NovelToon NovelToon
Doctor Mafia

Doctor Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Duniahiburan / Mafia / Dark Romance / Enemy to Lovers / Obsesi
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Yuan La

Elaine seorang mahasiswi kedokteran memiliki perasaan yang mendalam pada seorang pria adi kuasa, Killian. Salah satu pria dari kaum elite global. Yang bekerja sama dengan para mafia untuk menjalankan bisnis kotornya.

Damian. Kakaknya bekerja di interpol untuk menyelidiki masa lalu kematian orang tua mereka. Saat ia mengetahui adiknya memiliki hubungan khusus dengan anggota elite global dan mafia. Elaine harus memutuskan akan berdiri melindungi kekasihnya atau kakaknya, keluarga satu-satunya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yuan La, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17 : Patuh

“Apa yang kau katakan padanya?” El mengalah, ia tahu pria itu mencoba membantunya.

“Aku membayar kembali hutang mu. Aku katakan itu sudah menjadi tanggung jawab ku sebagai pria mu.”

“Heh?! Pria ku?” Bingung El.

“Aku memberi peringatan padanya untuk menjauh dari wanita ku.”

El tertawa ringan mendengar penjelasan Lian.

“Kau kira ini permainan anak remaja.” Ujar El yang kini duduk diatas ranjangnya merapikan kotak obat tadi.

“Apa dia memintamu sebagai wanitanya kau anggap serius?”

“Darimana kau tahu?” El terperanjat mendengarnya.

“Jadi itu benar dia meminta mu…”

“Lian. Stop.” Pria itu akan memancing perdebatan lagi, “Aku bukan milik siapapun. Aku tidak akan menjadi wanita mu ataupun…”

“Aku tidak bertanya kau ingin menjadi wanita ku atau tidak El. Aku tidak sedang memohon. Suka atau tidak, kau dan aku memiliki status saat ini. Aku akan menikahimu dengan segera.”

“A-apa?!” El tak percaya mendengar ucapan Lian, “Kau tidak waras. Kau sama saja dengannya suka memaksa.”

“Bukankah ini yang kau inginkan? Kejelasan? Aku sedang tidak bermain cinta remaja.” Ujar Lian yang kini berdiri tepat dihadapan El.

SRAAAAKK

Lian mengangkat tubuh El hingga wanita beranjak berdiri dari ranjangnya. Wajah mereka terlihat sejajar saat El berdiri di atas ranjang itu.

“Bukankah kau akan lebih puas melihat wajah ku secara nyata setiap waktu dibandingkan mengambil photo ku secara diam-diam setiap hari.”

“A-apa?” El terperanjat mendengarnya, mukanya memerah antara malu dan menahan marah, “Kau mengecek handphone ku? Apa kau tidak tahu itu privasi?!” Marah Elaine.

“Apa mengambil photo orang lain tidak melanggar privasi?” Balas Lian tersenyum menang.

Saat perjalanan didalam mobil, tepat di depan restoran saat El masih tertidur. Lian mengecek ponsel pribadi El. Ia tak percaya begitu banyak photo dirinya di dalam galeri ponsel itu. Wanita itu memiliki rasa yang sama padanya.

“Katakan alasan yang masuk akal, kenapa begitu banyak photo ku di dalam galeri mu.”

BIP BIP BIP

El segera menghindar saat handphonenya berdering, ia langsung meraih ponselnya. Glenn menghubunginya malam itu.

Merasa malu karena tertangkap basah ia menyimpan photo Killian, El memilih menghindar. Wanita itu beranjak keluar menuju balkon. Menghabiskan waktu dengan mengobrol bersama Glenn. Ia sungguh perlu berpikir alasan yang tepat atas pertanyaan Lian. Setidaknya ia berharap Lian segera angkat kaki dari kamarnya. Namun sayangnya dua jam berlalu, Lian tidak juga pergi. Pria itu terlihat lelah dan tidur diranjang El.

Beberapa menit El tampak menatap wajah Lian dari dekat, setelah menyelimuti pria itu. Sangat tampan. Tak ingin membangunkannya, El melanjutkan pekerjaan laporannya. Hingga ia tertidur di meja kerjanya. Ini sudah hal biasa bagi El. Saat matanya begitu berat dan tubuhnya begitu lelah, ia enggan berpindah dan memilih tertidur diatas meja.

Lian yang mengetahui hal itu mengangkat tubuh wanita itu untuk tidur diranjang. Bersamanya. Ranjang itu terlihat sempit karena diperkhususkan untuk satu orang. 

Sama seperti El sebelumnya, ia menatap wajah wanita itu dari dekat. Begitu menenangkan dan membuat nyaman. Pantas juka Lyxan dan Glenn menyukainya.

...****************...

PIP PIP PIP

PIP PIP PIP

El terbangun saat alarm di ponselnya berdering. Ia mengambil dari meja disampingnya dan mematikannya. Perlahan ia sadar, sebuah tangan melingkar di tubuhnya. Nafas Lian terasa hangat di punggungnya.

Pria itu tidur di sisinya. Tepat dibelakang tubuhnya. El bergegas bangun, namun tidak dengan Lian. Saat itu masih pagi buta sekitar pukul 5 pagi.

