Enam bulan setelah Kirei Zhaklyn—perempuan tangguh di balik kesuksesan industri teknologi—tewas tragis dalam kecelakaan akibat sabotase keji, hidup Vaxerion Mahendra ikut hancur. Konglomerat otomotif itu memilih mundur dari dunia bisnis, hidup seperti cangkang kosong yang didera kedukaan mendalam.
Namun, di sebuah malam gala internasional, pintu aula terbuka. Di sana muncul sepasang manusia: Andi Clark, miliarder pemegang kendali perbankan global asal Swiss, menggandeng seorang wanita yang memiliki wajah, sorot mata, dan senyuman yang seratus persen persis dengan almarhumah Kirei.
Dia adalah Kirei Alexandra. Datang dari Eropa dengan pembawaan ketus, jutek, dan dingin, dia langsung menepis kasar pelukan Vaxerion: "Jaga jarak Anda, Tuan Mahendra. Saya bukan barang peninggalan masa lalu Anda."
Apakah wanita jutek ini adalah Kirei yang bangkit dari kubur untuk membalas dendam, atau ada rahasia adopsi yang sengaja dikubur sejak bayi? Di tengah adu kekayaan tingkat tinggi dan gesekan harga diri melawan Andi Clark, takdir baru yang jauh lebih berbahaya siap menggoncang Jakarta!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Salma.Z, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 19: Percikan Api di Balik Layar Raksasa
Langkah kaki Kirei dan Vaxerion yang beriringan membelah koridor Jakarta Convention Center meninggalkan Bianca yang masih terpaku menahan malu yang luar biasa. Genggaman tangan Vaxerion yang kokoh dan hangat di jemari Kirei seolah menjadi pasokan energi instan yang meluluhkan sisa amarah di dadanya. Namun, Kirei tahu betul, tipe wanita manipulatif seperti Bianca tidak akan pernah mundur hanya dengan satu kali tamparan intelektual (face-slapping).
"Jangan lengah, Vaxerion. Bianca tidak datang dari Paris cuma untuk jadi pajangan di koridor," bisik Kirei, suaranya rendah dan tajam saat mereka mendekati stan utama.
Vaxerion tidak melepaskan genggaman tangannya. Pria itu justru menoleh, menatap Kirei dengan binar mata jernihnya yang begitu dalam dan penuh perhatian yang luarbiasa. Rahang tegasnya mengendur, membentuk senyuman tipis yang memancarkan pesona ketampanan matang yang luar biasa memikat.
"Dia bisa membawa seluruh konsorsium Eropa-nya ke sini, Kirei. Tapi di kota ini, duniaku cuma berputar di sekitarmu," suara bariton Vaxerion mengalun begitu romantis, mengirimkan getaran hebat yang membuat jantung Kirei berdegup gila di balik blazer merah marunnya. "Fokus saja pada panggungmu. Biar aku yang menjadi tamengmu di balik layar."
Begitu mereka menginjakkan kaki di area stan utama, atmosfer berganti total menjadi super sibuk. Stan gabungan Mahendra Motors dan Zhaklyn Mobile berdiri megah, didominasi oleh panel kaca futuristik dan pencahayaan putih yang elegan. Di tengah panggung, prototipe mobil sport listrik hitam matte andalan mereka stands gagah, dikerumuni oleh jajaran menteri kementerian dan puluhan jurnalis kamera yang sudah tidak sabar menanti demo integrasi sistem.
Kirei melepas genggaman tangan Vaxerion dengan anggun, mengambil alih mikrofon dari tangan Maya. Topeng Ratu Es-nya kembali terpasang sempurna tanpa cela. Keindahan visual wajah cantiknya yang berpadu dengan aura kepemimpinan yang tegas langsung membungkam bisik-bisik di sekitar panggung.
"Selamat sore, para hadirin dan jajaran kehormatan kementerian," suara Kirei menggema lewat pengeras suara, stabil, berwibawa, dan memukau seisi ruangan. "Hari ini, Zhaklyn Mobile bersama Mahendra Motors resmi mempersembahkan Zhaklyn OS v2.0. Sistem operasi lokal pertama yang bukan cuma menjadi otak hiburan, tapi mengendalikan seluruh sistem perlindungan otomatis pada sasis mobil listrik kita."
Kirei melangkah mendekati mobil, jemari lentiknya bersiap menyentuh panel layar dasbor utama untuk memulai demo simulasi jaringan. Semua kamera wartawan menyorot ke arah tangannya. Di barisan depan, Vaxerion berdiri tegap dengan setelan tuksedo formalnya, menatap Kirei dengan binar rasa bangga yang begitu pekat dan intens, membuat wanita-wanita sosialita yang ikut menonton meleleh sekaligus iri setengah mati pada Kirei.
Namun, tepat saat ujung jari Kirei menyentuh permukaan layar kaca dasbor, petaka baru pecah tanpa peringatan.
Bzzzt... Bzzzt... Brak!
