Jolina Zaneva, siswi SMA, diam-diam mencintai gitaris band idolanya—sosok yang hanya ia kenal lewat lagu dan layar. Meski dilarang ibunya, ia nekat datang ke konser, berharap mimpinya menjadi nyata.
Namun malam itu berubah menjadi mimpi buruk ketika Jolina melihat idolanya memperlakukan seorang gadis dengan kasar. Amarah mengalahkan kekaguman—dan sebuah tamparan mengakhiri rasa cinta yang ia simpan diam-diam.
Sejak saat itu, Jolina membenci lelaki yang pernah ia puja. Hingga takdir kembali mempertemukan mereka dalam hubungan yang jauh lebih rumit. Perlahan, Jolina mulai meragukan apa yang ia lihat malam itu.
Saat rahasia terungkap, Jolina harus memilih: bertahan pada kebencian, atau berani mendengarkan kebenaran di balik melodi yang pernah ia cintai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jjamiyuu09, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 14
Jolina panik. Patung jatuh dan hancur, pintu ruang seni terkunci, dan ia terjebak.
“Ini semua gara-gara Lo, Jeremy!” teriak Jolina sambil menunjuk ke arah Jeremy.
“Gue? Gimana bisa jadi salah gue?” Jeremy membela diri, tapi nadanya tetap tegas.
“Semua ini terjadi gara-gara Lo!” Jolina menekankan, wajahnya merah padam.
“Lo yang jatuhin patung ini, terus itu salah gue?
Pokoknya semua berawal dari Lo!” Jeremy semakin maju, membuat Jolina perlahan mundur.
“Kalo Lo bisa dengerin apa kata gue, dan nggak keras kepala, semua nggak bakal jadi kayak gini…” lanjut Jeremy.
Jolina terdiam, mendengar ketegasan Jeremy.
“Gue udah bilang, hati-hati, tapi Lo terlalu ceroboh… Lihat apa yang terjadi sekarang. Patungnya jatuh itu karena Lo nggak hati-hati. Gue udah kasih peringatan di awal, tapi saking keras kepalanya Lo… lihat hasilnya sekarang,”
Jeremy menatap tajam, tapi sedikit lega karena situasi masih terkendali.
Jolina hanya bisa terdiam, menunduk malu.
Jeremy mengeluarkan handphonenya dan mencoba menghubungi Bagas dan Bara, tapi tidak aktif. Guru pasti sudah masuk, pikirnya.
“Pinjam handphone Lo…” pinta Jolina cepat.
“Gue nggak bawa handphone,” sambung Jolina.
Jeremy masih menatapnya dengan kesal, tapi Jeremy menyerahkan handphone yang ia pegang.
Dengan tangan gemetar, Jolina mencoba mengirim pesan pada Audrey dan Zoya, meminta pertolongan untuk membuka pintu ruang seni yang terkunci.
Audrey, yang kebetulan sedang mengecek handphonenya, melihat notifikasi dari nomor asing.
“Siapa nih?” tanya Audrey penasaran.
“Kenapa?” sahut Zoya.
“Ada nomor asing yang chat gue…” jawab Audrey, matanya melebar.
“Coba lihat…” Zoya mempersilakan.
“Oh… Jeremy?” Audrey membaca nama di profil yang tertera.
“Kenapa dia chat Lo?” tanya Zoya bingung.
“Gatau…” Audrey menunduk sambil membaca pesan.
Mata mereka langsung tertuju pada bangku Jeremy yang kosong.
“Jeremy nggak ada di kelas…” gumam Zoya.
“Jolina juga…” Audrey menambahkan, merasakan kekhawatiran muncul.
Audrey dan Zoya terkejut saat membaca chat dari Jolina.
“Gila… Jolina terkunci di ruang seni?!” gumam Zoya, panik.
“Kita nggak bisa langsung kesana sekarang… Guru kan udah di kelas,” tambah Audrey, wajahnya cemas.
Mereka mencoba membalas chat Jolina, menulis pesan yang menenangkan sekaligus memberi saran.
“Sabar dulu, Jo… Tunggu sampai pulang sekolah aja ya. Kita nggak bisa izin sekarang, soalnya sekarang Bu Dewi udah di kelas. Kunci ruang seni juga nggak bisa sembarangan dipakai, itu terlalu beresiko…”
Jolina membaca pesan itu, tubuhnya lemas seketika. Ia menatap patung yang jatuh di lantai, rasa bersalah dan putus asa membanjiri dirinya.
"Handphone gue..." Jeremy meminta handphone nya, Jolina memberikannya.
“Gimana nih… gue nggak ngerti seni sama sekali. Ini… pasti berat banget buat benerin patung ini,” gumamnya pelan, menunduk sambil menatap serpihan patung.
Di sudut lain ruangan, Jeremy bersandar santai di dinding, memainkan game di handphonenya. Wajahnya datar, seolah dunia di sekeliling mereka tidak ada hubungannya dengan dirinya.
Jolina menatap Jeremy, amarah dan frustrasi bercampur. “Gue ga boleh panik, semua pasti bisa teratasi, Jeremy aja santai banget…” bisiknya, tapi Jeremy tetap asyik dengan game-nya, tidak peduli.