Tak ingin membangunkan pria itu dan menanyakan apa yang terjadi, ia bergegas bangun dan ke kamar mandi. Berada dalam pancuran shower yang hangat begitu menenangkannya. Tak butuh waktu lama hingga ia akhirnya keluar.

Lian saat itu sudah terbangun dengan bersandar diatas ranjang.

“Pagi sekali?” Tanya Lian.

“Kenapa kau tidak pulang?” Tanya El dengan merapikan meja kerjanya dan membereskan tasnya.

“Kenapa aku harus pulang. Saat wanita ku ada disini.” Mulai Lian.

“Lian…” El berhanti membereskan tasnya namun…

SRRKKKKK

Tangannya ditarik oleh Lian hingga terjatuh keatas ranjang tepat dipelukan Lian. Rambutnya yang setengah kering tergerai.

“Lian… Lepaskan.” El mencoba berontak namun kedua tangan El sudah dicengkram kuat oleh satu tangan pria itu.

“Jika aku bertanya, jawab dengan benar sayang.”

Degup jantung El semakin cepat saat pria itu begitu halus mengucap kata sayang.

“Kenapa? Apa aku begitu tampan sampai kau hanya terdiam.”

“Kau lucu. Lepaskan aku.” Kesal El.

Sayangnya Lian tak akan melepas begitu saja. Ia mencium bibir wanita itu dengan liar dimana El terus memberontak. Cengkraman tangannya pun semakin kencang menggenggam pergelangan Elaine.

“Liaann… mmmhhh.”

“Berapa lama operasi itu?” Tanya Lian ditengkuk leher wanita itu.

“Kau membuka handphone ku lagi? Mmmppphh.” Kembali Lian mencium bibir wanita itu.

“Tidak sampai satu jam.” Ujar El pada akhirnya.

Pria itu sebelum tidur membuka kembali isi chat di ponsel Elaine. Pagi ini dia ada jadwal operasi mendadak. Profesor Gani meminta bantuannya sebagai asisten nya.

Saat cengkraman pria itu melonggar, El segera berdiri menjauh.

“Kau brengsek Lian.” Kesal El.

 

Tak ingin merusak pagi wanita itu, Lian beranjak bangun dan membuka lebar pintu kaca balkonnya. 

“Bergegaslah atau kau akan telat.” Ujar Lian tenang.

El menghela nafasnya dan kini mengambil pakaiannya.

BRAAAK

SRAAAKK

“Tetap disana.” El menutup pintu kaca dan tirai balkonnya dengan Lian berada diluar. 

Untuk beberapa menit Lian cukup patuh. Pria itu dapat melihat bayangan Elaine yang berganti pakaian. Ia sering melihat wanita berpakaian sexy dan menggoda dirinya dengan rela. Namun entah kenapa wanita yang bersamanya saat ini membuat detak jantungnya berdegup cepat.

Hanya untuk beberapa menit ia mematuhi perintah wanita itu. Hingga akhirnya ia kembali masuk kedalam kamar dan memeluk wanita itu.

“Diluar cukup dingin.” Ucap Lian saat untungnya wanita itu sudah selesai berganti pakaian.

“Lian…” El menahan dada bidang pria itu, nafas mereka saling bertaut. Lian tidak lagi memaksa mencium bibir itu.

Hening. Kedua mata mereka saling menatap seakan ada perasaan yang mendalam disana.

“Apa yang akan kau lakukan hari ini?” Tanya El akhirnya.

“Entahlah. Pekerjaanku sudah selesai disini.” Ucap Lian yang tak sedikitpun menjauh. Wanita itu tidak menggunakan parfume tapi aroma tubuhnya memikat dirinya.

“Kau akan kembali ke Malice?”

“Kau ingin aku berada disini?”

El tak percaya mendengarnya, “Pulanglah. Jangan mengganggu ku.” 

SRKKK

Lian menghimpit tubuh wanita itu di dinding belakang saat ia hendak kabur lagi.

“3 menit. Setelah itu aku akan melepaskan mu? Tidak mengganggu mu.” Ucap Lian menatap bibir lembut El, “Aku janji.”

Lian mencium lembut bibir itu. Sorot matanya menatap kedua bola mata El yang terlihat sedikit berpikir. Perlahan wanita itu tidak lagi berontak seperti sebelumnya. 

3 menit dan pria itu tidak akan lagi mengusiknya.

Penawaran yang baik.

El melingkarkan kedua tangannya dileher pria itu. Membalas ciuman pagi itu dengan hangat. Nafas mereka saling menyatu dengan degup jantung yang sama cepatnya.

“Lian…” Lirih wanita itu saat prianya cukup agresif menciumnya tanpa memberi jeda.

“Pergilah.” Suara Lian terdengar berat dengan menekan hasratnya, “Sebelum aku berubah pikiran dan menghabisi mu diranjang itu.” Senyum licik Lian saat wanita itu masih terdiam dihadapannya.

El tak mau itu terjadi. Ia bergegas mengambil jas dokter dan ponselnya. Bergegas keluar menuju lorong yang menghubungkan dengan gedung rumah sakit.

Lian masih perlu mengontrol hasratnya. Ia beranjak kekamar mandi dan menyalakan shower. Membenamkan dirinya dalam pancuran dingin.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!