Angin siang itu berhembus cukup kencang, memainkan helai rambut panjang milik Jelita yang sedang duduk santai di selasar universitas. Bagi Jelita, dunia hanya sebatas apa yang bisa dilihat oleh mata dan logika. Baginya, cerita hantu hanyalah dongeng pengantar tidur untuk orang-orang penakut.
"Hari ini kita nggak ada kelas! Gimana kalau kita ke gedung kosong sebelah," Ajak salah satu teman Jelita yang bernama Dinda. Matanya berkilat penuh rencana tersembunyi.
Jelita mengangkat alisnya sebelah, menatap Dinda dengan tatapan remeh.
"Buat apa kita kesana? Kamu mau ngajak mojok ya?" selidik Jelita sambil tersenyum tipis.
"Kamu kan nggak pernah takut dan nggak pernah percaya hal kaya gitu. Kita mau tantang kamu kesana untuk uji nyali," Kata Dinda tegas.
"Bener juga! Lumayan hiburan di saat lagi kelas kosong," sambung Ira yang tiba-tiba bergabung, memberikan dorongan ekstra agar Jelita terpojok.
Jelita Tertawa Kecil, Sebuah Tawa Yang Mengandung Kesombongan.
Oke, Siapa Takut? Ayok
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jing_Jing22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17 PERUBAHAN
Jelita mengangguk pelan, sebuah gerakan sederhana yang menandai penyerahan diri sepenuhnya pada takdir yang telah digariskan sejak ratusan tahun lalu.
Rasa takut yang awalnya menyelimuti dada, kini perlahan luruh, berganti dengan ketenangan aneh yang menyusup melalui genggaman tangan sosok itu.
Arjuna yang merasakan perubahan energi pada diri Jelita pun tersenyum. Ia membawa tangan gadis itu ke bibirnya, mengecup punggung tangan itu dengan lembut, seolah sedang menyegel sumpah suci yang tidak akan pernah terpatahkan oleh waktu.
"Keputusanmu adalah kebahagiaanku, Jelita," bisik Arjuna.
"Mulai saat ini, kau bukan lagi sekadar tamu di sini. Kau adalah bagian dari kerajaan ini."
Begitu Jelita menerima takdirnya, gelang hitam di tangannya berhenti berdenyut panas. Warnanya berubah menjadi emas putih yang berkilauan, menyatu dengan gaun sutra yang dikenakannya. Tanda di lehernya pun kini tidak lagi terasa gatal, melainkan memancarkan aura perlindungan yang kuat.
Ia mulai merasakan indranya menajam. Ia bisa mendengar bisikan angin dan merasakan aliran energi di dalam istana tersebut. Ketakutannya pada sosok Arjuna perlahan memudar, berganti dengan rasa keterikatan yang sangat dalam.
Malam itu, Arjuna tidak lagi menunjukkan sisi dominannya yang menakutkan. Ia mengajak Jelita berjalan-jalan di balkon istana yang menghadap ke arah danau perak. Di bawah sinar rembulan dunia gaib, mereka berdiri bersisian.
"Tidakkah ini lebih indah daripada dunia yang penuh dengan kebisingan itu?" tanya Arjuna lembut, sambil melingkarkan lengannya di bahu Jelita, melindungi gadis itu dari semilir angin malam yang dingin.
Jelita menatap pantulan bulan di danau.
"Ini indah, Arjuna. Sangat indah. Tapi aku mohon satu hal, jangan pernah sakiti orang-orang yang kusayangi di duniaku."
Arjuna memutar tubuh Jelita agar menghadapnya. Ia menangkup wajah gadis itu dengan kedua tangan dinginnya yang terasa nyaman.
"Aku bersumpah. Selama kau berada di sisiku, mereka akan aman di bawah perlindunganku. Bahkan sahabatmu yang berisik itu akan kupastikan hidupnya selalu beruntung."
Waktu di dunia gaib berjalan berbeda, namun Arjuna tetap menghormati janjinya. Ia mengecup kening Jelita sebuah kecupan perpisahan sementara.
"Waktunya kembali, Ratuku. Ingatlah, meski raga kita terpisah oleh dimensi saat matahari terbit, hatimu tetaplah milikku."
