NovelToon NovelToon
Clara Ingin Bercerai Dari Suaminya

Clara Ingin Bercerai Dari Suaminya

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Mafia / Romansa Fantasi
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Saskiah Khairani

Setelah menikah selama tujuh tahun, Edward tetap saja begitu dingin, Clara hanya bisa menghadapinya dengan tersenyum. Semua karena dia sangat mencintainya. Dia juga percaya suatu hari nanti, dia bisa melelehkan es di dalam hatinya. Akan tetapi pada akhirnya Edward malah jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap cewek lain. Clara tetap bersikeras menjaga rumah tangganya. Hingga di hari ulang tahunnya, putrinya yang baru saja pulang dari luar negeri, dibawa oleh Edward untuk menemani cewek itu, meninggalkannya sendirian di rumah kosong. Dia akhirnya putus asa. Melihat putri yang dibesarkannya sendiri akan menjadi anak dari cewek lain, Clara tidak merasa sedih lagi. Dia menyiapkan surat cerai, menyerahkan hak asuh anaknya, dan pergi dengan gagah, tidak pernah menanyakan kabar Edward dan anaknya lagi, hanya menunggu proses perceraian selesai. Dia menyerah atas rumah tangganya, kembal

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saskiah Khairani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21

Saat meninggalkan peternakan, Clara sesaat menjadi bingung harus ke mana.

Raisa dan Dylan punya urusan mereka sendiri.

Dia ingin pulang ke Kediaman Hermosa, tetapi Elsa tidak ikut. Jika dia kembali sendirian, nenek Keluarga Hermosa pasti akan mengkhawatirkannya.

Tepat saat tengah berpikir, dia melewati sebuah taman perkemahan dan melihat banyak pasangan yang membawa anak-anak mereka ke sana, atau anak muda yang membawa orang tua mereka untuk bersantai di sana.

Melihat betapa mesranya mereka sebagai pasangan dan betapa bahagianya keluarga mereka, Clara tak dapat menahan rasa iri dan sedih di hatinya.

Beberapa saat kemudian, Clara tiba-tiba menghentikan mobilnya di pinggir jalan.

Dia mengambil ponselnya, ragu-ragu sejenak, lalu menelepon seseorang.

Setelah panggilan tersambung, dia bertanya, "Halo, Pak. Gimana keadaan ibuku?"

Satu setengah jam kemudian.

Di Panti Rehabilitasi Persahabatan.

Clara berdiri di halaman, menatap Indri Hermosa, ibunya yang sedang duduk di kursi tak jauh dari situ. Dia tampak lesu dan tak bersemangat, dengan wajahnya yang kuyu. Sangat berbeda dengan Indri yang cantik dan tinggi yang diingatnya saat masih kecil. Meski dia sudah terbiasa dengan penampilan ini, dia tetap tidak bisa meneriman nya.

Setelah beberapa saat, Pimpinan Panti yang ada di samping nya berkata dengan lembut, "Masih sama saja, nggak ada yang berubah."

Ibunya tidak boleh berkomunikasi dengan orang-orang dari masa lalu, kalau tidak, penyakit kegilaannya akan kambuh.

Saat ini, dia sedang dalam keadaan tenang yang jarang terjadi, jadi Clara tidak ingin dan juga tidak berani mengganggunya.

Dia berdiri di sana sebentar, lalu meninggalkan taman, takut ibunya akan melihatnya.

Setelah berjalan sedikit lebih jauh, dia berkata kepada Pimpinan Panti, "Maaf sudah merepotkan kalian."

"Jangan sungkan. Ini memang sudah tugas kami."

Clara memandang sejenak melalui jendela kaca, lalu meletakkan beberapa buku dan perlengkapan yang dibelikannya untuk ibunya dan meninggalkan panti.

Meskipun sudah jauh dari panti, hatinya masih merasa sedih mengingat ibunya.