Layar dasbor raksasa di panel mobil mendadak bergoyang hebat, memunculkan barisan kode galat (error) berwarna merah darah yang berkedip cepat. Tidak butuh waktu satu detik, seluruh aliran listrik di stan pameran Mahendra-Zhaklyn mendadak putus total. Lampu sorot padam, proyektor mati, dan stan mereka mendadak gelap gulita di tengah-tengah aula JCC yang riuh.
Kepanikan massal langsung pecah di antara para pejabat kementerian dan investor. Wartawan mulai kasak-kusuk, dan beberapa kamera beralih menyorot wajah pucat Maya yang berada di belakang panggung. Sabotase tahap tiga yang diatur oleh aliansi busuk Bianca dan sisa orang dalam perusahaan Harlan ternyata dieksekusi tepat di detik paling krusial ini. Mereka sengaja ingin mempermalukan Kirei di depan para menteri agar izin edar Zhaklyn Mobile dicabut permanen.
Di dalam kegelapan yang pekat itu, fobia masa kecil Kirei mendadak bangkit kembali. Ingatan saat dia terkurung di gubuk stasiun pinggir rel tanpa lampu saat badai banjir melanda Jakarta Timur kembali menghantam otaknya. Napas Kirei mendadak tercekat, tangannya yang memegang mikrofon mulai bergetar hebat, dan kakinya goyah di atas lantai panggung.
Sebelum tubuh Kirei sempat ambruk atau memperlihatkan kerapuhannya di depan publik, sebuah kehangatan yang sangat kokoh dan akrab tiba-tiba mendekap tubuh rampingnya dari belakang.
Vaxerion sudah berada di atas panggung. Pria itu memeluk pinggang Kirei dengan satu tangan besarnya yang hangat, menarik punggung Kirei agar bersandar erat di dada bidangnya yang tegap. Aroma parfum kayu cendana dan wangi maskulin dari tubuh Vaxerion seketika merasuki dada Kirei, menghalau seluruh kegelapan dan fobia yang mencekik lehernya.
"Aku di sini, Kirei. Jangan takut," bisik Vaxerion sangat rendah, suaranya begitu romantis, sarat akan perlindungan yang membuat napas Kirei kembali teratur seketika. "Nyalakan sistem manual dari ponselmu sekarang. Tunjukkan pada mereka siapa hukum di tempat ini."
Sentuhan dan kedewasaan Vaxerion yang luar biasa tenang di tengah badai krisis ini seketika menyalakan kembali amarah dan ketangguhan di dalam diri Kirei. Rasa haru yang pekat bergaung di dadanya. Kirei menghapus keterkejutannya, dengan gerakan taktis jari-jarinya membuka kunci ponsel Zhaklyn andalannya.
Sret!
Kirei tidak menggunakan mikrofon panggung yang mati. Dia menekan satu tombol bypass enkripsi satelit di ponselnya, mengaktifkan pemancar sinyal darurat lokal Zhaklyn Mobile.
Detik berikutnya, ratusan ponsel pintar Zhaklyn milik para staf kantor dan audiens yang berada di sekitar aula mendadak menyala bersamaan, memancarkan cahaya lampu kilat (flashlight) yang terang benderang ke arah panggung pameran, menggantikan fungsi lampu sorot gedung yang padam. Stan mereka kembali terang oleh pendar cahaya buatan dari teknologi Kirei sendiri.
Kirei menegakkan punggungnya, menatap lurus ke arah kerumunan pejabat dengan pandangan elang yang sedingin kristal es. Tanpa mikrofon, dia berbicara dengan suara lantang yang menggema tegas ke seluruh sudut ruangan.
"Listrik gedung boleh saja padam karena sabotase murah dari pihak luar," seru Kirei, suaranya berwibawa tinggi, memotong semua kepanikan audiens. "Tapi sistem keamanan Zhaklyn OS tidak digerakkan oleh kabel listrik kota. Sistem kami digerakkan oleh enkripsi mandiri yang baru saja Anda lihat—mengambil alih daya cadangan dalam waktu kurang dari lima detik. Inilah masa depan teknologi perlindungan yang kami tawarkan!"
Brak!
Layar dasbor mobil sport listrik Mahendra di sebelah Kirei mendadak menyala kembali dengan warna hijau penuh, menampilkan status enkripsi yang aman total tanpa cacat.
Seluruh aula JCC mendadak senyap selama dua detik, sebelum akhirnya gemuruh tepuk tangan paling riuh sepanjang sejarah pameran telah pecah memenuhi ruangan. Jajaran menteri dan investor global berdiri memberikan standing ovation, terpukau setengah mati oleh ketangguhan dan ketenangan yang diperlihatkan oleh sepasang Power Couple paling berpengaruh di Jakarta ini. Pembalasan (face-slapping) yang luar biasa keren, instan, dan epik di depan jutaan pasang mata media.
Dari sudut koridor yang remang-remang, Bianca yang sedang memegang sakelar kendali server luar bersama asistennya langsung membeku dengan wajah yang pucat pasi menahan malu dan amarah karena rencananya justru menjadi panggung kesuksesan terbesar bagi Kirei.
Bersambung...