Seketika, pandangan Jelita mengabur. Aroma cendana perlahan tergantikan oleh aroma kamarnya.
Ia terbangun di tempat tidurnya saat alarm ponselnya berbunyi tepat pukul 06:00 pagi. Ia terduduk dengan napas sedikit terengah. Awalnya ia mengira itu semua hanya mimpi, sampai ia melihat ke arah cermin.
Di kepalanya, masih tertinggal sehelai bunga melati dari taman yang Arjuna selipkan di rambutnya. Dan di lehernya, tanda emas itu bersinar redup sebelum akhirnya menghilang di balik kulitnya, menunggu malam kembali untuk menampakkan diri.
Jelita tersenyum tipis. Ia mengambil ponselnya dan melihat grup chat dengan Ira dan Dinda yang sudah penuh dengan pesan cemas.
Ia menghela napas lega, jemarinya dengan cepat mengetik pesan di grup mereka.
[Aku baik-baik saja! Kalian tidak perlu khawatir]
Ia sengaja tidak menceritakan detail kemegahan istana Arjuna atau mahkota yang sempat singgah di kepalanya, takut kedua sahabatnya itu makin tidak bisa tidur. Setelah mengirim pesan, ia melangkah ke kamar mandi.
Saat membasuh wajah, ia tertegun melihat pantulan dirinya di cermin. Wajahnya tampak lebih cerah, matanya berbinar dengan cara yang tidak biasa ada aura yang tenang, seolah kekuatan Arjuna mulai menyatu dengan jiwanya.
Tanda emas di lehernya sudah tidak terlihat, namun ia bisa merasakan kehangatan di sana, seperti bekas kecupan yang tertinggal.
Selesai bersiap dengan pakaian yang simpel namun elegan, Jelita turun ke bawah. Ia melihat ibunya sedang menyiapkan sarapan.
"Wah, Jelita! Kamu kelihatan segar sekali pagi ini. Alerginya sudah sembuh?" tanya Diana heran melihat perubahan drastis putrinya yang tadi malam tampak sangat pucat.
"Sudah, Bu. Jelita merasa jauh lebih baik," jawabnya sambil tersenyum manis.
Sekitar pukul 08:30, Jelita sampai di lobi kampus. Begitu ia turun dari taksi, suasana seolah membeku.
Mahasiswa yang biasanya sibuk berlalu-lalang mendadak menoleh. Ada sesuatu yang berbeda darinya, ia berjalan dengan langkah anggun dan dagu terangkat, seolah memancarkan pesona seorang bangsawan.
"Jelita!" teriak Dinda dari kejauhan.
Dinda dan Ira berlari menghampirinya. Dinda langsung mengerem mendadak tepat di depan Jelita, matanya membelalak lebar.
"Astaga... Jel! Kamu pakai skincare apa semalam?! Kenapa kamu jadi cantik begini? Kamu kelihatan bercahaya!" celetuk Dinda sambil memutari tubuh Jelita.
Ira mendekat dengan raut wajah lebih serius, ia memperhatikan aura Jelita.
"Jel, kamu benar-benar pergi ke sana kan semalam? Apa yang terjadi?"
Jelita hanya tersenyum misterius, ia menyelipkan rambutnya ke belakang telinga.
"Aku hanya memenuhi janjiku, Ira. Dan ternyata dunia dia tidak seburuk yang kita bayangkan."
Dinda langsung menyenggol lengan Jelita dengan heboh.
"Tuh kan! Apa kubilang! Pasti disana romantis sekali. Ayo cerita, apakah ada pelayan-pelayan tampan lainnya yang menyambutmu? Dan bagaimana dengan Arjuna? Dia tidak nakal kan semalam?"
"Tentu saja di sana banyak pelayan tampan. Aku yakin jika kamu ikut denganku, kamu pasti akan menyukainya," goda Jelita dengan nada bicara yang jauh lebih tenang dan dewasa, namun ada sedikit kilatan jahil di matanya.
"WAAAAAA! JELITA! SERIUS?!" Dinda berteriak histeris hingga beberapa mahasiswa di koridor kampus menoleh ke arah mereka.