Dalam perjalanan pulang, ketika melewati sebuah taman, Clara menatap langit yang penuh layang-layang. Dia lalu memutar balik mobilnya dan masuk ke sana.

Di taman, angin berhembus segar, matahari bersinar cerah, pemandangannya sangat indah.

Akan tetapi, semua orang datang berkelompok, hanya dia yang sendirian, tampak sangat mencolok.

Saat dia berdiri di depan kios, bertanya -tanya apakah dia harus membeli layang-layang untuk diterbangkan, tiba-tiba sebuah tangan kecil menggenggam jari-jarinya dan mengguncangnya.

"Tante."

Begitu mendengar suara itu, Clara menoleh ke arah pemilik suara itu, dan bertanya dengan heran, "Tania?"

Dia hanya mengangguk kecil, tanpa mengendurkan tangannya di sekitar jari-jarinya.

"Tania..."

Dani datang mendekat dan saat melihat Clara, kata-katanya tiba-tiba berhenti. Dia tertegun sejenak sebelum melangkah mendekat. "Kamu juga datang ke sini untuk bermain?"

"Iya," jawab Clara singkat, tidak ingin banyak bicara.

"Apa kamu bersama Elsa?"

Clara menunduk dan berkata dengan tenang, "Nggak, aku datang ke sini sendirian."

Dani tampaknya memahami sesuatu setelah mendengar jawaban Clara dan terdiam beberapa saat.

Clara tahu bahwa dirinya dan Dani tidak akrab, jadi dia hendak pergi. Namun Tania mendongak ke arahnya dan berkata, "Tante, ayo kita main layang-layang bareng."

Clara menolaknya, "Maaf, Tante masih ada urusan."

Tania hanya bisa berkata, "Oh... "

Dani lalu berkata, "Ayo main bareng, kita juga Cuma berdua."

Seolah tahu apa yang dipikirkannya, dia menambahkan, "Aku akan awasi dari sini saja, nggak akan ganggu kalian. Anggap saja temani Tania main.

Clara sebenarnya suka menyendiri.

Tetapi...

Dia benar-benar tidak ingin sendirian saat ini.

Mendengar itu, dia tidak menolaknya.

Dia dan Tania memilih layang-layang bersama, dan akhirnya memutuskan memilih layangan kupu-kupu biru yang mereka sukai.

Sebelumnya Clara juga sering bermain layangan bersama Elsa.

Jadi dia cukup berpengalaman.

Namun, layang-layang yang mereka beli kali ini agak besar, Tania juga masih kecil, jadi sulit bagi mereka berdua untuk menerbangkannya.

Dani pun datang membantu mereka tanpa mengucapkan apa-apa.

*

Setelah berhasil menerbangkan layangan, Clara dan Tania pun sama-sama tertawa gembira.

Melihat senyum Clara, mata Dani makin gelap.

Clara menyadari tatapan matanya dan bertanya dengan bingung, "Ada apa?"

"Nggak apa-apa."

Clara tidak bertanya lagi. Dia membawa Tania sedikit lebih jauh.

Dani mengawasi dari jauh dan benar-benar tidak mengganggu.

Ketika Clara sudah bosan bermain layangan, dia akan duduk di tepi danau bersama Tania sambil memancing, atau berjongkok mengamati ikan-ikan kecil yang berenang di kolam kecil milik pedagang, dan kemudian menggunakan jaring kecil untuk menangkap ikan-ikan tersebut.

Tak lama kemudian, hari sudah siang.

Awalnya Dani hanya ingin mengajak Tania jalan-jalan, jadi mereka tidak membawa bekal seperti yang lain.

Sekarang sudah waktunya makan siang, dan melihat Tania yang sudah kelaparan, Dani mengajak mereka makan di restoran kecil di dekat situ.

Setelah bermain selama hampir dua jam dan merasa jauh lebih baik dari sebelumnya, Clara pun tidak menolak ajakan Dani.