Jolina membereskan patung yang pecah. Kemudian ia menghampiri Jeremy.
“Gue harus gimana sekarang?” rengek Jolina, wajahnya panik, tangan gemetar karena tidak tahu harus berbuat apa.
Namun, orang yang ia ajak bicara malah asik dengan handphone.
“Jeremy?”
Jolina menepuk bahu Jeremy.
“Lo ngomong sama gue?”
“Jeremy, gue serius…”
Tetap saja Jeremy tidak mengalihkan pandangannya.
“Bisa dengerin gue ga sih?”
“Iya, gue dengerin, ngomong aja…”
Jolina mengerutkan kening. “Gimana bisa Lo dengerin gue, kalau lagi main game…”
“Bisa… ngomong aja,” jawab Jeremy santai.
Jolina menunduk, rasanya malas sekali harus minta bantuan Jeremy, tapi ia tidak punya pilihan lain.
“Bantuin gue…” suara Jolina lirih, hampir tak terdengar karena malu.
“Hmm? Bantuin apa?” Jeremy menoleh sebentar, masih santai.
“Bantuin gue gimana cara buat patungnya… gue ga mau dihukum Bu Dewi sama Pak Surya.”
Jeremy menatapnya, menahan senyum. “Ya buat aja…”
“Lo tuh ya… gimana bisa gue buatnya?” protes Jolina, frustrasi.
“Lo tinggal contohin aja, tuh itu mirip sama yang tadi Lo jatuhin.”
“Lo itu ga punya simpati ya…"
"Siapa yang berbuat ya harus bertanggung jawab…”
Suara Jolina semakin lirih, matanya menatap lantai. Mendengar itu, Jolina semakin sedih. Ia menunduk, menatap permainan game yang dimainkan Jeremy. Hatinya campur aduk—antara kesal, dan panik.
Jeremy meliriknya sebentar.
“Lo nangis?”
Jolina cepat mengalihkan pandangannya, menahan perasaan campur aduk di dalam dada.
“Gue cuma bercanda… iya, nanti gue bantu, tapi ya nggak sekarang… bahan untuk buat patungnya ga ada di sini, pasti di ruangan Bu Dewi.”
“Gimana bisa gue percaya sama Lo?” Jolina menatap Jeremy dengan mata sedikit berkilat, masih belum sepenuhnya yakin.
“Mau Lo percaya atau nggak, itu urusan Lo, Jolina… Gue ga bisa cegah pemikiran buruk Lo tentang gue, begitu juga dengan pemikiran orang lain. Kalau yang mereka pikirkan tentang gue begitu… yaudah, gue bisa apa?” Jeremy menunduk sebentar, menatap lantai, nada bicaranya tenang tapi tegas.
Mendengar itu, Jolina terdiam sejenak. Bayangan malam itu muncul kembali di pikirannya. Benarkah Jeremy benar-benar melakukan kekerasan pada fansnya? Hatinya bergejolak, antara ragu dan takut, namun ia juga penasaran dan ingin memahami sisi Jeremy yang sesungguhnya.
***
Jeremy sangat lelah menunggu waktu pulang. Bahunya pun terasa pegal setelah beberapa saat menopang Jolina yang tertidur di sebelahnya. Gadis itu tampak nyaman bersandar di bahu Jeremy, napasnya lembut dan stabil.
Ia melirik jam di tangannya—bel pulang tinggal beberapa menit lagi. Jeremy juga mulai lelah setelah bermain game di handphonenya. Saat hendak meletakkan handphone, tangan Jolina tanpa sadar bergerak ke dadanya.
Jeremy segera menyingkirkan tangan itu. Sebenarnya, dari tadi Jolina sedikit usil saat tidur, kadang menyentuh pahanya, bahkan hampir menyentuh area yang tidak seharusnya. Jeremy menarik napas panjang, berusaha menenangkan diri.
Sambil menahan lelah, Jeremy membuka pesan di handphonenya dan menghubungi Bagas serta Bara, berharap mereka segera datang untuk membukakan pintu ruang seni dan membantunya membuat ulang patung untuk pameran.
Ia memijat pelipisnya, lalu menoleh lagi ke arah Jolina. Gadis itu kini memegang perutnya, napasnya terdengar sedikit tersengal.
Sepertinya Jolina lapar. Perutnya berbunyi pelan.
“Jr…” terdengar suara lemah dari gadis itu.
Jeremy menoleh, setengah terkejut. Apakah Jolina sedang mengigau?
“Jr…” suara itu terdengar lagi, kali ini lebih jelas.
Bukannya Lo benci gue? Kenapa Lo manggil gue?
Jeremy menatap wajahnya yang masih setengah tertidur.
Tangan Jolina kini memegang bibir Jeremy. Jeremy terkejut, dadanya berdegup lebih cepat.
“Bibir kamu… bagus banget… kapan ya aku bisa cium?” bisik Jolina, setengah sadar.
Jeremy segera memalingkan wajahnya dari jolina.
Saat itu bel pulang sekolah berbunyi. Jeremy segera mengambil handphonenya kembali dan menelpon Bagas serta Bara dengan cepat, menyadari mereka harus segera membantu.