Ia melompat-lompat kegirangan sambil mencengkeram lengan jaket Ira. "Ira, dengar itu! Ada banyak pelayan tampan! Aku bilang juga apa, Arjuna itu punya standar yang tinggi! Pasti bawahan-bawahannya juga kualitas super model!"
Ira hanya bisa menepuk jidatnya, merasa malu dengan kelakuan Dinda yang tidak kenal tempat.
"Dinda, kecilkan suaramu! Kita ini masih di kampus, bukan di pasar kaget!"
"Biarin, Ira! Aku mau daftar jadi asisten Jelita saja kalau begitu. Jel, nanti malam kalau kamu dijemput lagi, selipkan aku di dalam koper atau apa gitu ya? Aku mau kenalan sama salah satu pelayannya!" cerocos Dinda dengan imajinasi yang sudah terbang jauh ke istana gaib.
Di tengah kehebohan Dinda, langkah mereka terhenti oleh segerombolan mahasiswa tingkat akhir yang sedang nongkrong di depan mading. Salah satu dari mereka, seorang pria bernama Rian yang terkenal agak arogan dan sering menggoda mahasiswi, berdiri menghalangi jalan Jelita.
"Wah, wah... lihat siapa ini. Jelita, kan? Kamu kelihatan beda banget hari ini. Pakai parfum apa sih? Wanginya sampai sini, enak banget wanginya," ujar Rian sambil melangkah maju, mencoba bersandar di pilar dekat Jelita.
Rian mencoba mengulurkan tangan, hendak menyentuh bahu Jelita dengan sok akrab.
"Nanti sore kosong nggak? Kita jalan yuk, mumpung aku lagi bawa mobil baru."
Ira sudah bersiap untuk memarahi Rian, namun tiba-tiba sesuatu yang ganjil terjadi. Meskipun matahari sedang terik di luar, suhu di area koridor itu mendadak berubah membuat napas mereka sedikit berasap.
Gelang emas putih di tangan Jelita bersinar redup. Tiba-tiba, bayangan Rian di lantai seolah ditarik oleh kekuatan tak kasat mata. Rian yang tadinya ingin menyentuh Jelita, mendadak tersentak mundur seolah-olah tangannya baru saja menyentuh bara api.
Angin kencang berhembus di lorong itu, menjatuhkan beberapa papan pengumuman tepat di samping kaki Rian dengan suara dentuman yang keras.
"A-aduh! Apa-apaan ini?!"
Rian memegang tangannya yang mendadak mati rasa dan gemetar hebat. Wajahnya yang tadi penuh percaya diri kini berubah pucat pasi. Ia merasa ada sepasang mata merah yang menatapnya dengan murka dari balik punggung Jelita.
Jelita menatap Rian dengan tatapan dingin yang tak pernah ia miliki sebelumnya.
"Maaf, Rian. Sebaiknya kamu menjauh. Ada seseorang yang sangat tidak suka jika ada yang menyentuhku."
Rian lari terbirit-birit tanpa menoleh lagi, diikuti teman-temannya yang kebingungan. Dinda menganga lebar melihat kejadian itu.
"Gila! itu tadi Arjuna ya? Padahal masih siang bolong begini?" bisik Dinda dengan nada antara ngeri dan kagum.
"Dia posesifnya level dewa, Jel! Rian cuma mau pegang bahu saja langsung dikasih peringatan gempa bumi!"
Ira menarik nafas panjang.
"Ini yang aku takutkan, Jel. Dia tidak benar-benar meninggalkanmu sendirian, bahkan di siang hari. Kamu benar-benar sudah ditandai sebagai miliknya."
Jelita mengelus tanda di lehernya yang sempat terasa hangat saat Rian mendekat tadi.
"Dia menjagaku dengan caranya sendiri, Ira. Meskipun itu berarti tidak akan ada laki-laki lain yang berani mendekatiku lagi."
Plus Ira & si berisik Dinda. Kombinasi maaaauuut... 🤣🤣🤣
Tiba2 ke inget lagu ini... Kesian jg si Arjuna. Tapi ya itulah hdp. 2 alam tidak mungkin bersatu...
Semangat ya Thor. Tuyulku ngikut nih. 🤣