam. Rahangnya mengeras menahan gejolak amarah dan dendam yang membakar dadanya. Namun, melihat sorot mata gurunya yang tak terbantahkan, ia akhirnya menurunkan tangannya dari hulu pedang.
Sambil menghela napas kasar, Ra Kuti berbalik dan memberi isyarat tangan kepada para panglimanya. Tanpa suara, ratusan prajurit pilihan itu kembali melebur ke dalam kegelapan hutan, mendirikan kemah di bawah bayang-bayang pepohonan tua, bersiap mengintai mangsa mereka dalam kesunyian yang mematikan.
Jika Eyang Jagad Ireng adalah penguasa kegelapan abadi lewat ajian Surya Pralaya, maka Eyang Blarak Geni adalah sebaliknya. Sebagai musuh sekaligus saudara seperguruan, ia menguasai kekuatan cahaya rembulan mati yang dingin dan membekukan, yang dikenal dengan nama ajian Chandra Pralaya.
Melihat dugaannya benar tentang kondisi Gandraka, Eyang Blarak Geni segera duduk bersila di atas akar pohon besar. Ia meletakkan lonceng perunggunya di tanah, lalu menyatukan kedua telapak tangannya yang keriput di depan dada. Mulutnya mulai komat-kamit merapalkan mantra pamungkas ajian Chandra Pralaya.
Tiba-tiba saja, hawa di sekitar hutan dan seluruh Desa Mojorejo merosot tajam. Udara malam yang semula sejuk mendadak berubah menjadi sangat dingin hingga menusuk ke dalam tulang. Angin yang berembus terasa seperti sayatan pisau es.
Lalu, sebuah fenomena ganjil yang belum pernah terjadi di sepanjang sejarah bumi Nusantara pun tercipta. Dari langit malam yang bertabur bintang, butiran-butiran putih lembut mulai turun perlahan.
Hujan salju.
Salju abadi yang dingin dan pekat mulai menyelimuti dedaunan hijau dan tanah Mojorejo, menciptakan lapisan es tipis yang mencengkeram desa tersebut. Ini bukan sekadar cuaca dingin biasa; ini adalah kabut beku spiritual yang sengaja diciptakan Eyang Blarak Geni untuk mengurung Desa Mojorejo, mengisolasi Gajah Mada dan yang lainnya agar tidak bisa keluar, sekaligus menjaga agar hawa murni Gandraka tetap membeku dan tidak mengalir keluar hingga malam purnama kliwon tiba.