Selama makan, Clara menghabiskan sebagian besar waktunya untuk mengobrol dengan Tania.

Melihat mereka sangat akrab, Dani tidak memaksa masuk dalam obrolan mereka, tetapi hanya mengambilkan makanan kesukaan mereka.

Clara yang sedang sibuk berbicara dengan Tania tentu tidak menyadari hal itu.

Setelah beberapa saat, ponsel Dani berdering.

Melihat nama penelepon, dia berkata kepada Clara, "Aku mau angkat telepon dulu."

Clara berkata, "Oke."

Itu telepon dari Gading.

Dani menjauh sebentar sebelum mengangkat telepon, "Ada apa?"

"Di mana kamu sekarang? Sudah makan belum? Temanku baru saja kirimkan beberapa makanan laut segar. Apa kamu mau datang makan bareng? Edward dan yang lainnya juga bakal datang."

Dani menatap Clara dan Tania, lalu menolak dengan tenang, "Aku sedang makan sekarang. Lain kali saja."

"Apa kamu ada rencana malam ini? Ada pesta kapal pesiar di sini, Edward dan yang lainnya sudah bilang akan datang. Gimana kalau kamu ajak keponakanmu ke sini? Lagian kami jarang ketemu dia, jadi mumpung ada waktu, bawalah dia kenalan dengan kami."

Tapi Dani tetap menolaknya, "Dia pemalu. Ada banyak orang di kapal pesiar. Takutnya dia bakal nggak nyaman di sana."

"Nggak apa-apa. Elsa juga ada di sini. Mereka seumuran, jadi mereka harusnya bisa main bareng." Tanpa menunggu penolakannya, dia menambahkan, "Gitu saja ya, ingat datang jam tujuh malam."

Setelah selesai berbicara, Gading langsung menutup telepon.

Dani hanya bisa terdiam.

Setelah makan, Clara dan Tania pun pergi mengejar kupu-kupu dan mengendarai sepeda, mereka baru berhenti setelah mereka kelelahan.

Saat ini Tania sangat mengantuk sampai tertidur.

Clara juga ingin pulang istirahat, jadi dia pamit.

Setelah Dani memperhatikan mobilnya pergi selama beberapa saat, dia juga pergi.

Beberapa saat kemudian, saat Tania terbangun dan tidak melihat Clara, dia mengerutkan kening, lalu bertanya, " Di mana Tante?"

"Dia sudah pulang," jawab Dani singkat.

Tania pun hanya menjawab dengan lesu, "Oh..."

Tepat jam tujuh malam, Dani menaiki kapal pesiar.

Edward dan yang lainnya juga telah tiba.

Melihatnya, Gading melambai padanya.

Gading yang melihat Tania juga langsung tersenyum dan berkata, "Ini pasti Tania yang cantik. Halo, gadis kecil, aku Om Gading, teman Om Dani.

Ada banyak orang di kapal pesiar, jadi Tania merasa sedikit malu.

Setelah Gading memperkenalkan dirinya, Vanessa juga berjalan mendekat sambil menggandeng Elsa.

Melihat mereka, Dani tertegun sejenak.

Mengetahui bahwa Tania pemalu, Elsa memperkenalkan dirinya, dan mengulurkan tangan sambil berkata, " Ada banyak anak-anak main di sana. Apa kamu mau main denganku di sana?

Dia melirik Dani mencari persetujuan, setelah omnya mengangguk, dia mengumpulkan keberanian untuk mengikuti Elsa.

Setelah kedua anak itu pergi, Gading bertanya sambil tersenyum, "Gimana rasanya jadi ayah untuk pertama kalinya?"

"Lumayan," jawabnya singkat.

Meskipun keponakan perempuannya pemalu dan takut pada orang asing, dia sangat berperilaku baik, jadi tidak sulit baginya untuk menjaganya.

Saat ini, Edward memberinya segelas anggur, "Mau minum?"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!